Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.
Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.
Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.
Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 - Dalam Gelap
Lampu kamar padam total hingga ruangan langsung tenggelam dalam gelap dan sunyi. Suara hujan di luar jendela terdengar samar bercampur dentuman petir yang sesekali menyambar langit malam. Dalam refleks panik, Kemuning langsung mencengkeram kemeja Arkana erat tanpa sadar.
Kemuning tidak bisa melihat apa pun di sekelilingnya. Namun justru karena gelap itulah dirinya menjadi terlalu sadar pada keberadaan pria di depannya. Aroma parfum maskulin Arkana terasa begitu dekat, bercampur samar dengan aroma hujan malam yang dingin. Napas rendah pria itu terdengar jelas di telinganya hingga membuat jantung Kemuning berdetak kacau.
Arkana langsung menyadari tubuh Kemuning sedikit gemetar. Pria itu menikmati fakta bahwa gadis itu selalu mencari dirinya setiap merasa takut dan kenyataan itu terasa berbahaya. Karena semakin Kemuning bergantung padanya, semakin sulit Arkana menjaga jarak yang seharusnya tetap ada di antara mereka.
Perlahan, Arkana memegang pergelangan tangan Kemuning yang masih mencengkeram kemejanya erat. Sentuhan hangat itu membuat napas Kemuning tertahan sesaat. Dalam gelap yang sunyi, suara rendah Arkana terdengar jauh lebih dalam ketika pria itu berkata pelan, “Aku di sini.”
Kalimat sederhana itu justru terasa menghancurkan pertahanan Kemuning. Dadanya langsung menghangat bersamaan dengan rasa takut yang perlahan tumbuh. Kemuning sadar, bahwa dirinya benar-benar merasa aman hanya ketika Arkana berada di dekatnya dan kesadaran itu terasa terlalu menakutkan untuk diakui.
Petir kembali menyambar langit malam. Cahaya putih sesaat menerangi kamar sebelum gelap kembali menelan semuanya. Refleks, Kemuning bergerak lebih dekat hingga tubuh mereka nyaris menempel. Dada bidang Arkana terasa begitu dekat di depan tubuhnya, sementara tangan pria itu otomatis menahan pinggang Kemuning agar gadis itu tidak terjatuh.
Napas mereka mulai sama-sama tidak stabil. Kemuning bisa merasakan hangat tubuh Arkana bahkan dalam gelap, sedangkan Arkana mulai sadar bahwa jarak sedekat ini membuat dirinya kesulitan berpikir jernih. Semakin dekat dengan Kemuning, semakin dirinya takut kehilangan kendali sepenuhnya.
Tatapan Arkana turun perlahan ke bibir Kemuning meski gadis itu bahkan tidak bisa melihatnya jelas dalam gelap. Hanya suara napas mereka yang terdengar di antara hujan malam. Suasana terasa begitu panas hingga seolah satu gerakan kecil saja bisa menghancurkan semua batas yang tersisa di antara mereka.
Namun suasana intim itu mendadak pecah ketika suara benda jatuh terdengar keras dari lorong luar kamar.
Kemuning langsung tersentak panik. Mansion besar itu mendadak terasa jauh lebih menyeramkan dalam gelap dan sunyi. Suara langkah samar terdengar dari kejauhan, membuat tubuh Kemuning kembali menegang ketakutan. Arkana berubah waspada hanya dalam hitungan detik.
Tanpa berpikir panjang, Arkana langsung memindahkan Kemuning ke belakang tubuhnya. Gerakannya cepat dan refleks, seolah melindungi Kemuning sudah menjadi naluri baru yang tertanam dalam dirinya. Bahu pria itu tegak menghadap pintu kamar, sementara satu tangannya masih menahan Kemuning di belakangnya.
“Jangan keluar dari belakangku.”
Nada suara Arkana rendah dan dingin, tetapi terasa sangat melindungi. Kemuning langsung mengangguk gugup walau jantungnya masih kacau karena kedekatan mereka beberapa detik lalu. Anehnya, berdiri di belakang tubuh Arkana justru membuat dirinya sedikit lebih tenang di tengah rasa takut yang mulai memenuhi mansion itu.
Beberapa detik kemudian, pintu kamar terbuka dan Reno masuk bersama dua pengawal membawa senter. Cahaya redup menyapu kamar yang masih gelap, menciptakan bayangan panjang di dinding. Reno langsung melapor bahwa genset sedang dinyalakan kembali, tetapi ada sesuatu yang lebih buruk ditemukan di taman belakang mansion.
“Ada bekas jejak seseorang di area belakang, Tuan.”
Ekspresi Arkana langsung berubah semakin dingin. Rahangnya menegang samar mendengar laporan itu. Ancaman terhadap Kemuning terasa benar-benar nyata dan berada sangat dekat dengan mansion Mahendra.
Reno diam-diam memperhatikan situasi di kamar. Ia belum pernah melihat Arkana setegang ini sebelumnya dan yang paling jelas terlihat adalah bagaimana fokus pria itu terus kembali pada Kemuning, seolah keselamatan gadis itu menjadi prioritas utama di tengah situasi berbahaya seperti ini.
Di tengah ketegangan itu, suara tangis kecil terdengar dari atas ranjang. Agam terbangun karena gelap dan suara gaduh di luar kamar. Anak kecil itu langsung menangis ketakutan sambil memanggil kakaknya dengan suara gemetar.
Kemuning buru-buru menghampiri ranjang lalu memeluk tubuh kecil Agam erat. Cahaya senter redup membuat suasana kamar terasa hangat sekaligus menyedihkan. Agam memeluk Kemuning sambil gemetar kecil, sedangkan Arkana duduk dekat mereka sambil tetap berjaga dan memperhatikan keadaan sekitar.
Gelap tidak terasa terlalu menakutkan bagi Kemuning. Selama Arkana berada di dekat mereka, dirinya merasa seolah ada seseorang yang mampu melindungi dirinya dan Agam dari apa pun. Perasaan aman itu perlahan tumbuh semakin dalam tanpa bisa ia hentikan lagi.
“Om Kana, jangan pergi.”
Suara polos Agam membuat Arkana terdiam beberapa detik. Anak kecil itu menatapnya dengan mata masih sembab karena takut dan tanpa membantah sedikit pun, Arkana akhirnya duduk lebih dekat ke sisi ranjang.
Kemuning memperhatikan semuanya diam-diam dengan dada terasa hangat. Melihat Arkana yang biasanya dingin kini rela duduk menjaga Agam di tengah malam seperti ini terasa begitu tidak nyata baginya. Namun justru karena itulah hatinya semakin sulit menjaga jarak dari pria tersebut.
Beberapa menit kemudian, listrik akhirnya menyala kembali perlahan. Cahaya lampu kembali memenuhi kamar yang tadi tenggelam dalam gelap. Namun saat semuanya terang, Kemuning baru sadar dirinya masih terlalu dekat dengan Arkana.
Tangan pria itu masih berada di pinggangnya. Wajah mereka nyaris tanpa jarak. Saat tatapan mereka bertemu, pipi Kemuning langsung memanas malu luar biasa.
Tatapan Arkana perlahan turun ke bibir Kemuning lagi. Kali ini Kemuning menyadarinya dengan jelas. Napas gadis itu langsung tercekat, sementara suasana kamar mendadak terasa sangat sunyi dan panas. Tepat ketika momen mereka hampir terlalu jauh, ponsel Reno tiba-tiba berbunyi nyaring.
Reno langsung menerima panggilan tersebut dengan wajah serius. Salah satu pengawal melaporkan seseorang mencoba masuk lewat area samping mansion sebelum akhirnya kabur. Suasana langsung berubah dingin adalah simbol yang ditemukan di lokasi sama persis dengan simbol di amplop ancaman Bagaskara.
Ratih yang mendengar laporan itu dari luar kamar langsung merasa dadanya menegang. Wanita itu benar-benar takut ancaman ini akan menyeret Arkana ke sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari sekadar urusan keluarga biasa. Namun yang lebih menakutkan baginya adalah kenyataan bahwa putranya kini jelas tidak akan meninggalkan Kemuning apa pun yang terjadi.
Karena situasi dianggap semakin berbahaya, Mahardika langsung memutuskan pengamanan internal tambahan. Pengawal diperbanyak di seluruh area mansion. Akses private diperketat dan Arkana diminta tetap bersama Kemuning selama beberapa hari penuh sampai keadaan benar-benar aman.
Arkana menerima keputusan itu tanpa keberatan sedikit pun. Justru pria itu terlihat semakin dingin saat membahas keselamatan Kemuning. Seolah apa pun ancamannya, dirinya sudah siap berdiri paling depan untuk melindungi gadis itu.
Malam semakin larut, Agam akhirnya tertidur kembali sambil memeluk lengan Kemuning erat. Sedangkan Kemuning duduk diam di sisi ranjang sambil memikirkan semua ancaman yang datang tanpa henti sejak nama Bagaskara muncul.
Arkana tiba-tiba berjalan mendekat lalu duduk tepat di depan Kemuning. Wajah pria itu terlihat lelah, tetapi tatapannya tetap fokus penuh pada gadis tersebut. Perlahan, jemarinya terangkat lalu menyentuh dagu Kemuning lembut hingga gadis itu refleks menahan napas.
“Aku tidak peduli siapa yang datang.”
Suara Arkana rendah dan begitu dekat. Tatapannya gelap, intens, dan penuh sesuatu yang membuat jantung Kemuning kembali kehilangan ritme.
“Aku tidak akan membiarkan mereka mengambilmu.”
Kalimat itu terasa terlalu possessive. Terlalu protektif dan terlalu mirip pengakuan perasaan yang belum pernah benar-benar diucapkan pria itu sebelumnya.
Kemuning langsung membeku menatap Arkana. Dadanya terasa sesak oleh emosi yang tidak lagi mampu ia sembunyikan dan tepat saat suasana mereka semakin dekat, alarm keamanan mansion tiba-tiba berbunyi keras di seluruh rumah.