NovelToon NovelToon
Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Irhab Hauzan

Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran

Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.

Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 — Sekutu yang Tak Terduga

Tiga hari setelah pertemuan singkat mereka di Aula Utama, Zhou Feng datang mengetuk pintu kediaman Zhou Chen—sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya selama bertahun-tahun tinggal di istana yang sama.

"Kakak Keempat," katanya, sedikit ragu saat Ah Fu mempersilakannya masuk, "hamba... datang untuk menerima tawaran Kakak. Tentang wilayah utara."

Zhou Chen, yang saat itu sedang memeriksa laporan hasil latihan Xiao Hei dan yang lainnya, mendongak dan tersenyum tipis. "Masuklah. Aku sudah menyiapkan beberapa hal yang bisa membantu."

Ia mengeluarkan gulungan yang sudah ia susun selama dua malam terakhir—rencana perbaikan sistem irigasi yang disusun berdasarkan analisis mendalam dari Mata Dewa, dipadukan dengan pengetahuan yang tersisa dari kehidupan lamanya di dunia modern tentang prinsip dasar pengelolaan air.

"Sistem irigasi lama di wilayahmu mengandalkan aliran alami dari sungai kecil di sisi timur," jelas Zhou Chen, menunjuk pada peta kasar yang telah ia gambar. "Masalahnya, debit air sungai itu menurun drastis saat musim kering. Solusinya bukan menggali sumur baru yang mahal, tapi membangun sistem penampungan air hujan dan mengalihkan sebagian aliran dari sungai besar di sisi utara—yang selama ini tidak dimanfaatkan karena jaraknya dianggap terlalu jauh."

Zhou Feng menatap gulungan itu dengan mata terbelalak, membaca setiap detail dengan seksama. Meski ia bukan ahli teknik, logika di balik rencana itu begitu jelas dan masuk akal, bahkan bagi seseorang yang awam sekalipun.

"Ini... ini bisa berhasil," gumamnya, suaranya bergetar antara terkejut dan penuh harap. "Tapi, Kakak, biaya untuk membangun sistem penampungan dan jalur pengalihan ini pasti tidak sedikit. Hamba tidak punya cukup dana—"

"Aku bisa membantu sebagian dana awal," potong Zhou Chen. "Dari keuntungan usaha dagangku."

Zhou Feng terdiam, hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Kakak bersedia mengeluarkan dana pribadi... untuk wilayahku?"

"Bukan hanya untuk wilayahmu," jawab Zhou Chen tenang. "Untuk kerajaan ini secara keseluruhan. Kalau wilayah utara berhasil pulih, hasil panennya akan menguntungkan seluruh Zhou, bukan hanya dirimu atau diriku."

Kesepakatan itu terjalin malam itu juga—bantuan modal dan rencana teknis dari Zhou Chen, ditukar dengan kerja sama jangka panjang dari Zhou Feng, yang meski tidak memiliki kekuatan militer atau politik, memiliki sesuatu yang tak kalah berharga: akses langsung dan kepercayaan penuh dari rakyat di wilayah yang ia kelola.

Namun kesepakatan itu bukan tanpa risiko.

"Kakak," kata Zhou Feng sebelum pamit, nada suaranya berubah serius, "hamba harus jujur. Beberapa hari lalu, seseorang dari pihak Kakak Kelima sempat menghubungi hamba, menanyakan apakah Kakak pernah berbicara denganku tentang hal-hal aneh."

Zhou Chen menahan napas sejenak, meski wajahnya tetap tenang. Zhou Ming bergerak lebih cepat dari perkiraanku.

"Apa yang kau katakan padanya?"

"Hamba bilang Kakak hanya menyapa biasa, tidak lebih," jawab Zhou Feng cepat. "Hamba... tidak ingin membahayakan Kakak, meski hamba sendiri belum sepenuhnya mengerti apa yang sedang Kakak rencanakan."

Zhou Chen menatap pemuda di hadapannya—pangeran yang selama ini dianggap paling tidak berharga di antara sembilan bersaudara—dengan pandangan yang penuh pertimbangan baru.

Dia berbohong demi melindungiku, padahal kami baru saja bertemu dua kali, pikirnya. Loyalitas semacam ini tidak bisa dibeli dengan uang atau kekuasaan. Hanya bisa didapat dari ketulusan.

"Terima kasih," katanya akhirnya, nada suaranya lebih hangat dari biasanya. "Aku janji, aku tidak akan mengecewakan kepercayaanmu."

Setelah Zhou Feng pergi, Zhou Chen duduk sendirian di ruang kerjanya, memikirkan kembali situasi yang mulai berkembang jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan semula.

Zhou Ming sudah mulai menyelidiki lebih jauh. Cepat atau lambat, dia akan menemukan sesuatu yang tidak bisa lagi kujelaskan dengan alasan sederhana seperti "banyak membaca".

Ia membuka Kitab Langit Tanpa Akhir, menuliskan catatan baru—bukan tentang teknik bela diri kali ini, melainkan tentang strategi dan pemetaan kekuatan politik di istana, sesuatu yang mulai ia pelajari dengan seksama dari berbagai laporan dan gosip yang berhasil dikumpulkan Ah Fu dan yang lainnya.

Peta Kekuatan Istana (Sementara) Pangeran Pertama — Didukung keluarga bangsawan. Ambisius, cenderung konservatif. Pangeran Kedua (Zhou Yun) — Didukung jenderal militer. Meremehkan lawan yang tampak lemah. Pangeran Ketiga — Didukung sekte bela diri. Belum banyak diketahui. Pangeran Kelima (Zhou Ming) — Jaringan mata-mata luas. Cerdas, teliti, berpotensi menjadi ancaman terbesar jika curiga sepenuhnya. Pangeran Ketujuh (Zhou Feng) — Tanpa dukungan signifikan. Sekutu baru.

Ia menatap catatan itu lama, menyadari bahwa perjalanannya kini telah berubah dari sekadar "bertahan hidup" menjadi sesuatu yang jauh lebih kompleks—permainan politik sesungguhnya, di mana setiap langkah harus dipertimbangkan dengan matang.

Aku butuh lebih banyak sekutu, pikirnya. Tapi aku juga harus lebih berhati-hati. Zhou Ming bukan orang yang bisa diremehkan.

Di luar jendela, malam semakin larut, bintang-bintang mulai bermunculan di langit gelap di atas Kerajaan Zhou—kerajaan kecil yang, tanpa disadari oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri, perlahan mulai bergerak menuju arah yang akan mengubah nasibnya selamanya.

Namun sebelum rencana besarnya bisa berkembang lebih jauh, sebuah kejadian tak terduga akan segera menguji kesetiaan pasukan kecilnya—dan sekaligus membuktikan kepada seluruh istana, bahwa Pangeran Keempat yang selama ini dianggap tidak berbahaya, bukanlah orang yang bisa dipandang remeh lagi.

Bersambung ke Bab 9 — Ujian Pertama

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semangat ya . semoga gif mawar ini menjadi semangat baru klo km . butuh temn masuk grup aku kita saling dukung
Irhab Hauzan: siap mampir 🙏
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!