NovelToon NovelToon
Penguasa Pil Yang Bereinkarnasi: Raja Alkimia Di Dunia Permainan Abadi

Penguasa Pil Yang Bereinkarnasi: Raja Alkimia Di Dunia Permainan Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Reinkarnasi / Dunia Lain
Popularitas:207
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.

Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.

Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 - PALANG PAGI

Lin terbangun saat suara gerobak pertama lewat di gang. Loteng masih gelap. Ia duduk perlahan agar kepalanya tidak membentur balok, lalu merapikan tikar dan menggulung selimut tipis milik toko. Papan lantai yang melengkung berderit ketika ia turun tangga.

Ia mengangkat palang toko setengah jam sebelum waktu buka. Udara pagi membawa bau tanah basah dan asap dapur dari rumah-rumah sekitar. Lin menyapu daun kering dari ambang, memeriksa jendela depan, lalu menunggu Mo sambil berdiri di sisi meja. Kunci ruang belakang tetap tidak ia sentuh.

Sebelum Mo datang, seorang pengantar berbahu kurus berhenti di depan toko. Ia membawa kotak kayu bertali, dan bagian luarnya ditandai dengan cap pedagang bahan kering.

“Kiriman untuk toko Mo,” katanya. “Aku butuh tanda terima dan uangnya.”

Lin melihat labelnya. Nama penerima tertulis “Toko Mo”, tetapi alamat di bawahnya menyebut gang barat, sementara toko ini berada di deretan timur.

“Alamatnya tidak cocok,” kata Lin. “Saya tidak bisa menerima atau membayar sebelum pemilik toko memeriksanya.”

“Namanya jelas tertulis.” Pengantar itu mengetuk cap tinta. “Kalau aku kembali tanpa tanda tangan, pemilik gudang akan memotong upahku.”

Lin memahami ia sedang membuat orang lain menunggu, tetapi ia juga mengingat aturan Mo: jangan menyentuh persediaan atau uang tanpa izin. Ia menawarkan bangku di ambang agar pengantar dapat beristirahat sambil menunggu Mo.

“Berapa lama?”

“Saya tidak tahu. Toko baru buka.”

Pengantar itu menghela napas, tetapi meletakkan kotaknya di sisi luar pintu. Ia tidak membiarkan kotak tersebut masuk melewati ambang.

Mo tiba beberapa menit kemudian, membawa keranjang makan. Ia melihat kotak itu sebelum membuka palang sepenuhnya.

“Siapa yang mengirim?”

Pengantar menyebut nama gudang dan menyerahkan lembar pengiriman. Mo membacanya, lalu menunjuk nama gang. “Ini untuk toko Mo di gang barat. Mereka menjual minyak dan kain. Toko bahan obatku di sisi timur.”

“Label penerimanya hanya menulis Mo.”

“Dan alamatnya menulis gang barat.” Mo mengembalikan kertas. “Kau tidak salah membaca. Tapi kalau Lin menandatangani, kotak itu akan masuk ke pembukuanku dan kau tetap harus mencari pemilik sebenarnya.”

Pengantar itu menatap Lin. “Kau bisa saja membubuhkan tanda terima, lalu membiarkan mereka yang mengurusnya.”

“Kalau saya menandatangani, pemilik toko harus menjelaskan mengapa barang yang tidak dipesan masuk ke catatan,” kata Lin. “Saya tidak tahu apakah pemilik toko di barat sudah menunggu barang ini.”

Mo tidak menambahkan teguran atau pujian. Ia hanya menyuruh pengantar membawa kotak kembali ke gudang dan memperbaiki alamat sebelum pengiriman ulang. Pria itu mengangkatnya dengan enggan, lalu berjalan ke arah barat.

“Dia kehilangan waktu,” kata Lin setelah pengantar pergi.

“Ya. Dan kalau kau menerima barang tanpa memeriksa alamat, orang lain mungkin kehilangan uang atau stok. Keputusan yang benar pun kadang merepotkan orang.” Mo membuka pintu lebar-lebar. “Itulah sebabnya kau mengikuti catatan, bukan menandatangani karena seseorang terburu-buru.”

Lin menyapu bekas tanah yang tertinggal di ambang. Ia menyadari sekarang bahwa aturan toko bukan hanya soal mencegah pencurian. Terkadang orang yang jujur pun membawa barang ke tempat yang salah, dan tanda tangan kecil dapat memindahkan tanggung jawab kepada orang lain.

Setelah toko dibuka, Mo memberi Lin sebuah papan harga untuk barang-barang sederhana yang sudah ia kenal: kain pembalut, kantong kosong, dan beberapa bahan kering yang tidak memerlukan penjelasan pemakaian. “Kalau pembeli meminta barang yang jelas terdaftar di sini, kau boleh menimbang dan mencatatnya. Jangan menjelaskan khasiat. Jangan menjual bahan yang belum masuk daftar.”

Lin memeriksa papan itu. “Kalau pembeli bertanya tentang penggunaan?”

“Panggil aku. Kalau aku tidak ada, suruh mereka kembali. Menjual barang dan mendiagnosis orang adalah dua urusan berbeda.”

Transaksi pertama datang sebelum tengah pagi. Seorang lelaki paruh baya membeli kain pembalut untuk menutup keranjang hasil panen yang sering tersangkut di gerobak. Lin mengulang jumlah dan ukuran yang diminta, menimbang kain, lalu menyebut harga sesuai papan. Lelaki itu membayar dengan dua keping dan menerima satu keping kembalian.

Lin menulis jumlah, harga, dan nama barang dalam buku penjualan. Ia memeriksa ulang uang di laci, kemudian meminta lelaki itu melihat catatan singkat sebelum pergi.

“Tidak perlu sampai begitu,” kata pembeli itu. “Aku hanya membeli kain.”

“Mo meminta setiap penjualan dicatat.”

“Kalau begitu, semoga bukunya tidak lebih mahal daripada kainnya.” Lelaki itu tertawa dan meninggalkan toko.

Mo memeriksa catatan tersebut. Harga dan kembalian cocok. Ia mengembalikan papan harga ke meja. “Kau boleh menangani barang yang terdaftar selama aku berada di ruang belakang. Kalau pembeli meminta ramuan atau bahan yang tidak ada di sini, jangan menebak.”

Lin menerima batas itu. Kepercayaan Mo tidak berarti ia boleh mengambil alih seluruh toko. Ia hanya mendapat kewenangan kecil yang dapat ditarik kembali jika ia menggunakannya dengan ceroboh.

Menjelang siang, seorang perempuan datang mencari daun yang ia sebut sisik hujan. Lin tidak melihat nama itu pada papan harga. Ia menjelaskan bahwa toko sedang memeriksa beberapa sampel dengan sebutan serupa, tetapi belum memastikan kegunaannya. Perempuan tersebut kecewa karena membutuhkan bahan untuk ramuan yang diajarkan ibunya.

“Kalau begitu, saya tidak bisa menjualnya kepada Anda sebagai daun yang sama,” ujar Lin. “Saya bisa memanggil Mo untuk bertanya apakah ia punya jenis lain.”

Mo keluar dari ruang belakang. Ia menanyakan bagaimana daun itu akan digunakan dan di mana perempuan tersebut mendapat resepnya. Setelah mendengar jawabannya, ia mengatakan bahwa tokonya belum memiliki bahan yang bisa ia jamin cocok. Perempuan itu berterima kasih atas penjelasan tersebut dan pergi tanpa membeli apa pun.

Lin tidak mencatatnya sebagai penjualan gagal. Ia menulis bahwa seorang pelanggan mencari daun sisik hujan berdasarkan resep keluarga dan bahwa toko belum dapat memastikan kecocokan. Mo membaca baris itu, lalu menunjuk satu kata.

“Jangan tulis ‘resep tidak cocok’. Kau belum melihat resepnya.”

Lin mencoret satu garis dan memperbaiki: “Pelanggan mencari daun sisik hujan untuk ramuan keluarga; bahan toko belum terverifikasi.”

“Lebih baik.”

Hari itu ia membuat dua catatan yang berbeda: satu tentang barang yang benar-benar dijual, satu tentang permintaan yang belum dapat dipenuhi. Keduanya tidak dicampur. Ketika Mo keluar sebentar untuk menemui pemasok, Lin tetap menjaga toko dan menolak menandatangani pengiriman berikutnya sampai alamatnya diperiksa. Kali ini kertasnya menunjukkan gang timur dan nama toko yang tepat.

Mo memeriksa barang sebelum membayar. Label dan jumlahnya sesuai. Ia membiarkan Lin memasukkan barang ke rak umum, lalu menulis tanda tangan sendiri pada buku penerimaan.

“Dua kali kau menunggu sebelum menandatangani,” kata Mo. “Itu lebih baik daripada cepat dan keliru.”

Lin kembali memeriksa catatan. “Saya hanya mengikuti aturan.”

“Mengetahui aturan tidak cukup. Kau harus tetap mengikutinya saat orang lain mendesakmu.”

Sore menjelang, Bai tidak datang. Tidak ada pesan tentang tugas kedua. Lin tidak menulis kabar apa pun di bawah namanya. Sementara itu, sampel daun tetap berada di rak pemeriksaan. Tidak ada perubahan besar setelah semalaman, dan belum ada alasan untuk memindahkannya ke stok dagang.

Mo membayar Lin satu keping tembaga. Makan siang disediakan di toko, dan Lin menyimpan uangnya di kantong dalam. Kini ia memiliki dua keping: yang ia simpan kemarin dan yang baru diterima hari ini. Jumlahnya masih kecil, tetapi tidak langsung habis untuk membayar ranjang.

Saat toko ditutup, Lin memeriksa palang dan jendela seperti yang telah diajarkan. Ia menulis urutan kegiatan pagi itu: membuka toko setengah jam lebih awal, menolak kiriman dengan alamat salah, menjual kain pembalut sesuai papan harga, dan mencatat permintaan bahan yang belum tersedia.

Di loteng, ia menyimpan dua keping itu di lipatan catatan, lalu segera memindahkannya ke kantong agar tidak merusak kertas. Ia tahu uang tersebut belum cukup untuk belajar di sekte. Namun hari ini ia mendapat sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan satu keping: tanggung jawab kecil yang diberikan setelah ia membuktikan bahwa ia sanggup menahan diri.

Besok ia akan membuka toko lagi sebelum matahari tinggi. Jika semua berjalan baik selama seminggu, ia mungkin dapat mempertahankan tempat tidur ini dan menyimpan lebih banyak uang.

1
Uranenantios
Enaknya sehari up berapa bab ya?
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!