Su Wanqing selalu hidup sebagai orang asing di rumahnya sendiri. Namun, di tengah hujan deras yang mengguyur sore itu, ia dikejutkan oleh satu kenyataan pahit—tanpa sepengetahuannya, keluarganya telah menjodohkannya dengan seorang pria yang paling ditakuti di seluruh negeri, Jenderal Lu Jingyuan.
Dikenal sebagai pahlawan revolusi sekaligus monster di medan perang, Lu Jingyuan adalah sosok dingin yang namanya mampu membuat musuh gemetar. Di balik reputasinya yang kejam, tersembunyi luka masa lalu dan trauma perang yang mengubahnya menjadi pria yang sulit didekati dan tak pernah mengenal kebahagiaan.
Terjebak dalam pernikahan yang tidak pernah ia pilih, Su Wanqing hanya bisa pasrah menghadapi takdirnya. Namun, ketika dua jiwa yang sama-sama terluka dipersatukan oleh keadaan, akankah mereka saling menyembuhkan... atau justru semakin menghancurkan satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syfaanca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 - Twist
Jenderal Lu Jingyuan dengan Wanqing bertemu lagi di dalam hutan yang lebat bersama dua ajudannya. Han berceloteh mengenai pasar tadi dan banyaknya keluhan warga yang ia korek-korek sembari membeli dagangannya. Mereka baru setengah jalan ketika Jingyuan berhenti dan langsung menarik Wanqing ke dalam pelukannya.
"Siapa kalian?! Kenapa sedari tadi mengikuti Kami?" Ujarnya tiba-tiba. Mendengar itu, kedua ajudannya menoleh mencari sumber yang Jingyuan maksud. Mereka mengitari tubuh Jingyuan dan Wanqing serta bersiaga dengan pistol di masing-masing tangan mereka.
Jingyuan menutupi keseluruhan tubuh Wanqing dalam dekapannya, ia mengeluarkan pistol merahnya dan bersiaga. Beberapa pria berpakaian serba hitam keluar, ada 5 pria dengan senjata campuran mulai dari laras panjang, pistol, sampai pedang. Memahami apa yang baru saja mengepung mereka, Jingyuan langsung tersenyum.
"Apa Kau mengenali mereka Qing'er Ku?" Tanya Jingyuan sembari membiarkan Wanqing mengintip kejadian yang sedang berlangsung.
Wanqing mengamati dalam-dalam mereka yang sedang bersiap hendak menyerang. "Iya!" Ujarnya spontan setelah melihat salah satu pedang dan pria berpakaian hitam yang sempat menemani pria lainnya datang mengecek kondisi Wanqing waktu itu di gudang.
"Itu mereka!"
Jingyuan mengangguk, "Memang sudah lama kuduga bahwa yang menyakiti dan menculikmu pastinya tak jauh-jauh dari musuhku." Ujarnya.
Jingyuan dengan cepat menggendong Wanqing dan menyerahkannya pada Ajudan Xien. "Bawa dia kembali tanpa lecet sedikitpun."
Mendengar itu Wanqing menoleh kaget dan berusaha berteriak memanggil suaminya yang mulai diserbu kelima orang itu. Namun, dirinya sudah terbawa lari oleh Ajudan Xien yang langsung menggendongnya dan berlari kencang tanpa permisi.
Wanqing masih berusaha melihat kondisi suaminya di sela-sela pertarungan yang sengit terjadi saat itu.
"Lepaskan!! Kenapa kita tidak ikut membantu mereka?!"
Ajudan Xien seolah tidak mendengar mereka dan tetap berlari kencang tanpa berhenti. Mereka sudah dapat melihat villa yang berdiri megah dan kokoh tak jauh dari mereka ketika satu orang berpakaian hitam berhasil menyayat tubuh bagian belakang Ajudan Xien hingga menumbangkannya.
Jatuh bersama Wanqing, Ajudan Xien langsung bangkit dan berusaha melihat di arah mana musuh berada. Wanqing yang juga ikut terjatuh langsung bangkit dan berusaha melindungi dirinya sembari melihat luka robek sayatan di punggung Ajudan Xien yang mengeluarkan darah terus menerus.
"Gawat, Kau harus cepat diselamatkan."
Wanqing mencoba melihat kondisi yang terjadi, Ajudan Xien dengan sigap menembaki pria itu yang lincah berpergian kesana-kemari sementara dirinya terus berusaha melindungi Wanqing di belakangnya.
Mereka kehilangan posisi sang musuh yang telah menyusup di balik pepohonan, khawatir ada serangan susulan, Ajudan Xien langsung berlari membawa Wanqing mendekati Villa. Mereka terus berlari dan langsung memasuki lingkungan Villa itu ketika,
SLASH
Sebuah panah melesat kencang menuju tubuh Wanqing.
JLEB
Panah itu mendarat, namun bukan di tubuh Wanqing, melainkan di lengan kekar milik Jenderal Lu Jingyuan yang entah dari mana ternyata sudah berhasil menyusul mereka bersama Han yang terlihat terluka juga.
Sambil memegangi panah di lengannya, Jingyuan menggendong Wanqing di lengan kirinya dan berlari masuk Villa. Ibu Yunting yang menyaksikan itu semua sibuk menelepon seseorang dan memintanya untuk datang segera.
Wanqing yang telah diturunkan dari gendongan Jingyuan langsung panik memperhatikan anak panah yang menancap di lengan kanan dekat bahu Jingyuan.
Ibu Yunting berlarian membawa p3k dan mengajak mereka semua untuk segera mengikutinya. Ia membimbing semua orang masuk ke dalam gudang yang kecil dan menekan salah satu temboknya. Pintu rahasia terbuka.
Wanqing dan Jingyuan turun lebih dulu diikuti semuanya. Mereka memasuki lorong sempit yang bercabang, seperti labirin bawah tanah yang murni dan menjebak. Ibu Yunting terus menginstruksikan mereka harus lewat sebelah mana dan masuk pintu mana, hampir 10 pintu rahasia mereka masuki ketika akhirnya sampai di ruang raksasa yang berisikan banyak sekali rak rak makanan, obat-obatan, tempat tidur, dan kamar mandi serta pendingin dan penghangat ruangan. Banyak senjata dan alat-alat penelitian di bawah sini.
Wanqing menatap ibunya, "Ini tempat selama ini Ibu bersembunyi?" Tanyanya.
Ibu Wanqing mengangguk dan tersenyum sedih, "Aku sangat merindukanmu, sangat sangat sangat sekali ingin mengajakmu ke sini, tapi, Aku tidak yakin dengan semua pengamanan yang kulakukan itu cukup. Jadi bagiku, lebih baik bertingkah seolah Kamu adalah anakku dan Su Gongqi, sehingga pria itu tak lagi mengganggu."
Wanqing mengangguk mengerti,
"Sudah, ayo kita tolong suamimu."
Ajudan Han yang memiliki luka terbuka di lengannya dan Ajudan Xien dengan luka terbuka di punggungnya membuat Wanqing kebingungan harus bagaimana. Ibu Yunting langsung memberikan arahan, bersama mereka menangani ketiga pasien mereka dengan sigap dan efektif.
Wanqing mengobati luka Ajudan Xien dulu yang darurat, dia sudah kehabisan banyak sekali darah. Wanqing menyuntikkan bius dan membiarkan bius bekerja sebentar sebelum mulai menjahit. Jahitan yang dalam dan rinci Wanqing lakukan tanpa kesulitan.
Ibu Yunting dan Jenderal Jingyuan masuk ke dalam bilik yang tertutup, Wanqing tidak tahu bagaimana kondisi suaminya, tapi ia berharap yang terbaik, karena mengingat sang Ibu telah menjadi dokter militer terbaik di masanya.
Wanqing langsung menghampiri Ajudan Han yang juga sudah terbaring, "Bagaimana kondisimu?" Pria itu tersenyum, "Luar biasa." Wanqing duduk di sampingnya, berusaha bersikap netral walaupun hatinya penuh rasa cemas dan ketakutan karena terus memikirkan suaminya.
"Tenanglah."
Ajudan Han menghentikan tangan Wanqing yang bergetar ketika membersihkan lukanya. "Tenanglah, Jingyuan pernah mengalami luka serius yang lebih parah daripada itu, lagipula, dokter militer terbaik yang pernah Aku tahu ya Ibumu."
Wanqing mengangguk perlahan, hatinya sedikit tenang ketika perasaannya divalidasi oleh Han'zi. Ia mulai menjahit luka Han'zi dan membiarkannya istirahat.
Wanqing terduduk di atas salah satu kasur sambil terus menunggu tirai itu terbuka. Ia tidak mendengar sedikitpun suara, entah itu pertanda yang baik atau buruk.
Saat matanya sudah mulai mengantuk, Ibu Yunting keluar dari bilik itu. Tangan dan lengannya penuh darah, ada bekas panah yang menancap di lengan suaminya yang kini ia bawa dan letakkan di sampah limbah medis.
"Suamimu baik-baik saja, untungnya tidak mengenai vena besarnya, jadi tidak ada pendarahan internal yang serius. Tapi bukan berarti tidak pendarahan. Dia sudah tidur setelah Aku berikan obat penghilang rasa nyeri dan penghenti pendarahan. Semuanya sudah aman, lihatlah."
Wanqing memeluk ibunya erat. "Aku tidak tahu dan masih belum paham apa yang sebenarnya terjadi, tapi di dalam diriku, Aku yakin semua yang Ibu putuskan adalah keputusan yang tepat."
Wanqing berjalan memasuki bilik itu, suaminya tengah berbaring telungkup dengan perban di lengan dan kakinya. Ibu Yunting masuk, meletakkan perban ganti dan obat-obatan di samping kasurnya.
"Ada luka tembak di kaki kanannya. Hebatnya, pria ini masih bisa berlari dan berjalan, bahkan menggendongmu ketika dua anggota tubuhnya tertembak."
Wanqing mengangguk, ia duduk di samping suaminya dengan perlahan, tidak ingin membangunkannya. Ia terus mengamati suaminya sambil menahan air matanya yang hampir tumpah deras.
"Kenapa orang-orang begitu menginginkan nyawanya?" Tanya Wanqing polos.
Ibu Yunting menghela napasnya, "Istirahatlah, Kau juga lelah. Nanti setelah semuanya bangun, Kita akan segera evakuasi."
*BERSAMBUNG*
Pembaca setia semua, terima kasih supportnya, love uu!!