NovelToon NovelToon
Blazing Asura: The Untamed God

Blazing Asura: The Untamed God

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: fandy syahputra

Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Chen Yang, Festival Lampion, dan Bayangan di Balik Cahaya

Langkah kaki Yu Fan di lorong menuju ruangan Dekan malam itu terdengar berbeda dari biasanya.

Bukan karena lebih berat—melainkan karena ada ritme tambahan yang bukan miliknya. Napas yang sangat teratur dari dada seseorang yang sedang tidur sangat nyenyak, terdengar sangat pelan namun sangat hadir di keheningan lorong yang sepi. Di dadanya, anak perempuan itu masih terbungkus kain yang sama yang ia gunakan di reruntuhan—kain yang sekarang mengandung kehangatan yang sudah sangat terasa setelah beberapa jam.

Pintu ruangan Dekan terbuka sebelum ia sempat mengetuk.

Wakil Dekan Ruan Jing berdiri di balik pintu dengan cara seseorang yang sudah tahu ada yang datang jauh sebelum langkah kaki terdengar. Di belakangnya, Dekan Shen Mingzhi duduk di meja kerjanya di depan gulungan-gulungan yang berserakan—gulungan yang bukan dari pekerjaan rutin, ukurannya dan cara penyimpanannya menunjukkan dokumen yang sudah sangat lama tidak dibuka dan yang dibuka hari ini dengan alasan yang spesifik.

Saat mata keduanya jatuh bukan pada Yu Fan melainkan pada sosok kecil di dadanya, sesuatu di wajah mereka berdua berubah dengan cara yang sangat tidak biasa untuk dua orang yang sudah sangat terlatih untuk tidak menunjukkan lebih dari yang diperlukan.

Dekan berdiri dari kursinya. Sangat pelan. Dengan cara seseorang yang mendekati sesuatu yang sangat rapuh atau sangat penting—atau keduanya sekaligus.

"Yu Fan," ucapnya. Suaranya tidak mengandung nada pertanyaan yang biasa ada saat menyebut nama seseorang untuk memulai percakapan. Mengandung sesuatu lain. "Siapa yang kau bawa?"

Yu Fan meletakkan anak itu di sofa di sudut ruangan—sofa yang biasanya digunakan untuk tamu kehormatan dan yang kain pelapisnya dari bahan yang jauh lebih lembut dari yang tersedia di tempat lain di akademi ini. Ia melakukannya dengan gerakan yang sudah sangat hati-hati dari berjam-jam latihan mendadak dalam membawa seseorang yang tidur dengan cara yang tidak mengganggu tidur itu.

Lalu ia menceritakan semuanya.

Dari segel yang terbuka karena darahnya. Akar-akar yang bergerak. Perpustakaan yang bisa ia baca meski tulisannya bukan dari sistem alfabet mana pun yang ia kenal. Ular Roh Hijau yang ia lawan. Dan bongkahan giok emas yang ada di balik akar-akar itu.

Saat ia menyebut giok emas, Dekan dan Wakil Dekan bertukar tatapan—sangat singkat, sangat cepat, cara dua orang yang sudah sangat lama bekerja bersama mengkomunikasikan sesuatu tanpa perlu kata-kata.

Dekan mendekati sofa di mana anak itu berbaring. Berlutut—gerakan yang tidak biasa untuk seseorang dengan martabatnya namun yang malam ini terasa sangat natural. Tangannya yang keriput dan sudah sangat tua direntangkan ke arah anak itu tanpa menyentuh, membiarkan Qi-nya merasakan aura yang ada di sekitar tubuh kecil itu dari jarak yang aman.

Wajahnya berubah.

Bukan menjadi terkejut—menjadi sesuatu yang lebih dalam dari terkejut. Pengakuan. Dari seseorang yang sudah membaca tentang sesuatu selama sangat lama dan yang baru saja menemukan bahwa apa yang dibacanya bukan mitos.

"Ini luar biasa," ucapnya akhirnya—sangat pelan, seperti berbicara kepada dirinya sendiri lebih dari kepada siapa pun di ruangan itu. "Yu Fan..." ia berdiri, matanya tetap di wajah anak yang tidur itu. "Jika dugaanku benar—dan aku hampir yakin itu benar—anak ini adalah jiwa kuno yang sudah menjalani proses reinkarnasi energi yang sangat langka."

"Reinkarnasi energi?" Yu Fan tidak familiar dengan istilah itu dalam konteks yang digunakannya Dekan.

"Tubuh aslinya mungkin hancur atau mati dalam konflik yang terjadi jauh sebelum kita ada." Dekan berbalik dari sofa, melangkah ke mejanya, mengambil satu gulungan yang ada di tumpukan yang sudah dibuka dan meletakkannya di hadapan Yu Fan. "Seseorang—entah siapa—mengambil sisa jiwanya dan menempatkannya di titik energi yang sangat murni. Di lembah itu. Selama waktu yang sangat panjang, jiwa itu menyerap energi dari lingkungannya dan secara perlahan membangun kembali keberadaan fisiknya. Bukan menjadi siapa yang dulu—menjadi sesuatu yang baru. Eksistensi baru yang lahir dari benih yang sangat lama."

"Itu mengapa ingatannya tidak ada," sambung Wakil Dekan dari posisinya yang masih di dekat pintu. "Jiwa yang sudah terlalu lama terpisah dari ingatan tidak membawa ingatan itu ke dalam bentuk baru. Yang dibawa hanya inti—intisari dari siapa yang pernah ada, tanpa detail tentang siapa itu."

Yu Fan menatap anak yang tidur di sofa. Tidur yang sangat dalam dengan napas yang sangat teratur.

Seperti dirinya sendiri. Bangun tanpa ingatan di puncak gunung mati lima puluh ribu tahun setelah—

Ia menyimpan pemikiran itu.

"Yang lebih mengherankan bagiku," ucap Wakil Dekan, dan kali ini nada suaranya berubah ke sesuatu yang jauh lebih serius—nada yang menunjukkan seseorang yang sudah memikirkan sesuatu selama beberapa jam dan yang baru sekarang memutuskan untuk mengucapkannya. Matanya menatap Yu Fan langsung. "Adalah kau, Yu Fan. Kau pergi selama tiga hari dan kembali dengan ranah yang sudah melompat ke Tingkat 4 Tahap Akhir." Ia mengelus janggutnya. "Kecepatan seperti itu—bahkan dengan pil terbaik yang ada, bahkan dengan kondisi kultivasi yang sempurna—tidak seharusnya bisa terjadi dalam tiga hari."

Yu Fan tidak langsung menjawab. Di dalam kepalanya, kilasan dari bawah tanah—taman persik, pria berbaju hitam yang berdiri di antara sosok-sosok bercahaya, cara dua energi di dalam dirinya akhirnya menemukan ritme bersama.

"Aku meditasi di bawah pohon spiritual itu," ucapnya. "Ada sesuatu tentang energi di tempat itu yang mengkatalisis sesuatu di dalam diri saya yang sudah lama menunggu."

Wakil Dekan mengangguk—cara mengangguk yang menunjukkan bahwa ini bukan penjelasan yang sepenuhnya memuaskannya namun yang ia pilih untuk tidak mengejar lebih jauh saat ini.

Kemudian, anak itu menggeliat.

Proses bangun anak itu berlangsung dalam tahapan yang sangat lucu untuk disaksikan—pertama jari-jarinya yang melipat dan mengembang pelan-pelan, kemudian hidungnya berkerut sangat kecil seperti seseorang yang mencium sesuatu yang tidak ia antisipasi, kemudian seluruh tubuhnya berputar setengah ke kanan sebelum akhirnya matanya terbuka.

Mata yang berwarna—Yu Fan baru melihatnya sekarang karena selama perjalanan pulang anak itu selalu tertutup matanya—berwarna abu-abu sangat muda yang hampir tidak bisa dibedakan dari putih di pencahayaan redup, dengan cara yang mengingatkan pada langit sebelum fajar, sebelum warna memutuskan untuk ada.

Mata itu menatap langit-langit ruangan yang asing dengan ekspresi yang bergerak melalui beberapa fase dalam waktu singkat—orientasi, bingung, dan kemudian sesuatu yang lebih dalam dari keduanya, sesuatu seperti kesadaran bahwa ketidakfamiliaran ini bukan sementara melainkan kondisi dasarnya.

Ia terduduk. Tangannya gemetar sangat kecil—bukan ketakutan yang besar, sesuatu yang lebih halus. Ketidakpastian seseorang yang tidak punya referensi tentang di mana ia seharusnya berada karena tidak punya ingatan tentang sebelumnya.

Matanya bergerak ke sekeliling ruangan—ke Wakil Dekan yang berdiri sangat tegak dengan janggut panjangnya, ke Dekan yang berdiri dengan ekspresi yang sudah berubah dari serius ke sesuatu yang lain yang belum terdefinisi, ke dinding-dinding ruangan yang penuh dengan gulungan dan buku.

Dan kemudian matanya menemukan Yu Fan.

Berhenti.

Ekspresi di wajah kecil itu berubah—dari ketidakpastian ke sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa disebut pengenalan karena tidak ada memori yang mendukungnya, namun yang terasa seperti sesuatu yang lebih dalam dari memori. Seperti nada yang tidak bisa kau ingat pernah mendengarnya namun yang saat didengar lagi terasa seperti rumah.

"Kakak," ucapnya. Suaranya kecil dan sangat jernih, seperti suara air yang mengalir di batu yang sangat bersih. "Wajahmu... aku merasa pernah melihatmu di tempat yang sangat jauh. Tapi aku tidak ingat."

Yu Fan duduk di tepi sofa di sampingnya—jarak yang tidak terlalu dekat untuk menakutkan namun tidak terlalu jauh untuk terasa dingin. "Kau sudah tidur cukup lama," ucapnya. Suaranya mengandung kualitas yang berbeda dari cara ia biasanya berbicara kepada orang dewasa—lebih pelan, lebih langsung, tanpa lapisan yang tidak diperlukan.

"Aku lapar," kata anak itu kemudian—dengan cara yang sangat polos dan sangat langsung yang membuat sesuatu di dalam suasana ruangan yang tadi sangat berat menjadi sedikit lebih ringan.

Dan di sinilah, pemandangan yang tidak akan pernah dilupakan Yu Fan selama hidupnya terjadi.

Dekan Shen Mingzhi—pria yang hari-hari biasanya mengisi koridor akademi dengan wibawa yang membuat murid-murid muda berjalan lebih lurus saat ia lewat—merogoh sakunya dengan cara yang terlihat sangat berbeda dari semua gerakan rapi dan terukur yang biasanya ia miliki. Dari saku jubah resminya yang berwarna biru langit itu, tangannya muncul kembali dengan beberapa permen berwarna-warni dan dua buah kue kecil yang aromanya memenuhi ruangan dalam cara yang tidak seharusnya mungkin untuk makanan yang tersimpan di dalam saku jubah.

"Sini, Nak," ucap Dekan—dengan nada suara yang Yu Fan tidak pernah dengar sebelumnya. Bukan suara Dekan kepada murid. Bukan suara pemimpin kepada bawahan. Suara seseorang yang berubah cara berbicaranya karena makhluk yang ada di depannya membutuhkan cara bicara yang berbeda itu.

Wakil Dekan Ruan Jing—yang selama dua tahun Yu Fan mengenalnya tidak pernah mengubah ekspresi dasarnya yang tajam dan selalu menilai—bergerak ke arah meja kecil di sudut ruangan dan mengambil cangkir teh yang ternyata sudah berisi teh yang hangat dan manis dari sebelumnya.

"Minumlah ini juga," ucapnya, menyerahkan cangkir itu ke tangan anak kecil yang menerimanya dengan kedua tangannya dengan cara yang sangat sopan namun yang jelas merupakan sopan santun yang berasal dari insting dasar, bukan dari aturan yang dipelajari.

Anak itu menggigit permen pertama dengan cara yang sangat berhati-hati—kemudian matanya terbuka lebih lebar dari sebelumnya saat rasa manisnya sampai.

Ia makan permen kedua, kemudian kue pertama, dengan antusias yang sangat menggemaskan dari seseorang yang baru saja bangun dari tidur yang sangat panjang dan yang menemukan bahwa dunia yang baru dimasukinya mengandung makanan manis.

Dekan dan Wakil Dekan—dua pria yang sudah sangat lama memimpin institusi tertua di benua ini—berdiri menonton proses ini dengan ekspresi yang, jika diperlihatkan ke murid-murid akademi, akan menghasilkan kebingungan yang sangat mendalam. Keduanya tersenyum. Bukan senyum formal yang biasanya ada di wajah mereka di acara-acara resmi. Senyum seseorang yang menyaksikan sesuatu yang sangat kecil dan sangat sederhana dan yang menemukan bahwa sesuatu yang sangat kecil dan sangat sederhana itu ternyata mengandung lebih dari yang terlihat.

"Aduh," Wakil Dekan Ruan mengeluarkan suara yang tidak ada dalam repertoar suaranya yang Yu Fan kenal selama dua tahun. "Pipinya."

Yu Fan menatap pimpinannya. Kemudian menatap anak yang sedang mengunyah kue sambil mengayunkan kakinya yang tidak menyentuh lantai. Kemudian menatap pimpinannya lagi.

Dekan menyadari ia sedang diamati. Berdehem keras dengan cara yang sangat tergesa-gesa. "Ehem! Yu Fan—apa yang kau lihat tadi—"

"Tidak ada, Senior," jawab Yu Fan dengan cara yang sangat cepat dan sangat meyakinkan.

"Bagus."

Anak itu menggenggam tangan Yu Fan saat kue terakhirnya habis—jemari yang sangat kecil namun genggamannya memiliki tekanan yang tidak sesuai dengan ukurannya, tekanan seseorang yang mempegang sesuatu yang penting.

"Kakak, aku tidak ingat namaku," ucapnya. Sangat langsung. Tanpa dramaturgi. Hanya fakta yang sudah ia terima sebagai kondisi dasar keberadaannya dan yang sekarang ia sampaikan karena butuh solusi yang praktis.

Yu Fan menatap wajah kecil itu—wajah yang cantik dengan cara yang sangat asing namun yang mengandung sesuatu yang, setiap kali ia menatapnya, membuat titik di dadanya berdenyut bukan dengan cara yang menyakitkan melainkan dengan cara yang sangat berbeda.

Cahaya matahari yang masuk dari jendela ruangan Dekan—sudah hampir petang, berwarna emas yang sangat hangat—menyentuh sisi wajah anak itu dan mengubah warna kulitnya yang sangat pucat menjadi sesuatu yang lebih hangat untuk sesaat, sesuatu yang lebih hidup.

"Chen Yang," ucap Yu Fan. "Matahari Pagi."

Anak itu menatapnya dengan cara yang menunjukkan seseorang yang sedang mencoba nama itu di dalam kepalanya untuk melihat bagaimana rasanya. Kemudian—senyum. Bukan senyum basa-basi. Senyum seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang cocok, seperti seseorang yang memakai sepatu yang ukurannya tepat untuk pertama kalinya.

"Chen Yang! Aku Chen Yang!" Ia melompat dari sofa—dengan cara yang sangat tidak konsisten dengan aura kemurnian kuno yang ada di dalam tubuhnya dan yang sangat konsisten dengan umur fisik delapan tahun yang ia tampilkan—dan berlari mengelilingi meja Dekan sambil tawa kecilnya mengisi seluruh ruangan.

Dekan melangkah ke samping dengan cara yang sangat cepat untuk menghindari Chen Yang yang melewatinya sambil berlari. Kemudian menyadari dirinya mengikuti gerakan anak delapan tahun dengan cara yang tidak sesuai martabatnya. Berdehem lagi.

"Senior," ucap Yu Fan, dan suaranya sudah kembali ke nada yang serius meski ada sesuatu di sudut bibirnya yang tidak sepenuhnya berhasil netral. "Aku memohon izin agar Chen Yang tinggal di sini di bawah pengawasan Senior. Perjalanan yang ada di depanku—aku tidak bisa memastikan keamanannya jika ia bersamaku."

Dekan menatap Chen Yang yang masih berlari di sekitar meja—kemudian menatap Wakil Dekan—kemudian kembali ke Yu Fan. "Tentu saja. Ia akan diperlakukan seperti—"

"Cucu kami," sambung Wakil Dekan Ruan, dengan cara yang sangat cepat dan sangat tidak biasa untuk orang yang selalu sangat terukur dalam perkataannya.

Dekan menatapnya.

"Permata akademi," koreksi Wakil Dekan. "Maksudku, permata akademi."

"Ya," setuju Dekan. "Tentu. Permata akademi."

Yu Fan berlutut di depan Chen Yang yang akhirnya berhenti berlari dan berdiri di depannya dengan napas yang sedikit memburu dan pipi yang sedikit lebih merah dari sebelumnya. Ia mengelus kepala anak itu—rambut yang sangat hitam dan sangat lebat, halus dengan cara yang terasa seperti sesuatu yang sangat sehat dan sangat alami.

"Chen Yang," ucapnya pelan. "Tinggallah di sini dulu. Jadilah anak yang baik, jangan bikin repot kedua kakek ini terlalu banyak." Kemudian, lebih pelan: "Kakak akan sering berkunjung."

Chen Yang menatapnya dari jarak yang sangat dekat—mata abu-abu muda yang mengandung sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya dikategorikan sebagai ekspresi biasa anak delapan tahun. Ada sesuatu yang lebih dalam di dalamnya, sesuatu yang belum punya kata untuk menggambarkan dirinya dalam bahasa yang ada, yang hanya bisa disaksikan dari dekat dan yang hanya bisa dipahami dengan cara yang berbeda dari pemahaman biasa.

Kemudian ia memeluk leher Yu Fan dengan kedua lengannya yang sangat kecil.

Sangat erat untuk ukuran lengan sekecil itu.

Yu Fan tidak bergerak selama beberapa detik. Di belakangnya, dua orang dewasa yang sudah sangat berpengalaman dalam banyak hal dalam hidup yang sangat panjang berdiri dengan ekspresi yang berbeda-beda namun yang semuanya mengandung satu komponen yang sama: kelembutan yang tidak mereka rencanakan untuk ada di sana.

Seminggu berlalu.

Akademi Langit Biru kembali ke ritme normalnya setelah dua minggu yang sangat tidak normal—kompetisi dengan Saint-Aurelius, misi-misi darurat yang menyebar murid-murid ke berbagai arah, dan kembalinya semua orang dalam kondisi yang berbeda dari saat mereka pergi.

Yu Fan mengisi waktunya dengan latihan—bukan latihan yang intens secara fisik, melainkan latihan yang berbeda. Belajar cara mengintegrasikan cara Pedang Yin beresonansi dengan energinya sendiri dalam kondisi yang tidak darurat, tidak dalam pertarungan, hanya dalam ketenangan. Menemukan bahwa pedang itu tidak hanya merespons kualitas energi tertentu dari dirinya melainkan juga terkadang berinisiatif—memberikan dorongan sangat kecil ke arah tertentu yang tidak selalu ia rencanakan namun yang selalu ternyata tepat.

Mengunjungi Chen Yang setiap hari.

Setiap kunjungan membawa pemandangan yang berbeda—Chen Yang yang sudah sangat cepat menjadi sangat familiar dengan seluruh kompleks ruangan Dekan, yang sudah belajar nama semua orang yang lewat di depan pintu, yang sudah menemukan bahwa Wakil Dekan Ruan yang terlihat sangat serius ternyata bisa dirayu untuk menceritakan kisah-kisah kuno dengan cara yang sangat menarik jika diminta dengan cara yang tepat, dan yang sudah menemukan bahwa Dekan menyembunyikan stok permen di laci ketiga meja kerjanya dari kiri.

Di hari kelima, Chen Yang menunjukkan sesuatu kepada Yu Fan yang tidak ia perkirakan.

Mereka sedang duduk di taman di belakang kompleks ruangan Dekan—taman yang tidak besar namun sangat terawat, dengan kolam ikan di tengahnya dan pohon-pohon yang sudah sangat tua namun masih sangat hidup. Chen Yang duduk di tepi kolam dan menatap ikan-ikan yang berenang, tangannya menyentuh permukaan air sangat perlahan.

Dan di titik kontak antara jarinya dan permukaan air—cahaya sangat tipis mengalir keluar. Bukan meledak, tidak dramatis, hanya mengalir perlahan seperti tinta yang dimasukkan ke dalam air dan yang menyebar perlahan mengikuti arus yang ada.

Ikan-ikan yang tadinya bergerak ke berbagai arah mulai bergerak dalam pola yang terkoordinasi—bukan terseret oleh arus air, melainkan memilih untuk bergerak bersama dalam formasi yang mengubah kolam kecil itu menjadi sesuatu yang terlihat seperti kaleidoskop hidup.

Chen Yang tidak menyadari bahwa ia melakukan ini. Matanya hanya menatap ikan-ikan dengan ekspresi seseorang yang sedang sangat terhibur oleh cara mereka bergerak.

Yu Fan menatap tangannya di tepi kolam itu. Merasakan kualitas cahaya yang sangat tipis yang mengalir dari sana—sesuatu yang tidak ada dalam sistem kultivasi Qi yang ia kenal. Berbeda jenis. Lebih fundamentalnya, lebih seperti sesuatu yang sudah ada sebelum Qi ada.

Ia tidak berkata apa-apa kepada Chen Yang tentang ini.

Namun malam itu, ia menceritakannya kepada Dekan.

Dekan mendengarkan tanpa menginterupsi. Kemudian menatap Yu Fan dengan cara yang menunjukkan seseorang yang sudah mengkonfirmasi sesuatu yang tadi masih teori. "Kemampuan yang muncul secara alami tanpa diajarkan." Suaranya sangat tenang. "Itu adalah karakteristik dari seseorang yang tidak belajar kemampuan itu sebagai teknik melainkan yang membawa kemampuan itu sebagai bagian dari apa yang ia adalah." Jeda. "Jaga itu tetap rahasia, Yu Fan. Ada pihak-pihak yang sangat tertarik pada anak seperti Chen Yang."

Malam penerimaan Yuexin kembali dari misinya—yang terjadi dengan cara yang sangat khas Yuexin—dimulai dengan suara omelan yang mengisi seluruh koridor dari ujung ke ujung.

"Monster, semuanya monster! Hutan berlumpur yang tidak ada habisnya, monster yang berbau seperti ikan busuk yang dibakar, dan tidak satu pun penginapan yang layak dalam radius seratus kilometer!"

Yu Fan yang sedang duduk di ambang jendela koridor menatap arah suara itu datang dengan ekspresi yang sudah sangat familiar dari dua tahun terakhir sebagai ekspresi seseorang yang tidak terkejut oleh sesuatu yang sudah sangat bisa diprediksi.

Yuexin muncul dari tikungan koridor dalam kondisi yang—bahkan untuk seseorang yang baru saja menyelesaikan misi di hutan berlumpur—terlihat jauh lebih dramatis dari yang seharusnya secara teknis. Jubah yang masih mengandung jejak perjalanan, kunciran dua yang sudah tidak berhasil dipertahankan dengan rapi dan yang satu dari keduanya sudah setengah lepas. Wajahnya mengandung ekspresi yang bernegosiasi antara kelelahan dan kemarahan dan kelegaan—kelegaan yang ia tidak akui namun yang sangat terlihat di cara bahunya mengendur saat matanya bertemu dengan Yu Fan.

Langkahnya melambat. Berhenti.

Matanya memindai aura yang memancar dari Yu Fan dengan cara yang sudah terlatih dari dua tahun bersama seseorang yang kultivasi cepatnya sudah membuat ekspresi terkejut menjadi respons yang sangat tidak efisien.

"Yu Fan." Suaranya sudah turun dari volume omelan ke sesuatu yang lebih normal. "Kau sudah Tahap Akhir."

"Ya."

"Aku baru pergi dua minggu."

"Tiga minggu."

"Dua minggu setengah." Ia melanjutkan langkahnya mendekati Yu Fan dengan cara yang tidak sepenuhnya memutuskan antara mendekat karena senang atau mendekat karena punya sesuatu yang harus disampaikan. "Benar-benar monster. Tidak ada normalnya sama sekali." Namun cara ia duduk di sisi ambang jendela yang sama—jarak yang sudah sangat terlatih dari dua tahun terakhir, tidak terlalu dekat tidak terlalu jauh—mengandung sesuatu yang sama sekali tidak ada dalam omelannya.

"Bagaimana misinya?" tanya Yu Fan.

"Jangan tanya." Kemudian langsung: "Apa yang terjadi saat aku tidak ada?"

Yu Fan menceritakan—bukan semuanya, hal-hal yang sudah ia putuskan untuk diceritakan dan cara menceritakannya. Kompetisi yang selesai. Chen Yang. Lembah Spiritual. Dalam urutan yang dipilih dengan sangat hati-hati untuk tidak menghasilkan pertanyaan-pertanyaan yang belum bisa ia jawab.

"Chen Yang?" Yuexin mengulangi nama itu. "Anak delapan tahun yang kau bawa dari reruntuhan kuno?"

"Ya."

"Dan sekarang dia tinggal di ruangan Dekan."

"Ya."

"Dan Dekan dan Wakil Dekan..." Yuexin seperti sedang mencoba menemukan kata yang tepat. "Menjaganya."

"Seperti itulah situasinya."

Yuexin menatapnya selama beberapa detik dengan cara yang menunjukkan seseorang yang sedang memverifikasi apakah informasi yang baru diterimanya sudah lengkap. "Aku ingin bertemu anak itu."

"Besok."

"Sekarang."

"Ia sudah tidur."

Yuexin membuka mulutnya—kemudian menutupnya. Memikirkan ini. "Baik. Besok." Kemudian: "Tapi kau harus traktir aku makan dulu. Festival Lampion hari ini dan aku belum makan sejak pagi karena monster-monster itu membuat kami tidak sempat berhenti."

Festival Lampion di kota di sekitar akademi adalah sesuatu yang sudah ada jauh lebih lama dari akademinya sendiri—tradisi yang bertahan karena tidak ada alasan untuk berhenti karena selalu ada alasan untuk memulainya lagi setiap tahun.

Ribuan lampion berwarna merah dan emas di udara—beberapa yang sudah sangat tinggi terlihat seperti bintang yang memilih untuk turun sedikit lebih dekat ke bumi, beberapa yang masih rendah memancarkan cahaya yang mengubah wajah orang-orang di bawahnya menjadi versi yang lebih hangat dari biasanya. Cahaya lampion yang memantul di permukaan sungai yang membelah kota menciptakan sesuatu yang, dari ketinggian tertentu, terlihat seperti dua langit—satu di atas dan satu di bawah.

Yuexin makan dengan cara yang sudah sangat dikenal Yu Fan—dengan sangat penuh semangat dan dengan sangat tidak memikirkan konsekuensi jangka pendek dari pilihan kuantitasnya. Sate bakar, bakpao panas yang langsung dari kukusan, manisan buah yang ia hentikkan setiap tiga langkah untuk mengambil dari penjual yang berbeda karena ia sudah memiliki preferensi tentang manisan buah dari penjual mana yang paling baik di mana bagian kota ini.

Yu Fan mengikutinya—membayar, menganggapi, sesekali menghindari terlalu dekat dengan tiang lampion yang diguncang angin, dan terutama memerhatikan cara Yuexin bergerak di keramaian ini dengan cara yang sangat berbeda dari cara ia bergerak di akademi. Di akademi, ada selalu satu lapisan kesadaran tentang siapa ia—putri kerajaan, murid Sekte Pedang Ilahi, seseorang yang harus mewakili sesuatu. Di sini, di antara orang-orang yang tidak mengenalnya, ada lapisan yang mengangkat dan yang tersisa adalah sesuatu yang lebih sederhana dan lebih nyata.

"LIHAT ITU!" Yuexin menarik lengannya ke arah kelompok barongsai yang meliuk di sela-sela kerumunan. "Aku belum pernah melihat yang kepala emasnya! Yu Fan, indah sekali."

Dua jam berlalu dengan cara yang tidak terasa seperti dua jam.

Kemudian Yuexin meneguk gelas arak buahnya yang ketiga—gelas yang ia terima dari pedagang jalanan dengan cara yang sangat percaya diri namun yang isinya ternyata lebih kuat dari yang ia perkirakan berdasarkan rasanya yang sangat manis.

Hasilnya adalah Yuexin yang berdiri di tepi jalan dengan cara sedikit berbeda dari biasanya dan yang mengeluarkan pandangan tentang dirinya sebagai Ratu Lampion kepada Yu Fan yang sudah sangat terbiasa dengan cara angin malam di kota ini berhembus untuk memperkirakan ini mungkin akan berlangsung beberapa menit.

"...dan kau adalah pengawal pribadiku yang paling tidak patuh tapi juga yang paling..." ia bersandar ke bahu Yu Fan dengan cara seseorang yang sudah memutuskan bahwa bahu itu adalah tempat yang paling tepat untuk saat ini, "...paling tidak punya pilihan untuk pergi."

Yu Fan menopangnya ke bangku taman di sisi jalan yang sedikit lebih sepi—area yang cukup terang untuk aman dan cukup sepi untuk tidak menjadi tontonan. Duduk di sampingnya dengan cara yang memastikan ia tidak terjatuh dari bangku.

Dan di sudut jalan yang lebih gelap—di antara dua bangunan yang menghasilkan bayangan yang cukup dalam untuk menyembunyikan seseorang yang tidak ingin terlihat—jubah putih yang sangat familiar.

Lin Xueru.

Berdiri dengan cara seseorang yang tidak sedang menonton. Berdiri dengan cara seseorang yang sedang berbicara—dengan seseorang yang Yu Fan tidak bisa lihat dari posisinya karena terhalangi oleh sisi bangunan. Namun postur Xueru yang ia baca dari jarak ini mengandung sesuatu yang sangat berbeda dari postur Xueru di akademi.

Lebih tegang di bahunya. Tangan yang lebih dekat ke gagang pedangnya dari cara berdiri biasanya. Dan gerakan kepalanya yang sesekali melirik ke arah yang berbeda-beda dengan cara seseorang yang sangat sadar dengan lingkungan sekitarnya.

Ia sedang waspada.

Beberapa menit kemudian, seseorang muncul dari sisi bangunan yang tersembunyi—seorang wanita dengan jubah Sekte Teratai Putih yang lebih tua dan lebih formal dari yang dikenakan Xueru, wajahnya tidak terlihat jelas dari jarak ini namun cara ia berjalan menunjukkan seseorang yang sudah sangat lama terbiasa dengan otoritas. Percakapan berlangsung sangat singkat—terlalu singkat untuk topik yang jelas mengandung bobot berdasarkan cara keduanya berdiri selama itu. Kemudian wanita itu memanggil platform teratainya dan pergi dengan kecepatan yang tidak terburu-buru namun sangat final.

Yu Fan berdiri dari bangku, memeriksa apakah Yuexin sudah cukup stabil untuk ditinggalkan beberapa menit—stabil, dengan cara yang menunjukkan ia sudah memasuki tahap pemulihan dari arak buah yang terbukti lebih kuat dari penampilannya.

Ia mendekati Xueru.

"Xueru."

Xueru berbalik—tangan kirinya sudah setengah ke arah gagang pedangnya dalam refleks yang sangat terlatih, kemudian berhenti saat wajahnya mengidentifikasi siapa yang memanggil. Matanya yang biru pucat menatap Yu Fan dengan cara yang sudah sangat berbeda dari cara ia menatap sesuatu malam ini—lebih waspada, lebih banyak lapisan yang tidak terlihat di sana pada biasanya.

"Yu Fan," ucapnya. Kemudian matanya bergerak ke arah Yuexin di bangku—pertanyaan yang tidak diucapkan.

"Arak buah yang lebih kuat dari yang ia perkirakan," jawab Yu Fan.

Sesuatu di sudut mata Xueru bergerak—sangat kecil, sangat singkat. "Mabuk karena arak buah." Bukan komentar yang mengejek. Lebih seperti fakta yang ia catat. "Itu sepertinya... sangat seperti dirinya."

Yu Fan menawarkan bungkusan manisan buah yang masih ada di tangannya—sisa dari yang ia beli tadi untuk Yuexin yang ternyata tidak sempat habis karena Yuexin lebih tertarik pada arak buah daripada manisan buah setelahnya. "Kau mau?"

Xueru menatap bungkusan itu selama satu detik. Kemudian mengambil satu buah manisan dari dalamnya—tidak semua, hanya satu, dengan cara yang sangat berbeda dari cara Yuexin mengambil sesuatu yang ditawarkan.

Mereka berdiri berdampingan menatap langit yang penuh lampion.

"Nikmati saat-saat seperti ini, Yu Fan," ucap Xueru akhirnya. Suaranya mengandung sesuatu yang tidak ada dalam cara biasanya berbicara—sesuatu yang lebih berat, lebih seperti seseorang yang berbicara dari pengalaman yang tidak ingin ia ceritakan secara rinci namun yang ingin ia transfer kesimpulannya. "Karena setelah kita lulus dari akademi ini—"

"Kau dan aku adalah musuh," selesai Yu Fan.

Xueru menatapnya—mungkin terkejut bahwa ia sudah melompat ke kesimpulan itu, atau mungkin tidak terkejut sama sekali karena seseorang yang sudah dua tahun memperhatikan dengan cermat mungkin sudah bisa memprediksi ke mana arah kalimat itu.

"Kepentingan sekte berada di atas segalanya," lanjutnya. Kata-katanya sangat teratur, sangat seperti sesuatu yang sudah ia hafal dan yang sekarang ia ucapkan bukan karena percaya sepenuhnya melainkan karena itu adalah versi yang sudah ia terima sebagai kondisi hidupnya. "Di luar gerbang akademi ini, aku tidak akan—"

"Kita bisa mengubah itu," ucap Yu Fan.

Xueru berhenti.

"Sejarah dibuat oleh orang-orang yang memutuskan bahwa sejarah yang ada sebelumnya bukan satu-satunya kemungkinan," lanjutnya. "Sekte Teratai Putih dan Sekte Pedang Ilahi bermusuhan selama berabad-abad bukan karena mereka harus, melainkan karena tidak ada yang pernah memutuskan bahwa itu bisa berbeda." Matanya menatap ke langit yang penuh lampion. "Aku tidak bertarung untuk membunuh. Aku bertarung untuk melindungi. Ada perbedaan yang sangat besar di antara keduanya."

Keheningan di antara mereka—bukan keheningan yang tidak nyaman, melainkan keheningan yang mengandung sesuatu yang sedang diproses.

"Kau terlalu baik, Yu Fan," ucap Xueru akhirnya. Suaranya mengandung sesuatu yang bukan merendahkan—lebih seperti khawatir. "Dan kebaikan yang terlalu besar tanpa kewaspadaan yang cukup adalah—"

"Bukan karena tidak waspada," potong Yu Fan. "Aku memilih untuk percaya pada orang-orang yang sudah menunjukkan bahwa mereka layak dipercaya. Itu berbeda dari naif."

Xueru menatapnya dari sudut matanya.

Kemudian ia mengambil satu lagi manisan buah dari bungkusan yang masih ada di tangan Yu Fan—tanpa meminta, dengan cara yang berbeda dari tadi karena yang tadi sudah cukup formal sebagai tanda persetujuan namun yang ini sudah lebih seperti seseorang yang mengambil sesuatu karena ingin mengambilnya.

Dan sebelum Yu Fan sempat merespons ketidakbiasaan itu, Xueru berbicara lagi—dengan suara yang jauh lebih pelan dari sebelumnya, hampir hanya untuk dirinya sendiri namun tidak cukup pelan untuk tidak terdengar dari jarak mereka berdiri:

"Bunga teratai mekar di atas darah. Pedang tersembunyi di balik tawa. Saat langit runtuh dan bumi terbelah—jangan cari aku di antara cahaya."

Puisi. Bukan puisi yang ada dalam koleksi sastra mana pun yang Yu Fan kenal—dalam bahasa yang terlalu kuno untuk berasal dari era sastra yang ada di akademi, namun yang artinya sangat jelas dalam bahasa sekarang.

Sebelum Yu Fan bisa bertanya tentang puisi itu, Xueru sudah berbalik—platform teratainya muncul dari bawah kakinya dan ia sudah bergerak ke udara, jubah putihnya berkibar sekali sebelum kecepatan terbangnya membawanya ke ketinggian yang tidak lagi bisa ditempuh suara dari bawah.

Yu Fan berdiri menatap arah kepergiannya.

Di dalam kepalanya—kata-kata puisi itu berulang, mencari tempat di antara semua hal lain yang sudah menempati ruang di sana. Jangan cari aku di antara cahaya.

Di mana seharusnya ia dicari jika tidak di cahaya?

Yuexin sudah cukup pulih untuk diperjalanankan kembali ke akademi saat Yu Fan kembali ke bangkunya—bukan berjalan sepenuhnya mandiri, masih dengan cara seseorang yang menghargai adanya lengan untuk berpegangan sambil berjalan, namun sudah dengan mata yang lebih fokus dan dengan kata-kata yang sudah tidak berbicara tentang status sebagai Ratu Lampion.

Ia menyerahkan Yuexin kepada teman-teman sekamarnya di asrama dengan cara yang sudah sangat terlatih dari beberapa kejadian sebelumnya—transfer yang sangat efisien dari satu set tangan yang bertanggung jawab ke set tangan yang bertanggung jawab berikutnya.

Kemudian ia kembali ke kota.

Puncak festival sudah lewat. Pedagang-pedagang yang ada di jam puncak sudah sebagian tutup, mengemas dagangan dengan cara yang menunjukkan seseorang yang sudah sangat terbiasa dengan ritme ini—buka cepat, jual banyak, tutup rapi. Lampion yang sudah terbang sangat tinggi tadi sudah sangat kecil di langit, bintang-bintang yang mendampinginya dari ketinggian yang lebih jauh.

Kota yang setengah kosong dari aktivitas memiliki suasana yang berbeda dari kota yang penuh—lebih jujur tentang dirinya sendiri, lebih memperlihatkan struktur di balik ornamen.

Yu Fan berdiri di puncak pagoda tertinggi yang ada di sudut timur kota.

Dari ketinggian ini, seluruh kota terlihat dalam layoutnya yang sesungguhnya—jalan-jalan yang dari bawah terasa acak ternyata membentuk pola yang sangat terstruktur dari atas, taman-taman tersembunyi yang tidak terlihat dari jalan terlihat dari sini, dan di antara semuanya sungai yang memantulkan sisa-sisa lampion yang masih melayang rendah.

Sebuah teriakan dari distrik selatan—bukan teriakan yang dramatis, cukup untuk didengar oleh pendengaran yang sudah sangat terlatih dari jarak ini namun yang di antara keramaian festival tadi tidak akan terdengar.

Yu Fan terbang ke arahnya.

Gang sempit di distrik selatan kota.

Di satu sisinya, dinding batu yang sudah sangat lama tidak dicat—lumut di sudut-sudutnya menunjukkan tempat yang lembap sepanjang tahun. Di sisi lainnya, tumpukan peti kayu yang memisahkan gang dari halaman belakang gudang.

Di ujung gang, di titik paling sempit di mana dua orang tidak bisa berdiri berdampingan dengan nyaman, seorang wanita meringkuk dengan cara seseorang yang melindungi sesuatu—punggung ke dinding, tangan di depan dada, dan di dalam lingkaran pelukan itu seorang anak laki-laki yang masih sangat kecil dengan cara duduk seseorang yang sudah tidak punya tenaga untuk lebih dari itu.

Di depan mereka, tiga pria.

Yang di tengah—bertubuh paling besar, berbicara paling keras, berdiri dengan cara seseorang yang sudah sangat terbiasa dengan efek dari ukuran tubuhnya terhadap orang yang ada di depannya. Di tangannya, pisau yang bukan pisau mewah—pisau yang praktis, sudah lama digunakan untuk keperluan yang tidak seharusnya.

"Kau berani menyenggolku hah?" Suaranya mengisi seluruh gang dengan cara yang tidak membutuhkan kekerasan untuk terasa mengancam. "Bayar dengan nyawamu atau biarkan ibumu menghibur kami malam ini!"

Satu tendangan ke arah anak laki-laki itu—keras, dengan presisi seseorang yang sudah pernah melakukan ini sebelumnya.

Anak itu menghantam dinding dan jatuh dengan cara yang sangat kecil.

"Ibu—" suaranya sangat parau.

Wanita itu bergerak ke anaknya—tangan si pria di tengah terangkat ke arahnya.

Bayangan melintas.

Bukan dari atas, bukan dari bawah—dari samping, dari sudut yang gang sempit ini tidak memberikan banyak ruang untuk bergerak namun yang cukup untuk seseorang yang sudah sangat terbiasa bergerak di ruang yang jauh lebih sempit dari ini.

Energi merah tua yang sangat terkonsentrasi—bukan dalam jumlah yang besar, sangat presisi, sangat spesifik—mengalir dari dua jari Yu Fan ke titik di pergelangan tangan pria itu yang memegang pisau. Titik yang, jika ditekan dengan cara yang tepat, menutup koneksi antara sinyal dari otak dan otot di tangan secara sementara.

Pisau jatuh.

Pria itu berteriak—bukan karena sakit yang besar, karena kehilangan kontrol atas tangannya secara tiba-tiba adalah sesuatu yang sangat asing dan yang otaknya merespons sebagai ancaman yang jauh lebih besar dari yang seharusnya.

Dua pria lainnya—yang tadi berdiri di sisi sebagai pengamat dengan cara seseorang yang sudah sangat terbiasa dengan peran ini—menatap Yu Fan.

Menatap matanya.

Aura Tingkat 4 Tahap Akhir yang Yu Fan tidak perlu sengaja melepaskan—yang memancar secara pasif dari tubuhnya setiap saat namun yang dalam kondisi normal cukup tertahan untuk tidak mengganggu sekitarnya—malam ini tidak tertahan dengan cara yang biasanya.

Tidak karena ia menyengajakan. Karena ada sesuatu yang beresonansi dengan apa yang baru saja ia saksikan dengan cara yang membuat penahan itu tidak sepenuhnya berfungsi.

Dua pria itu mengenal wajah itu dari papan pengumuman akademi—nama dan wajah yang sudah ada di sana sejak kompetisi dengan Saint-Aurelius karena beberapa kejadian yang sudah tidak bisa dirahasiakan sepenuhnya.

Mereka lari. Tanpa kata-kata, tanpa drama—hanya berlari, dengan cara seseorang yang sudah sangat jelas tentang prioritasnya.

Pria yang pisaunya jatuh menatap tangannya yang sudah kembali normal secara perlahan—kemudian menatap Yu Fan—kemudian mengikuti kawannya.

Anak laki-laki itu duduk di dinding dengan cara seseorang yang sudah tidak bisa memilih posisi yang berbeda. Kulitnya pucat dengan cara yang berbeda dari Chen Yang—pucat karena kondisi yang tidak baik selama waktu yang cukup lama. Di bahunya, memar yang sudah mulai terbentuk dari tendangan tadi.

Yu Fan berlutut di depannya—posisi yang membuat tingginya sama dengan tinggi anak yang sedang duduk.

Dari kantong jubahnya—tempat ia selalu menyimpan satu atau dua pil pemulihan dasar sejak kebiasaan itu terbentuk di hutan empat bulan yang lalu—ia mengeluarkan satu dan menyerahkannya.

Pil itu bekerja dalam cara yang sangat cepat untuk ukuran kondisi yang ada—memar di bahu mulai memudar dalam hitungan menit, warna kulit yang terlalu pucat mulai kembali ke warna yang lebih sehat meski tidak sempurna karena pil ini tidak mengobati kondisi yang sudah berlangsung lama, hanya kondisi yang baru saja terjadi.

Anak itu menatap Yu Fan dengan cara yang tidak biasa untuk anak seusianya yang baru saja melalui pengalaman yang sangat menakutkan—dengan cara yang sangat langsung, sangat penuh perhatian, seperti seseorang yang sedang memutuskan sesuatu tentang apa yang ada di depannya.

"Tuan Pahlawan," ucapnya. Suaranya sudah lebih stabil. "Aku ingin menjadi seperti kau suatu hari nanti."

Yu Fan menatapnya. Anak ini—dengan kondisi fisik yang menunjukkan bahwa hidupnya tidak mudah, dengan cara ia duduk yang menunjukkan seseorang yang sudah sangat terbiasa dengan situasi yang membutuhkan ketahanan lebih dari yang dimiliki oleh anak seusianya—mengucapkan ini bukan dengan cara yang memuji melainkan dengan cara seseorang yang sudah memutuskan sesuatu.

"Jadilah kuat," ucap Yu Fan, "agar kau tidak perlu melihat ibumu seperti ini lagi. Bukan karena ingin menjadi seperti orang lain—karena kau memutuskan bahwa situasi ini tidak bisa kau terima dan bahwa kau yang akan mengubahnya."

Kepada ibunya—wanita yang sudah berdiri di sampingnya dengan cara seseorang yang menunggu untuk memastikan semuanya benar-benar sudah selesai sebelum bernapas dengan normal—ia memberikan koin emas dari kantongnya.

"Untuk memulai sesuatu yang lebih baik," ucapnya. Bukan dengan cara yang merasa hebat memberikan. Dengan cara yang sangat praktis, cara seseorang yang melihat kebutuhan dan memenuhi kebutuhan itu karena itulah hal yang paling masuk akal untuk dilakukan.

Ia mengantar mereka ke pintu rumah mereka yang kondisinya sudah sangat jelas dari jalan—rumah yang sudah sangat lama tidak mendapat perawatan yang cukup bukan karena pemiliknya tidak mau melainkan karena tidak ada sumber daya untuk itu. Berdiri sampai pintu tertutup dan sampai suara gerendel terkunci dari dalam terdengar.

Kemudian ia berbalik dan berjalan ke arah ujung gang yang terbuka ke jalan.

Di atas—di atap gedung di sisi kiri gang yang cukup tinggi untuk memberikan sudut pandang yang baik ke seluruh kejadian tadi—dua sosok.

Satu di sisi timur atap. Jubah putih. Mata yang sedang menatap ke arah sudut gang yang sudah kosong dari semua orang kecuali Yu Fan yang berjalan menjauh—tatapan yang mengandung terlalu banyak hal yang berbeda untuk bisa diidentifikasikan sebagai satu ekspresi, yang membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang dari beberapa detik untuk diproses sepenuhnya.

Lin Xueru berdiri sangat diam di tepi atap itu.

Satu di sisi barat atap—lebih jauh dari Xueru, di sudut yang lebih gelap. Jubah yang berwarna tidak mencolok, rambut merah yang dalam gelap terlihat hitam, tasbih persik di tangannya yang sedang dipegang dengan cara yang sangat berbeda dari cara santai ia biasanya memegangnya.

Mei Er dari Sekte Penggoda.

Matanya menatap Yu Fan yang berjalan ke ujung gang ke bawah—menatap dengan cara yang tidak bisa disebut kagum atau bermusuhan atau terangsang meski mengandung elemen dari semua tiga. Dengan cara yang lebih dingin, lebih terstruktur, lebih seperti seseorang yang sedang mengkategorikan sesuatu yang ia temukan bernilai dari sudut pandang yang sangat spesifik.

Bibirnya bergerak sangat pelan—tidak ada suara yang keluar cukup keras untuk didengar dari jarak mana pun, namun bentuk kata-katanya bisa dibaca oleh siapa pun yang cukup dekat dan cukup memperhatikan.

Kekuatanmu, kebaikanmu, dan aura gelapmu yang tidak bisa dikategorikan itu.

Keheningan di atas atap itu—dua orang yang tidak menyadari satu sama lain, masing-masing menatap satu orang yang sama yang berjalan menjauh di bawah mereka—mengandung jenis ketegangan yang tidak bisa diukur oleh indra yang biasa namun yang sangat nyata bagi siapa pun yang sudah cukup lama belajar untuk merasakan sesuatu yang ada di bawah permukaan situasi.

Yu Fan menghilang di balik tikungan ujung gang.

Dan di atap itu, dua sosok—satu yang sudah sangat lama memutuskan bahwa perasaan adalah barang mewah yang tidak selalu tersedia dalam anggaran hidupnya, dan satu yang memperlakukan semua perasaan sebagai alat—masing-masing berdiri dengan pikiran mereka sendiri tentang satu orang yang sama.

Pikiran yang sangat berbeda.

Namun yang sama-sama mengandung satu kesimpulan:

Seseorang yang seperti ini—suatu hari nanti—tidak bisa diabaikan oleh dunia.

Cara dunia merespons seseorang yang tidak bisa diabaikan—itu yang membedakan keduanya.

Satu berdiri di atap memikirkan cara melindungi seseorang dari respons dunia itu.

Satu berdiri di atap memikirkan cara menggunakan seseorang sebelum respons dunia itu tiba.

Dan di jalan di bawah, Yu Fan berjalan kembali ke arah akademi—dengan kepingan giok dari reruntuhan di dalam cincin dimensinya, dengan Pedang Yin di punggungnya yang berdenyut sangat pelan dalam cara yang sudah menjadi sangat familiar, dengan kata-kata puisi Xueru yang masih berputar di bagian tertentu dari pikirannya yang sudah memutuskan bahwa kata-kata itu penting meski ia belum tahu persis mengapa.

Jangan cari aku di antara cahaya.

Di mana, kalau begitu?

Dan mengapa kalimat itu terasa seperti peringatan yang sangat spesifik tentang sesuatu yang belum terjadi namun yang sudah sangat dekat?

1
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
🫰
Xiao
eumm
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 2 replies
Muo
semangat thor/Determined//Determined/
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 2 replies
F.S
hai Pembaca sekalian kalau kalian suka dengan novel ini jangan lupa kasi rating 5 ya
WER
semangat author 👍👍👍👍
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya ". zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 3 replies
F.S
hehehe🤭 support terus
T28J
cocok sama saya Thor... 👍
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!