Lia hanyalah gadis biasa. Hidup sederhana, bekerja keras membantu orang tuanya, tidak punya harta, tidak punya nama besar. Ia hanya ingin menjalani hari dengan tenang dan jujur.
Namun takdir membawa ia melangkah masuk ke dunia yang sama sekali asing — dunia mewah, dingin, dan penuh aturan milik Arga, pewaris tunggal kekayaan keluarga paling berpengaruh di kota itu.
Pertemuan mereka bukan karena kebetulan. Sebuah perjanjian lama mengikat kedua keluarga, memaksa mereka menikah. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah kewajiban yang harus ia penuhi. Bagi Lia, ini adalah awal dari perjalanan yang menguji ketabahan, kesetiaan, dan hatinya.
Di antara dua dunia yang tak pernah bertemu, bisakah cinta tumbuh? Apakah gadis biasa seperti Lia mampu menembus dinding dingin yang dibangun Arga? Atau pada akhirnya, ia hanya akan menjadi kisah singkat yang terlupakan di istana megah itu?
"Aku mungkin tidak lahir dengan harta, tapi aku lahir dengan hati yang mampu mencintaimu seutuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis Lain dari Dunianya
Pintu ruang tamu utama terbuka lebar sore itu, menyambut kedatangan tamu yang namanya sudah lama terdengar di percakapan-percakapan pelan di dapur, di lorong, di sudut-sudut rumah yang dulu sepi. Namanya Rania. Dan sejak langkah kakinya terdengar di atas lantai marmer yang mengilap, suasana di ruangan itu berubah — seakan udara menjadi lebih halus, lebih cerdas, lebih asing bagiku.
Ia masuk dengan senyum yang tenang, anggun, seakan setiap gerakannya sudah dilatih sejak lahir. Pakaiannya sederhana namun jelas harganya setara dengan seluruh perabot di rumahku dulu. Suaranya lembut, terukur, berbicara dengan nada yang tidak pernah kusandarkan di lidahku — penuh istilah yang tak kupahami, menyebut nama orang-orang yang tak kukenal, seakan seluruh dunia yang ia tinggali adalah peta yang kukenali setiap sudutnya, sedangkan aku hanya berdiri di tepi peta itu, tak tahu ke mana jalan menuju pusatnya.
Arga berdiri menyambutnya. Tidak terburu-buru, tidak terlalu hangat, namun sopan — sopan yang berbeda dari caranya menyambut kerabat lain. Ada keakraban di sana, sisa-sisa masa lalu yang tak kucicipi. Mereka berjabat tangan sebentar, lalu Rania menatapnya lekat-lekat, seakan ingin memastikan sesuatu yang belum berubah.
"Kau terlihat sehat, Arga," ucapnya, dan namanya di bibirnya terdengar begitu alami, begitu biasa, seakan ia mengucapkannya ribuan kali.
"Kau juga, Rania," jawab Arga. "Sudah lama tidak bertemu."
"Terlalu lama," jawabnya pelan, lalu pandangannya beralih kepadaku. Tatapannya tidak tajam, tidak kasar — justru itu yang membuatnya terasa lebih berat. Ia menatapku dari atas ke bawah, bukan dengan kebencian, melainkan dengan rasa menilai, seakan melihat benda yang diletakkan di tempat yang salah. "Dan ini... istrimu?"
Aku mengangguk, berusaha tersenyum, meski rasanya bibirku kaku. "Saya Lia."
Rania tersenyum tipis, menyodorkan tangan yang halus dan wangi. "Rania. Teman lama Arga. Kami tumbuh bersama."
Kalimat itu sederhana, namun maknanya menancap di dada. Kami tumbuh bersama. Kalimat yang tidak bisa kukatakan. Aku tidak tumbuh bersamanya. Aku tidak tahu siapa dia saat ia berusia sepuluh tahun. Aku tidak tahu buku apa yang dibacanya, lagu apa yang didengarnya, tempat mana yang menjadi tempat persembunyiannya saat sedih. Semua itu adalah milik dunia lain — dunia Rania, dunia yang aku tidak pernah punya kuncinya.
Mereka duduk berdua di ruang tamu, dan aku duduk sedikit di pinggir, mendengarkan. Mereka berbicara tentang sekolah yang sama, tentang pesta pernikahan teman yang sama, tentang perjalanan ke luar negeri yang pernah mereka lakukan bersama. Setiap kalimat mereka adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu mereka — masa lalu yang tidak memiliki tempat untukku.
"Kau belum pernah menceritakan Lia padaku," ucap Rania di jeda percakapan, menatap Arga seakan menanyakan hal yang aneh.
Arga melirikku sekilas, lalu menatapnya kembali dengan tenang. "Tidak semua hal perlu diceritakan kepada semua orang."
Rania tertawa pelan, seakan mendengar jawaban yang ia kenal. "Masih sama. Selalu menyimpan hal-hal penting untuk dirimu sendiri. Dulu pun begitu — kau tidak pernah menceritakan perasaanmu kepada siapa pun."
Aku menunduk menatap tangan yang saling meremas di pangkuanku. Dulu. Ia tahu bagaimana Arga dulu. Ia tahu kebiasaannya. Ia tahu apa yang ia sembunyikan. Aku baru mengetahuinya beberapa bulan terakhir. Bagiku, Arga masih penuh hal yang harus kucari tahu. Baginya, ia adalah buku yang sudah selesai dibaca dari halaman pertama hingga terakhir.
Sore itu terasa berjalan sangat lambat. Setiap kali Rania berbicara, ia menempatkan dirinya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan Arga — bagian yang ada sebelum aku datang, dan seakan masih ada di sana. Ia menyebutkan hal-hal yang hanya mereka berdua yang tahu, tertawa kecil pada kenangan yang tak bisa kulihat. Dan di sela-sela itu, ia menatapku sekilas — tatapan yang berkata, kau hanyalah tamu di kisah kami.
Saat Rania akhirnya pamit, ia berhenti di depan Arga, berbisik pelan namun cukup terdengar olehku, "Kau berubah, Arga. Bukan menjadi lebih buruk. Tapi... menjadi berbeda. Aku tidak yakin apakah perubahan ini cocok untukmu."
Arga tidak menjawab langsung. Ia hanya berkata, "Terima kasih sudah berkunjung, Rania."
Pintu tertutup. Rumah kembali tenang. Namun sesuatu tertinggal di udara — sesuatu yang berat, dingin, tak terlihat namun nyata.
Arga berbalik ke arahku. "Lia..."
Aku mengangkat tangan pelan, menghentikannya sejenak. "Kalian saling mengenal dengan sangat baik."
Ia mengangguk perlahan, tidak menyangkal. "Kami tumbuh bersama. Ayahnya dan ayahku adalah sahabat lama. Ada masa di mana kami hampir... menjadi lebih dari teman."
Jantungku berdenyut perih. "Hampir?"
"Ya. Hampir. Tapi itu sudah lama sekali. Dan itu tidak pernah menjadi kenyataan." Ia mendekat, ingin menyentuhku, namun aku mundur selangkah — bukan karena menolaknya, tapi karena butuh ruang untuk bernapas.
"Dia cantik, Arga. Cerdas. Mengerti duniamu. Kalian bisa berbicara berjam-jam tanpa kesulitan. Dan aku... aku hanya gadis yang tidak tahu siapa teman masa kecilmu, tidak tahu tempat-tempat yang kau sukai, tidak tahu apa-apa tentang kehidupan yang kau jalani sebelum aku datang." Suaraku bergetar, namun aku memaksakannya keluar. "Dia adalah gadis yang seharusnya berdiri di tempatku."
Arga menggeleng kuat, melangkah mendekat hingga jarak di antara kami hilang, dan memegang kedua bahuku dengan lembut namun tegas. "Tidak. Dia bukan."
"Tapi dia berasal dari duniamu," bisikku.
"Dan kau berasal dari duniaku yang lain," jawabnya mantap. "Dunia yang sebenarnya — dunia di mana aku tidak perlu berpura-pura, dunia di mana aku boleh menjadi lemah, dunia di mana aku dicintai bukan karena siapa ayahku atau berapa harta yang kumiliki, tapi karena aku adalah aku. Rania berasal dari dunia luar — dunia yang menilai, yang membandingkan, yang memisahkan orang-orang ke dalam kotak-kotak. Kau berasal dari hatiku."
Aku menatapnya, mataku berkabut oleh air mata. "Apakah kau tidak pernah berpikir... seandainya aku seperti dia? Seandainya aku lebih pandai, lebih anggun, lebih... sepadan?"
Ia mengusap sudut mataku dengan ibu jarinya. "Jika kau seperti dia, aku tidak akan jatuh cinta padamu. Karena aku tidak butuh seseorang yang sama denganku. Aku butuh seseorang yang melengkapiku — seseorang yang membawa kehangatan yang tidak kumiliki, kesederhanaan yang tidak pernah kucari, ketulusan yang tidak pernah kulihat di duniaku sendiri."
Ia mencium keningku, pelan, penuh keyakinan. "Rania adalah bagian dari masa laluku. Bagian yang sudah selesai. Kau adalah masa kini dan masa depanku. Bagian yang baru saja dimulai. Dan tidak ada yang bisa mengubah itu."
Namun kata-katanya, meski indah, tidak langsung menghapuskan bayangan itu. Gadis lain dari dunianya — ia bukan sekadar orang asing. Ia adalah pengingat bahwa sebelum aku, ada orang lain yang sudah menempati ruang di hidupnya. Bahkan jika ia tidak dicintai, ia pernah ada. Dan sesekali, di saat hening, pikiran itu kembali menyelinap — bagaimana jika pada akhirnya, yang dicarinya bukanlah kehangatan yang kubawa, melainkan keakraban yang sudah lama ia miliki?
Hari-hari berikutnya, Rania kembali beberapa kali. Setiap kedatangannya membawa perasaan yang sama — perasaan berdiri di luar pintu yang tertutup rapat, mendengar percakapan di dalam tanpa bisa masuk. Aku melihat mereka tertawa, bercerita, saling mengerti dengan satu pandangan. Dan aku bertanya pada diriku sendiri: bisakah aku benar-benar menjadi bagian dari hidupnya, atau aku hanyalah tamu yang suatu hari akan dipersilakan pulang?
Suatu sore, saat Rania pergi, Arga menemukan aku duduk sendirian di halaman kecilku, menatap bunga yang tertiup angin. Ia duduk di sampingku, tidak langsung berbicara, membiarkan keheningan menyatu dengan kami.
"Kau cemas," ucapnya akhirnya.
"Aku takut," akuku jujur. "Takut kau menyadari bahwa kau lebih cocok dengannya. Bahwa aku hanya kesalahan yang belum kauakui."
Ia menarik napas panjang, menatap ke arah pohon yang rindang di sudut halaman. "Dulu aku berpikir aku akan menikah dengan seseorang seperti Rania. Itu sudah direncanakan orang-orang di sekitar kami. Aku menerimanya sebagai hal yang wajar. Tapi setiap kali bersamanya, aku merasa... bukan diriku. Aku harus selalu menjadi pewaris yang sempurna, pria yang diharapkan semua orang. Ia menyukai bayanganku, bukan aku yang sebenarnya."
Ia berbalik menatapku, matanya jernih dan tulus. "Kau melihatku, Lia. Kau melihat saat aku lelah, saat aku takut, saat aku tidak tahu harus berbuat apa. Dan kau tetap di sini. Rania tidak pernah melihat sisi itu. Dan mungkin ia tidak akan menyukainya jika melihatnya."
Ia menggenggam tanganku. "Aku tidak memilih kau karena tidak ada pilihan lain. Aku memilih kau karena denganmu, aku merasa utuh. Dengan Rania, aku selalu merasa kurang. Denganmu, aku merasa lebih dari cukup."
Perlahan, kata-katanya mulai menenangkan bagian hatiku yang gelisah. Gadis lain dari dunianya memang ada, namun ia tidak memegang kunci pintu itu lagi. Kini kunci itu ada di tanganku — bukan karena aku berasal dari dunia yang sama, tapi karena aku berasal dari tempat yang lebih dalam: hatinya.