NovelToon NovelToon
Darah Di Bukit Manoreh

Darah Di Bukit Manoreh

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Anak Genius
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIDAK PERNAH KEMBALI

Srikandi sudah menuang arang di tempatnya. Seluruh jemarinya bahkan sebagian wajahnya yang ayu sudah menghitam karena arang.

Srikandi mengusap pipinya dengan punggung tangannya. Sekali lagi arang menoreh pipinya yang halus.

"Arang sudah penuh, Ayah tak perlu letih lagi harus mencari kayu bakar!" Gumamnya senang.

Srikandi pergi ke hilir sungai kali Ireng untuk mandi. Tak ada orang yang berani ke tempat itu.

Air sungai mengalir deras menerjang bebatuan kali berukuran besar. Tak jauh dari hilir sungai, ada air terjun yang tinggi dengan air yang sangat deras, begitu derasnya sampai airnya terdengar seperti jutaan anak panah melesat menembus bumi.

Belum lagi sungai itu di kelilingi batu-batuan bercadas yang tajam. Tak seorang pun berani masuk apalagi ingin mengintip Srikandi mandi di sana.

Selesai membersihkan diri, Srikandi melilitkan tubuhnya dengan kain batik. Terlihat kulitnya yang putih tanpa cela, rambut hitamnya tebal hingga menutupi punggungnya.

Lalu dengan gerakan ringan, Srikandi melompati bebatuan cadas dengan mudah. Seakan hafal batu-batu yang tersusun begitu menyeramkan itu. Salah berpijak saja, maka dipastikan mayatnya tak akan pernah ditemukan.

Tubuh dan rambut Srikandi nyaris kering akibat perjalanan meringankan tubuhnya. Tapi matanya gusar menatap wanita yang sangat ia kenal.

Wanita itu berdiri gelisah di depan pintu biliknya.

"Bibi?" gumamnya lalu memelankan langkahnya.

"Angin apa yang membawamu ke sini Bibi Rukmi?" tanyanya saat sudah di dekat wanita itu.

"Jaga bicaramu, Cah ayu. Aku masih adik ayahmu!" peringat Rukmi sinis menatap Srikandi.

Srikandi tak mau ribut dengan adik ayahnya itu. Ia juga tak pernah diajari sang ayah berlaku kurang ajar pada semua orang terutama yang lebih tua.

"Masuklah Bi," suruh Srikandi ketika membuka pintu.

Rukmi memakai kebaya berbahan beludru warna hitam. Ada sulaman benang emas berbentuk bunga di pinggiran kain kebayanya. Ia juga memakai kain batik berwarna tembaga yang menutupi pinggang hingga mata kakinya.

Bunyi selop terdengar ketika melangkah di ruangan itu. Rukmi langsung duduk di salah satu perabot di rumah itu.

Rukmi duduk begitu anggun. Kakinya masih memakai alas yang terbuat dari beludru, wanita itu mengangkat kaki seakan memamerkan apa yang ia kenakan.

"Katakanlah Bi," ujar Srikandi lalu menuang air dari kendi ke gelas tanah liat lalu ia berikan pada Rukmi, bibinya.

"Aku dengar ayahmu sudah pulang!" Sahut Rukmi ketus tapi ia menerima gelas dari tangan keponakannya dan menghabiskan isinya dengan sekali tenggak.

Tenggorokannya kering, menuju rumah kakaknya itu. Ia harus mengerahkan seluruh tenaganya. Walau ia perempuan biasa, tapi ia juga diajari ilmu beladiri walau tak sehebat Srikandi, keponakannya.

"Lalu?" Tanya Srikandi bodoh.

"Aku minta bagian dari upeti ...."

Prang! Kendi di tangan Srikandi jatuh ke lantai semen dengan suara keras. Rukmi seakan tercabut lidahnya mendengar bunyi keras itu, ia tak mampu bersuara.

"Bibi ... Ayahku saja belum pulang dari istana. Tapi kamu malah ingin minta jatah upeti?" Srikandi menatap tajam adik ayahnya itu.

"Itu hakku!" teriak Rukmi sambil berdiri gusar.

"Keluar dari sini sebelum aku marah Bi!" usir Srikandi menahan amarah.

Rukmi yang melihat wajah keponakannya memerah memilih menunda keinginannya.

"Akan aku adukan perangaimu pada ayahmu!" teriaknya kesal lalu pergi dari sana dengan langkah tergesa.

Srikandi mengatur nafasnya untuk mengendalikan diri. Kepalanya sedikit berdenyut akibat perilaku bibinya itu.

"Ayah, sekalinya kau memiliki keluarga. Sifatnya tak jauh dari kera yang tamak!" gumamnya pelan, ia pun menghela nafas panjang.

Selesai memakai pakaian pangsi warna biru, Srikandi mengikat pinggangnya agar bajunya tetap rapi. Ia menyisir rambut panjangnya dengan serit, lalu menggelung rambutnya ke atas.

Setelah merasa pantas, ia pun keluar rumahnya.

"Aku harus menemui Ayah. Sebelum Sri Baginda menyuruhnya kembali ke medan laga!" gumamnya dalam hati lalu mengambil caping dari anyaman bambu dan ia kenakan di kepalanya.

Pedang Ki Bodas Sekti terselip di pinggangnya yang ramping. Tubuhnya turun ke tanah dengan ringan. Srikandi mengatur nafas dan menyeka titik keringat di pelipisnya.

Dua gapura besar menjulang menyambut kedatangannya.

Dua prajurit berdiri tegak di depan gerbang dengan tombak tersilang, menghalangi siapa pun yang hendak memasuki lingkungan istana.

"Katakan aku Srikandi. Putri dari Punggawa Ki Abda Sedah Nirah datang untuk menemui ayahku!" seru Srikandi lantang.

"Maaf Nisanak, tak ada yang boleh masuk kecuali penghuni istana. Jika memang ayahmu adalah seorang punggawa. Mestinya kamu bawa plakat pengenal!" seru salah satu prajurit penjaga.

Srikandi berdecak kesal, sang ayah memang tak memberinya plakat itu. Ia menatap jalur menuju istana Kerajaan Kali Ireng.

Ia melihat beberapa prajurit mondar-mandir begitu juga para among istana. Berharap bisa melihat sang ayah agar ia bisa berteriak memanggilnya, lalu keduanya bisa melepas rindu.

Tapi sudah lebih dari sekian waktu, Ki Abda tak pernah keluar dari pintu istana.

"Apa para prajurit sudah pulang dari peperangan?" tanyanya.

"Jangan banyak tanya. Pergi!" usir salah satu prajurit penjaga dengan mendorong tombaknya menyingkirkan tubuh Srikandi menjauh.

Gadis itu harus mundur, tentu ia tak mau sang ayah jadi dihukum akibat ia terlalu keras kepala ingin masuk.

Srikandi menelan kekesalannya bulat-bulat. Ia mengepalkan tangan hingga buku-bukunya memutih, tetapi ia sadar bahwa membuat keributan di gerbang utama hanya akan mempermalukan nama besar ayahnya.

Dirinya bukan gadis sembarangan yang mengandalkan otot semata; didikan Ki Abda telah membentuknya menjadi sosok yang penuh perhitungan.

"Baiklah. Aku pergi," sahut Srikandi dingin.

Matanya sempat melirik ke arah puncak benteng istana sebelum ia membalikkan badan dan berjalan menjauh dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Srikandi memilih pergi menuju balai desa, di sana ada adu ketangkasan. Bukan sang ayah tak memberinya keping perak atau emas untuk membeli apapun yang ia butuhkan. Tetapi, gadis itu hanya ingin menajamkan keahliannya.

Mengikuti adu ketangkasan adalah salah satu untuk mengasah seluruh kekuatannya.

Tak butuh waktu lama ia berjalan ke balai desa. Di sana sudah banyak warga berkumpul, para laki-laki bersorak dan mulai bertaruh. Para gadis bersolek, memajang diri agar dilirik para pendekar sakti.

Srikandi menyusup di antara para ibu-ibu yang juga ikut memeriahkan adu ketangkasan itu.

Sorak-sorai warga menggema memenuhi balai desa. Debu beterbangan setiap kali dua lelaki bertubuh kekar saling beradu pukulan di arena tanah yang dibatasi tali tambang.

“Pukul! Pukul dia!”

“Hajar Ki Wentar!”

Teriakan para penjudi kampung bercampur suara gamelan kecil yang dipukul bertalu-talu.

Srikandi berdiri diam di balik kerumunan ibu-ibu. Caping bambunya sedikit diturunkan menutupi wajah agar tak terlalu menarik perhatian.

Matanya menyapu arena.

Beberapa pendekar desa tampak memamerkan ilmu kanuragan. Ada yang mampu mematahkan batang pisang dengan siku, ada pula yang sanggup mengangkat batu besar di pundaknya.

Namun bagi Srikandi, semua itu biasa saja.

“Gerakan kakinya terlalu berat…,” gumamnya pelan saat melihat seorang lelaki bertarung.

“Kalau di medan perang, dia pasti sudah mati terkena tombak.”

“Eh, Cah ayu! Kau bicara apa?” tanya seorang ibu di sampingnya heran.

Srikandi buru-buru tersenyum kecil.

“Tidak apa-apa, Bi.”

Tiba-tiba suara kentongan dipukul keras tiga kali.

Tong! Tong! Tong!

Seluruh arena mendadak hening.

Seorang lelaki tua berjubah lurik naik ke panggung kayu kecil di tengah balai desa.

“Hari ini,” serunya lantang.

“Kita kedatangan pendekar muda dari Kadipaten Timur!”

Sorak warga langsung pecah.

Dari balik kerumunan muncul seorang pemuda tinggi memakai pakaian pangsi hitam. Rambutnya diikat ke belakang dengan kain merah, sementara sebilah pedang panjang tergantung di pinggangnya.

Langkahnya tenang.

Namun senyum di bibirnya terlalu tipis, seolah memandang rendah semua orang di sana.

“Siapa dia?” bisik seorang gadis.

“Itu murid Ki Prabeksa!” jawab warga lain kagum.

“Katanya belum pernah kalah!”

Pemuda itu masuk ke arena lalu menyilangkan tangan di dada.

“Aku Doko Wangsatama,” ujarnya lantang.

“Siapa pun yang mampu menjatuhkanku akan mendapat tiga keping emas!”

Para warga langsung riuh, mereka berbisik keras.

“Tiga keping emas?!”

“Itu banyak sekali!”

Sementara Srikandi justru memicingkan mata.

“Kangmas Doko?” gumamnya pelan.

Ia langsung mengenali nama itu. Putra Bibi Rukmi.

Pemuda kemayu yang paling sering membual soal ilmu pedang meski lebih banyak menghabiskan waktu membaca syair cinta dibanding berlatih.

Dan benar saja—

Doko mengibaskan rambutnya lebih dulu sebelum mencabut pedang.

Beberapa gadis langsung tersipu melihat wajahnya yang memang tampan dan terlalu halus untuk ukuran lelaki desa.

“Mas Doko tampan sekali…,” bisik salah satu gadis.

“Seperti bangsawan.”

Srikandi hampir tersedak mendengarnya.

“Itu manusia atau merak…” gerutunya pelan.

Belum sempat ia mengalihkan pandangan, tiba-tiba Doko menoleh tepat ke arah kerumunan ibu-ibu.

Tatapan mereka bertemu.

Doko membeku sesaat. Matanya melebar.

“Sri… kandi?” gumamnya pelan.

Gadis itu hanya menaikkan sedikit capingnya dan menatap pria wajah halus di sana. Sementara para prajurit kembali bersiap, mereka akan kembali bertempur ke medan perang.

"Aku mau lawan dia!" ujar Srikandi merubah suara seperti laki-laki.

Doko menelan ludah.

"Hei ... Para prajurit kembali berperang!" seru seorang bocah memecah kerumunan.

"Apa?" Srikandi yang belum bertemu ayahnya, mengurungkan niat melawan Doko.

Dengan sekali lompatan, tubuh gadis itu melayang meninggalkan balai kota. Mengejar para prajurit yang sudah bergerak menuju bukit Menoreh.

bersambung.

Ah...

next?

1
Benny Badaruddin
keren
Deyuni12
hiiii
nyi padan serem akh
lanjut
Anita Barus
windu...windu. berharalmemanasi Ki abda Ter nyata kiabda malah senang dan memberi selamat PD mempelai 🤣🤣🤣🤣🤣
Anita Barus
raja pasti akan menuruti.apa yg di mau Ki abda .
Anita Barus
maka nya dia selalu saja mengganggu Srikandi weleh. weleh
Anita Barus
oh ternyata windu sejak dulu SDH jatuh cinta PD Ki abda namun di tolak .cinta bertepuk sebelah tgn to .
Anita Barus
ada2saja si windu ini masak sama keponakan suami nya sendiri cemburu kenapa pula sambil nangis nyebut ayahanda Srikandi dsr w😄Ong edan
Anita Barus
berarti ki abda sengaja menumbal kan diri nya utk melindungi kerajaan
vania larasati
lanjut
Deyuni12
lanjutkan
Deyuni12
seruuuuu
Deyuni12
lanjutkan
vania larasati
lanjut
Eni Istiarsi
Bibi Rukmi antara kesambet atau dapet hidayah😄
vania larasati
lanjut
Deyuni12
lanjut kan
vania larasati
lanjut
Anita Barus
sesuai dgn namanya srikandi.dia pasti menemukan penghianat pengecut trsbut
Anita Barus
akan kah Srikandi menuntut balas .lanjut Thor
Anita Barus
hati Srikandi pasti hancur saat mengetahui ayah nya gugur .dan tau pasti ada penghianat didlm pasukan tersbt .apakah penghianat itu Sasongko .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!