Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Pengakuan di Balik Rak
Udara pagi itu terasa sedikit lebih segar setelah hujan semalaman, tetapi hati Clara tetap sedingin es.
Di dalam kamar kecilnya, Clara sedang memasukkan beberapa potong pakaian usangnya ke dalam sebuah tas kain yang sudah pudar warnanya. Malam tadi, setelah amarah dan keputusasaannya meledak karena foto-foto kemewahan Vera, ada sisa kewarasan kecil yang mencoba menariknya kembali dari tepi jurang. Logikanya yang tersisa berbisik pelan di telinganya: Menukar bayi adalah kejahatan yang tidak bisa dimaafkan. Pergilah, Clara. Tinggalkan kota ini. Bawa Maya pulang ke kampung halamanmu. Hiduplah dalam kedamaian meskipun miskin.
Bisikan itu sempat membuatnya goyah. Rasa takut akan dosa besar yang sedang ia rencanakan membuat tangannya gemetar. Mungkin... mungkin memang lebih baik ia melarikan diri. Membesarkan Maya dengan penuh cinta di desa kecil, jauh dari bayang-bayang Vera dan Daniel. Maya mungkin tidak akan memiliki selimut dari Italia, tetapi Maya akan memiliki ibunya.
Dengan niat untuk menyerah pada dendam dan memilih jalan yang "benar", Clara memutuskan untuk pergi hari ini. Namun sebelum ia berangkat ke terminal bus antar kota, ia harus pergi ke swalayan besar di pusat kota. Ia harus membeli beberapa kebutuhan dasar biskuit murah, air mineral, dan sedikit persediaan popok, untuk bekal perjalanan panjang berjam-jam ke kampung halamannya.
Swalayan itu sangat luas, dengan lampu neon yang terang benderang dan alunan musik instrumental yang mengalun lembut dari pengeras suara. Orang-orang berlalu-lalang dengan troli penuh barang belanjaan, tertawa dan bercengkerama. Clara, dengan penampilannya yang kusam dan jaket kebesaran yang menyembunyikan kehamilannya, merasa sangat salah tempat. Ia berjalan menunduk, mendorong keranjang belanjaan merahnya, menghindari kontak mata dengan siapa pun.
Ia melangkah ke lorong khusus perlengkapan dan makanan bayi. Matanya mencari deretan biskuit ibu hamil yang sedang diskon. Ia meneliti setiap label harga, menghitung dengan teliti sisa uang di dompetnya.
Namun, saat ia hendak meraih sebuah kotak biskuit di rak terbawah, suara hak sepatu wanita beradu dengan lantai keramik terdengar mendekat dari ujung lorong, diiringi oleh tawa berat seorang pria.
Tawa itu membuat sekujur tubuh Clara membeku seketika. Darahnya serasa surut dari wajahnya. Jantungnya berdentum begitu keras hingga ia merasa tulang rusuknya akan retak.
Itu suara Daniel.
Dan suara wanita yang tertawa merdu bersamanya... tidak salah lagi, itu Vera.
Panik menyerang saraf motorik Clara. Ia tidak siap bertemu mereka. Tidak dalam kondisi menyedihkan seperti ini. Ia tidak ingin melihat tatapan kasihan Vera, atau tatapan jijik Daniel. Dengan gerakan refleks yang didorong oleh ketakutan absolut, Clara meninggalkan keranjang belanjaannya dan melangkah cepat, menyusup ke balik deretan rak pajangan promosi susu formula yang tinggi dan besar.
Ia berjongkok di balik rak itu, menekan tubuhnya kuat-kuat ke tumpukan kardus, menahan napasnya. Lorong itu cukup sepi, dan posisi Clara benar-benar tertutup oleh tumpukan barang.
Langkah kaki Vera dan Daniel berhenti tepat di lorong di sebelahnya, hanya terpisahkan oleh rak susu yang menjadi tempat persembunyian Clara. Jarak mereka tak lebih dari dua meter. Clara bisa mencium aroma parfum edisi terbatas Prancis milik Vera yang menguar di udara, aroma mawar merah dan vanilla yang dulu menghancurkan hidupnya.
"Sayang, lihat botol susu ini. Lucu sekali, kan? Bentuknya seperti beruang," suara Vera terdengar manja, diikuti suara gemerincing barang yang diangkat.
"Beli saja kalau kau suka. Ambil semua warna," balas Daniel dengan nada memanjakan yang santai.
Clara menggigit bibir bawahnya keras-keras untuk menahan isak tangis yang mendesak naik. Ia menutupi kedua telinganya, berharap mereka segera pergi. Tolong, pergilah. Biarkan ia pergi dengan damai. Biarkan ia pulang ke kampung halaman dan melupakan semuanya.
Namun, percakapan mereka selanjutnya membuat Clara membeku, dan kedua tangannya perlahan turun dari telinganya.
"Kau tahu, aku memimpikan Clara semalam," kata Vera tiba-tiba. Nadanya tidak terdengar sedih, melainkan kasual, seperti sedang membicarakan cuaca.
Suasana hening sejenak. Clara bisa mendengar Daniel menghela napas panjang, terdengar sedikit terganggu.
"Kenapa kau masih memikirkan wanita itu, Vera? Kita sudah membiarkannya pergi. Dia masa lalu yang membosankan. Jangan merusak hariku dengan menyebut namanya."
Vera tertawa kecil, tawa yang terdengar dingin dan asing di telinga Clara. "Aku tidak memikirkannya karena aku peduli, Daniel. Aku hanya merasa... lucu."
"Lucu? Apanya yang lucu?"
"Lucu karena selama sebelas tahun, dia berpikir aku adalah malaikat pelindungnya." Suara Vera berubah menjadi lebih berat, dipenuhi oleh kepuasan diri yang sangat tebal. "Kau tidak mengerti, Daniel. Sejak kami sekolah, Clara selalu menjadi yang terbaik. Dia lebih pintar, dia lebih disukai guru, dia selalu mendapat nilai tertinggi, dan semua pria memujanya karena dia terlihat sangat polos dan baik hati. Aku muak. Sangat muak berada di bawah bayang-bayangnya."
Clara melebarkan matanya di balik rak. Napasnya tercekat di tenggorokan. Selama ini, ia selalu berpikir Vera berteman dengannya karena ketulusan.
"Lalu kenapa kau bersahabat dengannya selama belasan tahun kalau kau membencinya?" tanya Daniel, terdengar sedikit tertarik dengan sisi gelap istrinya itu.
"Karena itu memberiku kendali," jawab Vera tanpa ragu. Suaranya terdengar begitu kejam, melucuti seluruh ilusi persahabatan mereka. "Dengan berada di dekatnya, aku bisa memastikan dia tidak pernah benar-benar merasa lebih hebat dariku. Aku menawarinya makanan, aku meminjaminya uang, aku selalu ada di saat dia menangis, agar dia merasa bergantung padaku. Agar dia sadar, sepintar apa pun dia, dia tetaplah wanita miskin yatim piatu yang membutuhkan belas kasihanku."
Di balik kardus, air mata Clara mengering seketika. Kesedihan yang tadinya menyesakkan dadanya tiba-tiba lenyap, digantikan oleh ruang hampa yang sangat dingin.
"Kau benar-benar licik, Sayang," kekeh Daniel. "Jadi, mendekatiku dan merebutku darinya..."
"Itu adalah kemenangan terbesarku, Daniel," potong Vera cepat. "Melihat wajahnya saat dia melihat mantelku di apartemenmu... melihat bagaimana seluruh dunia dan harga dirinya runtuh dalam semalam. Kau tidak akan mengerti kepuasan yang kurasakan. Aku tidak hanya mengambil pria yang ia cintai. Aku menghancurkan pilar terakhir dalam hidupnya. Dan yang paling membuatku tertawa, sampai detik ini, dia mungkin masih menangisi 'persahabatan' kita yang hilang, padahal aku sudah lama ingin membuangnya ke tempat sampah."
Hening sejenak. Lalu suara ciuman terdengar, disusul oleh tawa kecil mereka berdua yang bergema di lorong swalayan yang terang benderang itu. Mereka kemudian berjalan menjauh, mendorong troli belanja mereka, melanjutkan hidup dengan kebahagiaan yang dibangun di atas bangkai kehidupan orang lain.
Di balik rak pajangan, Clara perlahan bangkit berdiri.
Tubuhnya tidak lagi gemetar. Wajahnya tidak lagi pucat karena ketakutan. Tatapan matanya yang dulu polos dan penuh keraguan, kini telah sepenuhnya padam. Kepingan terakhir dari hati nuraninya, kepingan yang tadi pagi masih menyuruhnya untuk pulang ke kampung halaman dan menjadi ibu yang baik telah hancur menjadi debu yang tertiup angin.
Vera tidak pernah mencintainya. Vera memeliharanya selama sebelas tahun hanya sebagai hewan peliharaan untuk mengelus egonya sendiri. Penyesalan yang selama ini Vera tunjukkan lewat pesan-pesan palsunya hanyalah cara Vera untuk terus menari di atas penderitaan Clara.
"Kemenangan terbesar..." gumam Clara, mengulang kalimat Vera dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Kau pikir kau sudah menang, Vera?"
Clara berjalan keluar dari balik rak, menatap lurus ke arah punggung Vera dan Daniel yang semakin menjauh di ujung lorong. Tidak ada lagi air mata. Tidak ada lagi rasa bersalah. Tidak ada lagi rencana untuk pulang ke kampung halaman.
Ia akan tetap di kota ini.
Ia akan menunggu dengan sabar layaknya laba-laba berbisa di dalam gelap. Jika Vera merasa telah menghancurkan pilar terakhir dalam hidup Clara, maka Clara akan menghancurkan masa depan wanita itu. Ia tidak akan membunuh Vera. Tidak, kematian terlalu mudah untuk pengkhianat. Clara akan membiarkan Vera membesarkan darah daging musuhnya sendiri, memberikan seluruh harta dan cintanya untuk Maya. Sementara anak kandung Vera, akan Clara seret ke dalam kemiskinan, untuk merasakan neraka yang telah ibunya ciptakan.
"Kita lihat, Vera," bisik Clara, bibirnya melengkung membentuk senyuman iblis yang mengerikan. "Siapa yang akan tertawa paling akhir ketika tabir ini terbuka nanti."
Clara berbalik, meninggalkan keranjang belanjaannya, dan berjalan keluar dari swalayan dengan tekad yang tidak akan pernah bisa diubah oleh siapa pun, bahkan oleh Tuhan sekalipun. Mahakarya tragedinya baru saja dimulai.