Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.
Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Bintang Utama Ballroom
Ballroom Hotel Grand Hyatt malam itu dipenuhi nuansa kemewahan yang megah. Lampu-lampu gantung kristal memancarkan pendar keemasan yang memantul di atas lantai marmer yang dipoles mengilap. Musik orkestra klasik mengalun lembut, mengiringi tawa dan denting gelas seloki dari ratusan tamu undangan yang terdiri dari para pengusaha papan atas, pejabat pemerintah, serta awak media korporat.
Di salah satu sudut ballroom, Siska berdiri gelisah seraya terus menatap layar ponselnya. Ia mengumpat pelan saat panggilan kesulihannya ke nomor Alya lagi-lagi langsung dialihkan ke kotak suara.
Tak lama kemudian, Rendy melangkah masuk ke dalam ballroom dengan napas sedikit memburu dan wajah membendung kejengkolan. Jas merah marunnya masih rapi, namun raut mukanya menyiratkan kekesalan yang amat sangat.
"Siska!" panggil Rendy dengan setengah berbisik seraya mendekati wanita itu. "Alya mana? Kenapa saat aku sampai di rumahnya tadi, satpam bilang dia sudah berangkat sejam yang lalu?!"
Siska mengusap pelipisnya yang mendadak pening. "Aku juga tidak tahu, Rend! Dari tadi nomor teleponnya tidak aktif! Kapan kamu sampai di rumahnya?"
"Tadi aku agak terlambat karena jalanan Sudirman macet parah!" gerutu Rendy, mengepalkan tangannya tegang di dalam saku jas. "Harusnya cewek itu menungguku! Berani-beraninya dia berangkat duluan tanpa memberi tahu. Padahal kan skenario kita, aku yang menggandeng dia masuk dari pintu depan ballroom!"
"Sudah, tenang dulu. Jangan merusak rencana," bisik Siska mencoba menenangkan, walau dadanya sendiri berdebar panik. "Yang penting nanti saat sesi sambutan Papa Alya, kamu tetap jalankan rencananya. Naik ke panggung dan umumkan hubungan kalian."
Rendy meneliti ke sekeliling ballroom yang begitu luas. Matanya menyapu deretan tamu berkemeja mahal dan bergaun mewah, namun sosok Alya yang berbadan berisi sama sekali tidak terlihat di antara kerumunan.
"Tapi dia di mana sekarang?" gumam Rendy seraya menerima segelas champagne dari nampan pelayan yang lewat. "Dengan badan sebesar itu, harusnya dia gampang banget kelihatan di tengah kerumunan begini."
"Mungkin dia masih di ruang rias VIP di lantai atas," duga Siska. Ia membetulkan posisi gaun emas kecokelatan mewah yang dibelikan Alya, mencoba menepuk-nepuk dadanya yang sesak. "Dia pasti sedang sibuk memakai gaun merah rumbai-rumbai yang aku pilihkan. Kamu tahu sendiri kan, gaun itu susah sekali dipakainya."
Rendy menyunggingkan senyum sinis. "Baguslah. Biar semua media melihat betapa noraknya penampilan dia malam ini. Makin konyol penampilannya, makin terlihat seperti pahlawan aku yang mau menerimanya apa adanya."
Tepat saat itu, lampu-lampu utama di dalam ballroom perlahan meredup. Suara dentangan hisap mikrofon bergema di seluruh ruangan, memusatkan perhatian ratusan tamu ke panggung utama.
Seorang pembawa acara senior berjas hitam melangkah ke tengah panggung dengan senyuman profesional.
"Selamat malam, Bapak, Ibu, serta jajaran tamu undangan yang terhormat," sapa pembawa acara tersebut dengan suara berat yang menggema hangat. "Selamat datang di Pesta Peringatan Hari Jadi ke-25 Nusantara Industri Utama!"
Tepuk tangan meriah membahana di dalam ballroom. Rendy dan Siska menyempil ke barisan agak depan di dekat panggung, bersiap menyambut momen eksekusi mereka.
"Malam ini bukan hanya menjadi penanda seperempat abad perjalanan hebat Nusantara Industri Utama di industri manufaktur tanah air," lanjut sang pembawa acara. "Tetapi juga menjadi malam yang sangat bersejarah. Untuk membuka acara malam hari ini, marilah kita sambut Pendiri dan Komisaris Utama Nusantara Industri Utama, Bapak Hendra Kusuma!"
Papa Alya naik ke atas panggung dengan langkah tegap diiringi riuh tepuk tangan. Pria paruh baya itu memegang mikrofon, tersenyum bangga menatap para relasi bisnisnya.
"Terima kasih atas kehadiran rekan-rekan sekalian malam ini," ucap Papa Alya dengan nada haru yang tertahan. "Dua puluh lima tahun adalah perjalanan yang panjang. Dan malam ini, saya tidak hanya merayakan masa lalu perusahaan ini, tetapi juga masa depannya. Nusantara Industri Utama resmi menandatangani aliansi strategis dan perluasan investasi jangka panjang bersama mitra terbaik kami selama tiga tahun terakhir... PT Aditya Nusantara Abadi!"
Tepuk tangan kembali membahana, lebih riuh dari sebelumnya. Di barisan depan, ayah Kai tampak mengangguk penuh hormat ke arah panggung.
"Dan untuk meresmikan kerja sama ini, serta menyambut generasi penerus yang akan memimpin kolaborasi besar ini ke depan..." Pembawa acara mengambil alih kembali mikrofon dengan intonasi bernada dramatis. "Marilah kita panggilkan, calon penerus tunggal Nusantara Industri Utama, Ibu Alya Kusuma, bersama Wakil Direktur Utama PT Aditya Nusantara Abadi, Bapak Kai Aditya!"
Lampu sorot utama (spotlight) putih keemasan seketika berpindah dari panggung, bergerak menembus kegelapan dan menembak lurus ke arah tangga melingkar di sisi kiri ballroom.
Seluruh kepala tamu undangan serentak menoleh ke arah tangga megah tersebut.
Rendy dan Siska ikut menoleh dengan angkuh, menyunggingkan senyum meremehkan—menantikan penampilan konyol Alya dengan gaun merah rumbai-rumbai dan riasan menornya.
Namun, detik berikutnya, senyuman di wajah Rendy dan Siska membeku seketika.
Suara bisikan kagum perlahan merayap di seluruh ruangan, menggantikan keheningan.
Di puncak tangga melingkar itu, berdiri dua sejoli yang bagaikan keluar dari sampul majalah bisnis dan gaya hidup kelas atas.
Alya melangkah turun dengan sangat anggun. Gaun malam emerald green buatan Rico melekat sempurna di tubuhnya. Bahan sutra tebal berwarna hijau zamrud itu jatuh begitu indah, membingkai lekuk tubuh 70 kg Alya dengan sangat mewah dan berkelas tanpa memperlihatkan cela. Riasan wajahnya yang clean-finish dipadu dengan lipstik merah tua mempertegas garis rahangnya yang cantik dan percaya diri. Rambut hitam tebalnya terurai bergelombang anggun di satu sisi bahunya.
Di sampingnya, Kai Aditya berjalan dengan gagah. Pria berpostur jangkung, tegap, dan bertparas tampan itu mengenakan tuksedo hitam klasik buatan penjahit Italia. Tangan Kai terulur dengan sangat protektif, membiarkan jemari Alya melingkar hangat di lengannya seraya menuntun wanita itu turun menapaki anak tangga satu per satu.
Setiap kali Alya melangkah, aura kepemimpinan, kecerdasan, dan kecantikan alaminya memancar kuat—sama sekali tidak memperlihatkan sosok cewek minder yang selama ini dikenal orang. Mereka berdua tampak begitu serasi, anggun, dan sangat pantas bersanding satu sama lain.
"Ya Tuhan... itu beneran Alya?" bisik salah seorang direktur BUMN di dekat Rendy dengan nada takjub. "Cantik dan anggun sekali... Aura calon pemimpinnya kelihatan sekali!"
"Iya! Pasangan yang sangat serasi dengan Pak Kai dari Aditya Group. Luar biasa!" sahut pengusaha di sebelahnya.
Siska berdiri terpaku bagaikan dihantam petir di siang bolong. Matanya membelalak lebar, napasnya tertahan di tenggorokan.
"N-nggak mungkin..." desis Siska panik, tangannya gemetaran meremas gaun mewahnya sendiri. "Mana... mana gaun merah rumbai-rumbai yang aku belikan?! Kenapa dia pakai gaun hijau itu?! Dan riasannya... kenapa bisa secantik itu?!"
Rasa iri yang membakar seketika mendidihkan darah Siska. Gaun emas mahal yang dipakai Siska malam ini—yang tadinya ia banggakan—mendadak terasa bagaikan pakaian pelayan jika dibandingkan dengan keanggunan gaun emerald green yang melekat di tubuh Alya.
Di sebelah Siska, Rendy menelan ludah pait-pait. Matanya seolah tak bisa lepas dari sosok Alya yang berjalan anggun di samping Kai.
Jantung Rendy berdegup kencang, namun bukan karena cinta, melainkan karena syok dan kebingungan yang teramat sangat.
"Sejak kapan... sejak kapan cewek gemuk itu kenal dekat sama Kai Aditya?!" batin Rendy membentak panik. "Kenapa mereka bisa jalan bergandengan tangan seperti itu?!"
Rendy memandang pemandangan di hadapannya dengan rasa tidak percaya yang campur aduk. Bagi Rendy, dengan tubuh Alya yang berbobot 70 kg, sangat tidak masuk akal ada pria seperti Kai Aditya—pria sempurna, tampan, kaya raya, dan diincar oleh banyak wanita elit—mau berjalan berdampingan dengan penuh pendar kebanggaan seperti itu.
Mustahil! Ini pasti cuma akting bisnis! Mana mungkin pria sekelas Kai Aditya sungguhan tertarik sama wanita gemuk kayak Alya! jerit batin Rendy mencoba menghibur dirinya sendiri yang mendadak merasa kerdil.
Alya dan Kai akhirnya menapaki anak tangga terakhir dan melangkah menyusuri karpet merah menuju panggung utama.
Saat melewati barisan depan, mata Alya yang tajam bersibobrok langsung dengan mata Rendy dan Siska yang berdiri membeku.
Alya tidak memalingkan wajahnya. Malah, bibir bermerahkan lipstik merah tua itu menyunggingkan senyuman tipis—sebuah senyuman dingin yang sarat akan dominasi dan hinaan implisit. Pandangan mata Alya seolah menelanjangi semua skenario murah yang sudah disiapkan Rendy dan Siska di balik panggung.
Kai, yang merasakan perubahan aura Alya, melirik pelan ke arah Rendy. Dengan santai namun tegas, Kai merapatkan pegangan tangannya pada jemari Alya, lalu merangkul pinggang Alya secara protektif di depan seluruh kamera wartawan yang menyala terang.
Lampu kilat (flash) kamera meledak bertubi-tubi menyinari panggung, mengabadikan momen berdiri berdampingannya Alya dan Kai di samping Papa Alya.
"Terima kasih atas sambutan meriahnya," ujar Kai setelah menerima mikrofon dari pembawa acara. Suaranya yang berat dan mantap bergema di seluruh ballroom. "Atas nama PT Aditya Nusantara Abadi, kami sangat bangga bisa mempererat aliansi ini. Dan secara pribadi..."
Kai menoleh ke arah Alya, menatap wanita di sampingnya dengan binar mata penuh kehangatan murni yang membuat separuh wanita di dalam ballroom mendesah iri.
"...saya merasa sangat terhormat bisa berdiri di samping Ibu Alya Kusuma malam ini. Seseorang yang tidak hanya cerdas dalam memimpin, tetapi juga menjadi inspirasi terbesar bagi masa depan kerja sama ini."
Tepuk tangan paling riuh malam itu meledak di dalam ruangan.
Di bawah panggung, Rendy mencengkeram gelas champagne-nya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Kotak beludru berisi cincin murah di saku jasnya kini terasa bagaikan bongkahan batu panas yang mempermalukan dirinya sendiri.
Rencananya untuk naik ke panggung dan mendeklarasikannya sebagai kekasih Alya telah hancur berkeping-keping bahkan sebelum ia sempat menginjakkan kaki di tangga panggung.
Siska menyenggol lengan Rendy dengan wajah pucat pasi. "Rend... bagaimana ini? Rencana kita... rencana kita gagal total!"
Rendy mengepalkan rahangnya rapat-rapat, matanya menyalang penuh dendam menatap ke atas panggung. "Belum, Siska. Ini belum selesai. Aku tidak peduli siapa pria itu... Alya harus tetap jatuh ke tangan kita!"