NovelToon NovelToon
Istri Gendut Yang Diceraikan

Istri Gendut Yang Diceraikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga / Dendam Kesumat / Cewek Gendut
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Danti tiba-tiba diceraikan oleh suaminya saat rumah tangga mereka sedang baik-baik saja.

Alasannya? karena tubuh Danti berubah gemuk setelah menjalani berbagai program kehamilan yang selama ini sedang mereka perjuangkan bersama.

Bukannya menangis dan memohon agar dicintai kembali, Danti justru menerima perceraian itu dengan tenang.

Namun sebelum palu hakim diketuk, Danti akan membuktikan bahwa perempuan yang dicampakkan karena bentuk tubuhnya... kini masih bisa berubah menjadi bidadari yang membuat banyak lelaki tergila-gila.

Dan saat mantan suaminya menyesal, Danti hanya tersenyum sambil berkata...

“Aku pawang buaya yang akan membuka kembali peternakannya!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Drum Bekas

Tawa itu masih bergema ketika Danti menatap punggung suaminya.

"Cantik banget ya Zal, istrinya Bayu. Beruntung dia."

"Hahaha, bener. Kalau istri gue yang kayak gitu, gue pamerin tiap hari!"

Rizal tertawa lebar, lalu menyahut sesuatu yang tak lagi Danti dengar jelas. Telinganya berdenging. Kata semok, body goals, dan beruntung berputar-putar seperti lalat yang tak mau pergi.

Danti menunduk. Ia meremas tas kecilnya sampai buku-buku jarinya memutih. Gaun hijau botol itu mendadak terasa seperti karung yang menyelimuti seluruh tubuhnya, dan setiap pasang mata di ballroom itu seakan sedang menimbangnya.

"Aku nggak sanggup di sini lebih lama lagi."

"Mas," bisiknya sambil menarik pelan lengan batik suaminya. "Aku ke toilet sebentar."

Rizal langsung menoleh. Dahinya mengerut tajam. "Toilet? Kamu mau ke prasmanan, kan? Ngaku aja."

"Bukan, Mas..."

"Aku udah bilang tadi, jangan makan banyak-banyak! Kamu tuh nggak ngerti ya malu itu apa?" Suaranya direndahkan, tapi gigi-giginya merapat, dan itu lebih menakutkan daripada bentakan.

Seorang teman Rizal, lelaki berkacamata bernama Dimas, yang sejak tadi diam-diam memperhatikan, akhirnya angkat bicara. "Udahlah, Zal. Kasihan Danti dari tadi dia belum makan, kelihatan banget. Biarin aja ambil sedikit, nggak bakal bangkrut kok pestanya."

Rizal mendengus, lalu menyeringai ke arah Danti dari atas ke bawah. "Dim, lo nggak tahu. Dikasih makan sedikit, dia nggak akan berhenti. Lihat aja badannya. Tambah makan, makin gendut. Nanti pas pulang, kursi mobil gue ambles."

Beberapa orang tertawa. Dimas hanya menggeleng, tak enak hati, lalu memalingkan wajah.

Mata Danti panas. Ada yang mendesak naik dari dadanya ke pelupuk, dan ia mengatupkan rahang kuat-kuat agar tidak jatuh di depan semua orang.

"Aku cuma mau ke toilet, Mas," ulangnya, suaranya gemetar tapi jelas. "Bukan ambil makanan."

Rizal menatapnya beberapa detik, seakan menimbang apakah ia sedang dibohongi. Lalu ia mengibaskan tangan.

"Ya udah. Sana. Tapi inget, jangan bikin malu."

Danti mengangguk, lalu berjalan menjauh secepat yang bisa dilakukan tanpa terlihat berlari.

---

Toilet hotel itu sepi dan wangi. Lantainya marmer, cermin besar membentang di sepanjang dinding, dan lampu keemasan membuat segalanya tampak lembut. Sebuah ruangan yang terlalu indah untuk menampung tangis seperti ini.

Danti mengunci diri di bilik paling ujung. Begitu pintu tertutup, lututnya melemas. Ia menyandarkan punggung ke dinding, membekap mulut dengan kedua tangan, dan tangisnya pecah tanpa suara. Bahunya berguncang, air matanya jatuh membasahi gaun yang sudah pudar itu.

Ia teringat sore-sore di klinik, jarum suntik, hasil lab, dan dokter yang berkata dengan sabar, "Hormonnya memang akan memengaruhi berat badan, Bu. Itu normal." Ia ingat bagaimana ia pulang dengan perut penuh harapan, dan bagaimana setiap kali timbangan naik, ia berkata pada dirinya sendiri, "tidak apa-apa, ini demi anak kita."

Anak kita.

Tapi lelaki yang ia perjuangkan itu bahkan tak pernah bertanya apakah ia lelah.

Entah berapa lama ia menangis. Ketika akhirnya napasnya mereda Danti keluar, membasuh wajah lalu menatap bayangannya. Matanya sembap, hidungnya merah. Ia menepuk-nepuk pipi, merapikan bedak, dan memaksakan senyum tipis.

"Kamu kuat, Dan," bisiknya pada cermin. "Sebentar lagi pulang."

Cermin itu hanya memantulkan perempuan yang tak percaya pada kalimatnya sendiri.

Ballroom masih riuh saat ia kembali. Musik berganti, kini ada penyanyi yang membawakan lagu-lagu lama, dan beberapa tamu mulai berdansa kecil di dekat panggung.

Danti mencari punggung batik biru tua itu. Dan ia menemukannya.

Rizal berdiri dekat pilar besar. Dan di sebelahnya, begitu dekat hingga hampir tak ada jarak, berdiri seorang perempuan berambut panjang bergelombang, mengenakan gaun hitam yang membingkai tubuhnya dengan sempurna. Lengan perempuan itu melingkar di lengan Rizal. Bukan sekadar menyentuh, tapi merangkul. Akrab, seperti sudah biasa.

Dan Rizal... tersenyum.

Bukan senyum sopan. Bukan senyum basa-basi. Senyum lebar yang tulus, dengan mata menyipit, senyum yang dulu hanya Danti yang bisa membuatnya muncul.

Dada Danti terasa seperti diremas dari dalam.

Cemburu itu datang tanpa diundang, panas dan pahit di pangkal lidah. Ia mendekat beberapa langkah, berharap Rizal menyadari kehadirannya dan menarik lengannya dari rangkulan itu. Tidak. Rizal malah mencondongkan tubuh, mendengar bisikan perempuan itu, lalu tertawa keras.

Danti berdehem. Pelan. Lalu sedikit lebih keras.

"Ehem."

Tak ada yang menoleh.

Perempuan itu sedang bercerita tentang sesuatu, tangannya bergerak-gerak ekspresif, dan Rizal menanggapi dengan antusias, seakan dunia hanya terdiri dari mereka berdua. Gelak tawa mereka terdengar bersahut-sahutan. Teman-teman yang lain ikut mengelilingi.

Danti berdiri di sana, tiga langkah dari suaminya sendiri, dan ia merasa seperti hantu.

"Aku istrinya. Aku di sini. Lihat aku."

Ia mencoba bertahan. Ia memutar-mutar cincin di jarinya, memandangi lantai, memandangi lampu, memandangi pengantin yang sedang berfoto. Lima menit. Sepuluh menit. Seorang pelayan melintas membawa nampan minuman, dan Danti menggeleng saat ditawari.

Kepalanya mulai berdenyut. Perutnya yang kosong sejak pagi kini berputar. Pandangannya sedikit berkunang. Tapi yang lebih menyakitkan dari semua itu adalah kenyataan bahwa tak seorang pun menyadari ia sudah berdiri sendirian selama itu.

Sampai Dimas, lelaki berkacamata tadi, menghampirinya.

"Danti? Kamu kenapa? Pucat banget."

"Aku mau pulang, Mas Dimas," jawabnya lirih. "Kepalaku pusing."

Dan itu bukan kebohongan.

Dimas menoleh ke arah Rizal, lalu menghela napas. "Zal! Istri lo mau pulang nih!"

Rizal menoleh sekilas, tanpa melepaskan senyumnya. "Bentar, Dan. Sabar dikit kenapa. Baru juga sampai."

"Sudah dua jam, Mas."

"Ya terus? Sabar dulu!"

"Aku mau pulang sekarang."

Nada itu membuat beberapa kepala menoleh. Rizal mengernyit tak suka, tapi tetap tak bergerak.

Perempuan bergaun hitam itu akhirnya melirik Danti dari ujung kepala sampai kaki, lalu tersenyum kecil yang sulit ditafsirkan. "Udah, Zal. Anterin aja istrimu pulang. Kasihan tuh." Ia terkekeh. "Dari tadi diem aja, mirip drum bekas. Berdiri doang, nggak bunyi."

Sesaat hening.

Lalu tawa meledak.

Teman-teman Rizal tertawa terbahak-bahak, ada yang sampai menepuk paha. Beberapa menutup mulut, pura-pura tak enak, tapi bahu mereka tetap berguncang.

Danti menoleh pada Rizal.

Ia tak sedang berharap banyak. Hanya satu hal kecil. Sepatah kata. Satu tatapan tajam kepada perempuan itu. Bahkan sekadar diam pun akan lebih baik.

Tapi Rizal tertawa.

Kepalanya terdongak, bahunya terguncang, dan ia tertawa bersama mereka.

Sesuatu di dalam diri Danti, yang selama bertahun-tahun ia tahan dengan sabar dan doa, patah begitu saja. Tanpa suara. Tanpa dramatis.

Ia membalikkan badan dan berjalan pergi.

"Dan! Danti!"

Rizal berpamitan seadanya pada teman-temannya, "Bentar ya, istri gue ngambek," disambut siulan menggoda, lalu setengah berlari menyusul keluar. Ia menemukan istrinya sudah berdiri di samping mobil di area parkir, memeluk lengannya sendiri.

Begitu pintu mobil tertutup, ledakan itu pecah.

"Kamu tuh kenapa sih!" Rizal memukul setir. "Dari tadi bikin malu! Aku lagi ngobrol sama teman-teman lama, kamu pakai acara ngambek segala! Kamu kira aku nggak lihat mukamu yang ditekuk itu?"

Danti menatap lurus ke depan. Tangannya gemetar di pangkuan.

"Kamu yang bikin aku malu, Mas," katanya pelan.

"Apa?"

"Aku bilang, kamu yang bikin aku malu." Suaranya naik. "Dari tadi aku dihina, dibandingin, ditertawain, dan kamu cuma diam! Bukan cuma diam, kamu ikut ketawa! Kamu suamiku, Mas! Di mana kamu waktu mereka bilang aku melar? Di mana kamu waktu dia bilang aku drum bekas!"

Air matanya tumpah lagi, kali ini tak lagi bisa ia tahan.

"Aku begini karena program hamil kita, Mas! Karena kita! Dan kamu..."

"Aduh, lebay." Rizal memutar bola mata. "Mereka kan cuma bercanda."

"Bercanda?"

"Lagian yang mereka bilang itu fakta, kan?" Rizal mengangkat bahu, santai. Seolah sedang membicarakan harga bensin. "Kamu memang gendut, Dan. Mau ngelak gimana? Kalau nggak mau diejek, ya jangan bikin malu. Jangan jadi orang baperan. Dewasa dikit kenapa."

Hening menelan mobil itu.

Kata fakta itu menggantung di udara, dingin dan tajam. Danti menatap profil suaminya, hidungnya, rahangnya, lelaki yang dulu ia kagumi karena kehangatannya, dan menyadari ia sedang bicara pada seseorang yang tak mau mendengar.

Orang yang tak pernah salah. Tak pernah kalah. Tak pernah merasa perlu minta maaf.

Percuma.

Danti memalingkan wajah ke jendela dan menutup mulutnya rapat-rapat. Air mata terus mengalir, tapi ia tak lagi bersuara. Lampu-lampu jalan berlari melewati kaca, dan sisa perjalanan pulang ditemani deru mesin dan dengusan kesal Rizal.

---

Rumah gelap dan sunyi ketika mereka tiba. Rizal langsung melempar kunci ke meja dan menghilang ke kamar mandi.

Danti berganti pakaian dengan daster rumahan yang longgar. Perutnya sudah tak lagi sekadar lapar, tapi nyeri. Ia membuka tudung saji di dapur, menemukan sisa nasi dan tumis sayur yang tadi siang ia masak, lalu menghangatkannya di piring.

Ia baru saja duduk. Baru saja menyendok suapan pertama.

"Wah."

Rizal berdiri di ambang pintu dapur, bertelanjang dada dengan handuk di bahu, menatap piring itu dengan alis terangkat.

"Makan malam jam segini? Padahal udah segede itu." Ia berdecak, menggeleng sambil tersenyum sinis. "Terusin aja, Dan. Nanti bajunya makin nggak muat."

Lalu ia berbalik pergi, siulan kecil terdengar dari lorong, tanpa beban, tanpa menoleh.

Sendok di tangan Danti terhenti di udara.

Nasi di mulutnya mendadak hambar. Tak ada lagi rasa gurih sayur, tak ada lagi rasa lapar. Ia mengunyah pelan, menelan dengan susah payah, lalu meletakkan sendoknya.

Ia menatap piring yang nyaris utuh itu. Satu suap. Hanya satu suap.

Perlahan Danti berdiri, membawa piring ke tempat sampah, dan menyisihkan semuanya. Ia menyalakan keran. Air mengalir deras, menutupi suara napasnya yang mulai patah-patah.

Satu per satu piring ia sabuni. Tangannya bergerak otomatis, sementara pikirannya melayang jauh. Ke masa ketika ia masih ramping. Ketika Rizal menjemputnya di depan kos dengan setangkai mawar murahan. Ketika setiap gaun yang ia pakai disambut tatapan kagum, bisikan kamu cantik banget malam ini, genggaman tangan yang tak mau lepas.

Dulu ia dipuja.

Sekarang ia ditertawakan.

Padahal ia tetap orang yang sama. Orang yang sama yang rela menyuntik diri demi harapan mereka berdua. Orang yang sama yang bangun subuh menyiapkan sarapan. Orang yang sama yang menunggu di rumah, setia, meski sering lupa bagaimana rasanya ditunggu.

Satu air mata jatuh ke busa sabun. Lalu satu lagi.

Danti menggosok piring itu lebih keras, seakan bisa menghapus semuanya bersama noda. Isaknya ia tahan di balik gemericik air, agar tak terdengar dari kamar.

Karena begitulah ia terbiasa, menangis pelan-pelan, di tempat yang tak ada seorang pun mau melihatnya.

1
Ayudya
ayo Danti jangan mau jadi hinaan buktikan kalau juga bisa cantik dan seksi🤣🤣🤣🤣🤣
ryuka
dantiii kamu kereeennm

Nadia kamu juga kerennn 😍😍😍😍😍😍😍😍
Muft Smoker
skarang waktu ny buat dunia mu bahagia Danti ,, semangat trus
ryuka
semangat dantii... kamu harua bahagia.. tinggalin itu si rizall bodoh di dasar laut selama nya
Muft Smoker
menyesal banget yx zal ,, tp sayang ny smua udh trlambat ,,, tu laa laki2 yg gx bisa tegas dg keputusan ny ,, dgerin omongan org tua boleh ,, malah d anjur kan ,, tp sebagi laki2 dan kepala rumah tangga ,, harus bisa memilih dan memilah mana yg baik buat rumah tangga mu ,, mana yg justru menghancurkan rumah tangga mu ,,
ryuka
wahahahaha.. aku juga tertawa bersamamu dantiii 😍😍🤣😍😍🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker
udh cerai zal ,, keinginan mu telah terkabul ,, silahkan km melangkah ke jenjang yg lbih serius ,, kn udh punya calon ny ,, yg cantik , lngsing dan kaya seperti mau ibu mu😏
ryuka
wkwkwkwk.. mampus kamu rizal.. menyesal menyesal deh kamu ampe ke dasar jurang
Muft Smoker
jgn menyesal yx Rizal ,, istrii mu Danti udh brubah dan tdk terjangkau lgi😏😏
Muft Smoker
pesen yg kaya bude hestiii 1 ,, buat jd mertua kuuuuu ,,
ryuka
bude hestiii kamu kereeennnnn 🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Muft Smoker
cuma bude Hesti kyaknya yg manusia sejati ,, sisa ny cuma makhluk tak kasat mata😒😒😒😒
ryuka
bude hesttiiii cuma kamu yg waras di keluarga itu 🔥🔥🔥🔥🔥🔥 hebaaattt
Muft Smoker
ayoo dantii ,, tegakan kepala mu ,, jgn mau trus di hina dan di rendah kan oleh keluarga Rizal ,, biar hanya mereka yg tenggelam dlm kehancuran ,, sedangkan km harus ttap terbang tinggi ,,
ryuka
semangat dantiii.. kamu lah pemenang nya.. si rizal aja yg terlalu bodoh
ryuka
bagus rizal semakin cepat kamu masuk kurang klo bgini 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
selamat Rizal sbntar lgii km bkal masuk k jurang kehancuran 😏
Muft Smoker
awalnya emnk manis ,, tp nanti juga akhirnya anda bakal ngerasa mana yg tulus ma hidup mu ,, mana yg cuma tulus ma uang mu zal ,, 😒😒😒
ryuka
nunggu kehancuran kalian sekeluarga aku tuuuhhh 🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
haduuuhh biasa nya yg gampang terpukau itu yg gampang di bodohi 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!