Dimata publik, kehidupan wanita bernama Ayunda sangatlah sempurna. Karir cemerlang, ekonomi mapan, rupa menawan dengan senyum mempesona.
Namun dibalik itu semua, Ayunda memeluk lara seorang diri. Dipaksa bertanggung jawab atas dosa tidak pernah dilakukannya.
Sedari kecil, hidup Ayunda bak di neraka, diperlakukan semena-mena, haknya sebagai seorang anak dirampas.
Ketika dewasa, sekuat tenaga dia menyembunyikan identitasnya, serta melakukan hal besar demi memperjuangkan masa depan yang hampir direnggut paksa.
Rahasia apa yang coba disembunyikan oleh Ayunda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter : 11
Wanita hampir berumur lima puluh tahun dengan tinggi 152 cm itu menepuk-nepuk punggung wanita yang sering ditangisi, dan dirindukannya.
Bu Inggit ikut menangis, bahkan suaranya lebih kencang dari Ayunda sampai keluarga pasien di sebelah ranjang suaminya penasaran.
“Kamu kok kurusan, Nduk?” Ia raba punggung terasa tulangnya.
“Diet, Bu,” jawab Ayunda alakadarnya.
“Ibu ndak percaya. Mesti tekanan batin dibuat keluarga tiran itu, kan?” dengusnya masih memeluk permata hatinya.
“Gitu-gitu mereka pernah jadi majikan ibu loh,” seloroh Ayunda, lalu melerai pelukan mereka.
Wanita bertubuh sedikit gempal, terlebih tinggi badan terbilang pendek, memandangi sayang putri angkatnya. “Andai saja dulu ibu gak gegabah, pasti masih bisa terus-terusan melindungimu dari mereka, Nduk.”
“Jangan diinget lagi kenangan pahit itu, Bu. Aku aslinya seneng ibu dan bapak dipecat, jadi nggak ikut diperlakukan semena-mena.” Ayunda merangkul pundak jauh lebih pendek darinya.
“Bapak mana, Bu?” ia baru sadar ranjang paling pinggir dekat sebuah pintu, kosong.
“Mbuh wong tuek iku, angel tenan dikandani (entah, orang tua itu sulit dibilangi),” bu Inggit menggerutu menggunakan bahasa sehari-harinya kala dikampung.
“Main kartu gaplek?” tebak Ayunda, hafal kebiasaan sang ayah angkat.
“Kebangetan banget bapakmu, Nduk. Sakit tapi gak mirip pasien, malah ngluyur tekan wetan. Eh, ketemu kawan yang suka main kartu. Tadi pergi kesana sambil ndorong tiang infus. Jian, tobat ibu ngerasainnya,” adunya sambil melipat selimut di atas ranjang, lalu menyuruh Ayunda duduk di sana.
“Mungkin bapak lagi takut, Bu. Kan sebelumnya gak pernah sampai masuk rumah sakit. Jadi, dia cari kesibukan biar gak kepikiran operasi besok,” Ayunda membela ayahnya.
“Bisa jadi, Nduk. Kalau malam kurang tidur, gelisah terus. Sampai ibu marahi pas bapakmu mau ngasih tahu ke kamu,” ujarnya seraya duduk di kursi plastik.
“Harusnya biarin aja, Bu. Masa bapak masuk rumah sakit, aku tahunya dari bude tetangga rumah. Lemes badanku tadi pas dikabarin.” Ayunda menggenggam tangan mulai terdapat keriput samar.
“Owalah … gendukku muleh toh (ternyata putriku pulang)?” pria berambut hampir semuanya putih, tengah menarik tiang infus, berseru dengan sorot mata berkaca-kaca.
Ayunda bergegas turun dari ranjang, langsung saja melangkah cepat dan memeluk sayang mantan tukang kebun keluarga Guntara. “Sakit-sakit kok ngeluyur, Pak?”
“Siapa bilang bapakmu yang gagah ini sakit, Nduk. Cuma ada batu ginjal, tapi belum besar. Jadi bisa menggunakan metode tembak atau apa gitu, bapak kurang paham,” pak Basri berusaha mengingat-ingat perkataan dokter.
“Laser, Pak,” beritahu bu Inggit.
“Nah iya itu, di laser. Ndah perlu operasi besar.” Dia senang sekali saat dituntun menuju ranjang rawat inapnya.
“Tetep aja harus masuk ruangan tindakan, Pak.” Ayunda merangkul ayahnya.
“Kamu naik apa dari ibu kota kesini, Nduk? Terus gimana sama kerjaanmu?”
Ayunda lebih dulu membantu ayahnya naik ke ranjang, baru menjawab. “Naik pesawat. Ini perawatannya jalur swasta atau pakai kartu kesehatan, Pak?”
“Pakek kartu kelas dua, Nduk,” bisik bu Inggit.
“Bentar, Bu … aku tak kebagian administrasi dulu. Minta pindah kamar sama pelayanan umum saja,” ia langsung memutuskan.
Pak Basri menahan tangan Ayunda. “Jangan, Nduk. Gini udah nyaman, sayang duitnya. Toh, tiap bulan kita bayar.”
“Aku bakalan nginep bareng kalian loh, terus gak nyaman kalau kita mau ngobrol lebih banyak,” alasannya bisa diterima, lalu Ayunda keluar dari ruang rawat yang mana ada empat pasien.
“Dia ndak pernah berubah ya, Pak? Tetep penyayang, selalu memberikan yang terbaik untuk kita. Anehnya, kok ya keluarga kandungnya tega sama anak gak berdosa, tidak tahu apa-apa itu,” suara bu Inggit bergetar, air matanya menetes.
Pak Basri menatap nanar pintu kamar rawat inap. Hatinya selalu sakit apabila teringat kehidupan Ayunda sedari umur empat puluh hari sampai sekarang.
.
.
Ada uang semua hal bisa jadi mudah dan cepat tertangani. Terbukti, tidak sampai satu jam lamanya, pak Basri sudah pindah ke ruang VIP.
Ayunda baru saja selesai mandi, badannya terasa lengket. Sekarang sedang disuapi oleh ibu angkatnya.
“Apa mereka masih suka menekanmu, Yunda?” tanya pak Basri serius, setengah berbaring di atas ranjang.
“Ya tentu masih, gak mungkin orang-orang jahat itu tobat, Pak. Lihat saja karir si Vinira, sinetronnya laris manis, ya mesti ada andil anak kita,” sahut bu Inggit, tangannya sibuk mencuil daging Ayam di masak kari.
“Kok ibu ndak yakin mereka beneran bakalan melepasmu nanti, Ayunda,” napasnya terdengar berat.
Ayunda menelan makanan sudah dikunyah nya, lalu minum air putih. “Ibu, bapak, tenang saja. Mau curang pun mereka, aku tetep berontak. Gak lagi nurutin setiap keinginan gak manusiawi itu.”
“Lagian perjanjian kami jelas, di atas materai, dan disaksikan pengacara kedua belah pihak. Semisal mereka mau ingkar, tinggal sebarkan ke media. Walaupun mungkin bakalan cepat diredam, setidaknya nama Guntara bakalan ternoda,” katanya yakin.
“Terus, hatiku pasti lega, hidup juga jauh lebih mudah, gak lagi terbebani dengan label Benalu. Bu, pak … aku udah pikirin matang-matang, seandainya apa yang tak harapkan gak sesuai keinginan, jalan terakhir tak kabur ke luar negeri aja,” Ayunda membeberkan rencananya.
“Ya bagus itu, Nduk. Nanti bapak tak jual sawah empat petak yang kita punya. Uangnya kamu bawa semua untuk mulai hidup baru, terus sembunyi dari mereka. Kalau masih tetep di dalam negeri ini, kemungkinan ketangkep nya besar,” pak Basri mendukung penuh rencana putrinya.
“Emas ibu pun mau tak jual semua, biar nanti bisa kamu pakai entah untuk kebutuhan sehari-hari atau buka usaha kecil-kecilan. Yang terpenting bisa terbebas dari mereka.” Bu Inggit mencuci tangannya pada mangkuk plastik berisi air dari kamar mandi.
Air mata Ayunda meluncur bebas, dia langsung bangkit dan memeluk pria mengenakan kaos longgar. “Terima kasih, Pak. Kalau nggak ada kalian, aku mesti tinggal nama.”
“Bapak yang harusnya minta maaf, Ayunda. Dulu pernah menyebabkan kamu hampir mati di hajar habis-habisan.” Dibalasnya dekapan nyaman itu.
Ayunda pun teringat kejadian sampai badannya sulit digerakkan selama seminggu.
Kala itu ….
.
.
Bersambung.
jangan sampai kepulangan orang tua daksa untuk memaksa pernikahan sapi sama daksa. awas aja kalau kontrak belum selesai dah nikah lagi aku potong itu burung mu😤