NovelToon NovelToon
Purnama Tertutup Mega

Purnama Tertutup Mega

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Laviolla

Aku sibuk mengurus ibumu di atas pembaringan, sedangkan kamu sibuk menggoyang bosmu yang haus belaian. -Wulan-

Seperti cahaya purnama yang tertutup mega, semua kebaikan dan juga bakti yang sudah diberikan oleh Wulan untuk keluarganya sama sekali tak nampak di mata Awan. Wulan yang sudah dengan sabar merawat sang mertua yang lumpuh karena stroke di sela-sela kewajibannya menjadi seorang ibu muda sampai membuat wanita itu tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri tidak lantas membuat wanita itu mendapatkan balasan kesetiaan.

Wulan memilih untuk berpisah saat memergoki Awan berselingkuh. Wanita itu rela menjanda daripada batinnya selalu tersiksa karena Awan telah terpikat pada seorang janda kaya yang merupakan bos di tempat sang suami bekerja.

Lantas, bagaimanakah Wulan menjalani hari-harinya sebagai seorang janda? Dan bagaimana kehidupan Awan setelah kepergian Wulan? Apakah istri baru Awan bisa menjadi sosok istri dan menantu yang sempurna atau justru durhaka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PTM 18. Tak Mau Lagi

Matahari sudah tergelincir ke barat ketika mobil yang dikemudikan Awan tiba di kontrakan. Setelah dua hari ia berada di rumah Mega dan menghabiskan waktu bersama ibu dan anaknya, sore ini ia sempatkan untuk pulang ke kontrakan. Lelaki itu berencana akan ke rumah sakit untuk menjenguk sang anak.

"Mas, kamu baru pulang?" sambut Ambar yang berada di ruang tamu. Matanya melirik ke arah mobil yang terparkir di depan kontrakan. "Wuiihhh mobil baru nih?"

"Hmmmm.. Long weekend aku benar-benar tidak bisa pulang dan menjenguk Bagas di rumah sakit. Tasya selalu saja merengek meminta untuk aku temani," keluh Awan.

"Tasya atau ibunya?" selidik Ambar seraya terkekeh pelan.

"Dua-duanya. Tapi untung setelah itu aku dibelikan mobil ini, jadi bisa membuatku senang hati."

"Gila... Ternyata mbak Mega benar-benar mencintaimu Mas, sampai rela membelikanmu mobil seperti ini."

Awan hanya mengedikkan bahu. "Sekarang aku mau ke rumah sakit. Aku tidak ingin Wulan sampai berpikir yang macam-macam karena semenjak Bagas di rawat aku belum menjenguknya."

"Yap, itu keputusan yang paling baik Mas. Jangan sampai mbak Wulan berpikir yang macam-macam. Bisa panjang nanti urusannya."

Tungkai kaki Awan terayun memasuki area dalam rumah. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika ia mencium aroma yang sangat menyengat yang keluar dari dalam kamar sang ibu. Sejenak, kepala Awan menyembul, melihat kondisi kamar sang ibu. Betapa terkejutnya ia ketika sprei yang membungkus kasur sang ibu sudah basah di segala sisi dan nampak kotoran-kotoran yang berserak.

"Ambar!" teriak Awan dengan wajah yang sudah dipenuhi oleh emosi.

"Ada apa sih Mas, teriak-teriak seperti itu?" keluh Ambar dengan bibir mengerucut.

"Aku memintamu datang ke sini itu untuk menemani dan mengurus semua keperluan ibu. Kenapa tidak kamu lakukan semua, hah?!"

"Aku sudah menemani ibu lho Mas. Bisa-bisanya kamu bicara seperti itu."

"Tapi lihat kamar ibu, Mbar! Berantakan sekali, bahkan baunya..." Awan menutup hidungnya akibat bau yang sangat menyengat. "Bau dan menjijikkan sekali."

"Ya memang seperti itu Mas. Aku juga tidak mau membersihkan kotoran dan memandikan ibu. Jika kamu saja merasa jijik aku pun juga sama," jelas Ambar.

"Terus, siapa yang akan membereskan ini semua? Aku sungguh sudah tidak tahan dengan aroma kamar dan tubuh ibu," ucap Awan frustrasi.

Marta yang mendengar perdebatan kedua anaknya di ruang tengah itu hanya bisa meneteskan air mata. Dari kecil ia rawat keduanya dengan penuh kasih sayang. Namun setelah dewasa dan setelah ia tidak bisa melakukan apapun karena stroke, kedua anaknya sama sekali tidak ada yang mau mengurusnya. Bahkan saling melempar tanggung jawab.

"Ya Tuhan, apa yang merasuki anak-anakku sampai mereka tega kepadaku seperti ini?" lirih Marta dengan menahan sesak di hati.

Deru suara mesin mobil terdengar berhenti di depan kontrakan. Awan dan Ambar yang sebelumnya terlihat sedang lempar-lemparan tugas mengurus Marta seketika berjalan menuju teras. Terlihat Wulan turun dari taksi online dengan menggendong Bagas dan menenteng sebuah travel bag.

Kedua bola mata Awan terbelalak sempurna melihat sang istri yang sudah pulang dari rumah sakit. Ia yang baru berencana akan ke rumah sakit setelah mandi, sang istri justru sudah kembali. Itu artinya selama sang anak dirawat, ia tidak datang menjenguk sama sekali.

"W-Wulan... Kamu sudah pulang?" tanya Awan dengan gugup. Ia mendekati sang istri dan mencoba untuk membawakan tas yang ia jinjing. "Sini tasnya aku yang bawa."

Wulan tersenyum tipis. "Sudah, Bagas sudah diperbolehkan pulang. Aku bersyukur karena Bagas sudah pulih sepenuhnya. Kalau tidak, bisa bertambah banyak biaya rumah sakit yang harus dikeluarkan oleh Risma."

"Risma? Maksudmu Risma dan Toni yang membiayai seluruh biaya rumah sakit Bagas?" tanya Awan sedikit terkejut.

"Mau siapa lagi jika bukan mereka yang membantuku?" tanya Wulan yang seketika membuat Awan salah tingkah. "Mau berharap sama kamu yang merupakan bapak kandung Bagas juga percuma kan Mas?"

"B-Bukan seperti itu Lan. Hari ini aku berencana mau datang ke rumah sakit dan mengurus semuanya, tapi kamu malah sudah pulang," ucap Awan mengutarakan rencananya.

"Terlambat. Bahkan hanya sekedar menanyakan kabar lewat pesan whatsapp saja juga tidak kamu lakukan kan Mas?" tanya Wulan yang semakin membuat Awan tersudut. "Oh mungkin kamu sibuk sekali di luar kota, sampai-sampai selama dua hari tidak sempat menanyakan kabar anakmu yang tengah terbaring sakit."

"Aku sungguh minta maaf Lan. Aku tidak bermaksud seperti itu. Di luar kota aku sangat sibuk sekali. Bahkan jarang memegang handphone."

Wulan hanya mengangguk-anggukkan kepala. Ia baru sadar jika sang suami sudah mulai lihai berbohong dan mengarang cerita. Wulan melirik ke arah mobil yang terparkir di dekatnya.

"Kamu beli mobil baru?"

Awan tersenyum simpul. "Ini dibelikan oleh bu Mega, Lan."

"Waow, baik sekali ya Mas bosmu itu? Sampai-sampai membelikanmu mobil baru?" puji Wulan dengan ekspresi yang seakan begitu kagum. "Memang apa saja yang sudah kamu lakukan sampai membuat bu Mega sebaik itu sama kamu?"

"Ini hadiah khusus karena beberapa bulan yang lalu aku selalu kejar target, Lan. Jadi, secara khusus membelikan mobil itu sebagai bentuk apresiasi," jawab Awan dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin sampai salah ucap yang membuat sang istri curiga.

"Oh begitu." Wulan melabuhkan pandangannya ke arah Ambar yang sedari tadi diam. "Kamu di sini Mbar? Sejak kapan?"

"Sejak kemarin Mbak."

"Oh..."

Wulan melangkahkan kakinya untuk masuk ke kamar. Meski hanya dua malam ia menginap di rumah sakit, namun tubuhnya terasa begitu lelah. Tiba di rumah, ia ingin bersih-bersih badan kemudian beristirahat.

"Lan!" panggil Awan yang seketika menghentikan langkah kaki Wulan.

"Apa Mas?" jawab wanita itu tanpa sedikitpun menoleh ke arah Awan.

"Ibu sejak kemarin belum ada yang memandikan dan kamar ibu juga bau sekali. Tolong diurus ya."

Wulan tersenyum sinis. Entah kerasukan apa suaminya itu karena baru kali ini ia menggunakan kata tolong untuk memintanya mengurus sang ibu.

"Mulai saat ini, ibu bukan lagi menjadi tanggung jawabku. Lagipula kalian sebagai anak kenapa tidak mau mengurus ibu kalian sendiri? Bukankah seharusnya itu semua menjadi kewajiban kalian?" tegas Wulan.

"Maksud kamu apa Mbak? Bukankah setiap hari kamu yang mengurus ibu?" tanya Ambar penasaran.

"Mulai hari ini aku tidak mau mengurus ibu lagi. Terserah kalian mau bagaimana. Mau kalian urus sendiri atau menyewa jasa perawat, silakan putuskan secepatnya. Yang jelas mulai saat ini aku hanya ingin fokus mengurus anakku."

Awan dan Ambar sama-sama melongo mendengar ucapan Wulan. Waktu seakan berhenti sejenak ketika Wulan yang ada di hadapan mereka ini seperti bukan Wulan yang biasa mereka kenal. Seakan ada sosok lain yang merasuki tubuh Wulan sehingga membuat wanita itu berani berucap dengan lantang.

Tanpa banyak kata, Wulan segera masuk ke dalam kamar. Di kamar, tubuh wanita itu bergetar hebat. Sejatinya ia sangat tidak tega mengabaikan Marta. Namun setelah mendengar semua yang diceritakan oleh Toni perihal perselingkuhan yang dilakukan oleh Awan sungguh membuat hatinya serasa tertusuk seribu duri. Ia memutuskan untuk tidak mau hanya dimanfaatkan oleh Awan lagi.

"Maafkan aku Bu. Mulai sekarang, aku tidak ingin Ibu semakin bergantung kepadaku. Karena hanya tinggal menunggu waktu, aku akan meninggalkan mas Awan. Tepatnya setelah aku berhasil menemukan bukti-bukti perselingkuhan itu."

.

.

.

1
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like komen subscribe follow dan share ya... mkasih
Laviolla
selamat membaca semua... jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
Hanindia
waaaowww dapat warisan,,, selamat Lan.. semoga beruntung hidupmu ke depannya
Hanindia
amanat apa ya kira -kira??? semoga hal yang bermanfaat Lan
suciati
tuh kan bener dapat warisan.../Tongue/ semoga bermanfaat untuk merubah hidupmu lan
suciati
uhuuyyyy dapet warisan kayaknya.../Drool/ bener2 beruntung kamu Lan
Laviolla
selamat membaca semua.. jangan lupa untuk like, komen, subscribe, follow dan share ya.. mkasih
sunaryati jarum
Sepertinya kamu anak yang ditemukannya Nenek Inah,Wulan.Semoga kehidupan kamu selanjut lebih baik Wulan.
linda
rezeki nomplok lan... 🤣🤣
Anonim
Laki goblok tinggalin lan,run
sunaryati jarum
Semoga nenek Wulan Mempunyai peninggalan barang atau ilmu yang dapat mengubah hidup Wulan menjadi baik dan sukses
Laviolla
selamat membaca semua. jgn lupa untuk like komen subscribe follow dan share mkasih
linda
wulan dapat warisan😍😍😍 itu si cowok tampan sepertinya yg bakal jadi jodoh wulan selanjutnya
sunaryati jarum
Semoga langkah kamu menuju kebebasan , kesuksesan dan kebahagiaan. Wulan
linda
bagus Lan.. selamat melanjutkan hidupmu,, smg sukses
suciati
semogq sukses lan
Hanindia
selamat berjuang Lan... semoga kamu sukses
Hanindia
kalian emang serasi... penghianat dan pelakor bersatu
Hanindia
wuiiihh,, udah berani nampar??? emang gila tuh awan
Hanindia
selamat Lan, lelaki kayak awan emg gk pantes dipertahankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!