NovelToon NovelToon
Terpesona Oleh Bu Rt

Terpesona Oleh Bu Rt

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: AWAL KEDEKATAN

Malam semakin larut, namun semangat di pos ronda RT 04 justru semakin membara. Musik dangdut koplo masih mengalun tipis di sela-sela suara tawa bapak-bapak yang sibuk meraut bambu. Aldi baru saja menyelesaikan satu blok pembatas jalan ketika kaleng cat putih di dekat kakinya benar-benar tandas tak bersisa.

"Waduh, Dul, cat putihnya habis nih. Padahal nanggung tinggal dua gang lagi selesai," ujar Bagas sambil mengguncang-guncang kaleng cat yang sudah kosong melompong.

Jasmine yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari sana langsung tanggap. "Oh iya, cat putih cadangan sama sisa hiasan lampion plastik merah putih kemarin dipindahin ke gudang rumah saya, Mas. Biar gak kehujanan." Jasmine menoleh ke arah Aldi, memberikan senyuman tipisnya. "Mas Aldi, bisa tolong bantu saya ambil ke rumah? Agak berat kalau saya bawa sendiri."

"Oh, bisa, Bu RT! Bisa banget!" sahut Aldi gercep, langsung meletakkan kuasnya ke dalam ember air. "Gas, Nan, gue tinggal bentar ya ke rumah Bu RT."

"Yoi, Dul! Jangan lama-lama, ntar catnya keburu kering di kuas!" teriak Sendy dari atas tangga sambil mengerlingkan matanya usil, yang hanya dibalas Aldi dengan acungan kepalan tangan siap jotos.

Aldi berjalan beriringan dengan Jasmine membelah kesunyian gang yang mulai dihiasi jajaran bendera. Jarak dari pos ronda ke rumah Jasmine memang tidak terlalu jauh, hanya melewati beberapa rumah warga. Sepanjang jalan, aroma parfum melati dari tubuh Jasmine sesekali tertiup angin malam, membuat Aldi harus berkali-kali mengatur napasnya agar tidak kelihatan gugup.

Begitu sampai di depan pagar rumah minimalis bercat krem itu, Jasmine membuka kunci selotnya dan mempersilakan Aldi masuk. "Masuk dulu, Mas Aldi. Duduk aja dulu di ruang tamu, saya ambil kunci gudang belakang sekalian mau ganti baju sebentar ya. Gerah banget rasanya habis keliling komplek tadi."

"Eh, iya, Bu RT. Santai aja," jawab Aldi sopan, langsung mengambil posisi duduk di kursi kayu ruang tamu yang rapi dan harum.

Jasmine melangkah masuk ke dalam kamarnya. Tidak butuh waktu lama, sekitar lima menit kemudian, pintu kamar terbuka kembali. Saat Jasmine melangkah keluar, perhatian Aldi yang tadinya terpaku pada ponselnya seketika teralih sepenuhnya. Pandangan mata sang Ketua Karang Taruna mendadak terkunci, dan jakunnya naik turun dengan cepat saat menelan ludah.

Jasmine keluar dengan penampilan yang benar-benar berbeda dari beberapa menit lalu. Kaos dan celananya yang tadi sudah tanggal, digantikan dengan kaos oblong putih berpotongan ketat yang mempertegas lekuk tubuh bagian atasnya. Ditambah lagi, dia hanya mengenakan hot pants jeans pudar yang mengekspos paha putih mulusnya yang tampak kontras di bawah temaram lampu ruang tamu. Rambutnya yang tadinya dicepol kini digerai bebas, jatuh berantakan di sekitar bahunya.

"Maaf ya, Mas, lama. Gerah banget, makanya langsung ganti setelan santai rumahan begini," ujar Jasmine tanpa beban, berjalan santai mendekati meja ruang tamu sambil membawa sebotol air mineral dingin.

Bagi Aldi, ini adalah sebuah rezeki nomplok yang tidak ada di dalam rencana program kerja Karang Taruna. Dasarnya postur tubuh Jasmine sebagai ibu muda memang sangat proporsional dan berisi, pemandangan malam ini sukses membuat darah muda Aldi berdesir hebat. Ia buru-buru memalingkan wajahnya ke arah vas bunga di sudut meja, berusaha keras menyembunyikan rona merah yang menjalar sampai ke telinganya.

"E-eh... iya, Bu RT. Gak apa-apa, namanya juga di rumah sendiri, pasti lebih nyaman begini," jawab Aldi, suaranya mendadak agak terbata.

Jasmine yang melihat reaksi kaku Aldi justru tersenyum tipis, ada kilat geli di matanya. Dia duduk di sofa tunggal yang posisinya agak menyerong dari kursi Aldi, melipat satu kakinya ke atas sehingga posisinya menjadi semakin dekat. Jarak yang mengikis di antara mereka membuat Aldi bisa mencium kombinasi aroma sabun mandi segar dan parfum yang menguar dari kulit Jasmine.

Sebagai pemuda tanggung, Aldi jelas tidak bisa membohongi instingnya. Pesona Jasmine yang dewasa, anggun, penuh kehangatan malam ini benar-benar meruntuhkan pertahanannya. Mereka mulai mengobrol ringan, awalnya membahas soal rincian iuran warga, namun perlahan obrolan itu bergeser ke arah yang lebih personal. Gaya bicara Jasmine yang luwes dan penuh perhatian membuat Aldi merasa dihargai bukan hanya sebagai ketua organisasi, tapi sebagai seorang pria. Aldi sesekali memberanikan diri menatap mata Jasmine, menikmati setiap detik kedekatan dengan wanita yang selama ini menjadi kembang desa di komplek.

"Mas Aldi kok tegang banget sih duduknya? Kayak lagi diinterogasi polisi aja," goda Jasmine sambil tertawa kecil, tubuhnya sedikit condong ke depan sehingga jarak wajah mereka hanya terpaut beberapa puluh sentimeter saja.

"Eh? Enggak kok, Bu RT. Ini... cuma agak pegal aja badannya," kilah Aldi sambil tertawa canggung, tangannya reflek memijat bahunya sendiri.

"Masa sih? Sini, biar saya bantu dikit," ucap Jasmine tiba-tiba. Dia berdiri, lalu berpindah duduk di sandaran lengan kursi Aldi. Tangan lentiknya yang halus mendarat lembut di bahu kokoh Aldi, memberikan remasan-remasan pelan yang ritmis.

Deg! Jantung Aldi rasanya mau copot saat itu juga. Sentuhan hangat tangan Jasmine di bahunya mengirimkan sengatan listrik yang membuat seluruh tubuhnya kaku. "Bu... Bu RT, gak usah, repot-repot..."

"Udah, diem aja. Anggap aja ini bonus pelayanan dari Bu RT buat ketuanya yang sudah kerja keras seharian," bisik Jasmine lembut, tepat di dekat telinga Aldi, membuat bulu kuduk pemuda itu meremang sempurna.

Momen itu berlangsung selama beberapa menit yang terasa sangat lambat bagi Aldi, sebelum akhirnya suara rengekan kecil dari arah kamar tidur memecah keheningan di antara mereka.

"Maaamaaa... Ndut mana..."

Suara khas anak kecil itu seketika membuat Jasmine menghentikan gerakannya. Dia langsung menarik tangannya dari bahu Aldi sambil tersenyum maklum. "Wah, itu si Nadeo udah bangun, Mas. Kayaknya dia nyariin saya gara-gara kasurnya kerasa sepi."

Aldi menarik napas dalam-dalam, mencoba menetralkan detak jantungnya yang sudah berantakan. "Oh, iya, Bu RT. Gak apa-apa, mending Bu RT samperin Nadeo dulu. Kasihan kalau nangis."

Jasmine berdiri dari sandaran kursi, merapikan sedikit kaos ketatnya. "Iya, Mas. Kunci gudangnya ada di atas kulkas itu. Cat putihnya ada di pojok kanan bawah, hiasan lampionnya di dalam kardus besar di sebelahnya. Kamu ambil sendiri gak apa-apa kan? Saya mau masuk ke dalam dulu, mau kelonin si Nadeo biar tidur lagi."

"Siap, Bu RT. Aman, bisa Aldi urus sendiri kok," jawab Aldi tegak berdiri, berusaha mengembalikan wibawanya yang sempat tercecer.

Jasmine berjalan menuju kamar tidurnya, namun sebelum menutup pintu, dia sempat menoleh kembali ke arah Aldi dengan senyuman manis yang sangat penuh arti. "Semangat ya ngecatnya nanti di luar, Mas Aldi. Jangan kapok main ke sini lagi."

Klik.

Pintu kamar tertutup rapat. Aldi berdiri diam di ruang tamu selama beberapa detik, mengembuskan napas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gila... cobaan jadi bujangan berat bener malam ini," gumamnya pelan sambil tersenyum lebar.

Dengan langkah tegap dan sisa debaran yang masih tertinggal di dada, Aldi berjalan menuju gudang belakang, mengambil dua kaleng cat putih dan satu kardus besar hiasan lampion. Begitu keluar dari pagar rumah Jasmine, hawa malam yang dingin langsung menyambutnya, namun dalam hati, Aldi merasa siap untuk melanjutkan kerja bakti sampai subuh sekalipun demi menyukseskan perayaan kemerdekaan di kampungnya.

1
Neny Tryana
👍🏻👍🏻
anggita
like iklan👍☝, buat bu rt.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!