Dikhianati istri sendiri, Kai kehilangan segalanya. Yang tersisa hanyalah putrinya, Aurelia — satu-satunya cahaya yang perlahan padam karena penyakit mematikan. Di titik terendah, darah yang tertidur ribuan tahun akhirnya bangkit.
Ia bukan lagi orang yang bisa diinjak. Garis keturunan Naga Tertinggi kini mengalir di uratnya. Ia bersumpah:
Yang mengkhianati akan berlutut. Kota yang membuang akan tunduk. Aurelia akan hidup — walau harus melawan surga sekalipun.
Namun kekuatan naga membuka gerbang dunia lain. Pengkhianatan itu bukanlah akhir, melainkan awal rencana gelap yang melintasi waktu. Kai kini harus melintasi dimensi, menguasai bela diri kuno, dan memimpin tim ke tempat yang tak pernah manusia jangkau. Dan di tengah badai pembalasan, ia paham: kekuatan terbesar bukanlah kemampuan menghancurkan, tapi alasan untuk melindungi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 1 - Di Titik Terendah
Hujan turun tanpa henti, membasahi lorong sempit yang bau lumpur dan kedinginan. Di sudut yang paling gelap, di balik tumpukan kardus lusuh, Kai memeluk tubuh kecil yang gemetar itu.
Dada Aurelia naik turun dengan susah payah. Napasnya terdengar seperti angin yang berdesir di celah batu — lemah, nyaris tak terdengar. Wajah kecilnya yang biasanya ceria kini pucat pasi, keringat dingin membasahi keningnya, meski udara di sekitar mereka sudah sedingin tulang.
"Ayah…" suara gadis itu nyaris tak terdengar, matanya terbuka sedikit, menatap Kai dengan tatapan yang masih menyisakan kepercayaan murni. "Apa aku… akan sembuh?"
Jantung Kai terasa seperti diremas hingga hancur. Ia mencium kening putrinya yang panas membara, menahan gemetar di suaranya.
"Tentu, Sayang. Ayah janji."
Janji itu terasa pahit di lidahnya. Sudah tiga bulan ia berkeliling ke mana-mana — memohon, meminta bantuan, bahkan berlutut di depan pintu rumah orang-orang yang dulu ia kenal. Semua menolaknya. Tak ada tabib yang mau menolong orang yang sudah jatuh tersungkur. Apalagi orang yang namanya kini dicemari kotor.
Kehidupan Kai dulu jauh berbeda. Ia bukan pengemis yang tidur di gang sempit ini. Ia memiliki kedudukan, rumah yang hangat, kekuasaan yang dihormati orang banyak. Ia memiliki segalanya — sampai hari itu, hari di mana wanita yang ia cintai, istrinya sendiri, berdiri di hadapan semua orang dan menuduhnya melakukan pengkhianatan yang tak pernah ia lakukan.
Semua orang percaya padanya. Teman-temannya berbalik. Orang-orang yang dulu tunduk padanya kini meludahinya. Harta kekayaannya disita, namanya dihapus dari catatan kehormatan, dan ia diusir — tanpa satu pun pembela.
"Kai…" suara lembut itu kembali memanggil, menariknya kembali dari ingatan yang menyakitkan. "Dingin…"
Kai merapatkan pelukannya, mencoba menyalurkan kehangatan yang nyaris tak ia miliki lagi. Ia menyadari satu hal pahit: tak ada lagi yang bisa ia lakukan di sini. Tak ada obat, tak ada bantuan, tak ada harapan. Kalau begini terus, dalam beberapa hari ke depan, satu-satunya cahayanya akan padam selamanya.
Air mata jatuh, menyatu dengan air hujan yang membasahi wajahnya. Ia mengepalkan tangan begitu kuat hingga kuku menancap ke telapak tangan, menembus kulit, meneteskan darah.
Aku tidak akan membiarkannya.
Pikiran itu melintas tajam, membakar keputusasaannya yang dingin.
Aku tidak akan membiarkan mereka mengambilnya juga.
Tiba-tiba, rasa aneh menjalar dari luka di telapak tangannya. Bukan rasa sakit — melainkan panas. Panas yang perlahan naik, mengalir sepanjang lengan, menembus dada, hingga ke setiap sudut tubuhnya. Seolah ada sesuatu yang tertidur di sana, sejak kelahirannya, dan kini akhirnya terbangun.
Darah yang menetes dari tangannya berubah warna — merah menyala, berkilau seperti cairan api.
Kai tertegun. Ia merasakannya: kekuatan yang bukan milik manusia biasa, tenaga yang kuno, purba, dan dahsyat, perlahan bangkit dari kedalaman dirinya. Bunyi samar terdengar di telinganya — seperti auman naga yang bergema dari ribuan tahun silam.
Mata yang semula redup mendadak berubah. Di kegelapan lorong itu, sepasang mata menyala — keemasan, tajam, tak bisa dipandang sembarangan. Hujan yang jatuh di dekatnya perlahan menguap sebelum menyentuh kulitnya.
Ia menunduk menatap tangannya. Cahaya keemasan samar menyelimuti telapak tangan itu, menutup luka yang tadi menganga.
Aurelia di pelukannya terkejut sedikit, lalu menatap wajah ayahnya dengan mata lebar. "Ayah… matamu… menyala."
Kai mengangkat wajah. Di luar, hujan masih turun deras. Kota tempat ia dibuang tidur tenang, tak menyadari bahwa sesuatu yang besar baru saja berubah.
Ia berdiri perlahan, tubuhnya kini tak lagi terasa berat. Di dadanya tak ada lagi keputusasaan — hanya api yang tak akan padam lagi.
"Tak ada yang akan menyakitimu lagi, Aurelia," ucapnya, suaranya tenang namun bergetar kekuatan yang baru saja bangkit. "Tak ada siapa pun."
Ia melirik ke arah tembok tinggi yang memisahkan lorong kumuh ini dari kota tempat ia dulu dihormati, lalu dikhianati.
Mereka pikir mereka sudah menghancurkanku.
Senyum tipis, dingin, namun penuh ketegasan terukir di bibirnya.
Mereka belum tahu — yang mereka bangun bukanlah akhir. Melainkan kebangkitan.
Dan di kejauhan, seolah menjawab panggilan itu, bayangan raksasa melintas samar di balik awan gelap — hilang secepat ia muncul, namun meninggalkan getaran yang membuat seluruh kota seakan berhenti bernapas sesaat.