NovelToon NovelToon
PEMURNIAN MUTLAK

PEMURNIAN MUTLAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Action
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Takindomaru

Lin Fan, seorang pemuda dari Clan Lin yang hampir punah, dilahirkan dengan meridian tertutup—cacat bawaan yang membuatnya dijuluki "Sampah Klan" selama 16 tahun. Dihina oleh tunangannya, dicampakkan oleh kerabat, dan dipaksa bekerja sebagai pelayan, Lin Fan hidup dalam bayang-bayang rasa malu.
Namun, nasib berubah ketika ia secara tidak sengaja menemukan sebuah Manik Giok Hitam berdarah di reruntuhan kuno keluarganya. Manik itu tidak memberinya kekuatan instan, melainkan kemampuan terlarang: "Pemurnian Mutlak". Ia bisa mengubah limbah qi menjadi esensi murni, menyempurnakan pil sampah menjadi obat dewa, dan melihat kelemahan setiap teknik musuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Takindomaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Gua Naga Es dan Warisan Terlarang

Panggilan Manik Giok semakin kuat, berdenyut seperti detak jantung kedua di dalam dada Lin Fan. Setiap langkah yang ia ambil ke arah barat laut membuat sensasi dingin itu menjalar lebih jauh ke meridiannya, seolah-olah ada magnet tak kasat mata yang menarik esensi Qi-nya.

Hutan di sekitar sini berubah drastis. Pohon-pohon raksasa digantikan oleh formasi batu granit yang tajam dan licin. Udara menjadi begitu dingin hingga napas Lin Fan langsung membeku menjadi kristal es kecil sebelum menyentuh tanah. Tidak ada suara serangga, tidak ada kicau burung. Hanya hening yang mencekam dan angin yang meraung pelan di antara celah-celah batu.

Lin Fan menggigil, meskipun ia telah mengalirkan Qi untuk menghangatkan tubuhnya. Dingin ini bukan sekadar suhu rendah; ini adalah esensi Es residual yang tertanam di lingkungan selama bertahun-tahun. Bagi kultivator biasa, berada di sini terlalu lama bisa membekukan darah mereka dari dalam. Tapi bagi Lin Fan, dengan Manik Giok yang terus memurnikan energi dingin itu, rasa sakit ini justru terasa menyegarkan, seperti air dingin yang membasuh kelelahan.

"Di mana..." gumam Lin Fan, matanya menyipit menembus kabut tebal.

Manik Giok bergetar keras. Lin Fan menoleh ke kiri, melihat sebuah celah sempit di tebing batu curam yang hampir tertutup oleh semak beku. Ia merayap masuk, menggunakan Teknik Napas Besi untuk mencengkeram dinding batu yang licin.

Celah itu mengarah ke bawah, menuju sebuah gua alami yang tersembunyi. Saat Lin Fan melangkah masuk, suhu turun drastis lagi. Dinding-dinding gua bersinar dengan cahaya biru pucat, berasal dari lumut fosfor yang tumbuh di batuan es.

Di tengah gua, terdapat sebuah kolam kecil berisi air yang jernih sekali, begitu jernih hingga terlihat seperti kaca padat. Di tengah kolam, berdiri sebuah pilar batu hitam, dan di atas pilar itu...

Sebuah kerangka.

Bukan kerangka manusia. Itu adalah kerangka ular besar, sepanjang lima meter, dengan tulang-tulang yang transparan dan berkilau seperti berlian. Di dalam rongga dada kerangka ular itu, terdapat sebuah inti berwarna biru tua yang berputar perlahan.

Inti Beast Level Tinggi.

Lin Fan menahan napasnya. Ini adalah sisa-sisa Ular Es Perak, beast legendaris yang konon punah ratusan tahun lalu. Kehadiran inti beast level tinggi di tempat terbuka seperti ini sangat mencurigakan. Biasanya, inti beast akan diambil oleh siapa pun yang menemukannya karena nilainya yang luar biasa untuk alkimia atau pembuatan artefak.

Mengapa ini masih di sini?

Lin Fan melangkah lebih dekat, waspada terhadap jebakan. Saat kakinya menyentuh tepi kolam, Manik Giok di Dantian-nya berputar cepat, menyerap energi dingin dari udara dengan laju yang gila.

Tiba-tiba, suara gemeretak terdengar.

Es di permukaan kolam retak. Dari dalam air, sosok bayangan muncul. Bukan monster, tapi proyeksi spiritual—sebuah rekaman jiwa yang tertinggal.

Sosok itu berbentuk seorang pria tua berjubah putih, wajahnya pucat dan penuh kesedihan. Matanya kosong, menatap lurus ke depan, seolah melihat menembus waktu.

"Jika kau melihat ini," suara pria tua itu bergema di kepala Lin Fan, dingin dan tanpa emosi, "berarti kau memiliki afinitas elemen Es, atau artefak murni Yin yang kuat. Aku, Mo Han, Patriark terakhir Sekte Es Langit, meninggalkan warisan ini bukan untuk orang kuat, tapi untuk orang yang bertahan."

Lin Fan terpaku. Sekte Es Langit? Sekte kuno yang hancur ribuan tahun lalu karena diburu oleh aliansi sekte api?

"Aku dikalahkan bukan karena kekuatanku kurang," lanjut Mo Han, suaranya pahit. "Tapi karena dunia ini tidak menyukai keseimbangan. Api membakar, Es membekukan. Keduanya ekstrem. Aku menyembunyikan Inti Jantung Ular Es Perak-ku di sini, dilindungi oleh Formasi Pembekuan Abadi. Formasi ini akan membunuh siapa pun yang mencoba mengambil inti itu dengan paksa atau keserakahan. Hanya mereka yang memiliki ketenangan batin dan kemampuan menyerap energi Yin secara alami yang bisa mendekat tanpa tewas."

Mo Han mengangkat tangan hantunya, menunjuk ke arah Lin Fan.

"Kau, pemuda. Kau membawa sesuatu yang murni. Manik Giok? Atau mungkin Darah Naga Es? Tidak penting. Dengarkan baik-baik. Inti ini bukan untuk dimakan. Itu adalah kunci. Di balik pilar batu ini, terdapat ruang rahasia. Di dalamnya, tersimpan teknik kultivasi tertinggi Sekte Es Langit: 'Sutra Nafas Embun Beku' (Frost Dew Breath Sutra)."

Lin Fan menelan ludah. Teknik kultivasi tingkat tinggi? Ini adalah harta karun yang bisa mengubah nasibnya selamanya.

"Tapi ingat," kata Mo Han, wajahnya mulai memudar. "Teknik ini membutuhkan fondasi mental yang kuat. Jika hatimu dipenuhi kebencian atau keserakahan, es akan membekukan jiwamu sendiri sebelum kau mencapai puncak. Gunakanlah dengan bijak. Dan jika suatu hari kau bertemu dengan keturunan pembunuh Sekte Es Langit... balaslah dendam kami."

Proyeksi itu menghilang. Keheningan kembali menguasai gua.

Lin Fan berdiri diam selama beberapa menit, mencerna informasi itu. Sutra Nafas Embun Beku. Teknik yang kompatibel dengan Manik Giok dan kemampuan pemurniannya. Ini adalah potongan puzzle terakhir yang ia butuhkan untuk membangun fondasi kultivasinya yang unik: gabungan antara pertahanan besi, serangan api/es, dan pemurnian mutlak.

Ia melangkah mendekati pilar batu. Kali ini, tidak ada serangan. Energi dingin di sekitarnya mengalir masuk ke tubuhnya dengan lembut, dipandu oleh Manik Giok.

Di belakang pilar, terdapat mekanisme batu tersembunyi. Lin Fan menekan pola tertentu pada batu, sesuai dengan petunjuk visual samar yang ditinggalkan oleh proyeksi Mo Han (tiga lingkaran konsentris).

Klik. Grerrr...

Pilar batu itu bergeser ke samping, membuka jalan masuk ke ruang kecil di belakangnya.

Di dalam ruang itu, terdapat sebuah peti kayu sederhana yang tidak lapuk dimakan waktu. Lin Fan membukanya.

Di dalamnya, terdapat sebuah gulungan jade hijau pucat, dan sebuah cincin penyimpanan tua.

Lin Fan mengambil gulungan jade itu. Saat jarinya menyentuhnya, informasi mengalir langsung ke otaknya.

Sutra Nafas Embun Beku

Tingkat: Huang Grade Atas (mendekati Xuan Grade Rendah)

Efek: Mengubah Qi pengguna menjadi esensi Yin murni yang tajam dan dingin. Meningkatkan kecepatan pemulihan Qi di lingkungan dingin. Memungkinkan pengguna memanipulasi kelembapan udara menjadi senjata (jarum es, pedang es).

Lin Fan tersenyum. Ini sempurna. Teknik ini tidak konflik dengan Teknik Napas Besi; sebaliknya, ia bisa digunakan bersama. Teknik Napas Besi untuk pertahanan fisik, Sutra Embun Beku untuk serangan jarak jauh dan kontrol medan.

Ia juga membuka cincin penyimpanan itu. Isinya mengecewakannya sekaligus melegakannya. Tidak ada Batu Spirit atau pil mahal. Hanya beberapa alat alkimia dasar, sejumlah besar herbal kering grade rendah, dan sebuah buku catatan harian Mo Han.

Tapi di sudut cincin, terdapat satu benda kecil: Sebuah Pedang Es Miniatur. Bukan senjata sungguhan, tapi artefak sekali pakai yang mengandung satu serangan penuh kekuatan Tahap Fondasi Awal. Kartu as darurat.

Lin Fan memasukkan semua barang itu ke dalam tasnya. Ia merasa beban di pundaknya sedikit terangkat. Dia sekarang punya arah. Dia punya teknik. Dia punya harapan.

Namun, saat ia berbalik untuk keluar dari gua, telinganya menangkap suara di luar.

Suara langkah kaki. Banyak langkah kaki. Dan suara binatang buas yang marah.

"Sial," umpat Lin Fan. "Beruang Baja tadi... dia punya kawan."

Atau lebih buruknya, seseorang mengikuti jejaknya.

Lin Fan mematikan cahaya di gua dengan memadamkan lumut fosfor menggunakan Qi-nya, lalu bersembunyi di balik pilar batu, siap dengan Tinju Embun Bekunya.

Pintu gua gelap. Tapi dari luar, cahaya obor mulai menerangi mulut gua.

Siapa pun mereka, mereka datang untuk inti beast. Dan mereka tidak akan pergi dengan tangan kosong.

Lin Fan menggenggam pedang es miniatur di dalam cincinnya. Jika negosiasi gagal, dia akan menggunakan kartu as-nya.

Perang baru saja dimulai.

1
Jojo Shua
😄
Jojo Shua
✅️
Daryus Effendi
masih lai bosan baca nya jarna mulai bab ini mulai bertele tele.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!