Setelah kejadian Raka menyelamatkan warga desa Ciherang dari para korporat di kota, Raka Ardian mencoba peruntungan ke kota mencari kerjaan sambil menyelidiki perusahaan yang mengambil tanah warga Ciherang.
Berbagai kejadian suka dan duka dia hadapi.
Mampukan Raka bertahan di kota yang sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djafar S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 PANGGILAN BATIN DI TANAH SUNDA
Jauh di seberang pulau Jawa, di tengah rerimbunan hutan hujan tropis Kalimantan yang basah oleh sisa embun pagi dan aroma damar yang pekat, deru mesin "chainsaw" serta truk pengangkut kayu berpadu dengan suara serangga hutan yang memekakkan telinga.
Di sebuah kawasan industri pengolahan kayu modern milik investor asal Korea Selatan—"PT Borneo Green Wood"—suasana kerja yang tadinya produktif, tenang, dan tertata rapi mendadak berubah menjadi sangat mencekam, penuh ketegangan, serta diliputi ancaman kekerasan setiap harinya.
Di dalam ruang kantor lapangannya yang berukuran cukup luas, "Arga"—saudara sepupu Raka Ardian sekaligus sesama murid pewaris ilmu "Welingan Sejati"—tengah mondar-mandir dengan langkah cepat. Rahangnya mengatup rapat, dan guratan kekesalan terlihat jelas di wajahnya yang tegas.
Berbeda dengan Raka yang memiliki pembawaan tenang, dingin, dan sedingin es di pegunungan, Arga memiliki karakter yang berapi-api, bertubuh tegap atletis, penuh semangat, dan seringkali kesulitan menahan emosi manakala menghadapi ketidakadilan yang terang-terangan di depan matanya.
Di hadapan meja kerjanya, duduk "Min-ji" kekasih hatinya yang merupakan putri kandung dari pemilik utama perusahaan asal Korea tersebut. Wajah gadis berwajah oriental itu tampak sangat pucat pasi, jemarinya yang lentik gemetar memegang setumpuk laporan keuangan bulanan serta sepucuk surat ancaman kasar yang baru saja diselipkan oleh orang tak dikenal di bawah pintu utama kantor pagi tadi.
"Ayah sedang terjebak dalam perjalanan bisnis penting di Seoul, Arga... dan situasi di sekitar pabrik ini sudah benar-benar di luar kendali," suara Min-ji bergetar halus, hampir menangis, sementara matanya menyiratkan ketakutan yang mendalam.
"Kelompok warga lokal yang diprovokasi terus meneror para pekerja kita setiap malam. Mereka melempari gudang kayu dengan batu besar, membakar sebagian stok kayu olahan ramah lingkungan kita, dan yang paling menakutkan, mereka menyebarkan rumor palsu di desa bahwa perusahaan kita adalah perusak adat istiadat leluhur hutan."
Arga mengepalkan tangan kanannya dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan berderit pelan. Di bawah permukaan kulit lengannya, aliran tenaga dalam "Welingan Sejati" bergolak tipis, memancarkan hawa panas kemarahan yang membakar dada.
Ia tahu persis, dan sangat mengenal pola busuk dari siapa sebenarnya dalang di balik seluruh teror sistematis ini.
Dia adalah "Pak Prabowo"—seorang pengusaha lokal serakah yang selama bertahun-tahun memonopoli izin tebang liar di kawasan hutan tersebut. Karena PT Borneo Green Wood milik keluarga Min-ji dengan tegas menolak untuk diajak bekerja sama dalam praktik suap, penggelapan pajak, dan pembalakan liar, serta lebih memilih sistem investasi transparan yang sangat menghormati kelestarian lingkungan, Pak Prabowo merasa lahan basah dan sumber keuntungan haramnya terganggu.
Pengusaha licik itu sengaja menyewa barisan preman bayaran berkedok kelompok warga lokal untuk menghancurkan investasi Korea tersebut secara paksa agar mereka lekas angkat kaki dari tanah Borneo.
"Cukup sudah kesabaranku menghadapi orang tua serakah dan licik itu," desis Arga tajam, suaranya terdengar menggeram rendah bagai macan kelaparan. "Kemarin mereka hanya merusak gerbang belakang, malam ini mereka berani membakar palet kayu? Aku tidak akan tinggal diam membiarkan mereka terus meneror tempat kerja dan menakut-nakuti keselamatanmu, Min-ji."
Tepat saat Arga hendak melangkah keluar pintu untuk mencari para provokator di desa sekitar, suara benturan keras tiba-tiba menghantam bagian depan kantor.
Brakkk!
Prang!
Teriakan histeris para pekerja dan suara lemparan batu besar menghujani atap seng kantor secara membabi buta. Sekelompok preman bayaran bertubuh kekar bersenjatakan parang, celurit, dan balok kayu, dipimpin oleh seorang algojo suruhan Pak Prabowo bernama "Jaka", mendobrak masuk ke area pabrik sambil melemparkan obor dan membakar beberapa tumpukan palet kayu sisa produksi.
"Keluar kalian orang asing! Usir perusahaan asing perusak hutan! Bakar habis tempat ini!" teriak Jaka dengan suara beringas, memprovokasi massa bayarannya.
Tanpa ragu sedikit pun, Arga menyambar sebatang balok kayu sisa di sudut ruangan, membuka pintu kantor dengan tendangan keras, dan melangkah keluar menghadapi gerombolan preman tersebut seorang diri demi melindungi keselamatan Min-ji serta puluhan pekerja pabrik yang ketakutan. Pertarungan sengit pun tak terhindarkan;
Arga menghantam para preman bayaran itu menggunakan kombinasi jurus tangan kosong Welingan Sejati, memukul mundur selusin penyerang bersenjata tajam dalam waktu singkat hingga kocar-kacir tunggang-langgang.
Namun, setelah gerombolan itu mundur, Arga sadar sepenuhnya bahwa situasi di Borneo sudah berada di ambang batas bahaya yang teramat riskan bagi keselamatan jiwa Min-ji. Jaringan kriminal Pak Prabowo semakin nekat, keji, dan sangat terorganisir.
Di tengah malam yang sunyi, saat merawat luka lecet di lengannya, Arga merenung dalam-dalam sambil memejamkan mata, mencoba membuka mata batinnya untuk mencari jalan keluar.
Warisan ilmu Welingan Sejati yang ia miliki tidak hanya mengajarkan bela diri, tetapi juga kepekaan spiritual untuk merasakan keberadaan sesama darah keturunan leluhur. Melalui pancaran energi batin yang merambat menembus jarak antar pulau, Arga mendadak merasakan resonansi spiritual yang kuat dari arah barat—sebuah gelombang energi keperakan yang tenang namun kokoh di wilayah pegunungan Jawa Barat.
Raka... ya, sepupuku Raka ada di sana, batin Arga tersadar dalam kepekatan malam. Ia mewarisi inti ajaran Welingan Sejati yang sama, bahkan dengan tingkat penguasaan yang jauh lebih matang.
Arga membuka matanya, sebuah senyuman penuh keyakinan terukir di wajahnya. Ia tahu, menghadapi jaringan preman bersenjata dan mafia licik seperti Pak Prabowo tidak bisa diselesaikan hanya dengan otot dan amarah di tanah rantau yang asing ini. Ia membutuhkan bantuan seorang saudara seperguruan yang memiliki ketenangan pikiran dan kesaktian sejati untuk membongkar akar kebusukan tersebut sampai tuntas.
Keesokan paginya, Arga membujuk Min-ji untuk meninggalkan Kalimantan sementara waktu demi keamanan. "Kita tidak bisa bertahan di sini sendirian menghadapi mafia lokal yang dilindungi preman, Min-ji. Kita harus pergi ke Jawa Barat... aku tahu satu orang saudara sepupuku yang sangat bisa diandalkan untuk menolong kita menyelesaikan kekacauan ini," ujar Arga mantap.
Malam itu juga, diam-diam mereka meninggalkan bumi Borneo menggunakan penerbangan pertama menuju tanah Sunda membawa serta harapan baru untuk menemui Raka Ardian di Ciumbuleuit, memulai alur pertempuran baru melawan tirani bisnis yang serakah.