Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Sore Sebelum Badai
Su Yue sudah menunggu di gerbang taman tengah ketika Chu Feng tiba, mengenakan jubah sederhana berwarna hijau lumut—jauh dari kesan mewah yang biasa melekat pada perwakilan klan kultivator ternama.
"Kupikir kau akan datang dengan jubah kebesaran pangeran," katanya, sedikit menggoda, ketika melihat Chu Feng juga mengenakan pakaian sederhana yang biasa ia pakai untuk berlatih.
"Aku bukan tipe yang suka menarik perhatian," jawab Chu Feng, membungkuk singkat sebagai salam. "Lagipula, kudengar kau ingin melihat kerajaan ini, bukan pangerannya."
"Keduanya, sebenarnya," Su Yue tersenyum, mulai melangkah menyusuri jalan setapak keluar dari kompleks istana. "Tapi aku akan puas dengan salah satunya untuk sekarang."
Mereka berjalan menyusuri jalan-jalan kecil di luar tembok istana, menuju kota kecil yang mengelilingi Kerajaan Chu—bukan kota megah seperti yang mungkin biasa dilihat Su Yue di wilayah tengah Benua Timur, melainkan sekumpulan rumah kayu sederhana, pasar kecil yang ramai dengan pedagang lokal, dan penduduk yang hidup jauh dari hiruk-pikuk politik istana.
"Kerajaan ini kecil," komentar Su Yue, matanya mengamati sekeliling dengan rasa ingin tahu yang tulus, bukan meremehkan. "Tapi ada sesuatu yang... tenang di sini. Berbeda dengan kota-kota besar di wilayah tengah yang selalu terasa terburu-buru."
"Kau tidak akan mendengar banyak orang di istana mengatakan itu sebagai pujian," Chu Feng tersenyum tipis. "Kebanyakan menganggap kerajaan ini terlalu kecil, terlalu tidak penting dibandingkan kerajaan-kerajaan besar lainnya."
"Apa kau juga berpikir begitu?"
Chu Feng terdiam sejenak, mempertimbangkan jawabannya dengan lebih hati-hati dari biasanya. "Aku pernah berpikir begitu. Tapi belakangan ini... aku mulai menyadari bahwa ukuran sebuah kerajaan tidak selalu menentukan seberapa besar hal-hal penting yang bisa ditemukan di dalamnya."
Su Yue menatapnya sejenak, sesuatu di matanya menunjukkan bahwa ia menangkap lebih banyak dari yang tersirat dalam kalimat itu, meski tidak mendesak lebih jauh.
Mereka berhenti di sebuah kedai teh kecil di pinggir pasar, tempat yang biasa dikunjungi penduduk lokal, jauh dari kemewahan yang biasa dinikmati bangsawan istana. Pemilik kedai, seorang wanita tua yang tidak mengenali Chu Feng sebagai pangeran—karena memang jarang sekali ia menampakkan diri di kota tanpa pengawalan formal—menyambut mereka dengan ramah, menyajikan teh hangat dan kue beras sederhana.
"Kau sering ke sini?" tanya Su Yue, mencicipi tehnya dengan ekspresi puas.
"Sesekali," jawab Chu Feng. "Ini salah satu dari sedikit tempat di mana aku tidak perlu berpura-pura menjadi apa pun."
"Berpura-pura?" Su Yue mengangkat alis. "Maksudmu berpura-pura menjadi pangeran tanpa bakat yang kau tunjukkan di istana?"
Chu Feng menatapnya, sedikit terkejut dengan ketajaman pengamatan gadis itu. "Apa yang membuatmu berpikir aku berpura-pura?"
"Caramu bicara. Caramu berjalan. Bahkan caramu duduk sekarang ini," Su Yue tersenyum kecil, tidak terlihat seperti sedang menuduh, melainkan sekadar mengamati dengan jujur. "Orang yang benar-benar tidak berbakat dan tidak peduli pada apa pun biasanya tidak memiliki ketenangan seperti yang kau miliki. Ketenanganmu terasa... dilatih. Disengaja."
Chu Feng terdiam cukup lama, mempertimbangkan seberapa jauh ia bisa mempercayai gadis yang baru ia kenal kurang dari dua minggu ini. Ada sesuatu dalam dirinya yang ingin bercerita lebih jauh—entah karena kesepian bertahun-tahun menyembunyikan dirinya sendiri, atau karena sesuatu yang lebih dalam yang mulai tumbuh sejak pertemuan pertama mereka di tepi kolam.
"Kau benar," katanya akhirnya, suaranya lebih pelan dari biasanya. "Aku memang berpura-pura. Tapi aku punya alasan untuk itu."
"Aku tidak akan memaksamu bercerita," Su Yue menggeleng lembut. "Tapi kalau suatu hari kau ingin bercerita, aku akan mendengarkan."
Chu Feng menatapnya, sesuatu yang hangat dan asing sekaligus menjalar di dadanya—perasaan dipercaya, atau mungkin lebih tepatnya, perasaan tidak perlu berpura-pura di hadapan seseorang untuk pertama kalinya sejak kematian ibunya bertahun-tahun lalu.
"Terima kasih," katanya sederhana, dan untuk saat itu, itu sudah cukup.
Ketika matahari mulai terbenam, mereka berjalan kembali menuju istana, melewati jalan yang sedikit memutar melalui tepi hutan kecil di luar tembok kota.
"Kudengar ada reruntuhan kuno di wilayah barat kerajaan ini," Su Yue tiba-tiba berkata, memecah keheningan nyaman yang menyelimuti mereka. "Lembah Kabut, kalau tidak salah. Klan Su memiliki beberapa catatan lama tentang tempat semacam itu—tersebar di berbagai wilayah Benua Timur, konon menyimpan sisa-sisa peradaban yang jauh lebih tua dari kerajaan mana pun yang ada sekarang."
Chu Feng menegang sedikit mendengar nama itu disebut, meski berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang. "Kau tahu banyak tentang tempat itu?"
"Tidak terlalu banyak," Su Yue menggeleng. "Hanya bahwa beberapa reruntuhan semacam itu dikaitkan dengan legenda kuno—tentang sebuah entitas yang disebut Dewa Kekacauan Purba, yang tubuhnya hancur menjadi pecahan-pecahan tersebar di seluruh dunia. Kebanyakan orang menganggapnya hanya dongeng lama."
"Kau tidak menganggapnya begitu?"
Su Yue tersenyum tipis, matanya menatap ke arah langit senja yang mulai memerah. "Klan Su sudah lama mempelajari legenda-legenda kuno seperti itu. Ada beberapa hal yang terlalu konsisten di berbagai catatan berbeda, dari berbagai wilayah yang bahkan tidak pernah berhubungan satu sama lain, untuk sekadar dianggap dongeng semata."
Chu Feng terdiam, pikirannya berputar cepat. Untuk pertama kalinya sejak malam di reruntuhan Lembah Kabut, ia bertemu seseorang yang tidak hanya mengetahui legenda itu, tapi juga menganggapnya cukup serius untuk dipelajari lebih jauh.
Apakah aku harus memberitahunya? pikirnya, meski tahu terlalu berisiko untuk membuka rahasia sebesar itu pada seseorang yang baru dikenalnya, sekalipun ia merasa bisa mempercayainya.
"Berhati-hatilah," suara di dalam dirinya memperingatkan, seolah membaca keraguannya. "Kepercayaan butuh waktu untuk dibangun, Pangeran Ketujuh. Jangan terburu-buru, sekalipun hatimu menginginkannya."
Chu Feng mengangguk dalam hati, menahan diri. "Menarik," katanya akhirnya, memilih untuk tidak mengungkapkan lebih jauh. "Mungkin suatu hari kau bisa menceritakan lebih banyak tentang catatan-catatan itu."
"Tentu saja," Su Yue tersenyum, tidak menyadari betapa dekatnya ia baru saja menyentuh rahasia terbesar yang disimpan pangeran di sampingnya.
Mereka tiba kembali di gerbang istana tepat ketika lentera-lentera mulai dinyalakan di sepanjang tembok, menandai datangnya malam.
"Terima kasih untuk sore ini," kata Su Yue, berhenti di depan gerbang paviliun tamu. "Aku jarang punya kesempatan untuk sekadar berjalan-jalan tanpa protokol formal yang membebani."
"Sama-sama," jawab Chu Feng, dan untuk pertama kalinya sejak sore itu dimulai, senyumnya bukan lagi topeng yang dilatih, melainkan sesuatu yang benar-benar jujur. "Semoga festival lusa tidak terlalu mengecewakan bagimu."
"Aku yakin itu tidak akan mengecewakan," Su Yue menatapnya lama, ada sesuatu di matanya yang sulit didefinisikan. "Aku punya firasat kau akan mengejutkan banyak orang, Chu Feng."
Ia berbalik dan melangkah masuk ke paviliunnya, meninggalkan Chu Feng berdiri sendirian di bawah cahaya lentera yang mulai menyala satu per satu, pikirannya dipenuhi campuran perasaan yang sudah lama tidak pernah ia rasakan—kehangatan yang menenangkan, dan kewaspadaan yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dua hari lagi, Festival Penentuan akan dimulai. Dan untuk pertama kalinya, Chu Feng menyadari bahwa yang dipertaruhkan bukan lagi sekadar posisinya di antara para pangeran—melainkan juga seberapa jauh ia bersedia membuka dirinya pada dunia yang baru saja mulai ia kenal, dalam segala kemungkinan maupun bahayanya.