Ketika mahkota kekaisaran ternoda oleh keserakahan dan tirani seorang saudara kandung, seorang putri yang terbuang harus bangkit dari abu pembantaian.
Diasingkan sejak lahir di Desa Bunga Lotus, Zhao Lianhua tidak pernah tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah kekaisaran. Namun saat pedang istana membakar rumah dan menghancurkan kedamaiannya, ia terpaksa mengambil pedang demi keadilan rakyat jelata!
Bisakah seorang putri terbuang menumbangkan kerajaan yang dipimpin oleh saudara kandungnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Pertarungan sengit
"Penyamun! Penyamun menyerang desa!"
Tuan Zhao langsung menutup jendela rapat-rapat. Matanya mengeras. Ia melangkah cepat menuju lemari kayu tua di sudut kamar, menggeser tumpukan kain, dan menarik keluar sebuah pedang panjang bertatahkan perak yang telah berdebu, pedang masa lalunya saat masih menjabat sebagai panglima kekaisaran.
"Mereka datang lebih cepat dari yang kubayangkan," bisik Tuan Zhao dingin. "Dan mereka tidak datang sebagai pengawal kerajaan... mereka menyamar."
Di luar, derap kaki puluhan kuda menggetarkan tanah Desa Bunga Lotus. Belasan pria bertopeng hitam dengan pakaian penyamun mengepung alun-alun desa.
Di barisan paling depan, yang menunggangi kuda hitam jangkung, adalah Panglima Gao. Wajahnya tertutup kain hitam, tetapi matanya yang tajam dan dingin memancarkan kekejaman yang tak tertandingi.
"Geledah setiap rumah!" perintah Gao dengan suara yang disamarkan. "Kumpulkan semua bayi dan anak-anak di bawah usia satu bulan ke tengah lapangan! Siapa pun yang melawan, tebas di tempat!"
Para prajurit bayangan bergerak cepat bagai serigala lapar. Mereka mendobrak pintu-pintu rumah warga, menyeret wanita dan orang tua ke jalanan. Suara tangisan bayi dan jeritan ketakutan bergema memecah kesucian pagi di Lembah Bunga Lotus.
Di dalam rumah, Tuan Zhao menggendong bayi Lianhua dan menyerahkannya kembali ke pelukan Dayang Xiu.
"Sembunyi di bunker bawah tanah di bawah tungku dapur," perintah Tuan Zhao tegas. "Jangan keluar atau bersuara sampai aku sendiri yang membuka pintunya. Apa pun yang kau dengar di atas... tetaplah diam."
"Tuan Zhao! Anda mau ke mana?" tanya Xiu panik sambil memeluk Lianhua dengan erat.
"Menagih janji lama kepada para pengkhianat istana," jawab Tuan Zhao singkat. Ia menarik pedangnya dari sarungnya. Bunyi dentang besi nyaring bergema di dalam ruangan.
Tuan Zhao melangkah keluar pintu depan persis saat tiga prajurit menyamar mendekati rumahnya dengan pedang terhunus.
"Berhenti, Orang Tua!" bentak salah satu prajurit. "Serahkan semua barang berharga dan anak bayi jika ada di dalam!"
Tuan Zhao tidak menjawab. Matanya menyipit menatap garis rahang prajurit itu. Meski mengenakan pakaian penyamun, postur tubuh, jarak pijakan kaki, dan lambang kecil yang terukir di pangkal pedang mereka tidak bisa membohongi mata seorang mantan panglima.
"Prajurit Pengawal Kerajaan Divisi Ketiga..." gumam Tuan Zhao dingin. "Pangeran Agung rupanya mengirim anjing-anjingnya untuk membakar desa yang damai ini."
Prajurit itu terkejut. "Kau... bagaimana kau tahu?!"
Sebelum prajurit itu sempat bereaksi, gerakan Tuan Zhao melaju bagai kilat.
Cras!
Satu tebasan mendatar memotong udara, hingga menjatuhkan prajurit pertama ke tanah sebelum ia sempat berteriak. Dua prajurit lainnya terbelalak panik dan mencoba menyerang bersamaan, namun Tuan Zhao memutar tubuhnya, dan menangkis serangan pertama dengan tangkisan besi yang presisi, lalu menusukkan ujung pedangnya tepat ke jantung prajurit kedua.
Prajurit ketiga mencoba kabur, tetapi Tuan Zhao memutar pedangnya dan melemparnya tepat menancap di punggung musuh.
SLEB!
Di tengah alun-alun desa, Panglima Gao yang sedang mengawasi penggeledahan mendadak menghentikan kudanya. Matanya tertuju pada tiga prajuritnya yang tumbang di depan rumah kayu di ujung jalan.
"Siapa pria itu?" gumam Gao penasaran. Ia memutar arah kudanya dan berjalan perlahan mendekati Tuan Zhao yang sedang mencabut kembali pedangnya dari tubuh musuh.
Saat jarak mereka tersisa belasan langkah, Gao mengamati wajah pria tua berambut agak beruban itu. Bekas luka parut melintang di pipinya membuat mata Gao membelalak dan mengenali sosok di hadapannya.
"Panglima Zhao...?" bisik Gao tidak percaya. "Kau... kau belum mati? Kau bersembunyi di desa kumuh ini selama sepuluh tahun?"
Tuan Zhao menegakkan badannya, dan menyapu darah musuh dari bilah pedangnya dengan ujung lengan bajunya. Ia menatap Gao dengan pandangan menghina.
"Gao... dulu kau hanya seorang kapten kecil yang menyeka darah di sepatuku," ujar Tuan Zhao dengan suara tenang namun mengintimidasi. "Kini kau menjadi anjing suruhan Permaisuri yang memangsa rakyat tak berdosa dan bayi yang belum bernapas penuh."
Gao tertawa dingin, dan berusaha menutupi keterkejutannya. "Dunia sudah berubah, Zhao! Kekuasaan kini berada di tangan Permaisuri dan Pangeran Agung! Kerajaan membutuhkan pembersihan dari benih-benih pengkhianat! Serahkan bayi Selir Meizhen yang dibawa ke desa ini, dan aku akan membiarkanmu mati sebagai prajurit!"
"Kau ingin bayi itu?" Tuan Zhao mengangkat pedangnya, dan mengarahkannya tepat ke dada Gao. "Kau harus melangkahi mayat seluruh veteran perang yang berdiri di tanah ini!"
Saat kata-kata itu diucapkan, dari balik semak-semak, atap rumah, dan jalanan desa, belasan warga desa yang tadinya tampak seperti petani biasa melangkah keluar.
Mereka tidak lagi memegang cangkul, melainkan pedang tua, tombak, dan busur panah perang yang selama ini mereka sembunyikan. Mereka adalah para mantan prajurit yang dulu dipimpin oleh Tuan Zhao.
"Lindungi Pemimpin! Lindungi Desa!" teriak para warga serentak.
Suasana di Desa Bunga Lotus berubah menjadi medan pertempuran sengit. Suara dentang benturan pedang, panah yang meluncur menembus udara, dan teriakan perang membakar seluruh lembah.
Tuan Zhao menerjang maju dan bertarung sengit melawan Panglima Gao di tengah kepulan asap api yang kian membumbung tinggi.
Di dalam bunker bawah tanah yang gelap dan sempit, Dayang Xiu berlutut di tanah lembap sambil memeluk rapat bayi Lianhua. Di atas kepalanya, suara dentuman keras, jeritan membakar, dan benturan senjata terdengar menggelegar tanpa henti. Air mata Xiu pun menetes membasahi kain pembungkus bayi.
Namun di tengah kekacauan dan aroma ketakutan yang mencekik itu, bayi Zhao Lianhua kecil tetap tenang di dalam pelukan.
Matanya yang jernih terbuka pelan, menatap kegelapan bunker tanpa rasa takut, seolah-olah jiwanya sudah mengetahui bahwa dialah alasan perang ini terjadi dan dialah yang suatu hari nanti akan menghentikan seluruh tumpahan darah di tanah kekaisaran ini.
Bersambung...