NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Kaisar Pedang Surgawi

Perjalanan Sang Kaisar Pedang Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Anak Genius
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: DafToon

Satu Hari 5 Bab... bantu saya untuk terus berkarya😎😎

Di Kota Xiang, seorang jenius muda bernama Xiao Ba pernah dipuja sebagai harapan terbesar Keluarga Xiao karena memiliki Akar Spiritual Suci Tingkat 9, bakat langka yang bahkan sulit ditemukan dalam seribu tahun. Namun semuanya berubah ketika akar spiritualnya hancur secara misterius, membuatnya jatuh dari langit ke dasar kehinaan dalam semalam.

Dulu dipuji, kini dihina.

Dulu didekati, kini dijauhi.

Bahkan keluarga yang pernah memohon perjodohan dengannya datang untuk memutuskan hubungan sambil mempermalukannya di depan semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DafToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persiapan Memasuki Gunung Wuji

Langkah kaki Xiao Sun terdengar di lorong paviliun sebelum wajahnya muncul di ambang pintu.

Ia berjalan menghampiri Xiao Ba yang masih berdiri tenang, menatap cucunya dari atas ke bawah dengan tatapan yang mencoba membaca kondisi sebenarnya. Namun, ia tidak menemukan apa pun selain ketenangan yang terasa aneh untuk seseorang yang baru saja dipermalukan di depan banyak orang.

"Ba'er, bagaimana kondisimu?"

Xiao Ba tidak langsung menjawab. Ia membiarkan sang kakek berdiri sejenak dalam kekhawatirannya sebelum akhirnya berpaling dan menatap wajah tua yang penuh kerut kelelahan itu.

Xiao Sun mengira cucunya masih memikirkan nasibnya yang tidak bisa lagi memasuki jalur kultivasi. Maka, ia buru-buru mengisi keheningan itu.

"Ba'er, kakekmu ini akan mengupayakan segala cara untuk menumbuhkan akar spiritual baru untukmu. Mungkin tidak bisa seperti sebelumnya, mungkin tidak akan setinggi Akar Spiritual Suci Tingkat 9 yang dulu, tapi setidaknya kamu masih bisa berkultivasi. Kakek janji."

Suaranya bergetar di ujung kalimat terakhir.

Xiao Ba menatap sang kakek beberapa saat. Ada sesuatu yang hangat dan pedih sekaligus menyaksikan lelaki tua yang selama ini menjadi tembok pelindungnya berdiri dengan punggung yang semakin membungkuk, memikul beban yang seharusnya tidak perlu ia tanggung sendirian.

"Kakek sudah bekerja keras," kata Xiao Ba akhirnya, suaranya tenang namun mengandung kelembutan yang jarang ia perlihatkan. "Sisanya, serahkan padaku."

Ia tidak mengatakan lebih dari itu. Tidak menceritakan tentang Akar Spiritual Kaisar yang kini bersemayam dalam dantian-nya. Tidak menyebut Pagoda Sembilan Tingkat berwarna emas yang berdiri kokoh di pusat energinya. Tidak juga tentang ribuan bintang di lautan kesadarannya yang masing-masing menyimpan pengetahuan dan teknik kultivasi yang melampaui pemahaman siapa pun di Kerajaan Ying ini.

Untuk saat ini, biarlah hanya ia yang tahu.

Di sudut aula, Penatua Ketiga dan Penatua Keempat menyemangati Xiao Ba dengan kata-kata tulus yang keluar dari mulut mereka. Sementara di sisi lain, Penatua Kedua dan Penatua Kelima berdiri dengan senyum yang tidak sampai ke mata—senyum orang yang sudah mengetahui akhir cerita dan merasa puas karenanya.

Dari mana kepercayaan diri kalian? batin Xiao Ba sambil melirik sekilas ke arah dua penatua itu, mengira sampah ini tidak bisa lagi bangkit?

Ia menyimpan senyumnya.

Sebelum kerumunan benar-benar bubar, Penatua Kelima tiba-tiba membuka mulutnya.

"Patriark, jangan lupa sebulan lagi, para junior keluarga dari seluruh Kota Beira harus memasuki Tebing Tujuh Roh."

Xiao Sun mengerutkan kening, tidak senang dengan timing pengingat itu.

Namun, fakta tetaplah fakta dan tidak bisa diabaikan.

Tebing Tujuh Roh adalah kawasan berbahaya yang terletak di sisi timur Kota Beira, tepat di tepi Laut Selatan yang berombak besar. Berbeda dari hutan biasa, kawasan ini terdiri dari tujuh formasi tebing yang masing-masing memiliki ekosistem tersendiri, lengkap dengan binatang buas dan jebakan alam yang berbeda di setiap tingkatannya. Setiap lima tahun sekali, para jenius muda dari seluruh keluarga kultivator di kota ini akan diminta menjelajahi Tebing Tujuh Roh selama satu bulan penuh.

Aturannya sederhana namun tidak mudah: siapa pun yang berhasil mengumpulkan Kristal Roh Laut terbanyak—yaitu benda spiritual berwarna biru kehijauan yang hanya bisa ditemukan di celah-celah tebing dan di dalam gua-gua tersembunyi di kawasan itu—akan menjadi pemenang. Kristal Roh Laut sengaja tersebar oleh para penguasa kota sebagai hadiah sekaligus tolak ukur kemampuan generasi muda.

Berbeda dari Gunung Wuji di cerita lama yang hanya berupa hutan datar, Tebing Tujuh Roh menawarkan medan yang jauh lebih beragam. Ada tebing yang harus dipanjat, gua bawah laut yang harus diselami, jembatan batu yang sempit di atas jurang menganga, hingga lorong-lorong angin yang bisa melempar tubuh kultivator ke laut jika tidak cukup kuat menahannya.

Prestasi di Tebing Tujuh Roh adalah salah satu tolak ukur paling nyata untuk mengukur kekuatan generasi muda antarkeluarga.

Xiao Sun membubarkan pertemuan dengan singkat, meminta seluruh junior Keluarga Xiao mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum waktu yang ditentukan tiba.

Xiao Ba pun berbalik, melangkah kembali menuju paviliunnya.

Namun baru beberapa langkah, suara dari belakang menyusulnya.

"Xiao Ba, sampah sepertimu sebaiknya tahu diri." Suara itu milik Xiao Tian, terdengar dengan nada merendahkan yang tidak repot-repot disembunyikan. "Mungkin ada baiknya kalau kamu mati saja saat memasuki Tebing Tujuh Roh nanti. Setidaknya Patriark tidak perlu lagi memikul beban seperti ini. Ingatlah untuk bersembunyi dan jangan ke mana-mana saat waktunya tiba."

Di sebelahnya, Xiao Xiyun, cucu perempuan Penatua Kelima, menyambung dengan senyum yang manis namun berbisa. "Huu, Kakak Tian, untuk apa buang energi berbicara dengan pecundang seperti dia?"

Xiao Ba tidak memperlambat langkahnya. Tidak berhenti. Tidak menoleh.

"Apakah celotehan kalian sudah selesai?" ucapnya ringan, suaranya terdengar seperti orang yang sedang membicarakan hal paling membosankan di dunia. "Anjing menggonggong, kafilah berlalu."

Xiao Tian menegang. Wajahnya memerah seketika.

Di depan paviliunnya, Lu Ming sedang berjaga seperti biasa. Wajahnya masih menyimpan sisa ekspresi terkejut dan lega yang belum sepenuhnya mereda sejak melihat Tuan Mudanya berjalan keluar dari kamar dengan langkah yang sehat beberapa waktu lalu.

"Tuan Muda, hati-hati dengan mereka," katanya pelan saat Xiao Ba melewatinya.

"Terima kasih sudah diingatkan, Paman Lu." Xiao Ba berhenti sejenak di depan pintu kayu berukiran, berbalik menatap pengawal setia itu. "Tapi jangan khawatir. Mereka hanya semut yang merasa sudah menjadi gajah."

Sebelum masuk sepenuhnya, ia menambahkan, "Paman Lu, saya akan berkultivasi tertutup. Jika Kakek mencari, bilang saja saya sedang memulihkan diri."

Lu Ming mengangguk. Namun, saat pintu tertutup di hadapannya, ia masih berdiri mematung sejenak.

Tuan Muda memiliki aura yang samar namun terasa berbeda, pikirnya. Seperti lautan yang tenang di permukaan namun menyimpan arus yang sangat kuat di bawahnya.

Di paviliun Penatua Kedua, Xiao Ye, lampu minyak menerangi wajah-wajah yang berkumpul dengan cahaya yang hangat, namun tidak berhasil menghangatkan suasana di dalamnya.

Penatua Kelima Xiao Shao, Xiao Tian, Xiao Xiyun, dan Xiao Wu (ayah Xiao Tian) sudah duduk mengelilingi meja yang sama. Pintu tertutup rapat. Suara dari luar tidak akan menembus ke dalam.

"Kakek, kita harus menyingkirkan Xiao Ba secepatnya," kata Xiao Tian, kedua tangannya menggenggam tepi meja dengan rahang mengeras. Wajahnya masih menyimpan sisa amarah dari pertemuan di lorong tadi.

Xiao Ye menatap cucunya dengan kesabaran yang terlatih.

"Redam amarahmu," ucapnya. "Pemenang harus bijak melihat kondisi dan waktu yang tepat. Kita masih punya sebulan." Ia mengangkat cangkirnya, menggoyangkan cairan di dalamnya perlahan. "Kita paksa Patriark untuk mengikutsertakan si tuan muda sampah itu dalam pertarungan di Tebing Tujuh Roh. Peluang menyingkirkannya di sana jauh lebih besar dan jauh lebih bersih. Di antara tebing-tebing itu, nyawa seorang kultivator lemah bisa hilang tanpa meninggalkan banyak pertanyaan."

Xiao Wu mengangguk, menambahkan peringatan untuk putranya. "Untuk sementara, jangan berurusan langsung dengan Xiao Ba dulu. Aku tidak mau Patriark jadi curiga saat kita nanti meminta Xiao Ba ikut dilibatkan ke Tebing Tujuh Roh."

Penatua Kelima ikut mengangguk setuju.

"Ingat," kata Xiao Ye dengan nada yang berubah lebih rendah dan lebih berat, "jangan ungkap satu pun kata tentang rencana ini di luar ruangan ini. Aku tidak mau semua ini gagal karena kecerobohan kalian di ujung jalan."

"Tenanglah, Kakek," jawab Xiao Tian, amarahnya yang tadi mulai mereda digantikan oleh senyum tipis yang dingin. "Tidak akan ada yang tahu."

Xiao Xiyun mengusap pundak Xiao Tian dengan lembut, berbisik menenangkan. Di sudut ruangan, Penatua Kedua dan Penatua Kelima saling melempar pandang—pandangan dua orang yang sudah sepakat tentang masa depan yang ingin mereka bangun di atas reruntuhan garis keturunan langsung Patriark.

Mereka sudah sepakat bahwa jika berhasil merebut kekuasaan Keluarga Xiao, Xiao Tian dan Xiao Xiyun akan dijodohkan untuk menyatukan dua garis keturunan mereka menjadi satu kekuatan yang tidak bisa diganggu gugat.

Rencana yang sudah mereka susun dengan sabar selama bertahun-tahun kini sudah hampir mencapai puncaknya. Xiao Ba yang dianggap sampah diikutsertakan dalam pertarungan berbahaya di Tebing Tujuh Roh, tempat di mana ombak besar, tebing curam, dan binatang buas bisa menjadi alasan kematian yang sempurna.

Sementara itu, jauh dari semua bisikan dan rencana gelap itu, di dalam paviliunnya yang sunyi, Xiao Ba sudah duduk dalam posisi meditasi sempurna.

Matanya terpejam. Tubuhnya tidak bergerak.

Namun, di dalam dirinya, segala sesuatu sedang bergerak dengan sangat aktif.

Energi Qi mengalir deras melalui meridiannya yang dua kali lebih lebar dari ukuran normal, memenuhi pagoda emas sembilan tingkat di dantian-nya dengan tenang dan teratur. Bintang-bintang di lautan kesadarannya bersinar semakin terang, satu per satu melepaskan informasi dan teknik yang menunggu untuk dikuasai.

Satu bulan sebelum Tebing Tujuh Roh.

Bagi orang lain, satu bulan mungkin terasa terlalu singkat untuk mempersiapkan diri. Bagi Xiao Ba, itu lebih dari cukup.

Di kawasan terlarang di belakang kediaman Keluarga Xiao, dososok berjalan dengan langkah cepat namun berhati-hati. Penatua Ketiga dan Penatua Keempat melewati pintu batu yang kokoh—kawasan yang hanya boleh dimasuki oleh Patriark dan anggota yang mendapat izin khusus darinya.

Wajah keduanya diliputi kemarahan yang sudah lama mereka tahan.

Setelah berhari-hari mencari dan menyelidiki dengan diam-diam, akhirnya mereka mendapatkan informasi yang mereka cari. Informasi tentang siapa yang berada di balik bocornya rahasia akar spiritual Xiao Ba.

Keduanya berhenti di depan sebuah pintu batu yang besar, menghadap ke arah di mana suara ombak Laut Selatan terdengar paling keras. Penatua Ketiga mengetuknya dengan energi Qi yang mengalir melalui suaranya.

"Salam untuk Patriark. Maafkan kami jika mengganggu kultivasi Patriark. Ada beberapa hal penting yang mesti kami bicarakan."

Di balik pintu, hening sesaat.

Kemudian terdengar suara Xiao Sun—berat, lelah, namun tetap penuh kewibawaan.

"Masuk."

1
sibaweh abduh
nice thor
Dafa Faiha Roshiq: Terima kasih bossku
total 1 replies
Jerry K-el
bagus ceritanya mengalir,tdk bertele-tele.
pertahankan👌
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Dafa Faiha Roshiq: done yahhh
total 1 replies
Dafa Faiha Roshiq
teman aku butuh penilaian mu
Dafa Faiha Roshiq
Gimana masih ada yang kurang tidak bro
Dafa Faiha Roshiq
gesss harap dibaca dengan hikmat dan kalo ada kesalahan tulis tolong kasih tau ya🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!