Di mata Arum, Angkasa Wardana tampak seram badan tinggi besar, bertato ukiran Jawa di lengan kanan, dan berwibawa. Namun, di balik penampilan itu, tersimpan suara lembut dan tutur kata halus. Pertemuan tak sengaja si penulis novel dengan pengusaha sukses itu, perlahan mengungkap makna mendalam di balik setiap goresan tinta dan tato yang menghiasi lengan lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JANJI DAN PERTEMUAN ESOK
Setelah kepergian kedua preman itu, Angkasa langsung menggandeng lembut tangan Arum dan mengajaknya masuk ke dalam mobil hitamnya. Arum masih diam terpaku, hatinya masih berdebar kencang sisa rasa takut sekaligus malu mengingat pelukan eratnya tadi. Ia duduk di kursi penumpang dengan tenang, tangannya erat memeluk kantong plastik berisi camilan yang hampir saja hilang itu.
Mobil melaju pelan menuju rumah Arum. Suasana di dalam kabin terasa hening namun hangat. Arum menundukkan wajahnya, rasanya wajahnya masih terasa panas karena malu. Di dalam hatinya, ia terus bergumam dalam hati: "Ya Tuhan... kenapa tadi aku seberani itu meluk dia duluan? Pasti dia mikir aku cewek gampangan deh..."
Namun Angkasa di sampingnya justru menyetir dengan tenang, sesekali melirik ke arah Arum dengan tatapan lembut dan penuh perhatian. Ia sama sekali tidak berpikir buruk, justru rasa sayangnya makin bertambah melihat gadis itu yang begitu polos dan tulus.
Suara rendah Angkasa memecah keheningan, membuat Arum sedikit tersentak kaget namun tetap tidak berani mengangkat wajahnya.
"Kamu nggak apa-apa kan, Mbak? Masih ada yang sakit atau masih takut?" tanya Angkasa lembut, nadanya penuh kepedulian.
Arum menggeleng pelan, suaranya terdengar lirih dan penuh rasa bersalah. Ia mengangkat wajahnya sebentar, menatap sekilas wajah Angkasa yang terlihat tenang dan biasa saja, lalu kembali menunduk.
"Maaf ya Mas... jadi ngerepotin Mas Angkasa," ucap Arum pelan, penuh penyesalan.
"Padahal tadi Mas pasti udah mau pulang ya? Atau ada urusan penting? Jadi keganggu gara-gara aku. Maaf banget ya..."
Angkasa menoleh, menatap gadis itu dengan senyum lembut yang selalu berhasil membuat hati Arum bergetar. Pria itu menggeleng pelan, lalu menjawab dengan nada santai dan menenangkan.
"Nggak apa-apa kok, Mbak Arum. Nggak usah merasa bersalah begitu," jawab Angkasa sambil tersenyum tipis, senyum yang tulus dan meneduhkan.
"Lagian tadi saya kebetulan memang mau ke rumah, mau ketemu Pak Bimo. Ada sedikit urusan dokumen yang harus kelar malam ini juga, makanya saya lewat jalan itu. Pas lewat... ya kebetulan banget saya lihat Mbak Arum lagi diganggu sama mereka. Masa saya diem aja, Mbak? Nggak mungkin kan?"
Arum hanya diam dan kembali menunduk dalam-dalam. Kalau saja bisa, ia ingin sekali menyembunyikan wajahnya sekarang juga. Ingatan tentang pelukan erat tadi kembali menyelinap masuk ke pikirannya. Rasanya semakin ia ingat, semakin ia merasa malu setengah mati. Arum benar-benar tidak berani menatap mata Angkasa lebih lama lagi, takut pemuda itu melihat betapa salah tingkahnya dirinya saat ini.
Melihat Arum yang terus menunduk diam, wajahnya merah merona dan terlihat sangat gugup, Angkasa paham betul apa yang sedang ada di pikiran gadis itu. Ia tahu Arum pasti masih teringat dan merasa canggung dengan kejadian pelukan tadi. Angkasa sendiri sebenarnya sangat menikmati momen itu, tapi ia juga tidak ingin membuat Arum makin gugup atau tidak nyaman.
Angkasa memutuskan untuk membiarkan Arum menenangkan diri lebih dulu. Ia tidak lagi mengajak mengobrol, hanya menyetir dalam diam namun tenang, memberikan ruang bagi gadis itu untuk mengatur napas dan perasaannya sendiri. Kehadirannya saja sudah cukup menjadi pelindung dan penenang bagi Arum sepanjang sisa perjalanan itu.
Mobil berhenti. Arum melepas sabuk pengaman, lalu berbalik menghadap Angkasa. Ia memberanikan diri menatap mata pemuda itu.
"Terima kasih banyak ya, Mas. udah mau nolongin aku, udah mau nganterin pulang.aku nggak tau deh kalau nggak ada Mas, bakal gimana nasib aku tadi," ucapnya tulus, lalu wajahnya berubah cemas memohon.
"Dan... tolong ya Mas, tolong jangan sampe cerita ke Ayah sama Ibu ya soal kejadian tadi?
Aku nggak mau mereka khawatir, apalagi merasa bersalah atau marah karena aku keluyuran malem-malem. Aku nggak mau bikin mereka pusing mikirin aku."
Angkasa menatap wajah cemas itu lekat-lekat. Ia tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan.
"Oke, saya janji nggak bakal cerita ke siapa-siapa, termasuk Bapak sama Ibu," jawabnya pelan, lalu ada kilatan jahil tapi lembut di matanya.
"Tapi...ada syaratnya, Mbak."
Arum mengerutkan kening bingung. "Syarat? Syarat apa Mas?"
Angkasa makin tersenyum lebar, mendekatkan sedikit wajahnya.
"Besok sore, Mbak Arum harus mau saya ajak jalan-jalan. Cuma kita berdua aja.Cuma saya sama Mbak Arum. Gimana? Mau kan?"
Wajah Arum seketika memerah padam, jantungnya berdegup makin kencang. Ia menunduk sejenak, lalu mengangkat wajah dengan senyum malu-malu tapi pasti.
"I-iya... saya mau, Mas. Janji deh."
"Bagus kalau begitu. Ya sudah, ayo turun. Nanti keburu malem banget," pesan Angkasa lembut.
Arum mengangguk patuh, lalu perlahan turun dari mobil. Ia berdiri sejenak di depan pagar, menatap Angkasa yang masih di dalam mobil.
"Masuk dulu aja Mas... aku panggilin Ayah dulu, biar Mas langsung ketemu dan beresin urusannya," ucap Arum sopan sambil tersenyum kecil.
Angkasa mengangguk mengerti sambil mengambil berkas dokumen dari kursi belakang. "Siap. Ayo duluan sana, saya parkir bentar terus nyusul."
Arum pun masuk ke dalam halaman rumah, menutup pelan pagar dengan hati yang penuh rasa bahagia dan aman.
Angkasa baru memutar kemudi mobilnya perlahan, memarkirkan kendaraannya di tempat biasa. Ia turun, mengambil berkas-berkas kerjasama yang sempat tertunda tadi, lalu melangkah masuk ke rumah utama sesampainya dipanggil oleh Pak Bimo yang sudah menunggu didampingi Arum.
Urusan dokumen itu diselesaikannya dengan cepat dan lancar. Keduanya berdiskusi sebentar, menandatangani berkas persetujuan kerja sama, dan mengatur jadwal pengiriman selanjutnya. Pak Bimo sama sekali tidak menaruh curiga apa-apa, hanya merasa senang karena pemuda itu begitu rajin dan bertanggung jawab sampai mau datang malam-malam begini.
Setelah semua tanda tangan dan kesepakatan beres, Angkasa baru benar-benar berpamitan pulang.
"Sudah beres semua ya, Pak. Kalau begitu saya pamit dulu, selamat malam," ucap Angkasa sopan.
"Hati-hati di jalan ya, Nak Angkasa. Makasih ya udah repot-repot," jawab Pak Bimo ramah.
Di beranda, Arum sempat melambaikan tangan kecil saat Angkasa melintas. Malam itu, saat ia melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah itu, senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Bukan hanya karena urusan kerja sama selesai, tapi karena ia sudah mendapatkan janji emas untuk menghabiskan waktu berdua bersama Arum esok sore.