Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Sore itu Clara tampak sangat bersemangat sejak beberapa menit sebelum jam kerja berakhir. Jemarinya memang masih bergerak di atas keyboard komputer, tetapi pikirannya sudah melayang ke makan malam bersama Tony. Sesekali dia melirik jam di sudut layar monitor dengan senyum kecil yang sulit disembunyikan. Bahkan laporan keuangan yang biasanya membuatnya pusing terasa jauh lebih ringan hari itu. Begitulah manusia kalau sedang jatuh cinta. Produktivitas meningkat hanya karena akan melihat wajah seseorang. Dunia korporat benar-benar dibangun di atas perasaan tidak stabil.
“Clara, angka revisi yang tadi sudah dikirim ke bagian audit belum?” tanya Amanda dari meja sebelah.
“Sudah dari tadi,” jawab Clara cepat tanpa menoleh.
Amanda mengangkat alis. “Cepat sekali.”
“Tentu saja. Aku tidak ingin lembur.”
Amanda melirik sahabatnya itu dengan tatapan curiga. “Atau lebih tepatnya, ada seseorang yang sedang menunggu?”
Clara akhirnya menoleh sambil tersenyum tipis. “Memangnya kenapa kalau iya?”
Amanda tertawa pelan. “Tidak kenapa-napa. Aku cuma heran melihat orang yang biasanya mengeluh setiap sore sekarang malah terlihat seperti pegawai teladan.”
Clara mendengus pelan, tetapi senyumnya tidak hilang. Dia memang sedang sangat bahagia. Hari itu Tony mengajaknya makan malam di restoran yang cukup terkenal di pusat kota. Sejak siang dia sudah membayangkan suasana makan malam romantis bersama pria yang diam-diam selalu membuat jantungnya berdebar.
Begitu jam kerja selesai, Clara langsung berdiri sambil merapikan tasnya dengan cepat. Dia bahkan hampir lupa mematikan komputer kantornya.
“Astaga, pelan sedikit,” gumam Amanda sambil tertawa kecil.
“Aku duluan.”
“Komputermu.”
Clara langsung berhenti dan menatap layar komputernya yang masih menyala. Dia tersenyum canggung.
“Aku lupa.”
“Jelas lupa. Otakmu sudah pergi duluan sejak tadi siang.”
Clara hanya terkekeh pelan sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan ruangan. Amanda menggeleng sambil berjalan mendekati meja Clara untuk mematikan komputer itu.
“Cinta memang penyakit yang aneh,” gumam Amanda sendiri.
Begitu sampai di lobby perusahaan, Clara langsung mendengar beberapa pegawai sedang membicarakan sesuatu dengan cukup heboh.
“Serius, iklannya jadi bagus sekali.”
“Aku tidak menyangka Pak Doni mau jadi model sendiri.”
“Katanya demi menghemat biaya pemasaran.”
“Direktur pemasaran rasa artis.”
Beberapa pegawai perempuan bahkan tampak tertawa sambil membicarakan hasil pemotretan Doni yang kabarnya akan digunakan untuk iklan terbaru perusahaan. Clara yang mendengar itu langsung menunjukkan ekspresi tidak suka.
Dia memperlambat langkahnya sambil mendengarkan dengan kesal.
“Padahal keren juga ya,” ujar salah satu pegawai perempuan. “Dingin-dingin begitu ternyata fotogenik.”
“Benar. Auranya mahal sekali.”
Clara langsung memalingkan wajah dengan jengkel.
Dalam pikirannya, semua itu terasa berlebihan. Doni hanya menjadi model iklan perusahaan sendiri, tetapi orang-orang membicarakannya seolah dia baru menyelamatkan negara dari kehancuran ekonomi. Clara sama sekali tidak mengerti kenapa semua orang terlihat begitu kagum.
Menurutnya Doni hanya mencari perhatian.
Memang benar anggaran pemasaran sedang bermasalah, tetapi bukan berarti tindakan itu harus dipuji setinggi langit. Tony juga setiap hari bekerja keras mengatur biaya operasional perusahaan. Bahkan pria itu sering pulang larut malam demi memastikan semua berjalan baik. Namun tidak ada yang membicarakannya seheboh ini.
Clara semakin kesal saat mendengar beberapa pegawai perempuan kembali tertawa sambil memuji ketampanan Doni.
“Menurutku Pak Doni lebih cocok jadi aktor.”
“Tatapannya keren sekali.”
Clara hampir memutar bola matanya.
Baginya Tony jauh lebih menarik. Tony memang tidak banyak bicara, tetapi justru itu yang membuatnya terlihat dewasa dan kharismatik. Sementara Doni terlalu dingin dan menyebalkan. Clara bahkan masih kesal karena pria itu beberapa kali berdebat dengan Tony dalam rapat perusahaan.
“Dasar cari perhatian,” gumam Clara pelan.
Dia langsung berjalan keluar lobby tanpa peduli lagi dengan pembicaraan itu. Sore ini dia tidak ingin suasana hatinya rusak hanya karena mendengar nama Doni terus-menerus.
Begitu masuk ke mobil, Clara langsung menarik napas panjang lalu menyalakan mesin kendaraan. Di sepanjang perjalanan pulang dia kembali memikirkan makan malam bersama Tony. Perlahan suasana hatinya membaik lagi.
Dia bahkan sempat tersenyum sendiri saat membayangkan pria itu nanti memujinya.
Sesampainya di rumah, Clara langsung berjalan cepat menuju kamarnya.
“Clara?” panggil ibunya dari ruang tengah.
“Aku ke kamar dulu, Bu!”
Ibunya hanya tersenyum melihat putrinya yang tampak terburu-buru.
Tidak sampai lima menit kemudian suara shower sudah terdengar dari kamar mandi Clara. Gadis itu mandi cukup lama sambil beberapa kali memandangi bayangannya sendiri di cermin. Dia mencoba beberapa gaya rambut, memilih parfum, lalu mengganti pakaian berkali-kali sebelum akhirnya menemukan yang menurutnya paling cocok.
Dia mengenakan dress sederhana tetapi elegan berwarna lembut yang membuat penampilannya terlihat anggun. Rambutnya yang sebahu ditata rapi dengan sedikit gelombang alami. Tidak berlebihan, tetapi cukup untuk membuatnya tampak sangat cantik.
Saat Clara turun ke ruang tengah, ibunya langsung menatapnya cukup lama.
“Kamu cantik sekali,” ujar ibunya sambil tersenyum hangat.
Clara tersipu kecil. “Benarkah?”
“Ibu sampai heran melihatmu berdandan serapi ini.”
Clara duduk di samping ibunya sambil tersenyum malu.
“Mau ke mana?” tanya ibunya walaupun sebenarnya dia sudah bisa menebak.
“Aku mau makan malam bersama Tony.”
Seketika wajah ibunya tampak senang.
“Tony yang direktur operasional itu?”
Clara mengangguk cepat. “Iya.”
“Syukurlah. Akhirnya ada juga laki-laki yang membuatmu mau berdandan seperti ini.”
“Bu…”
Ibunya tertawa kecil melihat wajah Clara yang mulai malu.
“Ibu senang kalau kamu dekat dengan pria baik seperti Tony. Dia terlihat dewasa dan bertanggung jawab.”
Clara langsung tersenyum bangga mendengar pujian itu.
“Aku juga berpikir begitu.”
“Tapi jangan pulang terlalu malam.”
Clara memeluk lengan ibunya manja. “Aku mungkin agak terlambat.”
Ibunya menghela napas kecil sambil tersenyum maklum. “Karena waktumu bersama Tony sangat menyenangkan?”
Clara tertawa kecil. “Ibu tahu saja.”
“Kamu terlalu mudah dibaca.”
Clara kemudian berdiri sambil mengambil tas kecilnya.
“Aku pergi dulu.”
“Hati-hati di jalan.”
“Iya, Bu.”
Tak lama kemudian Clara kembali masuk ke mobil dan pergi menuju restoran tempat dia dan Tony berjanji bertemu.
Restoran itu berada di kawasan elite pusat kota dengan bangunan mewah yang dipenuhi lampu hangat. Dari luar saja tempat itu sudah terlihat begitu elegan. Halaman depannya dipenuhi tanaman hias rapi dan air mancur kecil yang membuat suasana semakin romantis.
Begitu turun dari mobil, Clara langsung menatap bangunan itu dengan kagum kecil.
Dia memang pernah datang ke sana bersama keluarganya, tetapi malam ini terasa berbeda. Karena kali ini dia datang bersama pria yang dia sukai.
Bahkan dalam hati Clara sempat membayangkan sesuatu yang lebih jauh.
Bagaimana jika suatu hari Tony menyatakan cinta di tempat seperti ini?
Pikiran itu membuat wajahnya memanas sendiri.
“Clara.”
Suara berat yang familiar membuat Clara langsung menoleh.
Tony ternyata sudah berdiri tidak jauh dari pintu masuk restoran sambil tersenyum tipis kepadanya. Pria itu mengenakan kemeja gelap yang membuat penampilannya terlihat semakin dewasa dan rapi.
Jantung Clara langsung berdebar lebih cepat.
“Tony.”
Tony berjalan mendekat lalu membuka pintu restoran untuknya dengan sopan.
“Kamu terlihat cantik malam ini,” ujar Tony tenang.
Kalimat sederhana itu saja sudah cukup membuat Clara hampir lupa cara berjalan dengan normal.
“Terima kasih,” jawabnya pelan.
Mereka kemudian masuk bersama ke dalam restoran.
Suasana di dalam terasa hangat dan mewah. Lampu-lampu gantung dengan cahaya lembut membuat seluruh ruangan terlihat romantis. Musik piano mengalun pelan di sudut ruangan sementara beberapa pasangan tampak menikmati makan malam mereka dengan tenang.
Clara diam-diam semakin senang.
Tempat ini benar-benar seperti yang dia bayangkan.
Tony menarik kursi untuk Clara sebelum akhirnya duduk di depannya.
“Aku minta maaf karena tidak bisa menjemputmu,” ujar Tony setelah pelayan pergi membawa menu.
Clara langsung menggeleng cepat. “Tidak masalah.”
“Aku tadi masih harus menyelesaikan beberapa urusan perusahaan.”
“Aku mengerti.”
Tony memperhatikannya beberapa saat lalu tersenyum kecil.
“Kamu tidak marah?”
Clara ikut tersenyum lembut. “Yang penting aku tetap bisa makan malam bersamamu.”
Untuk sesaat Tony tampak sedikit terdiam mendengar jawaban itu.
Kemudian pria itu tersenyum tipis dengan tatapan yang terasa hangat.
“Aku senang mendengarnya.”
Clara merasakan jantungnya kembali berdebar.
Dia benar-benar menyukai cara Tony berbicara. Tenang, dewasa, dan tidak berlebihan. Bahkan senyum kecil pria itu saja sudah cukup membuat suasana hati Clara membaik sepenuhnya.
Berbeda dengan Doni yang selalu terlihat dingin dan menyebalkan.
Clara langsung membuang pikiran tentang pria itu jauh-jauh. Malam ini dia tidak ingin ada siapa pun merusak waktunya bersama Tony.
Pelayan datang membawa minuman mereka sementara Tony mulai menanyakan kegiatan Clara di kantor hari itu.
“Bagaimana pekerjaanmu di bagian finance?”
“Lumayan melelahkan,” jawab Clara sambil tersenyum kecil. “Tapi masih bisa diatasi.”
“Kalau ada yang membuatmu kesulitan, kamu bisa bicara padaku.”
Clara langsung menatap Tony cukup lama.
Perhatian kecil seperti itu selalu membuatnya merasa nyaman.
“Aku akan mengingatnya,” jawab Clara pelan.
Tony mengangguk ringan lalu mulai membicarakan beberapa hal lain dengan santai. Clara menikmati setiap detik percakapan mereka. Bahkan topik sederhana sekalipun terasa menyenangkan jika bersama pria itu.
Dan malam itu, di tengah suasana restoran yang hangat dan romantis, Clara semakin yakin bahwa perasaannya terhadap Tony bukan sekadar kekaguman biasa.