NovelToon NovelToon
My Idol Is My Desktop Shortcut

My Idol Is My Desktop Shortcut

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:345
Nilai: 5
Nama Author: TCN_Luna

Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.

Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Pangeran Dingin dan Server yang Berisik

Di SMA Internasional Garudatama, Rendra Adijaya adalah definisi dari kesempurnaan yang menyebalkan.

Tinggi seratus delapan puluh senti, rahang tegas blasteran Indo-Jerman, selalu juara umum paralel, dan punya tatapan mata tajam yang sanggup bikin cewek-cewek lupa cara bernapas. Ditambah lagi, Rendra itu super irit ngomong. Orang-orang di sekolah mengira dia adalah tipe cowok cool, elegan, berkelas, dan punya standar selangit.

Padahal aslinya? Nol besar.

Rendra cuma punya social anxiety akut tingkat dewa yang membuat otaknya mendadak blank dan mogok kerja setiap kali harus berinteraksi dengan manusia asli lebih dari tiga kalimat. Pilihan hidupnya hanya dua: diam terlihat keren, atau ngomong tapi mempermalukan diri sendiri. Jelas dia memilih opsi pertama.

"Rendra... ini buku catatan Fisika lo yang kemarin gue pinjam. Makasih banyak, ya."

Seorang siswi dengan seragam super rapi mendadak berdiri di depan meja Rendra. Tangannya agak gemetar saat menyodorkan buku tulis bersampul biru tersebut.

Rendra yang sedang menatap kosong ke papan tulis langsung mendongak. Tatapan matanya yang elang dan dingin menusuk tepat ke manik mata siswi itu. Tanpa ekspresi, Rendra menerima buku tersebut lalu memberikan anggukan tunggal yang sangat minimalis.

"Yuk," ucap Rendra pendek. Suaranya berat, dalam, dan kedengaran sangat berwibawa.

“Oh my God, cool banget!” jerit siswi itu dalam hati sebelum akhirnya mundur teratur dengan wajah yang memerah padam akibat salah tingkah.

Begitu siswi itu melangkah menjauh dari zonanya, pertahanan Rendra runtuh. Di bawah kolong meja, kedua tangan cowok itu sebenarnya gemetaran parah mirip joystick yang sedang bergetar. Keringat dingin mulai menetes di tengkuknya. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari ritme normal.

“Anjir, anjir, anjir... tadi suara gue terlalu ketus ga ya? Muka gue aneh ga tadi? Duh, kenapa gue malah bilang 'Yuk' bukannya 'Sama-sama'? Ah, elah! Kenapa bersosialisasi di dunia nyata sesusah ini, Tuhan?!!!” jerit Rendra histeris di dalam batinnya. Jiwanya meronta-ronta, kontras dengan wajahnya di luar yang masih sedatar tembok semen.

Dia buru-buru merogoh saku celana abu-abunya, memastikan ponselnya aman. Di layar ponsel yang dia redupkan setengah, tampak aplikasi Discord dengan sebuah profil berlogo kucing hitam berkacamata hitam. Nama akunnya: NIGHTMARE.

Nightmare adalah moderator utama sekaligus pemilik server Discord gaming terbesar di Indonesia tempat Rendra biasa mengungsi dari kejamnya dunia nyata. Bagi Rendra, Nightmare bukan sekadar admin fiktif di internet. Dia adalah pawang mental, tempat Rendra mengemis validasi hidup setiap malam setelah lelah berpura-pura menjadi pangeran sempurna di sekolah.

Rendra melirik pelan ke arah pojok kanan paling belakang kelas.

Di sana, duduk seorang cewek yang rambutnya diikat asal-asalan dengan jedai murah. Seragamnya agak longgar, dan matanya fokus menatap layar HP di bawah kolong meja sambil mengunyah permen karet dengan ritme santai.

Kanaya Putri. Cewek paling cuek, ceplas-ceplos, bermulut setajam silet, dan paling anti dengan cowok-cowok nyata yang hobi tebar pesona di sekolah.

Rendra mendengus pelan dalam hati. Dia tidak pernah punya urusan dengan Naya, dan Naya pun selalu menatap Rendra dengan pandangan malas seolah-olah Rendra hanyalah seonggok manekin pajangan toko yang kebetulan bisa berjalan dan bernapas. Mereka hidup di dua kasta sosial sekolah yang berbeda jauh.

Tepat jam empat sore, bel pulang berdering nyaring. Rendra langsung melesat keluar kelas secepat kilat tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri. Dia sengaja memasang langkah lebar demi mengabaikan beberapa adik kelas yang mencoba menyapanya di koridor dan parkiran.

Begitu mobil jemputannya sampai di rumah bak istana miliknya, Rendra langsung berlari ke kamar dan mengunci pintu rapat-rapat.

Cklek.

Topeng pangeran dingin yang dia pakai seharian langsung luruh seketika. Rendra melempar tas sekolahnya ke lantai secara acak, melompat ke atas kasur king size-nya, lalu menyalakan PC gaming berspesifikasi monster miliknya. Dia menyambar headset dan langsung memakai alat itu di kepala.

Tanpa babibu, dia langsung masuk ke voice channel privat di server Discord-nya. Di sana, akun Nightmare sudah menyala hijau, tanda bahwa sang admin sedang aktif.

Rendra langsung menekan tombol unmute pada mikrofon mahalnya. Suaranya yang tadi siang terdengar berat, dingin, dan penuh wibawa di sekolah, kini berubah total 180 derajat menjadi cempreng, manja, dan penuh keputusasaan dramatis.

"Nayaaaaaa! Gue mau mati aja hari ini! Jiwa sosial gue terkikis habis!" rengek Rendra sambil guling-guling di kasurnya, memeluk gulingnya erat-erat seperti anak kecil.

Dari seberang voice channel, terdengar suara helaan napas berat seorang cewek yang sangat familier. Suara ketukan keyboard mekanik bertipe blue switch terdengar bertalu-talu bagai senapan mesin.

"Apa lagi sih, Ren? Lu kalah gacha lagi di game? Atau lu lose streak lagi pas push rank solo?" balas suara cewek itu dari seberang sana. Nada bicaranya ketus, malas, tapi entah kenapa selalu berhasil menenangkan saraf Rendra yang tegang.

"Bukan masalah game, Nay! Tadi di sekolah ada cewek yang ngajakin gue ngomong! Gue gemeteran parah sampai mau pingsan! Gue cuma bisa bilang 'Yuk' pas dia balikin buku. Kayanya dia bakal mikir gue cowok aneh bin sombong deh setelah ini. Gue emang ga pantes hidup di masyarakat normal, Nay... Gue mau jadi shortcut desktop di PC lo aja biar bisa lo klik tiap hari tanpa harus ngomong!" Rendra mulai terisak dramatis yang dibuat-buat.

"Lebay lu. Cuma diajak ngomong seiprit doang mental lu langsung serapuh kerupuk kesiram kuah soto," semprot Naya dari seberang sana tanpa ampun. "Lagian lu ngapain sih keras kepala banget pura-pura jadi cowok cool irit ngomong di sekolah lu itu? Capek sendiri kan lu ujung-ujungnya?"

"Ya mau gimana lagi, Naya sayang... Kalau orang-orang di sekolah tahu gue aslinya wibu cengeng bermental tempe begini, reputasi bokap gue sebagai pengusaha besar bisa hancur lebur," Rendra cemberut, merangkak turun dari kasur lalu duduk tegak di kursi gaming-nya. "Eh, BTW, lo lagi ngapain sih? Kok berisik banget suara ketikan lo dari tadi?"

"Lagi nge-ban bocah-bocah toxic di server utama. Banyak bener hari ini yang nyampah gaspol," sahut Naya santai. "Udah ah, gausah drama nangis-nangis. Malu-maluin lu sebagai pro-player anonim top global tapi nangis bombay gara-gara disapa cewek asli. Buruan login game, temenin gue push. Kalau lu mati duluan di game ini, gue block akun Discord lu seminggu penuh."

"JANGAN! JANGAN DI-BLOCK! Iya, iya, ini gue login sekarang! Jangan tinggalin gue, Nayaaa! Cuma lo satu-satunya tempat gue waras!" Rendra langsung panik setengah mati dan buru-buru menggerakkan mouse nirkabelnya dengan kecepatan penuh.

Rendra tidak pernah tahu, di sebuah kamar kos sederhana yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari rumah megahnya, Kanaya Putri—cewek cuek yang duduk di pojok kelasnya—sedang memutar bola matanya malas sambil menatap layar monitor yang berkedip.

Naya menatap nama akun Discord Rendra yang tertera di layarnya: @King_Ren.

Naya mengunyah permen karetnya kuat-kuat, lalu bergumam sendiri di kamarnya yang remang, "Ini bocah kalau di Discord manjanya minta ampun kayak anak kucing minta makan, untung di sekolah asli gue ga ada cowok segila dan seaneh dia. Bisa stres tujuh turunan gue kalau punya temen sekelas modelan begini."

Naya tidak pernah sadar, kalau "bocah manja serapuh kerupuk" yang sedang dia marahi di Discord ini adalah Rendra Adijaya—sang pangeran sekolah yang foto candid-nya selalu memenuhi galeri HP cewek-cewek di kelas mereka.

Dan bom waktu rahasia itu... bersiap untuk meledak besok pagi di sekolah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!