Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.
Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.
Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.
Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.
Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BADAI TRAUMA BERUJUNG FATAL.
Langkah kaki Ardiah terasa sangat berat saat melewati koridor rumah sakit yang berbau khas obat-obatan. Meskipun genggaman tangan Haikal di jemarinya terasa hangat. Namun rasa cemas di dalam dadanya justru semakin membubung tinggi. Begitu pintu ruangan dokter spesialis kesuburan itu terbuka, atmosfer di sekitarnya mendadak terasa mencekik.
Dokter paruh baya di balik meja menyambut mereka dengan senyuman ramah. Namun, bagi Ardiah, senyuman itu justru memicu memori kelam yang tertimbun rapat. Ingatannya berputar paksa pada masa lima tahun pernikahan bersama Ferdi. Empat tahun penuh siksaan mental, menjalani berbagai prosedur medis, puluhan suntikan penyubur yang menyakitkan, hingga menelan ratusan ramuan tradisional yang pahit. Semuanya ia lakukan demi memuaskan tuntutan mantan suami dan mertuanya, yang berujung pada kegagalan dan cap sebagai wanita mandul pembawa sial.
Saat diminta untuk duduk di kursi pemeriksaan, seluruh tubuh Ardiah tiba-tiba bergetar hebat. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya, dan wajah cantiknya mendadak berubah pucat pasi seputih kapas. Napasnya memburu, memicu kepanikan yang luar biasa di dalam dadanya.
Haikal yang menyadari perubahan drastis itu langsung mendekat. Ia mengulurkan kedua tangannya, bermaksud untuk merangkul dan menenangkan sang istri.
"Jangan sentuh aku!" teriak Ardiah dengan histeris secara spontan.
Bersamaan dengan teriakan itu, Ardiah mendorong dada bidang Haikal dengan sekuat tenaga hingga pria itu terhuyung mundur beberapa langkah. Mata Ardiah menyalang penuh luka, emosi dan traumanya meledak hebat di dalam ruangan yang sunyi itu.
"Aku tidak mau melakukan semua prosedur gila ini lagi! Cukup!" teriak Ardiah lagi dengan suara parau yang bergetar hebat karena efek traumanya. "Kalau sejak awal kau memang menginginkan seorang anak, silakan kau pergi dan menikahlah dengan wanita lain! Ceraikan aku sekarang juga!"
Setelah meluapkan seluruh kemarahan dan rasa sakitnya, Ardiah langsung berbalik arah. Ia berlari kencang keluar dari ruangan dokter, meninggalkan Haikal yang terpaku karena terkejut yang luar biasa.
"Kak Diah! Tunggu, Kak!" teriak Haikal baru tersadar dari syoknya.
Haikal langsung berlari cepat, mencoba mengejar istrinya yang sudah melesat jauh di koridor rumah sakit. Namun, karena Ardiah berlari tanpa memedulikan sekitarnya, Haikal kehilangan Jejak di antara kerumunan koridor yang ramai. Begitu Haikal tiba di area lobi utama, ia mendapati Roni yang berdiri di dekat pintu kaca dengan wajah bingung.
"Roni! Di mana Ardiah? Kau melihatnya lewat?" tanya Haikal dengan napas terengah-engah dan raut wajah panik.
Roni menunjuk ke arah jalan raya di depan lobi. "Itu, Pak Bos. Nyonya Ardiah baru saja masuk ke dalam taksi kuning dan langsung pergi dengan sangat terburu-buru."
Haikal meraup wajahnya dengan frustrasi. Ia segera meraba saku, mengambil ponselnya untuk menghubungi nomor sang ibu. "Pasti dia pulang ke rumah. Ron, kita kembali ke mansion sekarang!" perintahnya sembari menempelkan ponsel ke telinga.
Begitu sambungan telepon terhubung, Haikal langsung berbicara tanpa jeda. "Halo, Mah. Ini Ikal. Kalau Diah sudah sampai di rumah, tolong temani dan tenangkan dia ya, Mah. Ikal mohon."
Mobil mewah yang dikemudikan Roni melaju dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota menuju mansion keluarga Akram. Begitu kendaraan berhenti di halaman, Haikal langsung melompat turun dan berlari masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah, Astuti sudah menunggu dengan wajah yang dipenuhi gurat kecemasan.
"Bagaimana, Mah? Ardiah sudah ada di kamarnya?" tanya Haikal tidak sabar, matanya mengedar ke seluruh penjuru ruangan.
Astuti menggelengkan kepalanya pelan. "Diah belum pulang ke sini, Ikal. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa suaramu di telepon tadi panik sekali?"
Haikal menghela napas panjang, lalu mendudukkan dirinya di sofa dengan bahu yang merosot lesu. Ia pun menceritakan secara detail peristiwa yang terjadi di dalam ruangan dokter rumah sakit tadi, termasuk ledakan amarah dan trauma Ardiah yang mendalam.
Mendengar penjelasan anak bungsunya, wajah Astuti seketika berubah mengeras. Rasa bersalah dan marah berkecamuk di dada wanita paruh baya itu.
"Astaga, Haikal! Mengapa kau bertindak terlalu terburu-buru seperti ini?" omel Astuti dengan nada tinggi, menatap anaknya dengan tajam. "Kalian itu baru saja menikah tiga hari! Ardiah itu memikul trauma yang sangat berat di rumah tangga dimasa lalunya karena masalah anak. Dan kau malah langsung mengajaknya ke rumah sakit spesialis kesuburan!"
"Maksud Ikal bukan begitu, Mah. Ikal cuma ingin menyembuhkan lukanya, bukan menuntut anak," bela Haikal dengan suara lirih.
"Tapi bagi Diah, tindakanmu itu adalah sebuah tekanan baru, Haikal!" tegas Astuti, menyilangkan kedua tangannya di dada. "Maksud Mama, jalani saja dulu masa berdua kalian dengan bahagia. Jangan pernah menyinggung atau membawa masalah anak ke permukaan dulu. Nanti, setelah dia benar-benar membuka hatinya dan jatuh cinta padamu, baru kalian bicarakan hal sensitif itu baik-baik."
Haikal terdiam seribu bahasa. Kalimat ibunya telak menghantam kesadarannya. Rasa bersalah yang teramat sangat kini menggerogoti hatinya. Ia merutuki kebodohannya sendiri yang berniat baik namun berakhir salah langkah hingga melukai hati wanita yang ingin dilindunginya.
Satu jam penuh Haikal duduk di ruang tamu dengan gelisah, memandangi pintu gerbang yang tak kunjung terbuka. Namun, sosok Ardiah tak pernah muncul. Pikiran Haikal mulai berjalan liar ke berbagai tempat kemungkinan.
"Mah, mungkin Kak Diah pulang ke apartemen pribadinya yang sekarang," ujar Haikal, tiba-tiba berdiri dari duduknya dengan tergesa-gesa.
"Kalau begitu cepat susul dia, Ikal. Selesaikan kesalahpahaman ini," perintah Astuti cemas.
Haikal langsung berlari keluar menuju mobil. "Ron, antar aku ke kompleks apartemen tempat tinggal Ardiah yang sekarang!"
Perjalanan menuju apartemen Ardiah diisi dengan keheningan yang mencekam. Begitu sampai di depan unit kamar milik istrinya, Haikal langsung mengetuk pintu dengan tidak sabar. "Kak Diah! Ini aku, Haikal. Tolong buka pintunya, Kak. Aku ingin minta maaf."
Namun, setelah beberapa menit mengetuk dan memanggil, tidak ada jawaban sama sekali dari dalam. Haikal mencoba memutar kenop pintu, dan ternyata pintu itu terkunci rapat. Kamar itu terasa sangat sunyi, menandakan tidak ada tanda kehidupan di dalamnya.
"Sial, kosong, Ron," desis Haikal, kepanikannya kini meningkat dua kali lipat. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya.
"Mungkin Mbak Ardiah pergi ke tempat lain, Pak? Rumah teman atau kerabatnya?" usul Roni mencoba memberikan opsi logis.
Haikal tampak berpikir keras, mengingat yang pernah Ardiah tinggali. "Tempat kos lama! pergi ketempat kos kumuhnya, Roni!"
Mobil kembali melaju membelah jalanan dengan cepat, menuju ke area kumuh di sudut kota. Sesampainya di kos lama tersebut, Haikal langsung berlari menaiki tangga menuju kamar kos yang dimaksud. Jantungnya berdegup kencang, berharap bisa menemukan sang istri di sana.
Tok! Tok! Tok!
"Kak Diah! Kau di dalam?" panggil Haikal sembari mengetuk pintu kayu yang tampak kusam.
Sama seperti tempat sebelumnya, tempat kos lamanya juga terasa sangat sepi dan kosong. Haikal mencoba mengintip melalui celah jendela yang gordennya sedikit terbuka, namun ternyata kosong.
Haikal mundur beberapa langkah, menyandarkan punggungnya ke dinding kos kumuh itu dengan napas memburu. Kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuh. Rasa panik yang luar biasa kini benar-benar menguasai seluruh akal sehatnya. Istrinya telah menghilang bak ditelan bumi, meninggalkan dirinya yang dicekam rasa bersalah yang teramat dalam.
"Di mana kau sekarang, Kak Diah? Tolong jangan pergi dariku..." batin Haikal penuh keputusasaan, menatap area yang kumuh di sekitarnya.
udah tak kasih kopi buat temen begadang...