Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ready For Me
Getaran hangat itu semakin menjadi-jadi, menyusup hingga ke ujung jemari kala Raphael dengan sengaja menyesap perlahan cuping telinga Emily, sebelum memberikan gigitan lembut di sana seolah sedang menikmati setiap detik reaksi yang muncul pada tubuh sang wanita. Sensasi tiba-tiba itu membuat Emily kehilangan pasokan napas. Tubuhnya refleks menegang, lalu seketika melemas dalam debaran jantung yang tak lagi mampu ia kendalikan.
Bukannya menolak, naluri yang tersulut hawa panas justru mengambil alih akal sehatnya. Jemari ramping Emily meluncur ke belakang kepala Raphael, meraih rambut tebal pria itu dan mencengkeramnya lembut. Tanpa sadar, ia menarik kepala Raphael agar kian mendekat, menekannya hingga deru napas pria itu sepenuhnya mengurung ceruk lehernya. Tubuhnya telah mengkhianati logika, menyerah pasrah pada insting yang paling ia benci sekaligus ia nikmati saat ini.
Raphael bergerak pelan-pelan, menjelajahi sisi leher Emily dengan lihai yang membuat udara di paru-paru sang wanita bagai menguap tanpa sisa. Ia menelusuri permukaan kulit halus nan lembut itu, sesekali memberikan tanda kepemilikan yang membuat Emily hanya bisa menahan napas dan menggigit bibirnya sendiri demi meredam diri.
"Ra—Raphael..." suara Emily tersekat, terpotong-potong di antara napasnya yang kian memberat. Tubuhnya menggeliat gelisah di sana, membiarkan punggungnya bersandar penuh pada dada bidang pria di belakangnya.
"Hm?" Pria itu hanya menggumam rendah tepat di sebelah telinga Emily, menggetarkan seluruh jengkal tubuh sang wanita. "Kau ingin aku berhenti, sweetheart?" tanyanya memancing. Namun, ia tahu persis jawaban Emily, sehingga ia tetap melanjutkan aksinya dengan binar penuh kepuasan.
Emily menggelengkan kepalanya lemah. "Tidak... teruskan."
Seringai kemenangan muncul di sudut bibir Raphael. Perlahan, ia melingkarkan kedua lengan kekarnya ke pinggang ramping Emily, memeluknya erat. Telapak tangannya yang lebar mulai bergerak naik, menelusuri lembut sepanjang tulang rusuk Emily, memberikan sensasi terbakar yang kian nyata.
Sejenak, gerakannya berhenti tepat di batas busana sang wanita, seolah memberikan Emily waktu untuk menarik napas. Lantas dengan keberanian yang mendominasi, Raphael memberikan usapan intens yang membuat Emily terperanjat. Napas wanita itu tersendat di tenggorokan, sementara jemarinya mencengkeram erat selimut, menyerah pada pesona yang memabukkan tersebut.
"Kau mendadak diam, Emily. Kau sangat menikmatinya, hm?" goda Raphael. Dengan gerakan terkontrol, ia memutar tubuh Emily hingga wanita itu kini terperangkap menyamping di hadapannya, mengekspos penuh paras cantiknya yang tampak sayu dan peluh oleh rona gairah. Manik mata cokelat Emily berkilat liar, tak mampu lagi menyembunyikan gejolak yang membuncah di dalam dirinya.
Tatapan keduanya beradu. Ada percikan antara dorongan dan penolakan di mata mereka yang sama-sama gelap dan berbahaya. Raphael mencondongkan wajahnya, berniat menyatukan bibir mereka, ketika tangan mungil Emily tiba-tiba naik dan menahannya tepat di depan wajah.
"Apa pun," bisik Emily pelan dengan suara yang sedikit bergetar. "Tapi jangan bibirku, Raphael."
Sejenak, pria itu terdiam. Kedua matanya menyipit, dipenuhi rasa penasaran. Bahkan di saat benteng pertahanannya sudah terkikis habis seperti ini, wanita ini masih mencoba mempertahankan satu batas suci. Apakah sebuah kecupan begitu sakral dan pribadi bagi Emily, sampai ia menolak membiarkan siapa pun menyentuhnya di sana?
Raphael menahan diri untuk tidak memaksanya. Ia bisa saja melanggar batas itu, tapi itu bukan caranya menikmati permainan penaklukan ini. Ia mengangguk pelan, berpura-pura mengalah demi membaca bahasa tubuh Emily dengan lebih teliti.
"Baik," ujarnya rendah. "Bukan bibir. Lalu bagian mana yang kau izinkan? Di sini?"
Tangan Raphael merembet naik, memberikan usapan tegas di balik kain yang membungkus dada Emily. Sentuhan intens itu membuat Emily terpekik tertahan, tubuhnya melengkung karena syok dan sensasi candu yang datang bertubi-tubi.
"Berhentilah banyak bertanya! Lakukan saja!" geram Emily, benar-benar kehilangan kesabarannya akibat rasa gerah yang kian menyiksa batinnya.
Raphael terkekeh rendah. Ia sangat menyukai sisi Emily yang garang dan menantang seperti ini. "Harus lebih sabar, sweetheart."
Tatapannya turun perlahan, menelusuri lekuk busana Emily. Dengan telaten, jemarinya meluruhkan penyemat kaitan busana tersebut satu per satu. Begitu seluruhnya tersibak, Raphael tidak membuang waktu lagi untuk menundukkan kepalanya, memberikan kecupan-kecupan intens yang membuat pasrah di area itu.
Emily tidak lagi berusaha menghalangi. Tangan yang tadi menahan bibir Raphael kini meluruh pasrah ke atas bahu kokoh pria itu, mencengkeramnya kuat-kuat sebagai satu-satunya pegangan. Raphael membawa Emily ke dalam pusaran rasa yang kian dalam, menyesap dan memberikan sentuhan-sentuhan melegakan yang membuat Emily kian kehilangan akal sehat di bawah kuasanya.
Mengetahui Emily sudah sepenuhnya terbakar oleh pesonanya malam ini, Raphael membawa interaksi mereka ke tingkat yang lebih jauh. Tangan besarnya bergerak turun, menyelinap di balik helai kain terakhir untuk menyentuh pusat kehangatan Emily yang sudah begitu siap menyambutnya.
"Kau sudah sepenuhnya siap untukku..." bisik Raphael seraya memberikan stimulasi perlahan, memancing gerakan gelisah dari pinggul Emily yang kini bergerak di luar kendali. Jemari Emily mencengkeram lengan Raphael, seolah tidak sanggup lagi menahan siksaan bergejolak itu yang kian pekat.
"Kau ingin aku menyentuhmu lebih dalam?" tanya Raphael, sengaja menguji sisa-sisa harga diri sang wanita.
"Sekali lagi kau bertanya, bersiaplah menerima akibatnya, Raphael!" erang Emily frustrasi, napasnya tersengal di antara amarah dan gairah yang bergolak membakar tubuhnya.
"Kalau begitu, katakan apa yang kau inginkan sekarang."
"Belai aku sekarang juga, Raphael! Lebih banyak!” seru Emily akhirnya, menyerah kalah pada rasa frustrasinya yang sudah berada di ubun-ubun.
"Katakan lebih jelas!" Raphael memberikan sedikit tekanan yang tepat di pusat hangat itu, sengaja menahan keinginan Emily.
"Buat aku penuh sekarang juga! Singkirkan jarak sialan ini! Akh—"
Pekikan yang dipenuhi kepasrahan itu terpotong tepat saat Raphael memberikan sentuhan mendalam yang tegas, menelesak penuh dan menguasai inti kehangatannya yang melimpah. Udara di dalam ruangan seketika dipenuhi oleh parau napas Emily yang pasrah pun memburu dan bisikan kepuasan Raphael yang saling bertautan di antara keheningan malam.
"Benar seperti itu, sweetheart. Rasakan. Aku ingin kau kehilangan seluruh kendalimu hanya untukku."
Raba-raba jemari Raphael bergerak konstan, menuntut kepatuhan dari tubuh sempit Emily yang membalut erat setiap pergerakannya. Pria itu menatap lurus ke dalam manik mata Emily, merekam dengan jelas setiap ekspresi ketidakberdayaan yang teramat memikat di wajah cantiknya.
Tidak butuh waktu lama bagi Emily untuk berada di titik tertinggi pertamanya, sebab pertahanan tubuhnya memang sudah terlampau rapuh sejak awal hingga lekas membuatnya melayang. Begitu gelombang kepuasan itu mereda, Raphael menjauhkan tangannya, meninggalkan sensasi kehilangan yang membuat tubuh Emily masih bergetar hebat.
"Sekarang, teman kecilku yang menuntut haknya," ucap Raphael parau seraya bergerak mundur untuk menanggalkan kendala terakhir pada helai yang membalutnya.
Namun sebelum pria itu sempat melakukannya, di luar dugaan, Emily bergerak dengan kecepatan kilat. Efek obat penenang yang menurunkan kewaspadaannya justru memantik sisi agresif yang tersembunyi. Emily mendorong tubuh Raphael hingga pria itu jatuh terlentang di atas kasur. Tanpa memberikan celah sedikit pun untuk Raphael membalas, Emily merangkak naik, memosisikan dirinya tepat di atas perut pria tersebut.
"Wow..." Raphael terperanjat dengan senyuman buas yang terkembang di wajah tampannya. Sepasang matanya menatap tidak percaya pada sosok wanita yang kini mendominasi di atas perutnya. "Kau ingin memegang kendali malam ini, huh?"
Raphael sungguh tidak tahu apakah ramuan obat itu yang bekerja terlalu kuat hingga memunculkan sisi Emily yang seberani ini, ataukah memang wanita ini selalu menyembunyikan sisi ini di balik citra dingin yang selama ini ia tampilkan. Namun satu hal yang pasti, Raphael sangat menyukai kejutan tersebut.
"Kau terlalu lambat, seperti kakek kakek," mendengus kecil, tangan Emily bergerak cepat membebaskan ketegangan mutlak milik Raphael dari balik penutup terakhir yang tertinggal. Netra cokelat wanita itu menatap lurus tanpa ada lagi keraguan tersisa.
Dan penyatuan sejati yang sesungguhnya pun resmi dimulai di bawah kendali sang wanita.
Emily panik 🤣🤣🤣 tenang aja Raphael udah bucin tuh tinggal Emily aja yang harus terima