Naufal hanyalah seorang sales smartphone miskin yang sering diremehkan karena tidak pernah mencapai target. Ditekan oleh target yang mustahil, dikhianati oleh rekan kerja, dan dianggap remeh oleh pelanggan sombong adalah makanan sehari-harinya.
Namun, segalanya berubah saat sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Analisis Nilai Aktif!]
[Menganalisis Target...]
[Budget: Rp150.000.000 ]
[ Keinginan: memboron 50 unit untuk yayasan pendidikan |
[Tingkat Kepercayaan: 15%]
[Misi Terbuka! Closing produk!]
[Hadiah misi pembukaan RP 10.000.000!]
Dengan bantuan Sistem Analisis Nilai, Naufal tidak hanya bisa melihat isi dompet pelanggan, tapi juga titik lemah kompetitor dan tren pasar masa depan. Dari seorang sales yang hampir dipecat, ia merangkak naik menjadi raja industri teknologi.
Satu per satu wanita hebat mulai masuk ke dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33--Efek Live Edan Diserbu Massal
Penjualan massal dimulai. Suasana toko yang tadinya tenang berubah menjadi seperti konser dadakan. Naufal dan Siska terjun langsung ke tengah kerumunan, dibantu oleh para sales kredit, dan sales hp lain yang ikut jualan.
"Kak Naufal! Saya mau yang warna *Titanium Blue*, yang tadi ada fitur hapus mantan di foto itu!" teriak seorang mahasiswi sambil menyodorkan kartu debitnya.
“Asik! Siap kak dimengerti!” Jawab nuafal.
"Siska! Mbak Siska! Saya beli seri paling mahal, tapi bonusnya *follow back* IG saya ya?" goda seorang pemuda yang rela mengantre paling depan.
Siska hanya bisa menggelengkan kepala sambil tertawa kecil, tangannya dengan cekatan melakukan proses input data pelanggan. "Boleh, tapi aktivasi dulu unitnya di sini!" jawabnya, membuat para pemuda itu semakin bersemangat.
Pasalnya senyuman gadis itu cantiknya minta ampun, karakteristik Siska dan kecantikan level maksimal ini membuat mereka teringat akan idol dan artis papan atas, Alya pramudipta yang baru-baru ini nak daun di tiga tahun terakhir,
Sikap malu-malu, rambut coklat, dan tinggi badannya plek ketiplek.
“Ah, hatiku berdetak kencang!”
“Kak cantik banget ya ampun!”
Di tengah hiruk pikuk itu, seorang pria tegap dengan jaket kulit hitam masuk. Wajahnya terlihat berwibawa namun tampak terburu-buru. Ia langsung menuju ke arah Naufal.
"Mas Naufal? Saya Zaka yang tadi di live," ucapnya singkat.
Naufal tersenyum, ia langsung mengenali nama akun yang menjadi penanda keberhasilannya. Ia sudah menyiapkan pesanan dari zaka.
"Ah, Kak Zaka! Sesuai janji ya? Dua unit *flagship* dengan fitur AI paling lengkap. R-14F.”
Zaka mengangguk mantap. "Nggak pakai lama. Saya butuh buat kado istri dan anak saya. Penjelasan kamu di live tadi benar-benar *to the point*, saya suka sales yang nggak banyak basa-basi tapi paham teknologi."
Hanya dalam waktu lima menit, transaksi dua unit seharga total puluhan juta rupiah itu lunas.
BIP! BIP!
[DING!]
[MISI SELESAI: LIVE MASTER!]
[Target Transaksi Tercapai: 2/2 Unit (Melalui akun Zaka)]
[Hadiah Dikirim: RP +Rp 120.000.000 ]
[Saldo tuan rumah RP 220.000.000]
[Poin Ketampanan +15: Aura anda kini setara dengan bintang film Global!]
[Kemampuan 'Live Master' Aktif: Kata-kata anda memiliki efek sugesti 30% lebih kuat saat berada di depan kamera.]
Naufal merasakan sensasi hangat mengalir ke wajah dan seluruh tubuhnya. Secara fisik, kulitnya tampak lebih bersih dan tatapan matanya menjadi jauh lebih tajam sekaligus memikat. Beberapa pelanggan wanita yang berdiri di dekatnya bahkan sampai terdiam sesaat, seolah terhipnotis oleh kehadiran Naufal yang kian bersinar.
"Fal... lo kok... makin lama dilihat makin beda ya?" bisik Siska heran saat mereka berpapasan di balik meja kasir. "Efek lampu toko atau emang lo pakai *skincare* gaib?"
"Efek kerja keras, Siska cantik" canda Naufal sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Siska refleks memalingkan wajah yang kembali memerah.
Hingga pukul 20.00 WIB, stok hp mereka dari seri *flagship* sampai menengah kebawah di toko mereka hampir ludes. Manajer toko hanya bisa terduduk lemas di kursinya, bukan karena sedih, tapi karena kelelahan menghitung omzet yang menembus rekor tahunan toko.
Hari ini jualan lebih dari 30 unit dalam satu hari. Itu rekor baru untuk toko yang baru buka gak lama 1 tahun.
Naufal berjalan ke depan pintu kaca toko, menatap ke seberang jalan. Bagas masih di sana, berdiri di depan tokonya yang kini sepi melompong. Bagas menatap Naufal dengan tatapan yang sulit diartikan—antara benci, iri, dan tidak percaya bahwa seorang anak ingusan bisa merusak dominasi sepuluh tahunnya hanya dengan sebuah ponsel dan koneksi internet.
Naufal mengangkat ponselnya, memberikan gestur hormat yang sopan namun penuh kemenangan ke arah Bagas.
[Ding!]
[Total Penjualan Hari Ini: Rp 65.000.000]
[Peringkat Sales OMI Yogyakarta: Naufal Mari'e Naik ke Posisi 4!]**
"Sedikit lagi," gumam Naufal. Dulu untuk nyentuh angka 60 juta dia ngos-ngosan tapi sekarang? Ez banget, belum juga ada setengah bulan dia sudah target.
Ia kemudian menoleh ke arah Siska yang sedang merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Siska, capek nggak? Habis ini gue antar pulang pakai motor ya. Anggap saja bonus karena sudah jadi bidadari pembantu penjualan hari ini."
Siska mendengus, tapi tangannya segera menyambar tasnya. "Gombal lo receh banget. Tapi ya sudahlah, kaki gue pegal banget gara-gara ide gila lo itu. Awas ya kalau ngebutnya kelewatan!"
DAYA KHALYAL MEMBAGINGKAN