Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.
Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.
Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.
Rachael Velencia.
Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.
Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 - Nama Keluarga Velencia
Suasana mansion keluarga de Arther malam itu terasa jauh lebih hidup dari biasanya.
Setidaknya untuk saat ini— karena keberadaan Evelyn dan Sebastian de Arther.
Nenek dan kakek Leon memang selalu membawa suasana berbeda saat datang berkunjung.
Namun malam ini, rasa penasaran mereka benar-benar hanya tertuju pada satu orang.
Rachael.
Evelyn duduk santai di sofa ruang utama sambil memegang cangkir teh hangat. Matanya masih berbinar penuh rasa ingin tahu.
Sementara Sebastian membaca koran malam dengan tenang, meski sesekali sudut bibirnya naik kecil setiap kali pembicaraan kembali membahas Leon.
Arthur berdiri dekat jendela dengan ekspresi dingin seperti biasa. Namun jelas terlihat, ia sudah mulai menyerah menghentikan rasa penasaran kedua orang tuanya.
Karena bagaimanapun juga, Arthur de Arther tetap akan menuruti ibunya. Itu salah satu hal yang sangat jarang diketahui orang lain.
“Jadi kapan kami bisa bertemu Rachael?” tanya Evelyn santai sambil menyeruput teh.
Leon yang duduk di sofa seberang langsung memijat pelipis. “Nenek...”
“Apa?” Evelyn mengangkat alis. “Aku cuma ingin lihat.”
Arthur langsung menyela dingin, “Itu bukan ide bagus.”
“Arthur.” Nada suara Evelyn langsung berubah sedikit tajam. Itu cukup membuat Arthur diam beberapa detik. “Kamu terlalu berlebihan.”
Arthur menghela napas kecil. “Ibu tidak mengerti situasinya.”
“Kalau begitu jelaskan.”
Ruangan kembali hening sesaat.
Tapi sebelum Arthur sempat menjawabnya, suara pintu mansion terbuka dari luar.
Tak lama kemudian, Axel masuk sambil melepas hoodie hitamnya.
Begitu melihat Evelyn dan Sebastian, mata Axel langsung membesar sedikit. “Wah.” Ia langsung tersenyum lebar. “Kakek, nenek.”
Evelyn langsung tersenyum hangat. “Axel.”
Sebastian mengangguk kecil. “Kamu makin tinggi.”
“Karena aku masih tumbuh.”
Arthur langsung melirik dingin. “Kamu terlalu berisik.”
“Rumah ini terlalu sepi.” Jawaban cepat Axel sukses membuat Evelyn tertawa kecil.
Beberapa detik kemudian, Evelyn langsung teringat sesuatu. Tatapannya berbinar lagi. “Oh benar.”
Axel langsung punya firasat buruk saat Evelyn mencondongkan tubuh penasaran. “Kamu sekelas dengan Leon dan Rachael, kan?”
Axel membeku seketika.
Leon langsung mengangkat kepala cepat.
Sementara Arthur perlahan menutup matanya seolah sudah lelah menghadapi semuanya.
“...Iya?” jawab Axel pelan.
Evelyn langsung tersenyum puas. “Bagus.” Ia menunjuk Axel kecil. “Ceritakan tentang gadis itu.”
Axel langsung diam total. Tatapannya perlahan bergerak ke arah Leon. Minta bantuan atau izin.
Karena jujur saja, Axel tahu Leon sangat protektif soal Rachael sekarang. Ia tidak yakin boleh membahas banyak hal tanpa persetujuan Leon.
Sebastian yang melihat reaksi Axel langsung tersenyum samar. “Hm.” Tatapannya tajam meski tenang. “Berarti memang ada sesuatu yang menarik.”
Axel tertawa kecil canggung. “Hehe... ya...”
Evelyn langsung semakin penasaran. “Dia seperti apa?”
Axel kembali melihat Leon. Leon membalas tatapan itu datar. Tatapannya mengancaman diam-diam.
"Jangan macam-macam."
Axel langsung menelan ludah kecil.
“Kenapa lihat Leon terus?” tanya Evelyn bingung.
Axel tertawa makin canggung sekarang.
“Karena... aku merasa sedang diinterogasi mafia, karena membuat kesalahan.”
“Itu memang benar,” jawab Arthur dingin.
“TUH KAN.” sahut Axel.
Evelyn malah terkekeh geli sebelum kembali fokus.
“Axel.” Nada suaranya melembut sedikit. “Kami cuma penasaran.”
Axel mengusap tengkuk pelan. Akhirnya ia memberanikan diri bicara pelan, “Rachael itu... agak susah dijelasin.”
Leon tetap diam mendengarkan.
Evelyn langsung tertarik. “Kenapa?”
Axel berpikir beberapa detik. “Dia keliatan tenang terus.” gumamnya pelan. “Tapi sebenarnya pikirannya rame banget.”
Tatapan Leon sedikit berubah mendengar itu. Karena deskripsi itu terasa sangat tepat.
Axel melanjutkan pelan, “Dia gampang stres... tapi juga bisa tiba-tiba ketawa kayak nggak ada apa-apa.”
“Dia sensitif sama keadaan sekitar. Dan...” Axel berhenti sebentar sebelum menatap Leon lagi, “dia tipe orang yang nyimpen semuanya sendiri.”
Ruangan mendadak sedikit hening.
Evelyn memperhatikan Leon perlahan. Untuk pertama kalinya, wanita itu mulai memahami kenapa cucunya bisa begitu berubah hanya karena satu gadis.
Karena dari cara Axel menjelaskan saja, Rachael terdengar seperti seseorang yang membuat orang ingin terus menjaganya.
Suasana ruang utama mansion de Arther masih tenang. Api kecil dari perapian memantulkan cahaya hangat ke ruangan besar bernuansa hitam emas itu.
Evelyn masih memperhatikan Axel dengan penuh rasa penasaran.
Sementara Leon duduk diam di sofa dengan satu tangan menopang pelipis.
Arthur tetap berdiri dekat jendela sambil memperhatikan semuanya dengan tatapan dingin.
“Siapa nama lengkap gadis itu?” tanya Sebastian tiba-tiba.
Axel langsung menoleh. “Hm?”
“Kami belum tahu nama lengkapnya.”
Axel mengangguk kecil. “Oh.” Ia menjawab santai tanpa berpikir panjang, “Rachael Velencia.”
Dan tepat setelah nama itu keluar, suasana ruangan langsung berubah hening total.
Sampai Axel sendiri langsung menyadari ada sesuatu yang aneh.
Evelyn yang tadi santai perlahan menurunkan cangkir tehnya. Tatapannya berubah serius.
Sebastian berhenti membalik halaman koran.
Sementara Arthur untuk pertama kalinya malam itu langsung menoleh cepat.
Leon mengernyit kecil melihat reaksi mereka. “Ada apa?”
Namun tidak ada yang langsung menjawab.
Axel mulai bingung sendiri. “...Kenapa semuanya diam?”
Sebastian akhirnya bicara pelan. “Velencia?”
Arthur langsung menatap Leon tajam. “Kamu tidak tahu?”
Leon mengernyit. “Tahu apa?”
Arthur menghela napas kecil lalu berjalan mendekat perlahan. “Familia Velencia bukan keluarga biasa.”
Tatapan Leon perlahan berubah serius.
Axel yang tadi santai sekarang ikut menegang. Karena bahkan aura Arthur berubah lebih berat dari sebelumnya.
Evelyn akhirnya bersandar pelan ke sofa sambil menyipitkan mata. “Sudah lama sekali aku tidak mendengar nama itu.”
Sebastian mengangguk kecil. “Mereka selalu menghilang sebelum orang lain menyadarinya.”
Leon menatap mereka bergantian. “Jelaskan.”
Arthur terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata rendah, “Keluarga Velencia adalah keluarga mata-mata.”
Axel langsung membeku. “Hah?”
“Mereka bekerja dalam bayangan.” Tatapan Arthur berubah dingin. “Mengumpulkan informasi. Menyusup. Menghilang.”
“Dan mereka terkenal karena satu hal.” Arthur berhenti sebentar. “Mereka tidak pernah menetap terlalu lama di satu tempat.”
Leon langsung teringat sesuatu. Rachael pernah bilang, ia sering pindah sekolah.
Sementara Arthur melanjutkan, “Jika sebuah misi selesai, keluarga Velencia akan pindah.”
“Menghilang. Meninggalkan identitas lama mereka begitu saja.”
Axel menelan ludah kecil. “Oke... ini mulai terasa kayak film.”
Namun tidak ada yang menanggapi candaan itu. Karena suasana sudah terlalu serius sekarang.
Evelyn memandang Leon perlahan. “Berarti alasan Rachael terus pindah sekolah bukan kebetulan.”
Leon langsung teringat semua hal kecil tentang Rachael.
Caranya selalu waspada, sensitif terhadap lingkungan sekitar. Refleks yang terlalu cepat, tatapan yang selalu memperhatikan sekitar. Dan sekarang semuanya mulai masuk akal.
Sebastian akhirnya bicara pelan, “De Arther dan Velencia memang bukan musuh. Tapi juga bukan sekutu.”
Arthur mengangguk kecil. “Kami jarang terlibat langsung dengan mereka. Karena keluarga Velencia lebih memilih tetap berada di bayangan."
Leon perlahan mengepalkan tangannya kecil. Entah kenapa dadanya terasa tidak nyaman sekarang.
Karena jika semua ini benar... berarti hidup Rachael jauh lebih rumit daripada yang ia kira sebelumnya.
Axel yang masih mencoba mencerna semuanya akhirnya bergumam pelan, “Pantes aja dia sensitif banget sama sekitar...”
Tatapan Arthur langsung kembali ke Leon. Dan kali ini nada suaranya jauh lebih serius. “Kamu sekarang mengerti kenapa aku menyuruhmu menjauh?”
Leon justru diam. Anehnya setelah mengetahui semuanya, ia malah semakin ingin tahu tentang Rachael. Tentang kehidupan seperti apa yang membuat gadis itu selalu terlihat seperti seseorang yang siap pergi kapan saja.
Suasana ruang utama mansion de Arther masih dipenuhi ketegangan setelah fakta tentang keluarga Valencia terungkap.
Axel bahkan masih terlihat setengah tidak percaya.
“Jadi...” gumamnya pelan. “Rachael technically hidup di dunia rahasia juga?”
Arthur melirik dingin. “Kurang lebih begitu."
Leon terdiam. Pikirannya terus mengingat semua hal tentang Rachael sekarang.
Evelyn justru terlihat semakin tertarik. Wanita tua itu perlahan tersenyum kecil sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa.
“Kalau begitu...” matanya menyipit penuh minat, “aku semakin ingin bertemu dengannya.”
Arthur langsung menghela napas panjang. “Ibu.”
“Apa lagi sekarang?”
“Ibu tidak mengerti.”
Evelyn langsung menatap putranya malas. “Arthur, kamu selalu bicara seolah semua orang di dunia ini ancaman.”
“Karena memang begitu.”
“Dan itu sebabnya kamu cepat tua.”
Axel refleks menunduk menahan tawa.
Sementara Sebastian hanya menghela napas kecil seperti sudah terbiasa melihat pertengkaran itu.
Namun Evelyn tetap fokus. “Kita temui saja dia.”
Leon langsung mengangkat kepala. “Sekarang?"
“Kalau bisa malam ini.”
Arthur langsung memotong cepat, “Tidak.”
Evelyn langsung membalas tanpa kalah cepat. “Ya.”
Ruangan kembali hening beberapa detik.
Axel mulai merasa dirinya salah tempat.
Sementara Leon memijat pelipis lagi. “Nenek, ini bukan ide bagus.”
“Kenapa?” Evelyn menatap cucunya tajam. “Kamu takut aku tidak menyukainya?”
Leon diam. Dan reaksi itu justru membuat Evelyn tersenyum kecil. “Oh jadi memang serius.”
“Nenek.”
Evelyn sama sekali tidak berniat berhenti. “Justru karena dia Velencia aku penasaran."
Sebastian akhirnya ikut bicara pelan, “Sudah lama sekali keluarga Velencia menghilang dari permukaan.”
Tatapan pria tua itu perlahan berubah lebih dalam.
“Aku ingin tahu seperti apa anak dari keluarga itu sekarang.”
Arthur jelas tidak suka arah pembicaraan ini. “Mereka hidup dengan cara berbeda dari kita.”
“Dan?” Evelyn mengangkat alis. “Apa salahnya bertemu?”
Arthur terdiam sesaat. Karena ia tahu, jika Evelyn sudah memutuskan sesuatu, sangat sulit menghentikannya.
Leon menghela napas kecil lalu berkata pelan, “Rachael mungkin nggak akan nyaman.” Itu adalah kekhawatiran paling jujur yang keluar dari dirinya malam ini.
Karena Leon bisa membayangkan bagaimana reaksi Rachael jika tiba-tiba harus berhadapan dengan seluruh keluarga de Arther. Apalagi dalam keadaan seperti sekarang.
Evelyn memperhatikan Leon beberapa detik. Lalu senyum kecil muncul lagi di wajahnya. “Kamu benar-benar memikirkannya.”
Leon langsung memalingkan wajah kecil.
Sementara Axel di sudut ruangan cuma bisa berpikir: "Wah parah. Leon udah selesai."
Evelyn tetap terlihat santai. “Aku tidak akan menakutinya.”
Arthur langsung bergumam pelan, “Itu yang paling mengkhawatirkan.”
“Aku dengar itu.”
Sebastian akhirnya tertawa kecil samar, suasana ruangan sedikit mencair lagi.
Namun di balik semua itu, Leon tetap merasa tidak tenang. Karena jauh di dalam pikirannya, ia punya firasat kalau mempertemukan Rachael dengan keluarga de Arther malam ini... akan mengubah banyak hal.
...****************...
Bersambung...
iklan buat kamu
Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe