NovelToon NovelToon
Cinta Di Bawah Bayangan Tangan Besi

Cinta Di Bawah Bayangan Tangan Besi

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: aletaia

Aria Utama, seorang arsitek bertangan dingin, mendadak terjebak dalam pusaran konflik dua pria paling dominan di kota. Di satu sisi ada Adrian Mahardika, CEO dingin dari Mahardika Group yang menawarkan perlindungan, kestabilan, dan cinta yang tenang. Di sisi lain ada Dante Vance, pemimpin sindikat kejahatan paling tak tersentuh yang siap menghancurkan dunia demi mendapatkan Aria. Saat rahasia masa lalu terkuak, Aria harus memilih antara kepastian yang aman atau gairah yang mematikan di tengah pertumpahan darah dan perebutan kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aletaia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Pembalasan Mafia

Kabar tertembaknya Adrian Mahardika menyebar bagaikan api menyambar jerami kering di seluruh pelosok kota. Saham Mahardika Group sempat anjlok beberapa persen saat pembukaan bursa, sementara aparat kepolisian dan tim pengamanan internal bersiaga penuh di setiap sudut Rumah Sakit tempat Adrian dirawat.

Namun, di sudut lain kota—jauh dari jangkauan lampu kamera media dan sirene polisi—atmosfer yang jauh lebih mencekam menyelimuti markas utama Black Viper.

Di sebuah gudang penyimpanan kontainer terisolasi di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, bau amis darah dan bau minyak tajam menyeruak pekat. Lampu gantung berpendar redup, memancarkan bayangan-bayangan panjang di atas lantai semen yang dingin.

Dante Vance berdiri di tengah ruangan. Kemeja hitamnya digulung hingga siku, dan kedua tangannya yang bernoda darah menyiratkan amarah besar yang baru saja diluapkan. Di hadapannya, tiga orang pria terikat erat di kursi kayu dengan tubuh babak belur dan napas berbunyi hembusan darah.

Mereka adalah anggota faksi pembunuh bayaran independen yang bertanggung jawab atas penembakan di restoran Senopati.

"Siapa yang menyuruh kalian?" suara Dante terdengar sangat rendah, dingin, dan menakutkan—bagaikan bisikan iblis dari dasar neraka.

Pria yang terikat di tengah terbatuk, meludahkan darah ke lantai. "K-kami hanya menerima pesanan dari jaringan... kami tidak tahu siapa pemesan aslinya—"

BANG!

Sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya, Dante menarik senjatanya dan melepaskan satu tembakan telak ke lantai tepat di antara kedua kaki pria itu. Suara letupan nyaring bergemuruh di dalam gudang, membuat ketiga pria itu menjerit ketakutan.

"Jangan coba-coba berbohong padaku," desis Dante seraya mencengkeram rahang pria itu dengan cengkeraman besi. "Kalian menggunakan proyektil bertanda ular naga milik kelompokku untuk menjebakku! Siapa yang menyuruh kalian menembak restoran itu?!"

Dante sangat murka bukan karena Adrian tertembak, melainkan karena serangan penembak jitu itu membahayakan nyawa Aria. Siapa pun yang berani mengarahkan moncong senjata ke arah Aria—meski dengan dalih menjebak dirinya—telah menorehkan vonis mati di tangan sang Raja Mafia.

Tangan kanan Dante, Marco, melangkah mendekat dan menyerahkan sebuah tablet yang berisi pelacakan rekening kargo. "Tuan Dante, kita sudah melacak aliran dananya. Serangan ini didanai oleh faksi pengkhianat di dalam dewan direksi konsorsium lama kita yang bekerja sama dengan pihak luar."

Dante melepaskan cengkeramannya pada rahang pria itu dengan kasar, lalu mengambil kain bersih untuk mengusap jemarinya.

"Habisi mereka bertiga. Buang jasadnya di depan kantor faksi pengkhianat itu sebagai peringatan," perintah Dante dingin tanpa emosi sedikit pun.

"Baik, Tuan."

Dante melangkah keluar dari gudang menuju mobil SUV hitamnya yang sudah menunggu. Pria itu menyandarkan kepalanya ke jok kulit, meraba ponsel khususnya. Sejak kemarin malam, ia telah menelepon nomor Aria puluhan kali, tetapi tidak satu pun panggilannya diangkat. Aria dengan sengaja menolak panggilannya dan mengabaikan seluruh pesan terselubung yang dikirimkannya.

Gigi Dante gemertak rapat. Amarah dan rasa cemas yang tak pernah ia rasakan sebelumnya membakar dadanya. Ia tahu pasti mengapa Aria menjauhinya: wanita itu mengira dialah yang menyuruh penembak jitu itu untuk membunuh Adrian dan mengancam nyawanya.

"Kau mengabaikanku karena CEO brengsek itu, Aria?" bisik Dante dengan mata abu-abu yang berkilat liar dan penuh obsesi berbahaya.

Dante mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Jika kau pikir ruangan VIP rumah sakit itu bisa menyembunyikanmu dariku, kau sangat salah."

Dante menyalakan mesin SUV-nya, menginjak pedal gas dalam-dalam membelah kegelapan malam. Ia siap menerobos barikade pengawalan terbanyak sekali pun demi meluruskan kesalahpahaman dan menyeret kembali wanita yang dianggapnya sebagai takdirnya itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!