Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.
“Kenapa harus suamiku, Bu?!”
Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.
Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PARFUM WANITA DI BAJU SUAMIKU.
Tiga hari berlalu. Hari-hari Nafisa berjalan seperti biasa, tanpa rasa curiga sama sekali. Dan ia tetap menjalani rutinitasnya.
Namun, pagi ini, Nafisa sedang bersiap untuk pindah ke rumah baru mereka yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah ibunya.
Di dalam kamar, ia sibuk memasukkan pakaian ke dalam koper. Satu demi satu baju dilipatnya dengan rapi sebelum diletakkan di antara tumpukan pakaian yang sudah memenuhi koper tersebut.
Saat hendak memasukkan baju berikutnya, Nafisa menghentikan gerakannya. Ia melongok ke dalam koper, lalu mengembuskan napas kecil ketika menyadari tidak ada lagi ruang tersisa.
Koper miliknya sudah penuh. Begitu pula koper Damar.
“Aduh, penuh semua,” gumam Nafisa sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Pinjam sebentar, deh.”
Tanpa membuang waktu, ia meninggalkan kamar dan berjalan menuju kamar ibunya. Kebetulan, ibunya sedang pergi berbelanja ke pasar.
Setibanya di depan pintu, Nafisa menekan gagangnya perlahan, lalu mendorongnya hingga terbuka. Ia melangkah masuk dan langsung menuju lemari pakaian yang berdiri di sudut kamar.
Tangannya menarik pintu lemari tersebut. Pandangannya menyusuri bagian dalam sebelum akhirnya menemukan sebuah koper yang dicarinya.
“Nah, ini dia,” gumamnya lega.
Nafisa mengeluarkan koper itu, lalu berdiri untuk menutup kembali pintu lemari. Namun, gerakannya mendadak terhenti ketika sudut matanya menangkap sesuatu yang terasa familier di antara tumpukan pakaian.
Sebuah celana boxer pria.
Ia mengernyit, lalu meraihnya dengan hati-hati. Nafisa membentangkan celana itu di hadapannya, memperhatikan bentuk dan warnanya selama beberapa saat.
Keningnya semakin berkerut.
“Ini ... punya Mas Damar, bukan, ya?” gumamnya.
Ia membalik celana itu, mencoba memastikan ingatannya. Semakin lama diperhatikan, semakin kuat perasaan bahwa ia mengenali pakaian tersebut.
“Sebentar.” Nafisa terdiam sejenak. “Aku ingat! Celana ini aku beli buat Mas Damar. Aku sendiri yang memilihnya.”
Tatapannya kembali tertuju pada celana boxer di tangannya.
‘Kenapa bisa ada di lemari Ibu?’
Nafisa mengerjap beberapa kali. “Busa saja waktu dicuci, celananya malah terbawa sama Ibu,” gumamnya, berusaha meyakinkan diri sendiri.
Setelah menemukan alasan yang dianggapnya masuk akal, Nafisa terkekeh kecil.
“Bisa-bisanya aku hampir mikir yang enggak-enggak.”
Ia menggeleng pelan, lalu mengembuskan napas lega. Nafisa pun melipat celana boxer tersebut seadanya, kemudian membawanya bersama koper yang baru saja ditemukan.
Setelah memastikan pintu lemari tertutup rapat, ia berbalik dan melangkah keluar dari kamar ibunya. Tanpa sedikit pun rasa curiga.
. . .
Waktu berlalu. Tanpa terasa hari semakin siang, Nafisa sudah selesai membereskan barang-barang yang akan dibawanya ke rumah baru. Dua koper miliknya dan Damar kini diletakkan di ruang tamu, tepat di dekat pintu, agar mudah dibawa begitu suaminya pulang kerja.
Nafisa duduk bersandar di sofa. Sesekali, ia melirik jam dinding sambil menunggu kedatangan Damar. Namun, hingga siang menjelang sore, ibunya juga belum terlihat pulang dari pasar.
“Ibu ke mana, ya? Kok belum pulang juga? Katanya ke pasar, tapi sampai sekarang belum balik.”
Ia meraih ponsel yang tergeletak di sampingnya, berniat menghubungi ibunya. Namun, sebelum sempat membuka daftar kontak, suara deru mobil dari arah luar terdengar mendekat, disusul suara mesin yang perlahan mati.
Nafisa langsung menoleh ke arah pintu.
“Pasti Mas Damar,” gumamnya sambil membenahi jilbab yang cukup berantakan.
Ia segera bangkit dari sofa, lalu berjalan menuju teras. Namun, langkahnya melambat begitu melihat dua sosok yang baru saja turun dari mobil.
Damar dan ibunya berjalan berdampingan menuju rumah.
Nafisa mengernyit. Ia tak menyangka suami dan ibunya akan pulang bersama, terlebih karena sejak tadi ia mengira mereka berada di tempat yang berbeda.
“Mas, Bu, kok kalian bisa barengan?” tanyanya begitu mereka tiba di teras.
Damar dan Bu Yulia serempak menoleh ke arahnya.
“Oh, ini tadi kami gak sengaja ketemu di jalan, Naf,” jawab Bu Yulia dengan senyum tipis. “Jadi, sekalian pulang bareng saja.”
Nafisa memperhatikan keduanya sesaat. Tapi bukan tak ingin percaya, hanya saja dirinya mengingat tujuan sang ibu yang akan ke pasar.
Pandangannya seketika turun. Ia tak mendapati belanjaan di tangan ibunya maupun di tangan Damar. Perhatiannya kemudian kembali tertuju pada ibunya dengan penasaran.
“Bu, ibu tadi habisa kemana saja? Jam segini baru pulang. Terus belanjaannya mana?” tanyanya.
Terlihat jelas eskpresi wajah ibunya yang kaku, bahkan terlihat sempat melirik ke arah Damar sebelum akhirnya Bu Yulia menatap kembali ke arahnya.
“Aduh, ibu sampai lupa, Naf,” ucap Bu Yulia. “Tadi ibu sempat ke pasar, eh ketemu temannya ibu waktu SMP dulu, terus ibu diajak ke rumahnya yang kebetulan gak jauh dari pasar.”
Nafisa masih memperhatikan wajah ibunya.
“Ternyata ibu saking asiknya mengobrol, malah lupa waktu,” jawab Bu Yulia. “Ya ibu buru-buru pulang ke rumah terus karena kamu ingetin soal belanjaan, ternyata ibu malah ninggalin belanjanya ke rumah temannya ibu.”
Bu Yulia menatap ke arahnya lirih. “Kamu tahukan, Naf. Ibu ini sering lupaan kalau sudah nyaman ngobrol,” ucapnya.
Setelah mendengar penjelasan ibunya, Nafisa mengangguk percaya. Karena Terdengar masuk akal.
“Oh, begitu. Lain kali ibu harus inget.”
“Iya, Naf.”
Kemudian Nafisa mengalihkan pandangan kepada suaminya. “Mas, ayo berangkat sekarang. Koper kita sudah aku siapkan.”
Damar mengangguk kecil.
Nafisa kemudian kembali menoleh kepada ibunya. “Oh ya, Bu, aku pinjam koper Ibu, ya. Nanti kalau sudah selesai dipakai, aku kembalikan.”
“Kamu masuk ke kamar Ibu, Naf?”
Nafisa mengangguk. “Iya, Bu. cuma ambil koper, ada apa?”
Terlihat mata ibunya tampak terlihat gugup.
“Kamu menemukan sesuatu di sana?”
Nafisa terdiam sejenak. Ingatannya langsung tertuju pada celana boxer milik Damar yang ia temukan terselip di dalam lemari ibunya tadi pagi.
“Oh, iya, Bu.”
Wajah Yulia tampak sedikit berubah. “Apa?”
“Celana boxer Mas Damar. Tadi aku menemukannya terselip di lemari Ibu.” Nafisa mengangkat bahu ringan. “Mungkin waktu dicuci, celananya malah terbawa sama Ibu.”
“Oh ...” Yulia mengangguk pelan. “Begitu, ya.”
Nafisa memiringkan kepala. Reaksi ibunya membuatnya sedikit heran, terlebih karena sang ibu terlihat buru-buru mengalihkan pembicaraan.
“Memangnya ada apa, Bu?”
“Enggak ada apa-apa. Ibu cuma tanya. Siapa tahu kamu menemukan sesuatu. Soalnya anting Ibu hilang, mungkin terselip entah di mana.”
“Oh, anting Ibu?” Nafisa spontan menawarkan bantuan. “Mau aku bantu cari, Bu?”
“Enggak, gak perlu.” Bu Yulia mengibaskan tangan kecil. “Kamu berangkat saja sekarang. Kasihan Damar sudah menunggu.”
Nafisa menoleh kepada suaminya. Damar hanya berdiri di dekat pintu dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Ya sudah, Bu,” jawab Nafisa akhirnya.
Ia tak ingin memperpanjang percakapan. Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Damar.
“Mas, ini tolong bawakan kopernya ke bagasi.” Ia menyerahkan koper kepada suaminya.
“Iya.” Damar menerima koper itu, lalu membawanya menuju mobil dan membuka bagasi.
Sementara itu, Nafisa mengalihkan pandangan kepada ibunya yang masih berdiri di teras.
“Oh ya, Bu, besok malam aku berencana mengadakan syukuran rumah baru.” Ia tersenyum kecil. “Ibu datang, ya.”
Bu Yulia mengangguk. “Iya, Naf. Ibu pasti datang, kok.”
Senyum Nafisa semakin lebar mendengar jawaban itu. Ia senang ibunya bersedia datang, ke acara syukuran rumah barunya.
“Ya sudah, Bu. Kami berangkat dulu, ya. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, Naf.”
Nafisa mengangguk, lalu melangkah melewati ibunya menuju mobil Damar.
Dan dirinya sengaja ia tinggalkan di rumah ibunya sementara.
.
Sementara itu, Yulia masih berdiri di teras, memperhatikan mobil yang ditumpangi putrinya dan Damar. Tak lama kemudian, suara mesin terdengar semakin jelas sebelum Damar membunyikan klakson singkat.
Tin!
Yulia segera mengangkat tangan dan melambaikannya sambil tersenyum, hingga mobil itu perlahan menjauh dan menghilang di balik tikungan.
Begitu tak lagi melihat mobil tersebut, senyum di wajahnya perlahan memudar. Ia mengembuskan napas panjang, lalu mengusap dadanya.
“Syukurlah, Nafisa gak menemukan apa-apa,” gumamnya lega.
Kekhawatiran yang sejak tadi mengusik pikirannya akhirnya sedikit mereda. Apalagi ketika mengingat pertanyaan putrinya tentang celana boxer milik Damar yang ditemukan di dalam lemarinya. Untung saja, Nafisa tidak mencurigai apa pun.
Kedua sudut bibir Yulia kembali terangkat. Ingatannya kemudian beralih pada kejadian beberapa waktu lalu, ketika dirinya dan Damar diam-diam berada di rumah baru yang kini akan ditempati putrinya bersama menantunya itu.
Yulia menggeleng pelan, lalu mengembuskan napas lelah.
“Capek sekali,” gumamnya. Lalu menepuk pinggangnya akibat ulah Damar.
Ia menghela napas sebelum berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah.
.
Sementara itu, di dalam perjalanan menuju rumah baru mereka, Nafisa duduk di kursi penumpang sambil sesekali melirik ke arah Damar yang fokus menyetir.
“Mas, tadi aku sudah bilang sama Ibu kalau besok malam kita mau mengadakan syukuran rumah baru kita,” ujarnya membuka percakapan.
Damar meliriknya sekilas sebelum kembali memperhatikan jalan. “Ibu datang?”
“Iya, Mas. Ibu juga datang, dan aku juga sudah kirimkan Ibu mertua pesan undangan.”
“Ya sudah, Mas ikuti kata kamu saja, Naf.”
Nafisa tersenyum senang. Ia kemudian meraih lengan suaminya dan memeluknya dengan manja.
“Terima kasih, Mas.”
Namun, baru beberapa saat bersandar, kening Nafisa mendadak berkerut. Hidungnya menangkap aroma parfum yang terasa familiar dari pakaian suaminya. Ia mengangkat kepala, lalu mengendus pelan untuk memastikan penciumannya tidak keliru.
Perlahan, ia melepaskan pelukannya.
“Mas, kok baju kamu bau parfum wanita?”
Damar meliriknya sekilas. “Benarkah?”
Nafisa mengangguk. “Iya, Mas. Wanginya cukup kuat.”
“Oh, tadi Mas memang sempat dipeluk wanita, tapi dia rekan kerja, Naf. Mas habis bantuin dia mencari dompetnya yang jatuh. Setelah ketemu, dia langsung memeluk Mas karena senang.” Ia melirik Nafisa sebentar.
Nafisa terdiam sesaat berusaha menepis pikiran buruknya pada suaminya.
“Iya, Mas. Cuma ... wanginya mirip parfum yang biasa Ibu pakai.”
Damar mengembuskan napas pendek. “Ah, mungkin cuma perasaan kamu saja, Naf.”
Nafisa menunduk, memainkan ujung bajunya dengan jemari. “Mungkin memang benar. Hanya perasaanku saja.”
Meski mengucapkan kalimat itu, pikirannya justru melayang pada kejadian malam barbequean. Saat itu, ia sempat terbangun karena mendengar suara desahan samar, bahkan sangat dekat di sebelahnya.
‘Bahkan sampai sekarang aku masih bertanya-tanya, apakah aku sedang bermimpi’
Jemari Nafisa perlahan mengerat di atas pangkuannya. Ia menoleh ke arah Damar yang masih menyetir dengan tenang.
. . .
Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Damar akhirnya memasuki pelataran rumah yang baru Nafisa beli dengan menggunakan tabungan bersama.
Setelah mematikan mesin mobil, Damar membuka sabuk pengamannya. Nafisa pun melakukan hal yang sama, lalu turun dari mobil dengan senyum yang sulit disembunyikan.
Ia berdiri di samping suaminya, memandangi rumah di hadapan mereka dengan mata berbinar.
“Mulai sekarang, kita akan membangun keluarga kecil kita di sini, Mas.”
Nafisa menoleh kepada Damar. Namun, suaminya masih menatap lurus ke arah rumah itu, membuatnya tak bisa membaca apa yang sedang dipikirkan pria tersebut.
Ia kemudian melangkah mendekat. Dengan sedikit ragu, Nafisa mengangkat tangan dan meletakkannya di depan dada Damar.
“Mas, sudah lama kita gak melakukannya,” ucapnya pelan.
Damar akhirnya menoleh. Ia mengangkat tangan, lalu mengelus pipi Nafisa dengan lembut.
“Mas capek sekali, Naf.”
Senyum di wajah Nafisa perlahan memudar. Ia terdiam sejenak, berusaha mencerna jawaban suaminya.
‘Aneh sekali.’
Nafisa menurunkan tangannya dari dada sang suami. Ia berusaha tersenyum, menyembunyikan kekecewaan.
“Iya, Mas,” jawabnya lirih. Ia segera mengalihkan pembicaraan. “Tolong turunkan koper-koper kita, ya. Aku mau buka pintunya.”
“Iya.”
Nafisa mengangguk, lalu berbalik menuju rumah. Sambil berjalan, ia merogoh saku bajunya dan mengeluarkan kunci yang sejak tadi disimpannya.
Sesampainya di depan pintu, ia berhenti sejenak untuk mencari anak kunci yang tepat.
Damar yang kini masih berdiri di samping mobil, menatap punggung Nafisa yang perlahan menjauh menuju pintu rumah.
Rasa bersalah yang menyelinap di hatinya, saat istrinya memintanya namun justru ia tolak.
Damar mengembuskan napas panjang, lalu mengusap wajahnya dengan sebelah tangan.
‘Maaf, Naf. Mungkin karena Mas sudah terlalu nyaman bersama ibumu, sampai-sampai Mas kehilangan minat untuk melakukannya denganmu.’
Rahangnya mengeras sesaat.
Setelah terdiam beberapa saat, Damar akhirnya mengalihkan pandangan ke arah belakang mobil. Ia berjalan mendekat, lalu membuka bagasi.
Tiga koper tersusun di dalamnya. Damar meraih satu persatu koper tersebut.
Lalu menariknya masuk ke dalam rumah.
sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.