kisah pemuda yang terobsesi cinta
memutuskan untuk mengambil jalan lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Yang sama
BAB 14: JEJAK YANG SAMA
Klik.
Sambungan telepon terputus seketika.
Pikiran Agus langsung berkecamuk, saling bertabrakan di dalam kepalanya yang terasa berat. Ia menatap layar ponsel yang perlahan menggelap, lalu pandangannya jatuh ke karpet ruang tengah. Di sana, tubuh Indra terbujur kaku. Napasnya makin berat dan berdesis menyakitkan, persis orang yang perlahan kehilangan nyawanya.
Dilema berat seketika mencengkeram dadanya. Agus dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama sulit. Di satu sisi, nuraninya berteriak keras—mana mungkin ia tega meninggalkan sahabat karibnya sendirian dalam kondisi mengenaskan seperti mayat hidup? Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi saat ia pergi?
Namun di sisi lain, janji pada Ibu Mira sudah terucap. Firasat buruk dan rasa penasarannya memacu hati; ia yakin, kunci untuk menyelamatkan Indra justru tersembunyi di rumah itu. Misteri mengapa mereka berdua bernasib sama persis harus dipecahkan sekarang, sebelum terlambat.
Agus meremas rambutnya hingga terasa sakit. Waktu terasa begitu berharga, namun seolah menguap sia-sia di ruangan pengap yang kian pekat dengan bau anyir dan busuk itu.
"Maafin aku, Ndra..." bisiknya lirih, matanya berkaca menatap sahabatnya dengan rasa bersalah yang menusuk ulu hati. "Aku tak punya pilihan lain. Aku harus ke rumah Mira—ini satu-satunya cara untuk menyelamatkanmu juga."
Dengan berat hati dan langkah yang terasa seberat timah, Agus berbalik dan memantapkan tekadnya.
Ia memacu motor membelah jalanan, pikirannya tak pernah tenang sejenak pun. Sesampainya di depan rumah Mira, suasana terasa mencekam—sangat sunyi, seolah tempat itu sengaja memisahkan diri dari keramaian dunia luar.
Baru saja ia mematikan mesin dan melangkah turun, pintu kayu itu terbuka lebih dulu. Seorang wanita paruh baya tampak di ambang pintu; matanya sembap, wajahnya pucat dan lelah seolah tak pernah terlelap sedikit pun. Itu Ibu Mira.
"Nak Agus?" tanyanya berbisik pelan, seakan takut suaranya terdengar oleh sesuatu yang tak kasat mata di sekitar rumah.
"I-iya, Tante," jawab Agus sopan, suaranya sedikit bergetar menahan gugup.
"Syukurlah... terima kasih sudah datang. Ayo cepat masuk, jangan berdiri di luar terlalu lama," desak Ibu Mira setengah berbisik, lalu langsung menggenggam tangan Agus erat-erat—seolah takut pemuda itu akan hilang begitu saja.
Begitu melangkah melewati pintu, napas Agus tertahan. Udara di dalam ruang tamu yang temaram itu terasa dingin dan berat, menekan dadanya. Ia tertegun melihat keluarga Mira duduk melingkar di atas lantai tegel. Wajah mereka tegang dan penuh cemas, semua menatap satu titik di tengah ruangan.
Di sana, di atas kasur tipis yang digelar, terbaring Mira. Gadis yang beberapa bulan lalu ceria dan penuh semangat, kini tampak ringkih, pucat, dan menyedihkan—dikelilingi tatapan putus asa orang-orang yang menyayanginya.
Darah Agus terasa membeku di pembuluh nadinya saat pandangannya tertuju sepenuhnya pada Mira. Kulit gadis itu pucat pasi, hampir seputih kain kafan, dengan urat-urat kehitaman yang merambat jelas dari leher hingga ke pelipisnya. Gejala itu persis sama dengan yang kini mulai muncul di tubuh Indra. Napas Mira tersenggal-senggal pendek, diselingi erangan pelan yang membuat bulu kuduk Agus meremang.
Mencoba memecah keheningan yang menyesakkan itu, Agus memberanikan diri melangkah maju.
"Assalamu'alaikum," ucapnya sopan.
Sontak, semua orang yang berada di ruangan itu menoleh serempak ke arahnya. Suasana yang tadinya penuh keprihatinan mendadak berubah menjadi tatapan curiga dan penuh amarah.
"Jadi, kamu yang bernama Indra?! Kamu orang yang sudah membuat keponakan saya jadi begini, hah?!"
Seorang pria berbadan besar dan tinggi—Omnya Mira—berdiri dengan rahang mengeras. Tanpa peringatan, ia melangkah lebar dan langsung melayangkan tinju ke arah wajah Agus.
Sontak semua anggota keluarga menjerit kaget.
Wusss!
Agus refleks memejamkan mata dan memundurkan kepalanya. Embusan angin dari kepalan tangan besar itu terasa begitu dekat dengan hidungnya. Ia nyaris terkena bogeman itu jika saja Ibu Mira tidak bertindak cepat.
"Bukan, Om! Bukan! Ini Agus, temannya Mira!" seru Ibu Mira cepat, lalu langsung melindungi tubuh Agus dan mendorong saudaranya itu agar menjauh.
Napas sang Paman masih memburu. Perlahan ia menurunkan tangannya, namun sepasang matanya yang merah masih menatap tajam, seolah sedang menelanjangi setiap sudut wajah Agus untuk mencari kebohongan.
"Kalau bukan Indra, terus apa tujuanmu datang ke sini? Mau lihat ponakanku mati, atau apa yang terjadi padanya masih belum cukup buat kamu?!" bentaknya dengan suara berat yang menggema di ruangan, membuat nyali Agus kian menciut.
Agus sempat tercekat, keringat dingin mulai membasahi punggung jaketnya. Di bawah tatapan yang begitu mengintimidasi, ia merasa seperti terdakwa yang sedang diadili.
"Bu-bukan begitu, Om..." jawabnya, berusaha menstabilkan suara yang gemetar. Ia melirik sekilas ke arah Mira yang masih mengerang pelan, lalu kembali menatap pria besar di depannya. "Saya ke sini karena dipanggil Tante. Saya memang teman Mira, dan... saya juga teman Indra."
Mendengar nama itu disebut lagi, sang Paman mendengus kasar dan kembali mengepalkan tangan di sisi tubuhnya.
"Oalah, jadi kamu temannya si bajingan itu?" tuduhnya dengan nada penuh kebencian. "Berarti kamu tahu, kan, apa yang sudah diperbuat temanmu itu sampai Mira jadi mayat hidup begini?!"
Bersambung...
makasih atas koreksinya, ini sangat membantu buat kedepannya.🙏
mampir y ke novelku 😁