NovelToon NovelToon
Perjodohan Terpaksa

Perjodohan Terpaksa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rara M.

Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan di Antara Keramaian

Sore itu, matahari condong ke barat menyisakan semburat jingga yang membias indah di langit Jakarta, namun keindahan itu sama sekali tidak terasa di hati Citra. Berdiri di teras depan rumahnya, wanita itu memandang jalan raya dengan perasaan yang berkecamuk. Jam di pergelangan tangannya baru menunjukkan pukul 15.55, lima menit sebelum waktu yang ditentukan dalam pesan singkat dari Putra kemarin. Citra menghela napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu kencang. Ia mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda yang membalut tubuh rampingnya, rambut hitam panjangnya disisir rapi terurai, dan sedikit riasan tipis yang membuat wajah cantiknya tampak bersinar alami.

Bagi Citra, ini bukan sekadar pergi berbelanja perlengkapan pernikahan. Ini adalah momen berduaan pertama kalinya dengan pria yang sebentar lagi menjadi suaminya pria yang memandang keluarga Citra sebagai musuh bebuyutan.

Suara deru mesin kendaraan besar memecah lamunannya. Sebuah mobil jip berwarna hitam pekat, gagah dan kokoh, berhenti tepat di depan gerbang rumah keluarga Lestari. Mobil itu tampak maskulin dan berwibawa, sama persis dengan sosok pemiliknya. Pintu pengemudi terbuka, dan sesosok tubuh tegap melangkah turun.

Putra Setiawan.

Ia tidak mengenakan seragam dinas seperti biasa, melainkan kemeja hitam lengan panjang yang digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengannya yang kekar, dipadukan dengan celana bahan berwarna gelap. Penampilannya sederhana namun tetap memancarkan aura kekuasaan dan kewibawaan yang sulit dijelaskan. Wajahnya tampan namun dingin, rahangnya yang tegas terkatup rapat, dan matanya yang tajam langsung menatap lurus ke arah Citra yang berdiri di teras.

Tanpa tersenyum atau melambaikan tangan, Putra hanya berdiri di samping mobil, menunggu. Sikapnya seolah berkata: Cepatlah turun, aku tidak punya banyak waktu untuk menunggu.

Dengan langkah berat namun pasti, Citra melangkah turun dan berjalan mendekat. Ia merasakan betapa beratnya udara di sekitar pria itu, seolah ada dinding tak kasat mata yang memisahkan mereka.

"Selamat sore, Mas," sapa Citra pelan, berusaha sebaik mungkin bersikap sopan dan tenang, meski hatinya bergetar hebat.

Putra hanya mengangguk singkat, matanya meneliti penampilan Citra dari ujung kepala hingga ujung kaki sekilas, lalu membuka pintu penumpang di sebelah kanan. "Masuk," ucapnya pendek, tanpa kata tambahan.

Citra masuk ke dalam mobil. Ruang kabin itu berbau wangi, campuran aroma maskulin khas tubuh Putra dan bau kulit baru yang melekat pada jok mobil. Begitu Citra duduk, pintu ditutup dengan bunyi keras yang membuatnya sedikit tersentak. Tak lama kemudian, Putra sudah duduk di sebelahnya, menyalakan mesin, dan mobil besar itu melaju membelah jalanan kota yang mulai padat.

Sepanjang perjalanan, keheningan menyelimuti mereka. Hanya suara radio yang diputar pelan terdengar mengisi kekosongan. Citra menatap ke luar jendela, melihat gedung-gedung tinggi yang berlalu-lalang, berusaha mengabaikan kehadiran pria di sebelahnya yang terasa begitu mendominasi ruangan. Di sisi lain, Putra menyetir dengan tatapan lurus ke depan, wajahnya tanpa ekspresi, namun pikirannya berputar kencang.

Ia sadar betul wanita di sebelahnya ini adalah putri dari musuh besarnya. Ia sadar bahwa duduk bersebelahan dengannya, mengajaknya pergi memilih barang-barang pernikahan, adalah bagian dari aktingnya bagian dari rencananya untuk masuk ke dalam kehidupan keluarga Lestari dan menghancurkannya. Namun, ada sesuatu yang mengganggu ketenangannya sejak tadi. Saat ia melihat Citra berdiri di teras rumahnya tadi, tampak begitu cantik, lembut, dan polos, rasa benci yang selama ini ia pelihara seolah berkurang sedikit, digantikan oleh rasa bingung yang tak bisa ia jelaskan.

Dia tidak bersalah, bisik suara kecil di benak Putra. Dia tidak tahu apa-apa.

Tapi suara lain segera memotongnya dengan keras: Tidak! Dia adalah darah daging Haris Lestari. Dia bagian dari mereka. Jangan sampai kau luluh hanya karena wajah polosnya. Itu semua taktik mereka untuk melemahkanmu.

"Kenapa diam saja?" suara berat Putra tiba-tiba memecah keheningan, membuat Citra menoleh kaget.

"Waduh... eh, tidak, Mas. Aku hanya... hanya tidak ingin mengganggu konsentrasi Mas Putra menyetir," jawab Citra gugup, menundukkan pandangannya.

Sudut bibir Putra terangkat sedikit membentuk senyum miring yang sinis. "Kau takut padaku, ya?"

Pertanyaan itu begitu langsung dan tajam, membuat pipi Citra memerah karena malu sekaligus gugup. Ia mengangkat wajahnya, menatap profil samping wajah Putra yang tampan namun dingin itu.

"Tidak takut... hanya saja... kita belum saling mengenal, Mas. Dan... sikap Mas Putra kepadaku... agak sulit untuk didekati," jawab Citra jujur, meski suaranya terdengar kecil.

Putra tertawa kecil, tawa yang sama sekali tidak berisi kegembiraan, melainkan penuh sarkasme. Ia melirik sekilas ke arah Citra dengan mata yang menyala tajam.

"Kau tidak perlu mengenalku, Citra. Dan kau tidak perlu tahu siapa aku sebenarnya. Cukup kau ingat satu hal saja: mulai saat kau bersedia dijodohkan denganku, kau sudah menjadi tanggung jawabku. Kau harus menuruti semua aturanku, mengikuti apa yang aku katakan, dan menjadi istri yang patuh sesuai yang aku inginkan. Tidak lebih, tidak kurang."

Kalimat itu menusuk tepat ke dada Citra. Wanita itu menahan sakit di hatinya. Jadi baginya aku hanya benda? Hanya tanggung jawab yang harus diurus?

"Aku mengerti, Mas," jawab Citra pelan, berusaha menahan genangan air mata agar tidak jatuh. "Aku akan berusaha menjadi istri yang Mas Putra inginkan. Aku hanya berharap... semoga kita bisa hidup berdampingan dengan damai, meski pernikahan ini didasari perjanjian."

Putra tidak menjawab lagi. Ia kembali fokus menyetir, namun di dalam hatinya, kalimat Citra itu bergema terus-menerus. Damai? batinnya mencemooh. Damai tidak ada dalam kamus hidupku selama nama Lestari masih berdiri di dunia ini.

Mereka tiba di sebuah pusat perbelanjaan mewah di kawasan elit Jakarta. Tempat itu ramai dikunjungi orang, penuh dengan pasangan muda yang tampak bahagia berjalan bergandengan tangan, memilih baju, perhiasan, atau perlengkapan rumah tangga. Berbeda dengan pasangan lain, Putra dan Citra berjalan berjarak satu lengan. Putra berjalan di depan dengan langkah tegap dan cepat, sementara Citra berjalan mengikuti di belakangnya, berusaha mengimbangi langkah panjang pria itu, merasakan tatapan penasaran orang-orang di sekitar mereka.

Mereka masuk ke sebuah butik busana pengantin yang terkenal mewah. Begitu melangkah masuk, pelayan-pelayan di sana langsung menyambut dengan senyum ramah, mengenali siapa sosok pria gagah yang berjalan di sana. Nama dan status Putra Setiawan memang cukup dikenal di kalangan masyarakat terpandang dan militer.

"Selamat datang, Tuan dan Nyonya masa depan. Ada yang bisa kami bantu?" sapa kepala pelayan dengan sopan.

Putra mengangguk sekilas, lalu menoleh ke arah Citra yang berdiri diam di dekat pintu. "Pilihlah gaun yang kau inginkan. Sesuai tema pernikahan yang sudah disepakati keluarga. Tidak perlu yang berlebihan, tapi harus terlihat mahal dan pantas. Ingat, ini bukan untuk kepuasanmu, tapi untuk nama baik kedua keluarga."

Sekali lagi, kata-kata Putra itu menusuk. Citra mengangguk pasrah, lalu mulai berjalan di antara deretan gaun-gaun indah yang tergantung rapi. Tangannya menyentuh kain-kain sutra dan renda yang halus, namun hatinya terasa perih. Ia membayangkan, seharusnya momen memilih gaun pengantin ini adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita. Seharusnya ia berjalan beriringan dengan pria yang dicintainya, saling tertawa, saling berdiskusi. Bukan seperti ini: berjalan sendirian, sementara calon suaminya duduk di sudut ruangan, memainkan ponselnya dengan wajah datar, seolah sedang menunggu antrean di kantor dinas, bukan menunggu calon istrinya mencoba baju nikah.

Setelah memilih beberapa model, Citra masuk ke ruang ganti. Saat ia keluar mengenakan salah satu gaun berwarna gading yang anggun dan elegan, seketika keheningan menyelimuti ruangan. Gaun itu pas sekali membalut tubuhnya yang ramping, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah namun tetap sopan dan berkelas. Rambutnya yang terurai jatuh indah di bahu, wajahnya yang cantik bersinar di balik sedikit rona malu.

Putra yang tadinya duduk santai dengan satu kaki menyilang, perlahan mengangkat wajahnya. Gerakan tangannya yang memegang ponsel terhenti. Untuk sesaat, tatapan tajamnya melebar, tertegun. Ia harus mengakui, Citra Lestari memang memiliki kecantikan yang luar biasa. Kecantikan yang tenang, alami, dan mempesona berbeda dengan wanita-wanita lain yang biasa ia temui. Ada pancaran ketulusan dan kelembutan yang terpancar dari mata wanita itu, membuat jantung Putra berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

"Bagaimana, Mas? Apakah ini sudah cukup baik?" tanya Citra ragu-ragu, memegangi ujung gaunnya.

Putra segera menguasai dirinya kembali. Ia kembali memasang topeng dinginnya, berdeham pelan, lalu bangkit berdiri mendekat. Ia berjalan mengelilingi Citra sekali, menatapnya dari ujung kepala hingga kaki dengan pandangan yang mengintimidasi namun sekaligus penuh penilaian.

"Cukup pantas," jawabnya singkat, namun nada suaranya sedikit berubah, menjadi lebih berat. "Kau memang terlihat... layak. Cocok untuk dipajang sebagai istriku."

Kalimat itu terdengar kasar, namun bagi Citra, itu sudah merupakan pujian terbesar yang keluar dari mulut pria itu. Ia tersenyum tipis, senyum yang menyiratkan rasa lega namun juga kesedihan yang mendalam.

"Baiklah, kalau begitu aku ambil yang ini saja," jawab Citra pelan.

Saat Citra hendak berbalik kembali ke ruang ganti, tanpa sengaja kakinya menginjak ujung kain gaun yang panjang. Tubuhnya terhuyung ke depan, hampir saja jatuh jika sebuah tangan kekar tidak dengan sigap menangkap lengannya dan menariknya ke belakang.

Dalam sekejap, tubuh Citra tersentak mundur dan menabrak dada bidang yang keras dan kokoh. Aroma tubuh Putra kembali menyeruak masuk ke hidungnya, membuat seluruh pembuluh darahnya seolah berhenti mengalir. Ia mendongak, mendapati wajah Putra hanya berjarak beberapa senti darinya. Mata hitam itu menatapnya begitu dalam, seolah menembus hingga ke dasar jiwanya. Tangan kekar itu masih mencengkeram lengan Citra, erat namun tidak menyakitkan.

Untuk beberapa detik yang terasa begitu panjang, keduanya diam terpaku. Di mata Putra, ada kekacauan yang terjadi. Ia merasa tergoda untuk menundukkan kepalanya lebih dekat, untuk merasakan bibir wanita yang ada dalam pelukannya ini. Di sisi lain, rasa benci dan amarah berteriak keras menolak perasaan itu.

"Hati-hati," ucap Putra parau, suaranya terdengar berbeda, lebih rendah dan berat dari biasanya. Ia segera melepaskan cengkeramannya secepat ia menyentuhnya, seolah kulit Citra membakarnya. "Jangan sampai kau mempermalukan dirimu sendiri dan aku karena kecerobohanmu."

Putra berbalik memunggunginya, berjalan kembali ke kursinya dengan langkah sedikit tergesa. "Ambil saja gaun itu. Segera selesaikan urusanmu, aku masih banyak pekerjaan."

Citra berdiri terpaku di tempatnya, jantungnya berdegup tak beraturan. Ia masih bisa merasakan panas sentuhan tangan pria itu di kulit lengannya. Ada sesuatu yang berubah di antara mereka di detik itu. Sesuatu yang samar, yang tak terucapkan, namun terasa begitu nyata.

Sisa sore itu mereka habiskan dengan memilih perlengkapan lain cincin, baju adat, dan undangan. Sepanjang waktu itu, Putra menjadi lebih pendiam dari biasanya. Ia menjawab singkat, tidak banyak menatap Citra, seolah sedang berjuang keras melawan sesuatu dalam dirinya sendiri.

Dalam perjalanan pulang, suasana di dalam mobil kembali hening, namun keheningan itu terasa berbeda. Tidak lagi penuh ketegangan murni, tapi kini bercampur dengan kebingungan yang sama-sama dirasakan keduanya. Putra mengantar Citra tepat di depan gerbang rumahnya, tanpa turun dari mobil.

"Besok aku jemput lagi untuk urusan administrasi terakhir," ucap Putra tanpa menoleh ke arah Citra yang sudah turun.

"Terima kasih, Mas," jawab Citra pelan, sambil menutup pintu mobil.

Saat mobil hitam itu melaju pergi menghilang di tikungan jalan, Citra masih berdiri di tempatnya, memegangi lengan yang tadi disentuh Putra. Di dalam hatinya, ia semakin bingung. Sikap pria itu sulit dimengerti. Dingin namun kadang terasa melindungi, penuh kebencian namun matanya sesekali memancarkan kelembutan yang tersembunyi.

Di dalam mobil yang menjauh, Putra menyetir dengan tangan yang mencengkeram setir sangat erat. Ia menggeram pelan, merasa marah pada dirinya sendiri.

Apa yang baru saja kau lakukan, Putra? umpatnya dalam hati. Kau hampir saja lupa tujuan utamamu hanya karena dia terlihat cantik dalam gaun itu? Kau hampir saja jatuh dalam pesonanya? Tidak boleh! Dia adalah musuh! Pernikahan ini adalah medan perang, dan kau harus tetap menjadi pemenang.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!