Cecil si wanita lemah ditemukan meninggal di sebuah gudang yang terbakar. Ternyata sebelum gudang dibakar, Cecil sudah diperkosa oleh seorang pemuda tak dikenal. Siapa sangka, Cecil malah terlahir kembali. Cecil memiliki semua ingatan di masa depan dan tubuhnya jauh lebih kuat dari sebelumnya. Cecil pun merencanakan membalas semua teman-teman yang membullynya sampai membuatnya harus meregang nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Ketulusan
Cecil
Selama ini aku merasa Egi adalah laki-laki brengsek, laki-laki yang harus kubenci dan bahkan aku bertekad akan membunuhnya jika kami sampai bertemu lagi. Ternyata setelah mengenal siapa Egi, aku malah mengurungkan niatku. Pandanganku tentang Egi langsung berubah 180⁰. Kini Egi tak lagi terlihat menyeramkan di mataku, Egi malah menjadi sosok yang berbeda. Sosok malaikat yang berhati mulia.
Mendirikan rumah singgah pasti butuh biaya besar. Berdasarkan cerita Egi, Papanya amat membedakan dirinya dengan Leon. Pasti Egi tak memiliki banyak uang. Tak seperti Leon yang dimanjakan dengan banyak uang dan barang-barang mewah. Dari mana Egi bisa memiliki uang untuk mengelola rumah singgah ini?
"Kenapa? Ada yang mau kamu tanyakan?" Egi seakan bisa menebak apa yang kupikirkan.
"Maaf, Gi, bukannya aku tidak sopan. Aku hanya penasaran, dari mana kamu memiliki uang untuk mengelola rumah singgah ini? Mengelola rumah singgah itu butuh uang yang besar. Banyak orang yang memang datang dari berbagai daerah untuk berobat di kota. Uang yang mereka miliki pasti terbatas, rumah singgah yang kamu dirikan ini begitu bermanfaat dan mengurangi biaya yang mereka harus keluarkan. Tentunya kamu harus menghidupi mereka selama tinggal di rumah singgah ini. Boleh aku tahu bagaimana cara kamu untuk memenuhi semua kebutuhan mereka di rumah singgah ini?"
Egi tersenyum tipis. "Aku sudah duga, kamu pasti akan bertanya seperti itu. Seperti yang aku katakan padamu, aku hanya memanfaatkan waktuku selama berada di masa lalu. Aku melakukan investasi di beberapa bisnis. Modalku tidak banyak namun aku tahu bisnis apa saja yang akan maju. Awalnya aku menjual semua barang berharga peninggalan Mama. Uangnya aku pakai untuk investasi di bidang bisnis yang menguntungkan. Ternyata keuntungan itu sangat besar. Aku tak mungkin memakainya sendiri, pasti nanti Papa curiga. Aku memutuskan untuk membuat sesuatu yang berguna dan membahagiakan orang lain, kuputuskan untuk membuat rumah singgah."
"Oh ya? Kamu bisnis apa?"
Egi menunjukkan beberapa bisnis UMKM miliknya. Dalam waktu singkat, bisnis Egi berkembang pesat. Keuntungan dari bisnisnya dikembangkan lagi oleh Egi dalam investasi bidang lain. Keuntungan semakin besar, semakin banyak pula yang bisa Egi bantu di rumah singgah. Keren.
"Wow!" Hanya satu kata yang bisa aku ucapkan untuk menggambarkan betapa kagumnya aku akan apa yang Egi lakukan.
"Kamu sendiri juga melakukan sesuatu yang merubah takdirmu, bukan? Aku sempat mencari tahu, bisnis Papamu sukses besar saat negara ini lockdown. Aku tebak, kamu yang memberi saran bisnis pada Papamu. Kamu juga hebat!" Egi menghela nafas dalam dan menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. "Setidaknya kita tidak meninggalkan orang di sekitar kita sia-sia jika takdir kita tak berubah."
"Ish, jangan bilang begitu! Kita harus bisa merubah takdir! Memangnya kamu mau berakhir di penjara karena membunuhku?" balasku cepat.
"Aku tak membunuhmu. Kalau pilihan terakhir adalah membunuhmu, aku akan memilih membunuh diriku sendiri dibanding membunuhmu. Hidup memikul rasa bersalah itu tak enak." Egi kini menatapku dengan lekat. "Jadi, kamu harus tetap hidup apapun yang terjadi, oke?"
Egi tersenyum dan mengacak rambutku. Senyumnya begitu tulus. Ah, sial! Jantungku kenapa terus berdegup kencang sih selama berada di dekat Egi? Argh!
****
"Cy, Lisa mana?" tanyaku pada Lucy yang sedang asyik memakai maskara.
"Lisa sakit," jawab Lucy singkat.
"Oh ya? Sakit apa?" Aku tak percaya Lisa sakit. Aku yakin Lisa masih tak tenang hidupnya setelah membunuh orang.
Lucy menaruh maskara dan cermin lalu menatapku dengan sebal. "Aku tak tahu. Kenapa sih kamu bawel banget? Satu lagi, jangan sok akrab sama aku! Aku tahu, kamu yang menaruh lem di kursiku."
"Lem terus yang kamu bahas." Aku mengeluarkan kotak bekal yang kubawa dan membukanya. Semalam Papa membawa oleh-oleh Pisang Bolen Nurma yang terkenal di Jogja. Sengaja aku bawa untuk kubagikan pada teman-temanku. "Mau tidak?" Kutawarkan pada Lucy.
Lucy melirik kotak makanku dan menolak tawaranku. "Tak usah, nanti aku kamu kerjai lagi!" kata Lucy dengan ketus.
"Ish, pikiran kamu jelek sekali." Aku mengambil sepotong dan aku makan dengan lahap. "Kalau aku mengerjaimu, tak akan aku makan sendiri. Ambillah! Kita makan sama-sama. Aku bawa ini untuk kita makan."
Lucy menatap lekat padaku. Ia lalu menatap kotak bekalku dan dengan ragu mengambil pisang bolen yang kutawarkan. "Awas ya kalau aku kenapa-napa!"
Aku tersenyum kecil mendengar ucapannya. "Iya. Makanlah. Aku tak akan menyakiti teman sendiri. Tenanglah."
Lucy mulai memakan pisang bolen yang kuberikan. Aku merasa Lucy sebenarnya baik hanya salah pergaulan saja. Saat jam istirahat tiba, aku memutuskan makan siang bersama Lucy di kantin. Aku sudah bertekad akan mendekatkan diri dengan Lucy.
Lucy hanya diam saja selama makan bersamaku. Terpaksa aku yang mengajaknya mengobrol. Sedikit demi sedikit Lucy mulai membuka dirinya. Ia bahkan mau pulang bareng denganku.
"Kayaknya cocok deh kalau kamu yang pakai." Kami membahas gaya berpakaian anak muda di dalam mobil Lucy.
"Aku? Tidak terlalu berwarna ya?"
"Tidak. Cocok di kulit kamu, Cy. Pasti kamu akan semakin cantik kalau memakainya," pujiku dengan tulus.
"Bisa aja kamu, Cil. Baiklah, aku akan membelinya. Kalau kamu cocok pakai yang ini ...." Lucy gantian memilihkan pakaian yang cocok untukku. Sayangnya aku tidak fokus dengan ucapannya. Aku melihat nenek-nenek sedang berjalan sambil dituntun anaknya berjalan dari satu kendaraan ke kendaraan lain. Aku pikir nenek tersebut akan meminta-minta namun saat ia mengetuk kaca di samping Lucy, aku terdiam.
Nenek tersebut menunjukkan foto seorang kakek-kakek pada kami. Aku tak bisa mendengar apa yang nenek itu katakan karena jendela mobil di tutup namun tatapan mata nenek itu terlihat amat bersedih. Beliau menunjuk foto yang dipegangnya seperti berada dimana keberadaan suaminya.
Nek, aku tahu dimana suamimu. Aku tahu ia sudah meninggal dan dikuburkan dimana namun aku tak bisa bilang sekarang. Maafkan aku, Nek. Aku janji akan mengungkap kasus ini sesegera mungkin.
"Cil, kamu kenapa? Kok kamu nangis?"
***