NovelToon NovelToon
His Royal Vow

His Royal Vow

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Perjodohan / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:21.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.

Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.

Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.

Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#34

Gemuruh badai di luar Istana Blackwood perlahan meredup, namun keheningan yang tersisa di dalam kediaman megah itu justru terasa semakin mencekam.

Di dalam kamar utama, deretan koper kulit mewah berhias ukiran perak terhampar terbuka di atas karpet beludru.

Alistair bergerak cepat tanpa ragu. Dengan jemari tangannya yang masih berbekal ketegasan seorang komandan militer, ia melipat jas, dokumen penting, dan barang-barang pribadi milik keluarganya.

Keputusannya sudah bulat. Istana ini bukan lagi tempat yang aman bagi wanita yang dicintainya dan anak-anak yang dibawanya.

Di dekat pintu balkon, Violet berdiri mematung. Gadis remaja berusia tiga belas tahun itu mengamati setiap gerak-gerik ayahnya dengan tatapan dewasa yang melampaui usianya. Gaun panjangnya berkibar pelan tertiup angin sore. Wajahnya yang mewarisi keanggunan dan ketegasan Alistair tampak tenang, namun matanya yang tajam memancarkan kecemasan yang tertahan.

"Kita benar-benar akan pergi hari ini, Ayah?" tanya Violet dengan suara jernih khas remaja yang mulai beranjak dewasa.

Alistair menghentikan kegiatannya sejenak, lalu menatap putri sulungnya dengan kehangatan seorang ayah. "Ya, Violet. Kita tidak akan tinggal satu malam lagi di bawah atap yang penuh racun ini."

Baxeena yang duduk di tepi ranjang mengusap perutnya yang sudah membuncit tua. Napasnya terengah halus, menahan beban fisik dan kelelahan mental setelah berjam-jam diterpa gelombang kemarahan Ratu. Air mata yang sempat mengering kini kembali menggenang di pelupuk matanya melihat betapa gigihnya sang suami pasang badan membela mereka.

Namun, kabar tentang pengemasan barang-barang sang Putra Mahkota merambat bagai api menyambar jerami kering. Tak butuh waktu lama hingga berita itu sampai ke telinga Ratu Lizzeebeeth Blackwood.

BRAAK!

Pintu ganda kamar terdorong buka hingga membentur dinding pualam.

Ratu Lizzeebeeth berdiri di ambang pintu dengan napas memburu. Gaun kebesarannya yang megah tampak kontras dengan raut wajahnya yang pucat pasi dan berantakan oleh rasa tak percaya. Matanya menatap koper-koper yang sudah tertutup rapi di atas lantai.

Ratu tidak pernah menyangka. Dalam mimpi terburuknya sekalipun, ia tak pernah membayangkan bahwa Alistair—putra kebanggaannya, calon raja yang ia tempa dengan hukum istana yang keras—akan benar-benar nekat meninggalkan takhta dan garis keturunan Blackwood demi seorang perempuan asal Los Angeles.

"Kau berani melawan titah tanpa memikirkan bagaimana kedepannya?!" teriak Ratu Lizzeebeeth dengan suara melengking yang memecah kesunyian koridor. Tangannya mengacung gemetar ke arah Alistair. "Kau benar-benar telah terpengaruh karena wanita itu! Kau ingin meninggalkan istana?! Maka pergilah bersama istrimu! Tapi kau ingin bawa ke mana cucuku Violet?!"

Suara bentakan sang Ratu bergema liar. Violet mendengus pelan, melangkah mundur mendekati Mommy Baxeena secara protektif, sementara Alistair langsung meletakkan koper di tangannya dan maju membentengi Baxeena dan Violet.

"IBU RATU BENAR-BENAR KETERLALUAN!" teriak Alistair dengan suara menggelegar yang menenggelamkan kemarahan ibunya.

Dada Alistair naik turun oleh amarah yang mendidih. Matanya berkilat bahaya, memancar dari kelelahan batin seorang pria yang sudah terlalu lama menahan kepedihan melihat keluarganya ditindas.

"Kau menyakiti istriku selama aku tidak ada!" lanjut Alistair dengan nada menuduh yang sangat tajam, menunjuk langsung ke arah Ratu. "Apa Ibu benar-benar memikirkan tidak ada darah bangsawan yang ada pada dirinya sehingga Ibu begitu membencinya?! Apa gelar dan silsilah lebih penting bagi Ibu daripada kebahagiaan dan keselamatan cucu serta menantu Ibu sendiri?!"

Ruangan itu seketika dibanjiri hawa melankolis yang teramat pekat.

Baxeena memegang dada yang terasa sesak, berusaha menahan tangis agar tidak semakin memperkeruh suasana, sementara perutnya terasa kram ringan akibat tekanan emosi yang meluap-luap.

Namun, alih-alih membalas bentakan Alistair dengan kemarahan dingin seperti biasanya, Ratu Lizzeebeeth mendadak membeku.

Bahu sang Ratu yang biasanya tegap tegak menantang kini tampak merosot. Raut kejam dan penuh keangkuhan di wajahnya perlahan luntur, berganti menjadi retakan keputusasaan seorang wanita yang hancur dari dalam.

Air mata yang tak pernah disaksikan siapa pun di istana ini perlahan menetes membasahi pipinya yang terpoles riasan sempurna.

Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, Ratu Lizzeebeeth melepaskan mahkota kesombongannya. Alasan sebenarnya di balik kebencian mendalam yang ia pupuk selama bertahun-tahun akhirnya pecah dari bibirnya dengan suara parau yang bergetar hebat.

"Kau pikir ini semata-mata soal status sosial atau gadis Los Angeles tanpa gelar?!" bisik Ratu dengan napas tersengal, air matanya kini mengalir makin deras. "Menjadi wanita Los Angeles dan tidak memiliki darah bangsawan... masih bisa aku usahakan untuk kuterima, Alistair! Aku bisa menutup mata dan menelan harga diriku demi kedudukanmu! Tapi ini jauh lebih rumit dan menyakitkan dari sekadar gelar!"

Alistair tertegun. Baxeena menahan napasnya, menatap sang Ratu tak percaya.

"Lalu kenapa Ibu begitu membencinya?!" tuntut Alistair, suaranya melunak sedikit oleh rasa terkejut.

Ratu Lizzeebeeth menatap Alistair dengan pandangan terluka yang teramat dalam—sebuah tatapan seorang ibu yang kesepian, sekaligus wanita yang luka lamanya digores kembali.

"Darah bangsawan... silsilah murni kerajaan ini adalah benteng terakhir yang kujaga setengah mati!" seru Ratu, suaranya gemetar menahan amarah dan kepedihan yang menyatu. "Bagaimana bisa aku membiarkan garis keturunan mahkota ini bercampur begitu saja? Tapi di atas semua itu...Dia adalah putri dari AJ dan Zephyr!"

Nama itu bergema di dinding pualam, menyengat atmosfer kamar dengan keheningan mendadak.

Ratu Lizzeebeeth mencengkeram dadanya sendiri, seolah napasnya tertahan oleh hantu masa lalu. "Ya, aku memang sudah berdamai dengan AJ. Aku sudah memaafkan masa lalu kami dan mengubur dendam lama sebagai sesama orang dewasa. Tapi melihat anak dari AJ dan Zephyr datang ke kehidupan ini... masuk ke dalam istana ini, dan kembali menang mencuri hati orang yang paling kucintai di dunia ini—yaitu kau, putra kandungku sendiri... Aku tidak bisa menahannya, Alistair! Itu membakarku dari dalam!"

Ratu menunjuk Baxeena dengan jari yang gemetar hebat.

"Dahulu, AJ memilih Zephyr. Dan kini... Putri mereka hadir, lalu kau—putraku satu-satunya—menyerahkan seluruh jiwamu untuk putri mereka! Kenapa keluarga mereka selalu menjadi pemenang atas hatinya orang-orang tercintaku?! Kenapa harus Baxeena yang memenangkan seluruh perhatianmu?! Dan kenyataan bahwa dalam urat nadinya mengalir darah mereka... membuatku merasa kalah untuk kedua kalinya dalam hidupku!"

Isakan parau akhirnya meledak dari tenggorokan Ratu Lizzeebeeth. Kebenaran yang tertutup rapat di balik topeng kesombongannya kini telanjang bulat.

"Dan kau..." suara Ratu terputus oleh isakan yang berusaha ia tahan. "Karena kau, putraku... lebih banyak meluangkan waktu untuk Baxeena sejak kau masih muda dulu. Karena sejak wanita ini hadir di hidupmu, kau tidak pernah lagi menatapku dengan penuh cinta sebagai seorang anak!"

Kata-kata itu jatuh bagai belati yang menusuk dada ruangan.

"Kau begitu cepat dewasa, Alistair... Putra kecilku begitu cepat tumbuh dan menjauh," lanjut Ratu dengan derai air mata yang tak lagi tertahan. Ia menatap Baxeena dengan binar kecemburuan murni—bukan kecemburuan seorang musuh politik, melainkan kecemburuan seorang ibu yang kehilangan tempat di hati putranya, berpadu dengan rasa perih luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh.

"Aku iri padamu, Baxeena..." bisik Ratu, suaranya pecah menahan rasa sakit batin yang terpendam belasan tahun. "Aku iri melihat bagaimana Alistair begitu leluasa bercerita padamu... Bagaimana dia tertawa bebas, menangis, dan menjadi dirinya sendiri di hadapanmu. Sedang padaku? Pada ibunya sendiri? Dia selalu kaku. Dia selalu berdiri tegak sebagai seorang pangeran, tidak pernah menjadi dirinya sendiri di depanku!"

Ratu menyapu air matanya dengan punggung tangan yang gemetar, menatap Baxeena dengan keputusasaan yang telanjang.

"Jadi... bolehkah aku merasa cemburu?!" seru Ratu dengan nada memohon yang menyayat hati. "Bolehkah aku merasa terbakar saat putra yang ku muntahkan dengan darah dan nyawaku sendiri... malah begitu mencintaimu setengah mati? Sedangkan aku, ibunya... dia bahkan tidak pernah menyayangiku sebagai seorang ibu! Dia hanya menghormatiku seakan aku memang wajib dihormati karena aku seorang Ratu, bukan karena aku ibunya!"

Deg.

Jantung Alistair seolah berhenti berdetak seketika. Tubuhnya membeku di tempat. Kata-kata ibunya menghantam dadanya begitu keras hingga ia tak sanggup menyusun sepatah kata pun untuk beberapa saat.

Mata Alistair berkaca-kaca. Kemarahan meledak-ledak yang tadinya membakar dadanya perlahan melunak, menggumpal menjadi rasa simpati dan kesedihan yang tak tertahankan. Ia melangkah satu tapak mendekati ibunya, menatap wanita perkasa yang kini tampak begitu kecil di depannya.

"Ibu..." suara Alistair bergetar, kini serak oleh emosi yang menguras jiwanya.

Alistair berlutut satu kaki di hadapan sang Ratu, menatap matanya yang basah oleh air mata.

"Seluruh hidupku sudah kuserahkan pada Baxeena, Ibu..." ucap Alistair dengan kejujuran yang mengiris hati. "Sejak pertama kali dia hadir, dialah ruang bernapas bagiku di tengah dinginnya dinding istana ini. Bisakah Ibu jangan mengambil Baxeena dariku? Bisakah Ibu menerimanya... seperti seorang ibu yang baik?"

Ratu Lizzeebeeth memalingkan wajahnya, namun Alistair meraih jemari ibunya yang dingin dan menggenggamnya erat.

"Ibu tidak memiliki seorang anak perempuan," lanjut Alistair dengan nada memohon yang amat dalam, air matanya sendiri kini menetes jatuh. "Bisakah Ibu menyayanginya seperti anak perempuan Ibu sendiri? Bisakah Ibu mencintainya tanpa melihat siapa orang tuanya? Tanpa melihat bahwa dia adalah anak dari Daddy AJ—mantan kekasih Ibu di masa lalu? Lagipula... itu semua sudah menjadi masa lalu, Ibu."

Alistair menoleh sejenak menatap Baxeena yang menangis dalam hening, lalu kembali menatap Ratu.

"Masa lalu antara Ibu, Daddy AJ, dan Mommy Zephyr sudah usai. Mengapa kita harus membawa bayang-bayang masa lalu itu untuk menghancurkan masa depan kita? Baxeena tidak bersalah atas apa yang terjadi di masa lalu Ibu. Dia hanyalah wanita yang kucintai, wanita yang akan melahirkan cucu-cucu Ibu. Jika Ibu menolaknya, Ibu bukan hanya menolak Baxeena... Ibu sedang membunuh separuh dari jiwa putra Ibu sendiri."

Ruangan itu terendam dalam keheningan yang amat pekat. Hanya terdengar isakan pelan Baxeena dan napas tersengal dari sang Ratu.

Baxeena perlahan bangkit dari tepi ranjang. Dengan langkah pelan dan hati-hati menopang perut besarnya, ia mendekati kedua insan yang sedang berlutut dan berdiri dalam kehancuran emosional itu. Violet mengikutinya dari belakang dengan tatapan haru.

Baxeena berlutut di samping Alistair, menundukkan kepalanya di hadapan Ratu Lizzeebeeth dengan penuh hormat dan ketulusan murni.

"Yang Mulia Ibu Ratu..." suara Baxeena terdengar lembut di tengah ketegangan yang mereda. "Aku tidak pernah berniat mengambil Alistair dari Anda. Aku tidak pernah ingin menggantikan posisi Anda sebagai ibunya. Jika kehadiran masa laluku dan garis keturunan orang tuaku melukaimu... aku memohon maaf dari dasar hatiku. Tapi Alistair sangat mencintai Anda. Dia selalu membanggakan ibunya..."

Ratu Lizzeebeeth menatap Baxeena dan Alistair bergantian. Benteng kesombongan, keangkuhan darah bangsawan, dan rasa cemburu atas masa lalu yang bertahun-tahun mengurung hatinya perlahan runtuh, menyisakan puing-puing kepasrahan seorang ibu yang hanya ingin dicintai oleh anaknya.

1
Wanti Ajaa
Sippp dah tor
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak, jangan lupa mampir cerita anak mereka kak🤭
total 1 replies
winpar
gabung dsini aj kk
Rosdianah 🌷: Author sudah siapkan judul baru kak 🙏🏻
total 1 replies
Andi
gabung aja author
Rosdianah 🌷: judulnya "Hi My Lord"
total 2 replies
Asriani Rini
Gabung du sini aja tih kisah mominya amakakaknya udah selesai
Rosdianah 🌷: Hallo kakz cerita Arthur ada di judul "Hi My Lord "
total 2 replies
nayla tsaqif
Wahhhh,,, kurang ajar kau kakek tua AJ,, bisa2nya cucunya di buat eksperimen seni batik..
Rosdianah 🌷: Agak lain Oppa ini 🤣
total 1 replies
Okta Pipin
bagus kak ceritanya, semua novel kakak sudah aku baca, truslah berkarya aku tunggu cerita novel kakak yg baru👍
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Lusy Purnaningtyas
season 2 ya ini tentang violet
Rosdianah 🌷: hehe iya kak🫶
total 1 replies
winpar
waw tmbh seru
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
inchieungill
suka ceritanya.. serasa masuk ke istana inggris
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak 🫠
total 1 replies
inchieungill
koq cucu kandung? violet kan bukan anak alistair?
Rosdianah 🌷: maaf typo kak ya 🙏🏻
total 1 replies
Adiba Azahra
Bagus kak seri nih ceritanya 😁👍
Rosdianah 🌷: Terimakasih sudah mampir 🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Pasti luluh setelah adegan 21+,,hadewww,,,
Rosdianah 🌷: wkwkwk 🤭
total 1 replies
winpar
lnjut thor 💪
Rosdianah 🌷: siap kaak🫶
total 1 replies
Ainun Mahya
segelas kopi untukmu kak author🤭🤭🤭
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳 ma'aciww kak🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Cari cowok baru vio,, 😌 buang mantan pada tempatnya,, mantanmu aja udah tunangan masa kamu jomblo,,,
Rosdianah 🌷: Huhu nah benar 🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
nunggu kebenaran tentang violet terkuak
Mei TResna Rahmatika
landon junior high school apakah yg punya landon Desmon kakek nya baxeena ?
Rosdianah 🌷: Huhu author typo itu kak, London (ibu kota inggris) 🫶🙏🏻
total 1 replies
Ainun Mahya
bagussssss
Ainun Mahya
up lagi kakak😍😍😍😍
Mita Paramita
go baxenaa 🔥 tunjukan pesona mu bikin Mak Lampir kesel 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkwkwkw🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!