Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.
Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 9
***
Udara sejuk Venesia menyapa kulit halus Lyn saat angin perbukitan berembus pelan membelah saluran-saluran air kota di atas air tersebut. Bunyi kecipak air yang dihantam dayung gondola beradu merdu dengan nyanyian pelan sang gondolier yang mengenakan kaos bergaris khas Italia.
Untuk pertama kalinya sejak kakinya menginjakkan tanah Eropa, Lyn merasa dadanya benar-benar bernapas lega.
Rencana nekat Clara untuk mengecoh rombongan pengawal di stasiun kereta Florence tadi pagi berhasil meloloskan mereka. Clara dengan cerdik memesan tiket kereta cepat menuju Venesia, mematikan sinyal lokasi di ponselnya, dan mengajak Lyn kabur menikmati sisa hari kebebasan mereka sebelum minggu depan harus kembali berkuliah di Jakarta.
"Lihat ke sini, Lyn! Senyum yang lebar!" seru Clara riang seraya mengarahkan kamera ponselnya ke arah Lyn.
Lyn refleks tertawa manis, merapikan helai rambutnya yang tertiup angin. Ia mengenakan gaun musim panas berwarna putih gading dengan potongan sederhana yang membalut indah tubuh rampingnya. Tawa lepas yang sudah lama hilang dari bibir manisnya kembali terpancar alami—tawa polos khas gadis berusia 21 tahun yang sedang menikmati masa mudanya.
"Nah, begini dong! Kamu dari kemarin tegang terus seperti sedang dikejar hutang," puji Clara seraya menunjukkan hasil foto di layar ponselnya. "Foto ini cantik sekali, Ev! Nanti harus kita cetak!"
Lyn tersenyum hangat, menyandarkan tubuhnya pada sandaran kayu gondola yang berayun pelan. "Terima kasih ya, Clara. Aku... aku benar-benar butuh suasana seperti ini. Rasanya semua beban di kepalaku menguap begitu saja."
Clara merangkul bahu Lyn dengan antusias. "Tentu saja! Kita ini masih muda, Lyn. Kita harus menikmati hidup! Apalagi kamu baru saja putus dari mantan brengsekmu itu. Kamu berhak bahagia tanpa perlu takut dituntut ini-itu. Pokoknya hari ini kita bebas dari pengawasan Papa dan pengawal-pengawalnya yang seram itu!"
Lyn terkekeh pelan, namun tatkala nama 'Papa' diucapkan oleh Clara, sudut hatinya kembali bergetar pelan. Wajah tegas Wiliam, aroma sandalwood yang pekat, serta sentuhan rahasia pria paruh baya itu di bawah meja kemarin pagi mendadak membayangi pikirannya. Lyn menggigit bibir bawahnya, menepis cepat rasa bersalah yang mulai menggerogoti dadanya.
Tidak, hari ini aku hanya Lyn... sahabat Clara yang sedang berlibur, batinnya menenangkan diri.
Gondola perlahan menepi di sebuah dermaga kayu kecil di tepi Grand Canal. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, dan matahari mulai merambat turun memancarkan kilau jingga keemasan di atas permukaan air.
"Aku sudah memesan meja di restoran eksklusif paling romantis di tepi kanal ini, Lyn," ujar Clara bersemangat seraya membimbing Lyn keluar dari gondola. "Pemandangan matahari terbenam dari terasnya luar biasa indah!"
"Wah, kamu niat sekali, Clara," sahut Lyn kagum melihat bangunan restoran klasik bergaya arsitektur Gotik dengan teras terbuka yang menghadap langsung ke arah kanal besar.
Mereka melangkah masuk menyusuri lorong berkarpet merah yang dihiasi lampu-lampu lentera hangat. Kepala pelayan berseragam rapi menyambut mereka dengan bungkukan khidmat.
"Selamat sore, Nona Clara. Meja privat Anda di teras utama sudah siap," sapa kepala pelayan itu dengan ramah.
"Terima kasih, Paman," jawab Clara ceria.
Mereka berjalan menuju teras luar yang dibatasi oleh pagar besi berukir indah. Angin sore meniup lembut tirai-tirai putih teras. Namun, saat langkah kaki Lyn baru saja melewati sekat tirai beludru yang membatasi meja utama, langkah kakinya seketika terhenti kaku.
Seluruh sendi di tubuh Lyn membeku total. Tawa manis yang tadi menghiasi bibirnya lenyap seketika tanpa sisa.
Di ujung teras yang paling eksklusif—tepat di meja melingkar dengan pemandangan terbaik ke arah Grand Canal—duduk sesosok pria paruh baya bertubuh tinggi tegap. Pria itu mengenakan setelan jas buatan tangan berwarna biru gelap yang teramat mewah tanpa dasi, memperlihatkan dua kancing kemeja atasnya yang terbuka santai. Pria itu memegang sebuah gelas whisky kristal di jemari tangannya yang besar dan tegas.
Rambut perak kelabunya tersisir rapi, dan wajah tampan bergaris keras itu menatap lurus ke arah Lyn.
Wiliam.
Mata sehitam jelaga milik pria tua itu mengunci sosok Lyn yang tampak terkejut setengah mati. Bibir tipis Wiliam terangkat sangat tipis—sebuah senyuman dingin yang sarat akan dominasi, kepemilikan, serta teguran terselubung yang sanggup membekukan darah di dalam tubuh Lyn.
"P-Papa...?!" jerit Clara kaget, matanya membelalak tak percaya melihat sosok ayahnya duduk santai di meja privat tersebut. "P-kok Papa bisa ada di sini?!"
Wiliam tidak langsung menjawab. Pria paruh baya itu menyesap whisky-nya dengan gerakan yang sangat tenang dan elegan, meletakkan gelas kristal itu di atas meja dengan dentingan pelan yang berwibawa. Matanya yang tajam bagaikan elang sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari wajah manis Lyn yang mendadak pucat pasi.
"Apakah kamu benar-benar berpikir bisa melarikan diri dari jangkauanku di negara ini, Clara?" suara berat dan dingin Wiliam menggelegar tenang, menyapu seluruh teras sunyi itu.
Clara menelan ludah, wajah cerianya seketika sirna berganti rasa takut dan segan yang teramat sangat. "Tapi... tapi Clara mematikan GPS dan kabur secara mendadak dari stasiun Florence... bagaimana bisa Papa tahu kami ke Venesia?!"
Wiliam terkekeh rendah—sebuah tawa berat di dalam dada yang membuat bulu kuduk Lyn berdiri tegak. Pria itu melambaikan tangan pelan, dan dari balik tirai teras, dua orang pengawal pribadi berseragam serba hitam yang tadi dikira Clara berhasil dikelabuhi, muncul dan membungkuk hormat pada Wiliam.
"Setiap pijakan langkah kalian sejak meninggalkan villa... berada di bawah pengawasanku," ujar Wiliam datar namun penuh penekanan yang mutlak. "Kamu terlalu amatir untuk bermain-main denganku, Putriku."
Lyn meremas gaun putihnya dengan jemari yang gemetar hebat. Jantungnya berdegup gila-gilaan hingga dadanya terasa sesak. Jadi... sepanjang hari ini saat ia tertawa lepas, menaiki gondola, dan merasa bebas... Wiliam menyaksikan semuanya dari kejauhan? Pria paruh baya itu membiarkannya merasa 'bebas' hanya untuk menjatuhkannya kembali ke dalam genggamannya di tempat ini?
Wiliam mengisyaratkan dua kursi di hadapannya. "Duduklah. Jangan membuat pemandangan sore ini menjadi sia-sia."
Clara yang merasa bersalah dan takut kena marah akhirnya melangkah lemas dan duduk di kursi sebelah kiri. Sementara Lyn, dengan langkah yang amat berat dan tubuh yang gemetar pasrah, duduk di kursi tepat di hadapan Wiliam.
Jarak meja yang tak terlalu lebar membuat aroma khas sandalwood dan kemewahan yang melekat pada tubuh Wiliam kembali mengurung indra penciuman Lyn.
"Pelayan, bawakan menu terbaik dan segelas wine manis untuk tamu istimewa kita," perintah Wiliam pada kepala pelayan tanpa mengalihkan matanya dari Lyn.
Clara mencoba mencairkan suasana yang mendadak menjadi tegang dan pekat. "Maafkan Clara, Pa... Clara hanya ingin mengajak Lyn jalan-jalan sebentar. Lyn kasihan kalau terus-terusan mengurung diri di rumah."
Wiliam menyandarkan punggungnya pada kursi kulit mahal, menatap Lyn dengan tatapan yang begitu intim dan menuntut. "Apakah kamu menikmati perjalananmu hari ini, Lyn?" tanya Wiliam dengan nada suara yang terdengar seperti pertanyaan biasa, namun di telinga Lyn, itu adalah sebuah intimidasi terselubung.
Lyn menundukkan pandangannya, tak berani menatap langsung mata sehitam jelaga di hadapannya. "S-saya... saya sangat menikmatinya, Tuan Wiliam. Terima kasih..."
"Menikmatinya?" ulang Wiliam pelan, ibu jarinya mengusap pinggiran gelas kristalnya. "Termasuk saat kamu tertawa bebas di atas gondola tanpa memedulikan aturan yang sudah sepakati?"
DEG.
Darah di tubuh Lyn seakan berhenti mengalir. Kata 'aturan' yang diucapkan Wiliam langsung merujuk pada perjanjian rahasia mereka di kamar tidur semalam!
Clara dahi berkerut bingung mendengarnya. "Aturan? Aturan apa maksud Papa?"
Wiliam menyunggingkan senyum dominan yang sangat tipis, matanya mengunci tatapan panik Lyn. "Aturan kesopanan sebagai tamu di keluarga kita, Clara. Sahabatmu ini terlalu polos hingga sering lupa betapa bahayanya dunia luar bagi gadis seusianya."
"Ah... begitu," sahut Clara yang tidak menaruh curiga pada makna ganda kalimat ayahnya. Clara kemudian bangkit dari duduknya. "Papa, Clara mau ke toilet sebentar untuk merapikan riasan."
"Pergilah," jawab Wiliam singkat.
Bersambung...
itu kata william🙂
enak bacanya
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻