Dewasa
Follow My Instagram @Mae_jer
Dami tidak menyangka dia akan menghadapi Jeremy yang menggila padahal statusnya sudah menjadi istri dokter Bima. Walau status itu hanya sebatas pernikahan kontrak, tetap saja tidak dapat dibenarkan. Namun, siapa yang akan menyangka Dami akan terlibat dengan permainan panas Jeremy, serta Bima yang ikut-ikutan menggila, yang membuatnya berada di situasi yang membingungkan.
Terjebak di antara dua pria yang sama-sama menginginkannya, situasi semakin rumit saat Dami hamil. Karena ia tidak tahu siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Jeremy atau Bima? Lebih gilanya lagi, baik Bima maupun Jeremy, sama-sama tidak mau melepaskannya.
Ketiganya harus merahasiakan hubungan gila mereka sampai akhirnya salah satu dari kedua pria itu mengalah, dan merelakan Dami dengan laki-laki yang dia cintai.
Apakah masih Jeremy cinta pertamanya yang menjadi pemenang? Atau Bima, dokter tampan yang juga mencintai Dami dengan tulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sehari dua kali
"Uhuk! Uhuk!"
Dami terbatuk makin keras, dada dan tenggorokannya terasa sesak seketika karena terkejut luar biasa. Benar-benar tak disangkanya pembicaraan akan berbelok ke arah itu. Matanya melirik ke arah Bima dengan panik, berharap suaminya itu bisa segera mengalihkan topik pembicaraan atau menenangkan ibunya.
Bima yang duduk di sampingnya pun tampak terkejut, namun dengan sigap ia menepuk-nepuk punggung Dami pelan, lalu menuangkan segelas air dan menyodorkannya pada wanita itu. Ada senyum kecut yang ia coba sembunyikan, meski di balik itu terlihat jelas ia juga tak siap dengan pertanyaan mendadak itu.
"Mama ... kok tiba-tiba bahas itu sih?" tanya Bima sambil tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana dan menutupi rasa canggung di antara mereka berdua. Ia menatap ibunya dengan pandangan memohon agar tidak terlalu jauh membahas hal tersebut, padahal hatinya sendiri terasa berdebar tak karuan.
Nova hanya tertawa renyah melihat reaksi kaget pasangan itu. Ia menatap suaminya sejenak, lalu kembali menatap pasangan muda di hadapannya dengan tatapan berbinar penuh harap.
"Loh, kenapa? Kalian kan sudah menikah sah, sudah jadi suami istri yang benar. Apa salahnya mama menantikan kehadiran cucu? Lihat saja adik kamu, sudah punya dua anak. Mama dan papa jadi iri. Lagian kalian menikah sudah hampir empat bulan. Masa belum ada isi sih? Kalian rutin bikinnya kan?" ucap mama Nova panjang lebar. Kalimat terakhirnya membuat Dami makin memerah.
Untung Bima beli sendiri jadi mereka tidak tinggal di rumah orangtua ini lagi. Kalau tidak, dia yakin pertanyaan seperti ini pasti akan sering muncul.
"Dami sayang, kamu udah cek kondisi kamu ke dokter kandungan? Bima juga. Kalian berdua harus sering cek kondisi kalian ke dokter, sudah empat bulan loh, masa belum ada isinya.
Biasanya durasi kalian main satu minggu berapa kali?"
"Mama," kali ini wajah Bima ikut memerah.
Wajah Bima bersemu merah padam hingga ke telinganya. Ia tak menyangka ibunya akan berbicara sejujur itu di depan mereka berdua, bahkan sampai menanyakan hal-hal yang begitu pribadi.
"Mama, itu ... itu kan urusan pribadi kami. Masa mama tanya sampai begitu?" Bima berusaha memprotes, suaranya terdengar tertahan karena rasa malu yang luar biasa. Ia melirik sekilas ke arah Dami, wanita itu kini menunduk dalam-dalam, wajahnya tertutup rambut yang terurai, bahunya sedikit bergetar entah karena menahan malu atau ingin tertawa melihat situasi yang sangat canggung ini.
Nova malah semakin tertawa melihat wajah kedua anak muda itu yang tampak seperti kepiting rebus. Ia mengibaskan tangannya santai, sama sekali tak merasa bersalah atau sungkan.
"Aduh, mama ini kan sudah tua, sudah melihat dan mengalami segalanya. Tidak ada yang tabu lagi buat mama. Mama tanya begini demi kebaikan kalian juga loh. Kalian kan ingin punya anak, harus tahu dulu apa yang kurang. Kalau tidak rutin, ya mana bisa jadi? Kan bikin anak itu butuh kerja sama yang baik. Harus rajin begituan juga. Kalo bisa sehari dua kali pagi malam." jawab Nova enteng, sambil menatap mereka bergantian dengan senyum menggoda.
Suaminya yang sedari tadi hanya diam mendengarkan sambil tersenyum kecil, akhirnya angkat bicara menyelamatkan anak dan menantunya dari rentetan pertanyaan yang makin menusuk itu.
"Sudah, ma. Jangan diganggu terus. Kamu ini ya, kadang mulutmu tidak ada remnya," tegur sang suami lembut sambil menggeleng-gelengkan kepala, namun nada bicaranya terdengar menggemaskan seolah ia sudah sangat terbiasa dengan kelakuan istrinya yang sering blak-blakan itu. Ia lalu menatap ke arah Bima dan Dami yang masih diam seribu bahasa dengan kepala tertunduk.
"Maafin mama kalian ya. Tapi kalau boleh jujur, papa sama mama memang menantikan kalian kasih kami cucu juga. Apalagi kamu sendiri dokter Bim, kamu pasti tahu kan step-stepnya gimana biar istri kamu cepat hamil."
Wajah Bima makin memerah mendengar ayahnya sendiri ikut berkomentar, apalagi dengan menyebut profesinya sebagai dokter. Ia menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, merasa makin canggung bukan main. Dami di sampingnya pun masih menunduk, berharap lantai bisa terbuka dan menelannya saat itu juga. Rasanya panas sekali seluruh wajahnya.
"Iya, pa... Bima tahu. Bima paham betul proses medisnya," jawab Bima akhirnya, berusaha menanggapi dengan nada profesional untuk sedikit menetralkan suasana yang makin tak karuan itu.
"Tapi kan... kehamilan itu bukan cuma soal teknis atau jadwal rutin saja, ma, pa. Ada faktor kesuburan, hormon, kondisi fisik dan pikiran, dan yang paling utama... ada rezeki dari Tuhan. Kalau memang belum waktunya, sekeras apa pun usaha kita, hasilnya tetap aja belum ada. Kalau sudah waktunya, sekali jalan saja bisa langsung jadi."
Bima menjelaskan panjang lebar seolah sedang memberi penyuluhan kesehatan, berusaha sekuat tenaga mengalihkan fokus pembicaraan dari urusan ranjang ke penjelasan medis yang lebih aman.
"Nah, itu dia. Makanya kalian harus jaga kesehatan berdua, jangan sampai pikiran stres, dan ya... yang tadi mama bilang itu juga jangan dilupa," sela Nova lagi dengan senyum penuh makna, membuat Bima hanya bisa menghela napas panjang tak berdaya.
"Intinya kalian berdua jangan lupa terus berusaha juga." tambah sang papa.
Setelah itu, untunglah pembicaraan mulai beralih ke topik yang lebih aman. Namun Dami merasa berat dengan pembicaraan itu. Bagaimana mungkin mereka berdua disuruh mengusahakan kehamilan, padahal hubungan mereka hanya sebatas sandiwara? Bagaimana mungkin mereka disuruh rajin begituan, padahal selama ini pun belum pernah ada sentuhan apa pun di antara mereka selain saat berakting?
Dan ... Tubuhnya juga telah diacak-acak, dijelajahi, dan dicium habis oleh pria lain, bukan suaminya. Setelah mertuanya pulang, rumah kembali hening. Dami berjalan menuju tangga, ingin segera masuk ke kamar, namun langkahnya terhenti saat Bima memanggil pelan dari belakang.
"Dami ..."
Ia berbalik perlahan, menatap wajah Bima yang tampak lelah namun penuh pengertian.
"Maaf ya soal mama dan papa tadi." ucap Bima pelan, suaranya rendah dan lembut. Ia menghela napas panjang sebelum melanjutkan dengan senyum tipis yang menyimpan rasa sakit.
"Jangan masukin omongan mereka ke dalam hati."
Dami tersenyum mengangguk.
"Kak Bima santai aja, aku ..."
Ucapan Dami tiba-tiba terhenti saat Bima maju mendekat dan memeriksa tangannya.
"Ini kenapa, kenapa terluka?" tanya pria itu dengan raut wajah khawatir. Mata Dami berkedip-kedip, bingung bagaimana cara jawabnya. Tidak mungkin juga dia bilang kulitnya tergores karena kabur dari rumah Jeremy kan?"
"Ngg- bukan apa-apa kok. Cuma gak sengaja ke gores ..."
"Ayo, aku obati."
Dengan sikap protektifnya yang tidak dapat dibantah, Bima menarik pergelangan tangan Dami naik ke atas ke kamar mereka. Mereka memang tetap sekamar untuk mencegah segala kemungkinan ketahuan. Tapi Bima tidur di sofa.
kmu hrsnya paham dgn kata2 Jeremy(Mau berbagi)Gak Ada Yg mau berbagi cinta&fisik dri orang yg kita cintai...hrsnya kmu sadar Bima klu udah mati rasa gak akan menghentikan dansa kmu&jeremy..krna dia cinta jdi dia gak mau miliknya di sentuh sma yg lainnya...Bima Marah krna Kesalahan Istrinya Fatal..meskipun bgtu DI SAAT MABOK PUN YG DI TMENIN ARSEN DIA JUJUR GAK BISA BENCI MESKIPUN KMU UDAH NYAKITIN BGTU PARAAH..MASIH TTP CINTA&GAK BISA LIAT KMU NANGIS..TAPI KATANYA2 GAK SEMENYAKITKAN ETHAN SAAT TAU DIRA HANYA DI COSPLAY SMA JEREMY GA SAMPAI HUB BADAN(PDHL DIRA BLM JDI ISTRI ETHAN SAAT ITU)ETHAN NYAKITIN BNGT KATA2NYA...NAHH BIMA SUAMI DAMI MSH BISA TINGGAL 1 ATAP MESKIPUN MSH CUEK TAPI YAKIN BIMA CINTA SMA DAMI😭😭😭😭😭
soaly kasian cuma jadi peran FIGURA aja .
kan kasian🙏🙏🙏
gak di cerita Dira gak di Sini cuma jadi Figura 😄✌️✌️✌️
jahat Banget gak sih.
semangat pendukungnya dami jeremy episode masih panjang masih bisa berharap
sama ka mae 🤭
jangan biarkan dami dan Bima intim dulu ka mae ya🙏
tunggu sampai dami hamil nanti
kasian jeremy
i love you dami jeremy😍