"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."
Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.
"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."
Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.
Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Pagi yang Panas
Hal pertama yang dilihat Dyah Ayu saat membuka mata adalah sebilah keris yang tergeletak di atas seprai sutra, tepat di antara tubuhnya dan tubuh sang Raja.
Keris itu masih di sana. Persis di tempat Hayam Vira meletakkannya semalam, membelah ranjang menjadi dua wilayah.
Dan di seberang bilah itu, sejengkal dari wajahnya, Prabu Hayam Vira berbaring miring dengan kepala bertumpu pada satu lengan. Jubah tipisnya melorot sampai ke perut, memperlihatkan dada yang bergaris luka-luka lama. Rambut hitamnya tergerai di atas bantal.
Ia sudah bangun. Entah sejak kapan. Matanya terbuka, tenang, dan menatap Dyah Ayu tanpa berkedip.
"Kau mendengkur," ucapnya.
"Hamba tidak mendengkur, Gusti."
"Pelan. Seperti anak kucing." Sudut bibirnya bergerak. "Untuk perempuan yang semalam bersumpah tidak akan memejamkan mata di sebelahku, kau tidur cukup nyenyak."
Dyah Ayu tidak menarik selimut untuk menutupi bahunya. Ia tidak mundur. Ia hanya mengingat semalam, saat lelaki ini mengurungnya di dinding dan menuntut imbalan, dan ia menjawab dengan suara yang tidak bergetar: Imbalan yang pantas untuk Raja adalah sesuatu yang belum pernah Raja dapatkan. Seseorang di ranjangnya yang tidak takut padanya.
Hayam Vira tertawa saat itu. Lalu ia mencabut kerisnya, meletakkannya di tengah ranjang, dan berbaring di sisinya sendiri.
Buktikan, katanya. Tidurlah di sebelah senjata yang bisa kau raih kapan saja. Kalau pagi nanti aku masih hidup, aku akan percaya kau cukup pintar untuk tidak bodoh.
Ia masih hidup. Dyah Ayu juga.
***
Hayam Vira mengulurkan tangan melewati keris itu.
Jemarinya menangkap pergelangan kanan Dyah Ayu, tepat di atas memar lama yang sudah menguning. Ia tidak meremasnya. Ia menariknya pelan, menyeret tangan itu melintasi seprai, sampai telapak tangan Dyah Ayu menempel di atas gagang keris.
Lalu ia menekan jemari Dyah Ayu hingga menggenggam gagang itu.
"Sekarang kau sudah bangun," gumamnya. "Lehernya di sini." Ia memiringkan kepala, memperlihatkan denyut nadinya. "Ayahmu. Ibumu. Rumahmu yang terbakar. Satu tusukan, dan semuanya terbayar."
Kayu gagang keris itu hangat oleh suhu tubuh mereka. Ukiran kepala naga menekan telapak tangan Dyah Ayu.
Ia menatap leher itu. Lalu menatap mata sang Raja.
Dan ia melepaskan genggamannya.
"Kalau Gusti mati pagi ini," ucapnya datar, "Mahapatih Gajahwira akan mengangkat putra Permaisuri menjadi raja sebelum matahari terbenam. Anak itu baru tujuh tahun. Prabaswari yang akan memerintah dari balik singgasana, dan perempuan pertama yang ia gantung di gerbang Keputren adalah hamba. Yang kedua adalah adik hamba."
Ia menarik tangannya kembali ke sisi ranjangnya sendiri.
"Membunuh Gusti adalah cara paling cepat untuk membunuh diri sendiri. Hamba belum seputus asa itu."
Hayam Vira memandangnya lama.
Lalu ia bangkit dengan satu siku, mencondongkan tubuhnya melewati keris, melewati batas yang ia buat sendiri. Bayangannya menutupi wajah Dyah Ayu. Panas tubuhnya terasa bahkan sebelum kulit mereka bersentuhan.
"Jadi apa yang kau inginkan?" Suaranya turun, nyaris berbisik. "Selir lain meminta perhiasan. Paviliun. Anak. Kau sudah mendapatkan paviliun. Apa lagi?"
Dyah Ayu tidak memalingkan wajah dari napas yang menyapu bibirnya.
"Transaksi, Gusti."
Alis sang Raja terangkat.
"Gusti punya ribuan prajurit, tetapi tidak satu pun yang bisa masuk ke Keputren. Gusti punya mata-mata di setiap kadipaten, tetapi tidak di bilik Permaisuri." Ia berbicara pelan, setiap kata ditata seperti bidak catur. "Hamba bisa menjadi mata Gusti di sana. Telinga Gusti. Hamba akan membongkar setiap racun, setiap surat, setiap menteri yang menyusu pada Faksi Permaisuri."
"Dan harganya?"
"Arya Sadewa keluar dari penjara bawah Balai Wiyata. Ia tidur di tempat yang ada jendelanya, makan dua kali sehari, dan tidak seorang pun menyentuhnya tanpa perintah Gusti." Ia menelan ludah. "Dan tiga ratus orang Watugaluh di alun-alun selatan mendapat atap, air bersih, dan tabib. Mereka tawanan, bukan ternak."
Keheningan memanjang. Di luar jendela, burung perkutut mulai bersahutan.
"Kau menawar dengan Raja di atas ranjangnya sendiri," ucap Hayam Vira akhirnya.
"Hamba menawar dengan satu-satunya orang yang bisa membayar."
"Bagaimana aku tahu otakmu sepadan dengan harganya?"
Dyah Ayu tidak ragu.
"Kecubung hitam hanya tumbuh di tanah gunung berapi, di atas seribu hasta. Tidak ada satu pun pohonnya di dataran ibu kota. Hamba membacanya di lontar ketiga dari rak timur di perpustakaan Empu Wiradarma." Ia menatap lurus. "Dan menurut silsilah di lontar yang sama, satu-satunya keluarga bangsawan ibu kota yang memiliki tanah di ketinggian itu adalah keluarga ibunda Gusti Permaisuri. Kebun teh di lereng Gunung Kawi."
Ia menunggu satu tarikan napas.
"Nyai Kenanga bisa saja mencuri racun itu. Tetapi ia tidak mungkin pergi ke Gunung Kawi dan kembali dalam tiga hari. Seseorang mengirimkannya dari sana. Dan kiriman dari keluarga Permaisuri selalu tercatat di buku gerbang selatan."
Hayam Vira tidak menjawab. Tetapi tangannya, yang bertumpu di samping kepala Dyah Ayu, mencengkeram seprai sutra itu hingga kusut.
***
Sang Raja turun dari ranjang tanpa sepatah kata.
Ia mengenakan kain batiknya kembali, mengikat sabuknya, menyelipkan keris di pinggang. Dyah Ayu duduk di ranjang dan mengamatinya. Setiap gerakannya cepat dan efisien, gerakan prajurit yang terbiasa bersiap di tenda sebelum fajar.
Di ambang pintu, ia berhenti. Ia meraih selendang yang tersampir di bahunya, melepasnya, lalu kembali ke ranjang.
Selendang itu sutra perak. Licin, dingin, dan begitu ringan sampai seolah mengalir sendiri di sela jemari Dyah Ayu ketika ia menerimanya. Di ujungnya, tersulam benang emas, lambang matahari bersudut delapan.
Lambang Wangsa Kagendra.
"Kenakan ini setiap kali kau keluar dari paviliunmu," ucap Hayam Vira. "Siapa pun yang menyentuhmu saat kau memakainya, menyentuh tubuhku."
"Dan transaksi kita, Gusti?"
"Arya akan dipindahkan ke paviliun tamu di Balai Wiyata sebelum tengah hari. Tawanan Watugaluh mendapat tenda dan tabib sebelum malam." Ia menunduk, mengangkat dagu Dyah Ayu dengan satu jari. "Tapi ingat ini, Selirku. Aku melihat semua yang kau lihat semalam di pelataran candi. Dan beberapa hal yang kau harap tidak kulihat."
Jari itu turun dari dagunya. Hayam Vira melangkah keluar.
Dyah Ayu duduk di sana lama sekali, dengan sutra perak yang dingin di pangkuannya, mencoba mengingat setiap detik di pelataran candi. Tangan Bhayangkara yang gemetar di lengannya. Topeng hitam itu.
Ia meremas selendang itu sampai benang emasnya menggores telapak tangan.
***
Keputren tidak menunggu sampai siang untuk bergerak.
Ketika Dyah Ayu melangkah keluar menuju serambi dengan selendang perak tersampir di bahu, tiga dayang yang sedang menyapu halaman paviliun sebelah langsung berhenti. Mereka menatapnya. Lalu salah satu dari mereka meludah ke tanah. Pelan, hampir tidak terdengar, tetapi cukup jelas.
Di ambang pintu paviliun-paviliun lain, ia melihat butiran putih di atas lantai. Garam kasar. Ditaburkan berbentuk garis melintang.
Penolak bala. Penangkal tenung.
Di tepi kolam teratai besar, Selir Ratna Kanigara duduk di atas bangku batu bersama empat selir lain. Kain merahnya tersibak sedikit, memperlihatkan perban putih yang membalut pahanya. Ia tidak berdiri ketika Dyah Ayu lewat. Ia bahkan tidak menyembah, meskipun kini gelar Dyah Ayu berada di atasnya.
"Lihatlah," ucap Ratna, dengan suara yang sengaja dibuat cukup keras. "Tiga hari lalu ia datang dengan lurik kasar. Hari ini ia memakai selendang Sinuwun. Tidak ada perempuan biasa yang bisa melakukan itu dalam tiga hari."
"Ibunya tabib, katanya," sahut selir lain sambil mengipas. "Tabib di timur juga dukun. Pandai membuat ramuan pemikat."
"Kalian lihat bagaimana ia mencium dupa itu semalam? Bagaimana ia tahu racun apa hanya dengan mengendus?" Ratna tersenyum miring. "Hanya penyihir yang mengenal bau racunnya sendiri."
Dyah Ayu berhenti.
Ia berbalik perlahan, melangkah ke arah bangku batu itu, dan berhenti tepat di depan Ratna. Ia menunduk sedikit, menatap perban di paha selir itu.
"Luka bakarnya masih merah, Kangmbok?"
Ratna mengangkat dagu. "Apa urusanmu?"
"Tidak ada." Dyah Ayu tersenyum. "Hanya saja, untung yang tumpah ke pangkuan Kangmbok cuma teh. Kalau sampai terminum..." Ia membiarkan kalimat itu menggantung. "Tetapi Kangmbok tentu tahu persis apa isinya. Bukankah Kangmbok yang menyeka bibir paling cepat waktu itu?"
Wajah Ratna memucat. Kipas di tangan selir sebelahnya berhenti bergerak.
Dyah Ayu merapikan selendang peraknya, memastikan lambang matahari emas itu menghadap ke arah mereka, lalu berjalan pergi.
Ia bisa merasakan tatapan mereka menusuk punggungnya. Tetapi kali ini, tidak ada yang tertawa.
***
Matahari sore sudah condong ke barat ketika pintu Paviliun Candrakirana diketuk.
Bukan dayang. Seorang perempuan bertubuh tegap, mengenakan kemben hitam berikat merah dan gelang lengan logam, berdiri di ambang pintu. Rambutnya digelung ketat. Bekas luka panjang membelah alis kirinya.
Nyi Ageng Rukmi. Pemimpin Prajurit Estri. Di belakangnya, delapan pengawal berbelati berdiri dalam dua baris.
Ia tidak menyembah. Ia membuka gulungan lontar bersegel lilin merah dan membacanya dengan suara datar.
"Atas nama Gusti Kanjeng Permaisuri Prabaswari, penguasa tunggal hukum adat Keputren. Semalam, darah tumpah di pelataran candi leluhur dan dibawa masuk ke paviliun ini pada kain Sinuwun." Ia mengangkat pandangan dari lontar. "Menurut adat Keputren sejak zaman Prabu pertama, paviliun yang dimasuki darah kematian harus disucikan selama empat puluh hari. Tidak boleh dihuni. Tidak boleh disentuh."
Dyah Ayu tetap berdiri di tempatnya. Jemarinya mengunci di ujung selendang perak.
"Sinuwun sendiri yang memberikan paviliun ini kepada hamba."
"Dan Sinuwun sendiri yang membawa darah ke dalamnya." Nyi Ageng Rukmi menggulung kembali lontar itu. "Urusan paviliun ada di tangan Sinuwun. Urusan adat Keputren ada di tangan Gusti Permaisuri. Bahkan Sinuwun tidak melanggarnya."
Ia menyerahkan lontar itu. Dyah Ayu tidak mengambilnya. Lontar itu jatuh ke lantai, di antara kaki mereka.
"Selama masa penyucian, Selir Utama akan ditempatkan sementara di Paviliun Srigading," lanjut Nyi Ageng Rukmi, tidak terganggu sedikit pun. "Para dayang di sini sudah ditarik. Barang-barang Selir Utama akan dipindahkan malam ini juga."
Di belakang Dyah Ayu, salah satu dayang muda yang tadi menyiapkan air mawar menahan napas dengan bunyi tercekik.
Dyah Ayu menoleh padanya. Wajah gadis itu putih seperti kain kafan.
"Srigading," bisik dayang itu, nyaris tak bersuara, ketika para Prajurit Estri mulai melangkah masuk. "Gusti, selir terakhir yang dibuang ke sana ditemukan mengambang di sumurnya sendiri. Dan sampai hari ini, tidak ada yang tahu siapa yang menutup sumur itu dari atas."
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..