NovelToon NovelToon
AKU YANG DIPANDANG HINA

AKU YANG DIPANDANG HINA

Status: tamat
Genre:Penyelamat / CEO / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Dimata publik, kehidupan wanita bernama Ayunda sangatlah sempurna. Karir cemerlang, ekonomi mapan, paras cantik jelita dengan senyum menawan.

Namun dibalik itu semua, Ayunda memeluk lara seorang diri. Dipaksa bertanggung jawab atas dosa tidak pernah dilakukannya.

Sedari kecil, hidup Ayunda bak di neraka, diperlakukan semena-mena, haknya sebagai seorang anak dirampas.

Ketika dewasa, sekuat tenaga dia menyembunyikan identitasnya, serta melakukan hal besar demi memperjuangkan masa depan yang hampir direnggut paksa.

Rahasia apa yang coba disembunyikan oleh Ayunda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter : 11

Wanita hampir berumur lima puluh tahun dengan tinggi 152 cm itu menepuk-nepuk punggung wanita yang sering ditangisi, dan dirindukannya.

Bu Inggit ikut menangis, bahkan suaranya lebih kencang dari Ayunda sampai keluarga pasien di sebelah ranjang suaminya penasaran.

“Kamu kok kurusan, Nduk?” Ia raba punggung terasa tulangnya.

“Diet, Bu,” jawab Ayunda alakadarnya.

“Ibu ndak percaya. Mesti tekanan batin dibuat keluarga tiran itu, kan?” dengusnya masih memeluk permata hatinya.

“Gitu-gitu mereka pernah jadi majikan ibu loh,” seloroh Ayunda, lalu melerai pelukan mereka.

Wanita bertubuh sedikit gempal, terlebih tinggi badan terbilang pendek, memandangi sayang putri angkatnya. “Andai saja dulu ibu gak gegabah, pasti masih bisa terus-terusan melindungimu dari mereka, Nduk.”

“Jangan diinget lagi kenangan pahit itu, Bu. Aku aslinya seneng ibu dan bapak dipecat, jadi nggak ikut diperlakukan semena-mena.” Ayunda merangkul pundak jauh lebih pendek darinya.

“Bapak mana, Bu?” ia baru sadar ranjang paling pinggir dekat sebuah pintu, kosong.

“Mbuh wong tuek iku, angel tenan dikandani (entah, orang tua itu sulit dibilangi),” bu Inggit menggerutu menggunakan bahasa sehari-harinya kala dikampung.

“Main kartu gaplek?” tebak Ayunda, hafal kebiasaan sang ayah angkat.

“Kebangetan banget bapakmu, Nduk. Sakit tapi gak mirip pasien, malah ngluyur tekan wetan. Eh, ketemu kawan yang suka main kartu. Tadi pergi kesana sambil ndorong tiang infus. Jian, tobat ibu ngerasainnya,” adunya sambil melipat selimut di atas ranjang, lalu menyuruh Ayunda duduk di sana.

“Mungkin bapak lagi takut, Bu. Kan sebelumnya gak pernah sampai masuk rumah sakit. Jadi, dia cari kesibukan biar gak kepikiran operasi besok,” Ayunda membela ayahnya.

“Bisa jadi, Nduk. Kalau malam kurang tidur, gelisah terus. Sampai ibu marahi pas bapakmu mau ngasih tahu ke kamu,” ujarnya seraya duduk di kursi plastik.

“Harusnya biarin aja, Bu. Masa bapak masuk rumah sakit, aku tahunya dari bude tetangga rumah. Lemes badanku tadi pas dikabarin.” Ayunda menggenggam tangan mulai terdapat keriput samar.

“Owalah … gendukku muleh toh (ternyata putriku pulang)?” pria berambut hampir semuanya putih, tengah menarik tiang infus, berseru dengan sorot mata berkaca-kaca.

Ayunda bergegas turun dari ranjang, langsung saja melangkah cepat dan memeluk sayang mantan tukang kebun keluarga Guntara. “Sakit-sakit kok ngeluyur, Pak?”

“Siapa bilang bapakmu yang gagah ini sakit, Nduk. Cuma ada batu ginjal, tapi belum besar. Jadi bisa menggunakan metode tembak atau apa gitu, bapak kurang paham,” pak Basri berusaha mengingat-ingat perkataan dokter.

“Laser, Pak,” beritahu bu Inggit.

“Nah iya itu, di laser. Ndah perlu operasi besar.” Dia senang sekali saat dituntun menuju ranjang rawat inapnya.

“Tetep aja harus masuk ruangan tindakan, Pak.” Ayunda merangkul ayahnya.

“Kamu naik apa dari ibu kota kesini, Nduk? Terus gimana sama kerjaanmu?”

Ayunda lebih dulu membantu ayahnya naik ke ranjang, baru menjawab. “Naik pesawat. Ini perawatannya jalur swasta atau pakai kartu kesehatan, Pak?”

“Pakek kartu kelas dua, Nduk,” bisik bu Inggit.

“Bentar, Bu … aku tak kebagian administrasi dulu. Minta pindah kamar sama pelayanan umum saja,” ia langsung memutuskan.

Pak Basri menahan tangan Ayunda. “Jangan, Nduk. Gini udah nyaman, sayang duitnya. Toh, tiap bulan kita bayar.”

“Aku bakalan nginep bareng kalian loh, terus gak nyaman kalau kita mau ngobrol lebih banyak,” alasannya bisa diterima, lalu Ayunda keluar dari ruang rawat yang mana ada empat pasien.

“Dia ndak pernah berubah ya, Pak? Tetep penyayang, selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Anehnya, kok ya keluarga kandungnya tega sama anak gak berdosa, tidak tahu apa-apa itu,” suara bu Inggit bergetar, air matanya menetes.

Pak Basri menatap nanar pintu kamar rawat inap. Hatinya selalu sakit apabila teringat kehidupan Ayunda sedari umur empat puluh hari sampai sekarang.

.

.

Ada uang semua hal bisa jadi mudah dan cepat tertangani. Terbukti, tidak sampai satu jam lamanya, pak Basri sudah pindah ke ruang VIP.

Ayunda baru saja selesai mandi, badannya terasa lengket. Sekarang sedang disuapi oleh ibu angkatnya.

“Apa mereka masih suka menekanmu, Yunda?” tanya pak Basri serius, setengah berbaring di atas ranjang.

“Ya tentu masih, gak mungkin orang-orang jahat itu tobat, Pak. Lihat saja karir si Vinira, sinetronnya laris manis, ya mesti ada andil anak kita,” sahut bu Inggit, tangannya sibuk mencuil daging Ayam di masak kari.

“Kok ibu ndak yakin mereka beneran bakalan melepasmu nanti, Ayunda,” napasnya terdengar berat.

Ayunda menelan makanan sudah dikunyah nya, lalu minum air putih. “Ibu, bapak, tenang saja. Mau curang pun mereka, aku tetep berontak. Gak lagi nurutin setiap keinginan gak manusiawi itu.”

“Lagian perjanjian kami jelas, di atas materai, dan disaksikan pengacara kedua belah pihak. Semisal mereka mau ingkar, tinggal sebarkan ke media. Walaupun mungkin bakalan cepat diredam, setidaknya nama Guntara bakalan ternoda,” katanya yakin.

“Terus, hatiku pasti lega, hidup juga jauh lebih mudah, gak lagi terbebani dengan label Benalu. Bu, pak … aku udah pikirin matang-matang, seandainya apa yang tak harapkan gak sesuai keinginan, jalan terakhir tak kabur ke luar negeri aja,” Ayunda membeberkan rencananya.

“Ya bagus itu, Nduk. Nanti bapak tak jual sawah empat petak yang kita punya. Uangnya kamu bawa semua untuk mulai hidup baru, terus sembunyi dari mereka. Kalau masih tetep di dalam negeri ini, kemungkinan ketangkep nya besar,” pak Basri mendukung penuh rencana putrinya.

“Emas ibu pun mau tak jual semua, biar nanti bisa kamu pakai entah untuk kebutuhan sehari-hari atau buka usaha kecil-kecilan. Yang terpenting bisa terbebas dari mereka.” Bu Inggit mencuci tangannya pada mangkuk plastik berisi air dari kamar mandi.

Air mata Ayunda meluncur bebas, dia langsung bangkit dan memeluk pria mengenakan kaos longgar. “Terima kasih, Pak. Kalau nggak ada kalian, aku mesti tinggal nama.”

“Bapak yang harusnya minta maaf, Ayunda. Dulu pernah menyebabkan kamu hampir mati di hajar habis-habisan.” Dibalasnya dekapan nyaman itu.

Ayunda pun teringat kejadian sampai badannya sulit digerakkan selama seminggu.

Kala itu ….

.

.

Bersambung.

1
Afternoon Honey
Terima kasih untuk cerita bersambung ini yang sudah menemani hari hari saya....🙏💐
emma mahriana
sangat suka dengan karyanya kak cublik
apa pun itu aku pasti baca
rose🦋
yahhh tamattt, trs gmn kisah cinta yeri Iyan seila Ardo, moga ada kisah nya sendiri.
Endang Sulistia
keren
Nabila hasir
tak rela rasanya pisah dng Ayunda dan daksa apalagi arshan.
please bonusnya KK cublik
dng hubunganya Yeri dan Iyan.serta seila dan ardo🙏🙏🥰🥰🥰
Abisatya
matursuwun kak cublik atas karya"nya yg slalu menghibur,,ditunggu karya selanjutnya...buat kak cublik sehat slalu & semangat 🙏💪
Agustin
trimakasih banyak kak cublik, karya2mu sangat luar biasa, mengajarkan para wanita agar kuat dan tangguh tanpa menghilangkan kodratnya sebagai perempuan..
sukses selalu kak cublik
novel destiny
akhirnya happy ending yaaa..

jangan memelihara dendam karna akan membelenggu hatimu.. ahh terimakasih karya nya kaka.. selalu jadi motivasi buat hidup lebih baik. peluk jauh dari sini 🫂
♨ˢᶜ⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
yunda🤣🤣🤣
♨ˢᶜ⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
gk selamat udah tenggelam🤣🤣🤣
♨ˢᶜ⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
bgus nyudul sna
Andriani
Terimakasih kk... lanjutkan karya berikut ya kk
🌺WASI'AH_MISKA🍁😘
masyaallah papi daksa
Umek Zulaichah
sudah end saja kak,,,
cepat pulih n smoga seterusnya sehat2 kk,,,
aku menunggu karya2mu kak ublik,,,
Novi Ya
Suka ceritanya 😍😍
Yanti Gunawan
owh akhirnya timaacih banyak" othor syg😍😍
neni nuraeni
yaaa udah tamat aja sih pdhl msih kngen ma baby arshan,,,, semoga kak thor cpt sembuh 🤲💪💪💪😁
Marlina Prasasty
aamiin,dgn ucapan yg sama dek🙏🏻
Marlina Prasasty
terimakasih banyak dek atas karya adek yg menemaniku di kala sunyi dirumah🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Hasmawati Hasmawati
Bismillah syafakillah untuk penulis yg penuh semangat dalam berkarya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!