Dihianati oleh kekasih yang dicintai memang begitu menyakitkan, apalagi kekasih yang ia percaya akan membuat dirinya bahagia ternyata diam diam menjalin hubungan dengan sepupunya. Namaku Alisha Azura inilah kisah cintaku dan perjalanan hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ersy 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Hari ini Fandi sudah kembali masuk kantor setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit. Saat ia baru masuk kedalam ruangannya tiba tiba Monika datang dan langsung masuk kedalam ruangan Fandi tanpa mengetuk pintu. "Sayang kamu pergi kemana saja beberapa hari ini, kenapa kamu enggak pernah datang lagi ke apartemenku" protes Monika dengan nada manja. Wanita itu langsung duduk diatas pangkuan Fandi yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Monika langsung mencium bibir Fandi merasa kesal karena sejak tadi ia dicuekin kekasihnya sekaligus atasannya tersebut. Fandi yang awalnya abai pada akhirnya terbuai dengan serangan dadakan Monika. Setelah beberapa saat kemudian ciuman panas mereka harus berakhir karena mendengar ketukan pintu.
Tok
Tok
"Permisi pak, saya mau mengantarkan kopi" ucap seorang OB dari luar.
"Segera perbaiki penampilanmu dan keluarlah aku sedang banyak pekerjaan hari ini" cetus Fandi setelah merapikan penampilannya sendiri. Monika yang mendengar perkataan Fandi wajahnya langsung memberengut kesal "Aku tuh masih kangen sama kamu sayang" rengek Monika manja. Fandi yang mendengar ucapan Monika hanya menghela nafas panjang "Baiklah nanti kita makan siang bersama ditempat biasa" sahut Fandi singkat. Monika langsung tersenyum senang mendengar jawaban Fandi "Oke sayang, yaudah kamu yang semangat ya kerjanya, cup" Monika langsung keluar dari ruangan Fandi setelah mencium sekilas pipi Fandi.
Ceklek...
Saat pintu terbuka lebar nampak seorang OB sudah berdiri tegap didepan pintu depan membawa nampan berisi segelas kopi hitam untuk Fandi. OB tersebut tersenyum ramah namun Monika menatapnya tajam "Masuklah" ucap Monika ketus merasa kesal karena kesenangannya diganggu. OB tersebut mengangguk singkat langsung masuk kedalam ruangan bosnya. "Permisi pak ini kopinya" ucapnya sopan seraya meletakkan segelas kopi diatas meja Fandi.
"Hem, terimakasih" sahut Fandi singkat tanpa menoleh. "Sama sama pak, kalau begitu saya permisi pak" pamit OB tersebut menunduk sebentar. "Hem..." gumam Fandi. Setelah kepergian OB tersebut Fandi langsung menyesap kopi miliknya untuk merilekskan pikirannya yang sedang berkecamuk tak menentu.
"Bagaimana keadaan Alisha saat ini, apakah keadaannya sudah membaik" gumam Fandi pelan . "Lebih baik nanti aku langsung ke rumah sakit setelah pulang kerja nanti" ucap Fandi dalam hati.
\>\>\>\>\>\>
Didalam ruangan ICU seorang gadis cantik masih terbaring lemah diatas ranjang pasien seolah dirinya sedang tidur nyenyak. Tak lama pintu terbuka secara perlahan dan masuklah seorang gadis cantik memakai dress selutut namun cara berjalannya sedikit mengangkang karena tidak terbiasa berjalan anggun. Dia adalah Santa sahabat dekat Alisha gadis yang kesehariannya berpenampilan tomboy hari ini ia sengaja berpenampilan feminim kayaknya seorang gadis pada umumnya.
Flash back of
Saat ini Santa sedang berjalan mondar-mandir didalam kamarnya, sudah satu Minggu Alisha terbaring koma belum juga sadar. Santa sudah berusaha berbagai cara agar sahabatnya segera bangun dari komanya. Santa ingat suatu hari saat ia sedang ngobrol santai dengan Alisha, tiba tiba Alisha menyeletuk "Santa sejak kita bertemu penampilanmu seperti seorang pria, aku ingin suatu hari nanti melihat kamu berpenampilan feminim kayaknya seorang gadis pada umumnya. Aku yakin kamu pasti akan terlihat semakin cantik dan anggun. Agar aku punya teman berbelanja berbagai jenis kebutuhan wanita" Santa masih teringat jelas ucapan Alisha waktu itu.
"Dan hari ini demi Lo, gue rela mengubah penampilan gue Al, agar saatnya nanti pas Lo bangun Lo langsung melihat sahabatmu ini berpenampilan feminim seperti yang Lo inginkan. Memakai dress dan memakai makeup meskipun sejujurnya gue kurang nyaman dengan penampilan seperti ini" ucap Santa menilai penampilannya sendiri didepan cermin besar didalam kamarnya. Rambutnya sebahu berwarna coklat keemasan yang biasanya ia kuncir kuda saat ini sengaja ia gerai bebas dan wajah yang biasanya natural tanpa memakai makeup hari ini ia memakai makeup tipis tipis wajah cantiknya semakin cantik. dress selutut berwarna Navy polos serta high heels rendah semakin mempercantik penampilan Santa hari ini. "Duh kok gue merasa enggak pede gini ya, takut nanti diketawain sama kak David apalagi kalau sampai bertemu sama kak Gerry bisa tambah malu gue. Tapi kalau enggak kaluar kamar ya nggak mungkin juga dong, bagaimana caranya sampai rumah sakit kalau gue masih nongkrong didalam kamar" gumam Santa seorang diri.
"Hais sejak kapan gue perduli dengan penilaian orang lain toh biasanya gue bodo amat sama penilaian orang lain. Tapi ini beda, gue sekarang berpenampilan feminim bukan gaya gue banget tau. Aaarrgghh bodo amat lah yang terpenting gue lakuin ini demi sahabat gue Alisha agar cepat sadar. Gue harap hari ini Alisha segera siuman dan bisa melihat penampilan gue yang luar binasa ini hehehe..." kekeh Santa seraya melihat penampilannya sendiri didepan cermin. "Ternyata benar gue nampak cantik kalau pakai baju kayak gini tapi sayang gue enggak biasa memakai pakaian seperti ini" ucap Santa dalam hati.
Flash back on
Saat ini Santa sudah sampai dirumah sakit tempat Alisha dirawat. Sebelum turun dari dalam mobil Santa memakai kacamata warna hitam serta masker untuk menutupi wajahnya. Cara jalan Santa yang sedikit aneh membuat beberapa orang yang menatapnya aneh. Namun Santa tidak memperdulikan tatapan mereka yang terpenting baginya ia segera sampai diruang ICU tempat Alisha dirawat. Santa segera melepaskan kacamata serta maskernya setelah sampai didepan pintu ruang ICU. Beruntung hari ini kedua orang tua Alisha belum datang kesini, sejujurnya Santa belum siap jika ada orang lain yang melihat penampilannya saat ini. Saat masuk kedalam ruang ICU, hati Santa berubah sendu menatap sahabatnya yang masih terbaring lemah diatas ranjang pasien. "Hay Al, bagaimana kabar Lo sekarang..? Alisha coba Lo lihat gue hari ini terlihat sangat cantik seperti boneka santet hahaha ..
Gila gila gue kok ngerasa lucu aja lihat penampilan gue sekarang. Al Lo ingat nggak sama obrolan kita waktu itu saat kita masih kuliah semester 2, kira pernah ngobrol santai dibawah pohon rindang. Lo pernah ngomong seandainya gue mengubah penampilan gue menjadi feminim kayak cewek pada umumnya pasti gue cantik dan anggun. Hari ini gue datang dengan penampilan baru gue Al, sesuai keinginan Lo gue pakai pakek makeup pakai dress pakai high heels tapi gue enggak berani yang tinggi takut patah kaki gue kalau jatuh jadi gue pakai yang rendah saja yang penting judulnya gue berpenampilan feminim kan hehehe..." ucap Santa sambil terkekeh kecil namun kedua matanya berkaca-kaca melihat sahabatnya masih tetap tidur tenang tidak ada respon apapun hanya suara monitor yang terdengar nyaring. Santa mengangkat sebelah tangan Alisha yang tidak memakai infus lalu ia dekatkan di pipinya. "Loh mungkin enggak melihatnya Al, tapi loh pasti bisa merasakan perbedaannya. Gue pertama kali seumur hidup memakai bedak terus memakai lipstick dan rambut gue yang biasanya gue kuncir sekarang gue gerai" ucap Santa seraya menggerakkan telapak tangan Alisha meraba seluruh wajahnya dan menyentuh rambutnya yang sebahu. Air mata Santa menetes perlahan sekuat hati ia berusaha untuk tidak menangis namun nyatanya melihat orang yang ia sayangi terbaring lemah membuatnya sedih. "Apa yang harus gue lakuin biar Lo cepet bangun Al, gue pingin lihat Lo tersenyum lagi tertawa bareng seperti biasa saat saat kita bersama. Cerita sama gue apa yang buat Lo sedih dan kecewa, kalau soal Fandi Lo tenang saja gue udah hajar dia sampai hidungnya patah. Gue harap pas Lo udah bangun nanti jangan marah sama gue, karena gue udah hajar pacar kesayangan Lo itu" ketus Santa menggebu gebu mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
Kruk Kruk krok...
"Aduh nih perut pakek acara lapar segala lagi. Sorry ya Al, gue tinggal ke kantin dulu mau isi bahan tenaga sebentar nanti gue kesini lagi. Soalnya sama suster enggak boleh makan didalam ruangan" bisik Santa sebelum keluar pergi ke kantin. Tidak berapa lama setelah kepergian Santa, jari telunjuk Alisha perlahan lahan bergerak lambat. Hingga beberapa saat kemudian kedua mata indah milik Alisha terbuka secara perlahan lahan. Cahaya lampu serta cat tembok berwarna putih menyilaukan kedua matanya. Bau obat obatan disinfektan begitu menyengat ciri khas bau rumah sakit.
"Sssstt kepalaku pusing sekali, dimana aku sekarang" gumamnya pelan. Alisha melihat sekeliling ruangan hanya ada dirinya seorang diri. "Aku haus tapi enggak ada orang sama sekali" Alisha melirik kesamping tepatnya kearah nakas ada sebotol air mineral. Alisha berniat akan mengambil botol air mineral dengan sebelah tangannya. Saat ia akan berusaha bangun untuk duduk tiba-tiba expresi wajahnya berubah menegang "Kenapa rasanya berat sekali kedua kakiku, kenapa aku enggak bisa merasakan apapun pada kedua kakiku" gumam Alisha lirih jantungnya berdegup kencang ia sudah berfikir kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi mengingat dirinya kecelakaan beberapa waktu lalu. Alisha langsung menarik selimutnya secara perlahan lahan dan nampak kedua kakinya diperban sepenuhnya. Air mata Alisha langsung mengucur deras membasahi kedua pipinya. Sebelum pingsan Alisha mengingat jelas kedua kakinya terjepit mobil cukup parah "Kakiku terluka cukup parah waktu itu, apakah..tidak..
Itu tidak mungkin, kakiku tidak mungkin sampai diamputasi, enggak aku enggak mau cacat, aku enggak mau cacat seumur hidupku .. tidaaaaaakkkkk...." teriaknya histeris sehingga membuat beberapa suster yang jaga langsung mencoba menenangkan Alisha yang saat ini sudah menangis histeris seraya memukuli kedua kakinya. Bahkan jarum infus ditangannya sampai terlepas sehingga darah mengalir deras mengotori selimut dan seprei warna putih yang dipakai Alisha. Salah satu suster segera memanggil dokter dan tak lama kemudian dokter Naya datang langsung menyuruh suster menyuntikkan obat penenang sehingga tidak berapa lama kemudian Alisha tak sadarkan diri.
"Suster tolong ganti pakaian pasien serta pasang kembali jarum infusnya" perintah dokter Naya setelah memeriksa kondisi Alisha. "Baik dokter" jawab salah satu suster patuh. "Apakah tidak ada keluarga pasien yang datang hari ini sus?" tanya dokter Naya kemudian. "Ada dokter, tapi beberapa menit lalu orangnya sudah keluar" jawab suster yang berjaga. "Baiklah, tolong hubungi pihak keluarga pasien untuk segera datang kesini dan tolong sampaikan untuk segera menemui saya nanti" pesan dokter Naya sebelum keluar dari ruang ICU. "Baik dokter" jawab suster yang berjaga.