NovelToon NovelToon
Suami Yang Tak Di Inginkan

Suami Yang Tak Di Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Queen adalah seorang Mahasiswa cantik dan salah satu anak dari donatur terbesar di kampusnya, tapi sayangnya nasib Queen tidak seberuntung wajah dan popularitasnya. Di kampus ia di puji karena kecantikkannya. Tapi nilai-nilai Queen sering anjlok, karena gadis itu tidak pernah belajar dengan serius, hidupnya hanya di habiskan untuk clubbing dan nongkrong bersama teman-teman nya. Kini ia terancam di Drop Out dari kampus kalau nilai skripsinya masih buruk.
Meskipun Queen anak dari donatur terbesar... Ibu Farah selaku orangtuanya tidak pernah memanjakannya. Bahkan ia meminta pihak kampus untuk berlaku adil pada anaknya sendiri. Ibu Farah berusaha membuat nilai-nilai skripsi Queen bagus, dengan cara ia memanggil guru privat kerumahnya. Setelah adanya guru privat, hidup Queen semakin tersiksa. Karena tanpa ia sadari sang mama justru menjodohkan pria itu dengannya. Bagaimana hidup Queen setelah menikah dengan guru privatnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24 ; Persiapan

Siang harinya...

Rumah semakin ramai.

Saudara mulai berdatangan. Beberapa ibu-ibu tetangga ikut membantu persiapan. Dekorasi bunga sudah hampir selesai dipasang. Sedangkan Queen, uduk di kamarnya seperti tahanan rumah. Anggi duduk di sampingnya sambil memakan keripik.

"Lo lagi ngapain?" tanya Queen curiga.

"Jaga tahanan."

"Anggi!"

"Gue cuma menjalankan tugas."

Queen memelototinya. Ponselnya sudah berhasil direbut kembali dari Kevin, tapi percuma saja. Setiap kali ia mencoba menghubungi Revan, hasilnya sama. Tidak diangkat.

"Pak Revan kenapa sih?" gumam Queen.

Anggi meliriknya. "Hm?"

"Nggak biasanya dia kayak gini."

Anggi tersenyum tipis. "Lo kangen ya?"

"Nggak."

"Kenapa senyum-senyum?"

Anggi malah tertawa kecil.

Queen menyipitkan mata. "Lo aneh."

"Queen."

"Hm?"

"Sebenarnya lo panik karena mau nikah. Atau panik karena nggak bisa ngehubungin Pak Revan?"

Queen langsung mengambil bantal lagi.

BUGH!

"Aduh!"

"Lo kebanyakan ngomong!"

Sore menjelang, pengajian keluarga mulai berlangsung. ini Queen tidak banyak bicara. Ia duduk di samping Ibu Farah dengan gamis putih. Sesekali menjawab salam para tamu yang datang.

Namun pikirannya tidak ada di sana. Pikirannya terus kembali pada satu orang... Revan. Kenapa pria itu tidak menghubunginya sama sekali? Apa dia benar-benar setuju dengan semua ini? Apa dia juga dipaksa?

Atau... apa dia memang ingin menikah dengannya. Pertanyaan itu membuat Queen semakin bingung.

***

Di tempat lain...

Revan baru saja pulang dari sebuah pertemuan keluarga. Sejak pagi ia sibuk mengurus berbagai persiapan. Di meja kerjanya, ponsel tergeletak dengan puluhan notifikasi.

Sebagian besar dari keluarga, Kevin, dan ada lima panggilan tak terjawab dari Queen. Revan menatap layar cukup lama. Lalu menghela napas, tangannya sempat bergerak hendak menekan tombol panggil.

Namun ia menghentikannya sendiri. "Besok aja..." gumamnya pelan.

Karena jika mendengar suara Queen sekarang, ia tahu dirinya mungkin akan kembali ragu. Padahal keputusan sudah diambil. Besok gadis keras kepala itu akan menjadi istrinya. Dan anehnya, semakin dekat hari itu tiba, semakin sulit pula Revan menenangkan dirinya sendiri.

Malam perlahan turun setelah pengajian selesai. Satu per satu tamu mulai berpamitan pulang. Rumah yang sejak siang ramai perlahan kembali tenang, meski dekorasi pernikahan masih memenuhi halaman.

Di lantai atas...

Queen duduk bersila di atas kasurnya sambil menatap layar ponsel. Anggi yang sedang melipat beberapa pakaian hanya melirik sekilas.

"Masih usaha?"

Queen tidak menjawab.

Tuut...

Panggilan kembali berjalan. Beberapa detik kemudian, panggilan berakhir tanpa jawaban.

Queen menjatuhkan ponselnya ke kasur. "Astaga."

Anggi menghela napas panjang. "Itu udah berapa kali?"

"Nggak tau!"

"Dua puluh ada?"

"Lebih kayanya."

Anggi langsung terkekeh. "Hahahaha."

Queen mendelik. "Kenapa ketawa?"

"Gue baru sadar sesuatu."

"Apa?"

"Yang panik nikah besok tuh ternyata bukan Pak Revan."

Queen langsung mengambil bantal.

"Jangan lempar!"

Terlambat.

BUGH!

Bantal kembali mengenai wajah Anggi. "Aduh!"

"Lo nyebelin."

Anggi tertawa sambil mengusap wajahnya. Beberapa saat kemudian suasana kembali tenang. Queen kembali mengambil ponselnya. Satu pesan dikirim.

Pak Revan, saya cuma mau ngomong sebentar.

Dikirim, tidak dibalas. Lima menit berlalu. Tetap tidak ada jawaban.

Queen menjatuhkan tubuhnya ke kasur. "Kenapa sih..."

Biasanya kalau ada masalah skripsi, Revan selalu ada. Kalau ia kesal, pria itu selalu menjawab. Kalau ia bingung, pria itu selalu punya solusi.

Tapi hari ini, justru saat ia paling ingin bicara, Revan menghilang. Anggi yang melihat ekspresi sahabatnya akhirnya menghentikan godaannya.

"Nggak usah dipikirin terus."

Queen menatap langit-langit kamar. "Gimana nggak dipikirin? Besok gue mau nikah, Anggi."

"Ya gue tau."

"Gue bahkan belum ngomong sama calon suami gue."

Anggi tidak bisa membantah kali ini. Karena memang terdengar aneh.

***

Sementara itu...

Di rumahnya, Revan masih duduk di ruang kerja. Jas pernikahannya sudah tergantung rapi di lemari. Undangan keluarga sudah selesai dibagikan. Semua persiapan hampir selesai. Namun pria itu justru belum bisa tidur.

Ponselnya kembali menyala. Satu pesan baru dari Queen. Revan menatap layar cukup lama. Lalu membuka pesan itu.

Pak Revan, saya cuma mau ngomong sebentar.

Dadanya terasa sesak. Ia bahkan sudah beberapa kali ingin menelepon balik. Namun setiap kali jarinya bergerak, ia kembali mengurungkan niatnya. Karena ia tahu, jika Queen meminta pernikahan ini dibatalkan. Ia tidak yakin bisa menolaknya, dan itu membuatnya takut.

Revan memejamkan mata sesaat. "Apa yang sebenarnya saya lakukan..." gumamnya pelan.

***

Kembali di rumah Queen, jam sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Anggi baru selesai mandi dan langsung merebahkan diri di samping Queen.

"Gue jadi nginep ya."

Queen menoleh. "Hm?"

"Gue nggak mau ketinggalan momen nikahan sahabat gue."

Queen mendengus pelan. "Lo bahagia banget ya."

"Iya dong."

"Nyebelin lo."

Anggi malah tertawa. "Hahahaha." Lalu tiba-tiba ia memeluk lengan Queen. "Besok gue bakal jadi saksi sejarah hidup lo."

Queen terdiam.

"Kalau lo gugup? Tenang ada gue," lanjut Anggi.

"Kalau gue panik?"

"Ada gue."

"Kalau gue pengen kabur?"

"Nah kalau itu gue laporin Tante Farah."

"Anggi!"

"Hahaha!"

Kali ini Queen ikut tersenyum kecil. Meski hanya sebentar, karena setelah lampu kamar dimatikan dan suasana mulai sunyi. Queen kembali menatap layar ponselnya yang gelap.

Tidak ada pesan baru, tidak ada panggilan dari Revan. Namun entah kenapa, di tengah rasa kesal dan bingung itu, satu pertanyaan terus berputar di kepalanya.

Kalau Pak Revan benar-benar tidak menginginkan pernikahan ini... kenapa dia tidak menghentikannya? Dan tanpa sadar, pertanyaan itu terus menemaninya sampai akhirnya matanya perlahan terpejam menjelang tengah malam.

Keesokan harinya...

Jam bahkan belum menunjukkan pukul lima pagi ketika rumah keluarga Queen sudah kembali ramai.

Lampu-lampu menyala terang. Para perias datang lebih awal. Beberapa kerabat sibuk membawa perlengkapan akad. Aroma masakan dari dapur memenuhi seluruh rumah.

Di lantai atas...

Queen masih tertidur pulas. Sampai tiba-tiba...

"Queennnnn!"

BRAK!

Pintu kamar kembali terbuka.

Queen langsung terlonjak dari tempat tidur. "Astaga!" Ia memegang dada. "Kenapa sih semua orang suka dobrak pintu kamar gue!"

Anggi yang sudah rapi sejak subuh menunjuk jam dinding. "Bangun!"

Queen menyipitkan mata. "Jam berapa?"

"Lima kurang."

"Lima kurang?"

"Iya."

"Manusia normal masih tidur jam segitu!"

"Pengantin nggak."

Queen langsung menjatuhkan wajahnya ke bantal. "Gue nggak jadi nikah."

"Nggak berlaku."

"Gue sakit."

"Nggak percaya."

"Gue pusing."

"Itu karena semalam lo nggak bisa tidur."

Queen mengerang frustrasi. Namun belum sempat kembali rebahan, Ibu Farah sudah masuk ke kamar dengan senyum lebar.

"Selamat pagi calon pengantin."

Queen langsung menarik selimut sampai menutupi wajah. "Nggak ada calon pengantin di sini."

Ibu Farah terkekeh. "Lima belas menit lagi perias datang."

Queen langsung membuka selimut. "Apa?!"

Tepat satu jam kemudian...

Queen sudah duduk di depan meja rias dengan wajah pasrah. Rambutnya sedang ditata. Wajahnya mulai dirias. Sedangkan Anggi berdiri di samping sambil mengambil foto diam-diam.

"Cantik banget."

"Hapus."

"Nggak."

"Hapus Anggi."

"Nggak mau."

Klik.

Satu foto lagi berhasil diambil. Queen mendelik. Sedangkan Anggi semakin bahagia.

"Astaga..." gumam Queen. "Kenapa sahabat gue begini amat sih."

***

Sementara itu, di rumah Revan. Suasananya tidak kalah sibuk. Para kerabat sudah berdatangan sejak pagi. Jas putih gading yang akan dikenakannya tergantung rapi.

Kevin yang datang lebih awal duduk santai di ruang tamu. "Kaget nggak kalau gue datang pagi-pagi?"

Revan yang baru keluar dari kamar hanya menggeleng. "Nggak."

Kevin tertawa.

Namun beberapa detik kemudian senyumnya memudar saat melihat ekspresi Revan.

"Van."

"Hm?"

"Lo gugup?"

Revan terdiam.

Kevin langsung tertawa keras. "Hahaha."

"Astaga!" Revan menghela napas.

"Sumpah ini pertama kalinya gue lihat dosen killer kampus gugup."

"Kevin."

"Hahaha!"

Revan memijat pelipisnya. Jujur saja, semalaman ia hampir tidak tidur. Entah berapa kali ia melihat pesan terakhir dari Queen. Namun sekarang semuanya sudah terlambat untuk mundur.

Beberapa jam lagi...

Queen akan menjadi istrinya dan kenyataan itu membuat jantungnya berdebar jauh lebih keras daripada saat presentasi apa pun dalam hidupnya.

1
Amoera
Queen jangan khianatin pak Revan. kasian dia. lagian mau aja sama sih mokondo🤣
Arditya
cie... akhirnya nikah juga🤭
It's me Sky: hhheeee🤣
total 1 replies
Arditya
sejauh ini keren banget thoor👍
Siska Amelia
good
It's me Sky: terimakasih kaka🙏
total 1 replies
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉






Saling support sabi kali ya😉
It's me Sky: wihh makasih kakak/Smile/
total 1 replies
Reichan Muhammad
ya ampun torrr keren bgttt kmu punya 4 novel yg on going semua
It's me Sky: iya kakak, selama lagi ada ide jalan terus🤭
total 1 replies
Arditya
jadi inget inggit dan mas Arya, tapi ini kemasannya beda top lah thoor👍
It's me Sky: wkwkwkwkwk🤭
total 1 replies
Arditya
wajah di baca ini cerita menarik banget, remajanya dapet kisahnya fresh. suka sma Revan dan Queen. sukses thoor/Smile/
It's me Sky: makasih bnyk/Hey/
total 1 replies
Arditya
seru banget thoor😍
It's me Sky: wihhh makasihhh/Tongue/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!