NovelToon NovelToon
Perjalanan Dewa Alkemis Di Alam Primordial

Perjalanan Dewa Alkemis Di Alam Primordial

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Perperangan
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

*𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘼𝙡𝙠𝙚𝙢𝙞𝙨 𝙎𝙚𝙢𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣 𝘽𝙚𝙣𝙪𝙖 𝙎𝙚𝙖𝙨𝙤𝙣 𝘿𝙪𝙖*

Ini adalah kisah Lin Xuan Sang Dewa Alkemis yang tidak sengaja bertemu dengan musuh terkuatnya Mo Xie, dua orang dari alam bawah yang tanpa sengaja terjerumus ke alam semesta yang jauh lebih tinggi.

Namun, mereka segera menyadari bahwa gelar agung, bahkan kekuasaan yang dianugerahkan oleh para Dewa dan Iblis Kuno bukanlah berkah, melainkan umpan untuk memelihara tubuh mereka hingga matang sebelum akhirnya dijadikan santapan.

Alih-alih terus saling membunuh, dua anomali ini akhirnya mengesampingkan permusuhan mereka untuk sementara.

Sebab sebelum menentukan siapa yang akan mati di tangan siapa, mereka sepakat melakukan satu hal terlebih dahulu...

Membantai para dewa serta iblis munafik dan membuat seluruh Alam Tinggi berlumuran darah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Gulungan Asal-Usul

Jauh di bawah fondasi kristal Kota Suci Tianyu tersembunyi sebuah dimensi kuno yang bahkan sulit dijangkau oleh indra para dewa.

Di sanalah Perpustakaan Suci Kekaisaran berada.

Tempat itu bukan sekadar gudang. Di dalamnya tersimpan sejarah, hukum alam, teknik kuno, hingga rahasia berdirinya ras Dewa Kuno yang telah terkubur selama miliaran tahun.

Dengan Lencana Komandan Bintang di tangan serta wewenang dari Shen Ziyue, Lin Xuan memasuki tempat itu tanpa hambatan.

Pemandangan di dalamnya sama sekali berbeda dari perpustakaan biasa.

Tidak ada rak atau gulungan yang tersusun di sepanjang dinding. Ruangan itu justru membentang seperti kehampaan tanpa ujung, dipenuhi jutaan kristal dan prasasti bercahaya yang melayang seperti bintang.

Setiap kristal menyimpan pengetahuan dari zaman yang berbeda.

Lin Xuan mengamati semuanya dengan tenang.

"Perpustakaan ini dibangun di atas urat nadi dimensi."

Tatapannya menyapu hamparan kristal.

"Mereka tidak menyimpan pengetahuan dalam tulisan. Mereka menyimpannya dalam jejak jiwa."

Kabut hitam-putih keluar dari balik jubahnya. Sesosok bayangan perlahan terbentuk di sampingnya.

Hun Yuan muncul.

"Begitu banyak teknik cahaya." Ia memandang sekeliling dengan jijik. "Namun sebagian besar hanya mengandalkan kekuatan luar. Tidak ada yang layak dipelajari."

"Aku juga tidak datang untuk mempelajari teknik mereka."

Lin Xuan terus melangkah.

"Aku ingin mengetahui asal-usul ras Dewa Kuno. Jika mereka mampu menguasai separuh Alam Primordial, pasti ada rahasia yang mereka sembunyikan lebih dalam daripada semua gulungan ini."

Ia berhenti.

Lalu menutup mata.

Lin Xuan tidak menggunakan Qi untuk mencari. Sebaliknya, ia membiarkan kekuatan tubuhnya menyebar ke seluruh dimensi.

Jantungnya berdetak.

Dum!

Sebuah resonansi samar menjawab dari kedalaman kehampaan.

Lin Xuan membuka matanya.

"Di sana."

Tubuhnya melesat.

Beberapa saat kemudian, ia tiba di bagian terdalam perpustakaan. Sebuah altar obsidian berdiri di tengah ruang kosong, dikelilingi ratusan lapis segel hukum ruang.

Di atas altar melayang sebuah gulungan emas kuno.

Aura yang terpancar darinya begitu tua hingga ruang di sekitarnya ikut bergetar.

Hun Yuan menyipitkan matanya.

"Segel tingkat Dewa Leluhur Taichu." Tatapannya tertuju pada gulungan itu. "Jika kita menghancurkannya dengan paksa, seluruh Kota Tianyu bisa ikut terkubur."

Lin Xuan tersenyum tipis. "Siapa bilang aku akan menghancurkannya?"

Ia melangkah maju.

Cahaya perak perlahan menyelimuti tubuhnya. Kedua tangannya menyentuh lapisan segel.

Tidak terjadi ledakan.

Lin Xuan hanya mengandalkan kekuatan tubuhnya untuk memaksa celah di antara hukum ruang yang saling bertumpuk.

Segel bergetar hebat.

Otot lengannya menegang, tetapi tubuhnya tetap kokoh.

Krek!

Sebuah celah akhirnya terbuka. Lin Xuan melangkah masuk.

Sesaat kemudian, segel kembali menutup seolah tidak pernah disentuh.

Ia berdiri tepat di hadapan gulungan emas.

Begitu jarinya menyentuh permukaannya, arus ingatan kuno langsung mengalir ke dalam Lautan Kesadarannya.

Aksara merah dan emas memenuhi pikirannya.

Lin Xuan membacanya dengan cepat. Namun semakin jauh ia membaca, semakin serius wajahnya.

Hingga akhirnya kedua matanya melebar.

"Mustahil..." Suaranya hampir tidak terdengar. "Teknik yang selama ini kulatih..."

Tatapannya terpaku pada gulungan itu. "Asal-usulnya ternyata..."

Sebuah judul perlahan muncul dalam benaknya.

Seni Penempaan Daging Leluhur Pertama: Fondasi Ketiadaan dan Penciptaan.

Lin Xuan mengenalnya dengan nama lain.

Tungku Daging Sembilan Kesengsaraan.

Selama ini ia mengira teknik tersebut merupakan warisan Kaisar Manusia dari zaman purba.

Ternyata ia salah.

Tungku Daging bukan ciptaan manusia.

Itu adalah teknik leluhur ras Dewa Kuno, seni tertua yang digunakan para leluhur mereka untuk menempa tubuh di tengah kekacauan awal alam semesta.

Sembilan Benua hanyalah serpihan dunia yang secara kebetulan mewarisi sebagian kecil dari teknik tersebut.

Hun Yuan terdiam cukup lama sebelum akhirnya berbicara.

"Tuanku..." Tatapannya pada gulungan itu dipenuhi keterkejutan. "Teknik yang Anda tempa dengan ribuan penderitaan di alam bawah ternyata merupakan warisan leluhur pencipta ras Dewa Kuno."

Lin Xuan tidak menjawab.

Ia terus membaca.

Tak lama kemudian, sebuah rahasia yang jauh lebih mengejutkan muncul di hadapannya.

Tungku Daging ternyata tidak berhenti pada sembilan tahap.

Sembilan Kesengsaraan hanyalah bagian yang dikenal olehnya.

Di baliknya masih terbentang jalan yang jauh lebih panjang.

Tahap pertama hingga kedelapan merupakan penempaan awal tubuh. Bahkan sebagian besar jenius Dewa Kuno tidak mampu melewati tahap kedelapan karena darah mereka terlalu murni dan tubuh mereka terlalu sempurna untuk menerima perubahan lebih lanjut.

Tahap kesembilan disebut Tubuh Keabadian Mutlak.

Tahap kesepuluh disebut Tubuh Bintang Purba.

Pada tahap itu, seorang kultivator mulai menyentuh hukum dasar langit dan bumi.

Lin Xuan telah mencapai tahap tersebut. Namun ternyata itu masih jauh dari puncak.

Tahap kelima belas disebut Pencipta Mutlak.

Menurut catatan kuno, setetes darah dari kultivator tahap itu dapat melahirkan dunia baru.

Satu tarikan napas mampu mengguncang alam semesta.

Lin Xuan menarik napas panjang. Namun bagian terakhir gulungan itulah yang benar-benar mengubah wajahnya.

Tulisan pada bagian tersebut berbeda dari sebelumnya.

Setiap aksaranya seakan dipenuhi amarah dan keputusasaan.

Penulisnya adalah penguasa tertinggi ras Dewa Kuno saat ini.

Kaisar Dewa Kuno Taichu.

Lin Xuan membaca perlahan.

"Darah suci yang mengalir dalam tubuhku adalah kutukan."

"Ras Dewa Kuno terlahir terlalu sempurna. Tubuh kami menolak kekacauan dan menolak penderitaan. Kesempurnaan itu justru menjadi belenggu."

"Aku telah terhenti di tahap ketiga belas selama sejuta tahun."

"Setiap kali mencoba melangkah lebih jauh, tubuhku runtuh dari dalam."

"Aku membutuhkan sebuah wadah."

"Makhluk yang cukup kuat untuk menanggung kekacauan, tetapi cukup liar untuk ditempa."

Lin Xuan menutup gulungan itu. Keheningan kembali memenuhi altar.

Namun pikirannya telah berubah menjadi badai. Satu demi satu kejadian yang pernah dialaminya mulai terhubung.

Shen Ziyue. Perhatiannya yang berlebihan. Kemudahan yang tiba-tiba ia peroleh sejak tiba di Alam Primordial.

Semuanya kini mulai masuk akal.

Di Sembilan Benua, ia mampu menembus batas yang tidak sanggup dilewati para Dewa Kuno justru karena ia manusia.

Tubuh manusia tidak sempurna. Karena itulah tubuh manusia mampu berubah.

Ia pernah menelan racun, mematahkan tulang, menghancurkan tubuhnya berkali-kali, lalu menempanya kembali.

Para Dewa Kuno tidak bisa melakukan hal yang sama.

Tubuh mereka terlalu murni. Terlalu sempurna.

Ia membutuhkan seseorang, Seseorang yang dapat ditempa hingga mencapai tahap yang bahkan tidak mampu dicapai ras Dewa Kuno.

Seseorang yang dapat dipelihara sampai matang.

Kemudian... Dipanen.

"Mereka tidak menginginkan seorang prajurit." Suara Lin Xuan terdengar pelan.

Tawa dingin menyusul dari bibirnya. "Hun Yuan."

"Ya, Tuanku."

"Mereka sedang mencari peliharaan."

Mata Hun Yuan berubah dingin. "Mereka ingin melihat seberapa jauh peliharaan itu dapat berkembang. Setelah matang...Baru mereka akan memanennya."

Tatapannya perlahan menjadi dingin. Seketika satu sosok tiba-tiba muncul dalam pikirannya.

Mo Xie. Tuan Muda Iblis Kuno.

Semuanya tiba-tiba terasa masuk akal.

"Kaisar Iblis Kuno..." Lin Xuan tertawa pelan. "Dia juga melakukan hal yang sama."

Mo Xie memiliki tubuh fana sepertiku.

Tulangnya dapat ditempa. Tulang Surgawinya dapat berkembang.

Bukankah itu bahan yang sempurna untuk dipelihara sampai matang?

Pada saat itu, Lin Xuan akhirnya memahami kenyataan yang jauh lebih mengerikan.

Alam Primordial bukanlah tanah suci. Bukan pula sekadar medan perang para dewa.

Ini adalah sebuah peternakan.

Para penguasa tertinggi memelihara makhluk-makhluk yang diinginkan, membiarkan mereka tumbuh, memberi mereka harta, kekuasaan, dan kesempatan.

Kemudian, ketika tubuh mereka mencapai tingkat yang dibutuhkan... Mereka akan dipanen.

"Bagus."

Lin Xuan memutar lehernya. Tatapannya sama sekali tidak menunjukkan ketakutan.

Yang tersisa hanyalah niat membunuh.

"Jika Kaisar Taichu ingin menjadikanku bahan alkimia..."

Senyumnya perlahan melebar.

"...mari kita lihat siapa yang akan menjadi bahan alkimia pada akhirnya."

Ia menyimpan kembali gulungan emas itu lalu meninggalkan altar.

Namun langkahnya kini terasa jauh lebih berat. Waktu tidak berpihak kepadanya.

Selama identitas dan pencapaiannya belum terbongkar, perlindungan Shen Ziyue masih bisa menjadi tameng.

Namun cepat atau lambat, faksi pusat akan memanggilnya ke Ibu Kota Taichu.

Jika ia datang sebagai kultivator yang Tungku Dagingnya masih berada di tahap kesepuluh, kemungkinan besar ia tidak akan pernah keluar lagi.

Ia harus menjadi jauh lebih kuat.

"Dengar baik-baik, Hun Yuan." Lin Xuan menatap langit-langit dimensi. "Kita akan menguras seluruh sumber daya kota ini."

Senyumnya menjadi dingin.

"Gunakan semua yang bisa kita dapatkan. Manfaatkan obsesi Ziyue. Biarkan mereka terus memberiku harta dan sumber daya."

Lin Xuan mengepalkan tangannya.

"Sebelum orang-orang Kaisar Taichu datang menjemputku..."

Aura mengerikan perlahan bangkit dari tubuhnya.

"Aku harus menembus tahap kesebelas."

1
Raju
jossssss
Raju
alankah terjadi perang besar dan menghancurkan kota atau awal dri sebuah aliansi ??
Raju
lin xuan sang kaisar obat jadi pegawai dadakan ....😁😁
Celestial Quill: hahahah, mungkin cape jadi kaisar terus😄
total 1 replies
Raju
hm... lin xuan... keanya serba bisa ni org... dri kultivator, pemusnah massal, pembuat drama terbaik, hingga jadi tukang bengkel pun bisa keanya ...🤣🤣🤣
Celestial Quill: hahaha😄😄
total 1 replies
Raju
poin yg q kumpulkan selama ribuan tahun Meluncur Thor....!! 😁😁
Raju
ternyata pendatang lbih ganas dri pada penunggu....🤣🤣🤣
Raju
perebutan kristal dimulai...
Raju
vote meluncur buat karyamu Thor...!!
Celestial Quill: Terimakasih, semoga karya baru dapat menghibur. Selamat membaca
total 1 replies
Green Boy
Mantap Thor
Celestial Quill: Terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!