Pantas saja dia tak diharapkan dan dibenci oleh keluarganya. Ternyata dia adalah anak yang lahir dari rahim orang ketiga.
Mutiara Anjani, Seorang gadis yang selalu terlihat kuat dihadapan orang lain. Tiada yang tahu bahwa gadis itu menyimpan rasa sakitnya seorang diri. Semua tertutup oleh sikapnya yang ceria dan terkadang angkuh itu.
Semua orang yang pernah dekat dengannya menjauh perlahan karena hadirnya orang baru termasuk sahabatnya sendiri. Dia menjadi sendiri, Hingga seorang pria hadir menjadi pendukungnya serta satu-satunya pria yang berjanji akan selalu menjaganya sampai nanti.
••••••
"Aku selalu merasa sendiri, Aku ingin melupakan segalanya dan tidak ingin mengingat rasa sakit ini lagi.." Mutiara Anjani.
"Tapi perlu diketahui, Bahwa akulah yang akan menjagamu sampai nanti.." Muhammad Al Ghazi Maulana...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Ingin Disayang
Setelah puas menangis dan meluapkan unek-uneknya dipantai. Tepat pukul sepuluh malam, Mutiara telah sampai dirumahnya.
Ghazi dengan sigap membukakan pintu untuk sang Nona yang terlihat lelah karena puas menangis.
Bahkan Mutiara terlihat lesu sekali seolah tidak ada tenaga. Ghazi semakin khawatir saja takut terjadi sesuatu pada Nona nya itu.
"Makasih ya..
"Sama-sama Nona.." Mutiara hendak masuk, Namun Ghazi kembali memanggilnya.
"Nona..
"Ya, Kenapa?" Mutiara menoleh, Ghazi mendekati gadis yang ingin ia jaga sampai nanti itu.
"Tidurlah yang nyenyak ya, Jangan terlalu banyak pikiran.." Mutiara tersenyum, Dulu Rio yang selalu berkata seperti itu. Tapi sekarang, Bodyguard yang satu itu tidak akan lagi mengucapkan ucapan perhatian tersebut.
"Iya, Makasih ya..
Mutiara pun langsung masuk kedalam. Begitu masuk, Disana sudah ada Atta dan Mamanya. Entah sedang menunggunya atau tidak, Mutiara tidak tahu.
Tapi untuk apa mereka menunggunya? Dia hanya seorang anak yang tidak diharapkan dalam keluarga ini. Dan tak mungkin kan anak sepertinya akan ditunggu.
Mutiara melangkah hendak naik keatas tangga. Namun suara tegas Kakaknya membuatnya berhenti detik itu juga.
"Tunggu!!
Mutiara berbalik badan, Gadis itu menatap Kakak dan Mamanya secara bergantian. Atta mendekat, Matanya menatap tajam sang adik yang paling dia benci itu.
PLAAAK!!
Satu tamparan mendarat dipipi mutiara. Saking kerasnya, Kepala mutiara sampai tertoleh kesamping. Tamparan itu terasa sangat kebas dan panas gadis itu rasakan.
"Kak?" Mutiara memegang pipinya yang baru saja ditampar itu.
PLAAAK!
Satu tamparan lagi mendarat. Namun Mutiara hanya diam saja, Matanya mulai berkaca-kaca. Apalagi salahnya sampai dia mendapatkan dua tamparan ini..
"Kamu itu bisa gak sih jangan bikin ulah? Tadi pagi kamu bikin Jelita tidak nyaman dirumah ini! Dikampus bikin malu aku..
"Aku bikin malu kakak?
"IYA! Kalau bukan bikin malu apa namanya? Pertama, Kamu dipanggil keruang rektor karena masalah Hazel yang terkunci digudang..
"Tapi semua udah terbukti kan kak?. Bukan aku pelakunya. Kenapa kakak malah terus salahin aku sih?
"Ya, Karena kamu itu pantas disalahkan.." Sahut Diandra. Wanita itu bersedekap dada. Tatapan benci itu begitu terlihat sekali dari raut wajahnya.
Bayangkan saja, Disaat anak yang lain dimanja oleh Mamanya. Tapi tidak dengan Mutiara, Dia dibenci oleh ibunya sendiri.
"Mama juga mau nyalahin aku?" Tanya Mutiara dengan suara yang begitu lirih, Sampai lirih sekali. Bahkan bibir gadis itu sampai bergetar..
"Kamu itu emang pantas disalahkan! Kamu dipanggil keruang rektor aja udah salah..
"Tapi tetap bukan aku pelakunya, Ma! Aku gak salah.. Buktinya ada kok.." Entah kenapa, Mutiara bisa kuat ketika dihadapan orang lain. Tapi tidak dihadapan dua orang ini. Dihadapan mereka, Mutiara menjadi orang yang lemah sekali.
Pagi tadi, Mutiara memang berusaha kuat ketika Mama dan Kakaknya membela Jelita. Karena Mutiara tahu, Kalau dia menangis, Jelita akan semakin merasa diatas awan.
Namun malam ini, Mutiara tak dapat membendung air matanya. Ia hapus air mata itu dengan gerakan sedikit kasar..
"Kenapa sih? Kalian selalu bersikap seperti ini ke aku? Aku ini kan juga keluarga kalian!.. Tapi kenapa? Kenapa?.." Mutiara sesegukan. Sejak kecil tak banyak yang dia harapkan. Dia hanya ingin kasih sayang dari dua orang ini saja. Mama dan Kakaknya. Kalau untuk Papanya, Pria itu selalu memberikan yang terbaik untuknya. Tak peduli baik Opa, Omanya tak suka. Yang penting Mama dan Kakaknya bisa sayang padanya..
Berbagai cara ia lalukan, Agar dua orang dalam keluarganya ini hatinya luluh. Namun tetap saja, Dia dibenci dan seolah tak dianggap sama sekali.
"Kamu tidak perlu tahu kenapa saya dan anak saya bersikap seperti itu ke kamu. Tanyakan saja pada diri kamu sendiri. Kamu itu anak pembawa sial bagi keluarga saya.. Ingat! Kamu itu cuma anak pembawa sial! Dan satu lagi. Kamu itu numpang tinggal disini! Masih untung saya dan suami saya mau menampung kamu. Ngasih kamu kemewahan, Memberikan ini dan itu. Sejak dari dulu kamu itu tidak pernah kami harapkan.."
Deg!
Setelah mengatakan itu, Diandra pergi begitu saja disusul oleh Atta. Mutiara masih terdiam disana, Ia berdiri mematung di ujung tangga itu.
"Aku? Numpang? Sebenarnya aku ini anak siapa? Kenapa ibuku sendiri sampai bilang seperti itu? Kalau aku memang anak yang tidak diharapkan? Tapi, Apa tidak ada sedikit rasa cinta kalian padaku? Aku cuma mau disayang kalian aja.. Kenapa justru kata-kata jahat itu yang muncul? Hiks.. Aku benci diri ini!!" Mutiara naik keatas tangga dengan sedikit berlari. Tangis gadis itu semakin pecah dan tak tertahankan lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kenapa Mama tidak sekalian saja bicara yang sebenarnya. Agar anak tidak tahu diri itu sadar siapa status dia dirumah ini. Agar dia tahu kalau dia itu hanya anak haram dari seorang wanita mura-han.." Diandra menghentikan langkahnya, Ia menatap sang putra yang masih emosi.
"Masih belum saatnya.. Tapi Mama akan mengatakan yang sebenarnya nanti. Kalau Mutiara itu hanya anak seorang pelakor. Dia anak wanita yang tidak punya harga diri.. " Kedua tangan Diandra terkepal. Jujur dalam hatinya dia masih menyimpan dendam terhadap Anjani. Sayangnya, Belum juga terbalas dendam itu. Anjani sudah lebih dulu pergi dari dunia ini..
Kini hanya tinggal putrinya disini. Diandra ingin sekali membalaskan dendamnya terhadap Anjani lewat Mutiara. Namun, Entah mengapa Diandra tak mampu melakukan semua itu..
Diandra hanya bisa bersikap dingin, Tak peduli, Bahkan tak pernah memberikan kasih sayang pada gadis itu. Padahal kalau bisa, Diandra mampu untuk menyiksa fisik Mutiara. Sayangnya yang mampu melakukan semua itu adalah Atta saja. Jika dulu Oma Mega yang selalu menghukumnya, Atta adalah penggantinya.
Putranya yang satu itu terkadang suka menampar, Mengurung Mutiara dalam gudang.
Kalau boleh Diandra bisa saja berkata jujur dan mengatakan fakta yang sebenarnya. Akan tetapi hati kecilnya merasa tidak tega. Sejak dulu bahkan sampai sekarang. Diandra hanya tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya Mutiara kalau mengetahui semuanya.
"Tapi mau sampai kapan, Ma? Mama tahu sendiri kan? Semakin hari dia semakin tidak tahu diri.. Apalagi Papa sayang sama dia. Apa yang dia mau, Selalu Papanya turuti. Apa tidak tambah besar kepada dia?..." Atta juga tidak habis pikir saja dengan Mamanya. Mamanya adalah korban perselingkuhan dari Papanya. Bahkan hingga menghasilkan seorang anak. Dan bisa-bisanya Mamanya hanya bersikap dingin saja. Bagi Atta itu tidaklah cukup..
"Sudah jangan bahas itu.. Kalau Papamu dengar, Dia akan sedih nanti..." Kebetulan Galih belum pulang. Sehingga sepasang ibu dan anak itu dengan leluasa membicarakan semua ini.
Rasa cinta Diandra pada Galih begitu besar. Sehingga wanita itu selalu menuruti apa yang Galih katakan.
"Terserah Mama saja.." Atta sudah tidak tahu lagi dengan jalan pikiran Mamanya. Masih saja mencintai Papanya padahal Papanya dulu pernah berkhianat.
Sementara dikamar Mutiara. Gadis itu masih menangis, Air matanya menetes tiada henti usai ucapan wanita yang sangat ia sayangi itu begitu menusuk hatinya.
"Kamu tidak perlu tahu kenapa saya dan anak saya bersikap seperti itu ke kamu.. Tanyakan saja pada diri kamu sendiri. Kamu itu anak pembawa sial bagi keluarga saya.. Ingat! Kamu itu cuma anak pembawa sial!! Dan satu lagi, Kamu itu numpang tinggal disini.. Masih untung saya dan suami saya mau menampung kamu. Ngasih kamu kemewahan.. Memberikan ini dan itu.. Sejak dari dulu kamu itu tidak pernah kami harapkan.."
Namun meskipun Mamanya selalu berkata menyakitkan. Mutiara tidak pernah membenci wanita itu. Mutiara masih berharap kalau suatu saat nanti Mamanya akan segera sadar. Dan mampu menyayanginya seperti ibu-ibu yang lain.
Setelah puas menangis, Mutiara bangkit. Ia ingin tidur dengan nyenyak, Karena tahu bahwa niatnya tidur tidak akan nyaman. Seperti biasa, Mutiara meraih obat tidur yang selalu ia minum.
Gadis itu tak peduli dengan kondisi nya yang baru saja selesai operasi. Yang penting sekarang Mutiara bisa tidur dengan nyenyak dan nyaman.
Satu butir obat masuk kedalam tenggorokan gadis itu. Setelahnya Mutiara kembali berbaring dan terdiam sebelum akhirnya mata itu terpejam juga.
•
•
•
TBC
😏😏😏 ,,
semoga ghazi bisa cepat menemukan mutiara ,
lanjut thor ditunggu kelanjutannya, semangattttt💪💪