NovelToon NovelToon
Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Tiga tahun lamanya Andini mencurahkan seluruh pengabdiannya sebagai istri saleha, namun ia justru dihempaskan ke titik terendah dalam hidupnya. Ia diusir tanpa membawa uang sepeser pun oleh Reno, suaminya sendiri, yang lebih memilih Siska karena pengakuan kehamilannya. Setelah kenyang menerima hinaan sebagai perempuan mandul yang sekadar menumpang hidup, Andini bersumpah untuk bangkit dari puing-puing kehancurannya.

Saat Andini akhirnya berhasil bertransformasi menjadi sosok wanita karier yang mandiri, elegan, dan sulit digapai, Reno datang kembali sambil merangkak penuh penyesalan. Namun, sebuah map cokelat yang telah disiapkan Andini siap meruntuhkan sisa-sisa kesombongan pria itu. Sebuah rahasia medis yang mencengangkan akhirnya terungkap: Reno sebenarnya mandul, dan anak yang selama ini ia puja-puja hanyalah buah dari pengkhianatan Siska. Inilah saatnya karma instan mulai bekerja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Jebakan Media Berbalik Arah

Kilatan lampu blitz dari puluhan kamera jurnalis saling menyambar, memenuhi ruang ballroom sebuah hotel bintang empat di jantung Jakarta Pusat. Ruangan itu telah disulap menjadi arena konferensi pers yang sesak dan riuh. Di panggung utama, sebuah spanduk digital berukuran besar memampang logo sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) fiktif di bidang perlindungan hak perempuan yang sengaja didirikan dalam waktu semalam.

Di balik meja narasumber, duduk tiga orang perwakilan humas sewaan yang dikendalikan penuh oleh Karina dari luar negeri. Mereka didampingi oleh seorang oknum pengacara yang namanya sudah kondang karena kerap memelintir kasus-kasus kontroversial di media sosial.

Karina, yang memantau situasi melalui layar laptop dari apartemen pribadinya di Singapura, mengulas senyum sinis. Ia telah menguras sisa dana taktis dari Apex Horizon Ltd untuk menyewa agensi buzzer serta puluhan jurnalis media gosip. Rencananya disusun begitu rapi: mengeksploitasi kebangkrutan Reno dan penderitaan stroke Ibu Ratna, lalu membingkainya sebagai dampak dari sifat pendendam serta kekejaman seorang Andini Larasati yang kini telah menjadi istri konglomerat.

"Selamat pagi, rekan-rekan media," buka sang pengacara bayaran melalui mikrofon yang volumenya sengaja disetel lantang. "Kami berkumpul di sini hari ini untuk menyuarakan ketidakadilan moral yang sangat menyayat hati. Kita semua tahu kesuksesan masif dari Andini’s Sanctuary dan Nadir Label yang selalu mengampanyekan kepedulian terhadap sesama wanita. Namun, di balik topeng kemanusiaan itu, ada fakta pahit yang sengaja disembunyikan dari mata publik."

Para jurnalis mulai mencatat dengan antusias, sementara kamera video langsung menyorot tajam ke arah panggung.

"Seorang ibu paruh baya, mantan mertua dari sang CEO ternama tersebut, saat ini terbaring lumpuh total akibat serangan stroke di sebuah kontrakan sempit yang kumuh tanpa pengobatan layak. Sementara itu, sang mantan menantu justru hidup bergelimang harta di rumah mewah Menteng," lanjut pengacara itu dengan nada yang dibuat sedramatis mungkin, memicu kasak-kusuk riuh di antara para wartawan. "Apakah ini yang disebut dengan pemberdayaan wanita? Di mana hati nurani—"

Brakk!

Sebelum kalimat provokatif itu tuntas, pintu ganda ballroom terbuka lebar dengan hentakan keras. Kehadiran sekumpulan pria bersetelan jas hitam yang melangkah masuk dengan barisan barikade kokoh seketika menyedot seluruh atensi di dalam ruangan.

Di barisan terdepan, Citra berjalan dengan langkah anggun namun sarat ketegasan, didampingi oleh Ahmad, kepala divisi legal Al-Fatih Group. Di belakang mereka, beberapa staf membawa layar proyektor portabel berukuran besar dan langsung memasangnya di sisi kanan panggung tanpa memedulikan izin panitia acara.

"Maaf harus menginterupsi jalannya sandiwara murah ini, Tuan-Tuan," suara Citra menggema melalui pengeras suara portabel yang dibawa timnya, mematahkan dominasi suara di panggung utama.

"Hei! Siapa kalian?! Ini konferensi pers privat kami! Sekuriti, tolong usir mereka!" pekik pengacara bayaran di atas panggung dengan raut wajah yang mulai pias saat melihat logo Al-Fatih Group tersemat di pin jas Ahmad.

"Kami adalah pihak yang memiliki hak jawab mutlak atas fitnah yang sedang Anda bacakan," sahut Ahmad tenang namun penuh penekanan hukum. Ia melangkah maju, meletakkan selembar surat perintah resmi dari pengadilan dan kepolisian di atas meja pembicara. "Dan jika Anda mencoba menghentikan kami, maka detik ini juga Anda beserta seluruh agensi yang mendanai acara ini akan kami seret atas pasal pencemaran nama baik, penyebaran hoaks, dan percobaan pemerasan korporasi."

Para jurnalis tidak menyia-nyiakan momen emas ini. Mereka langsung mengalihkan moncong kamera ke arah Citra dan Ahmad. Aroma skandal besar yang berbalik arah tercium sangat menyengat di udara.

"Rekan-rekan media sekalian," Citra berbalik menghadap para jurnalis dengan rasa percaya diri yang mutlak. "Sebelum kalian menulis berita berdasarkan naskah fiktif yang disiapkan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab di atas panggung ini, mari kita saksikan bersama fakta yang sesungguhnya terjadi di lapangan."

Citra memberikan isyarat tangan, dan layar proyektor besar di sudut ruangan langsung menyala, menampilkan sebuah video berkualitas tinggi.

Di dalam rekaman tersebut, tampak suasana sebuah kamar VIP rumah sakit swasta bertaraf internasional yang sangat mewah. Di atas brankar medis canggih, Ibu Ratna terlihat sedang disuapi makanan dengan telaten oleh seorang perawat khusus. Wajah wanita paruh baya itu tampak jauh lebih segar dibandingkan saat berada di kontrakan, lengkap dengan selang infus dan peralatan pemantau medis modern di sampingnya.

Kamera dalam video kemudian bergeser, menampilkan Reno yang duduk di sofa kamar rawat tersebut. Pria itu menatap lurus ke arah kamera dengan pandangan mata yang jernih, tanpa tekanan.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, saya Reno," ujar Reno di dalam rekaman video tersebut, suaranya terdengar stabil dan penuh penyesalan. "Saya membuat pernyataan ini secara sadar dan tanpa paksaan dari pihak mana pun. Saya ingin mengklarifikasi bahwa berita yang menyatakan mantan istri saya, Andini Larasati, menelantarkan ibu saya adalah fitnah total yang sangat keji."

Ruang ballroom mendadak senyap bagai kuburan. Para jurnalis menahan napas mendengarkan testimoni langsung dari sosok yang seharusnya menjadi objek penderitaan dalam skandal ini.

"Kenyataannya, ibu saya saat ini telah dievakuasi dan dirawat di rumah sakit terbaik dengan seluruh biaya yang ditanggung sepenuhnya oleh Al-Fatih Group dan Andini secara pribadi," lanjut Reno dalam video tersebut. "Bukan hanya itu, hari ini saya juga ingin membongkar bahwa kebangkrutan perusahaan saya, serta penderitaan yang dialami ibu saya, adalah akibat ulah licik dari Karina dan perusahaan bayangannya, Apex Horizon Ltd. Mereka sengaja menjebak saya agar membuat keributan di kantor Andini demi merusak nama baiknya. Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada Andini dan keluarga Al-Fatih atas semua kesalahan saya di masa lalu maupun sekarang."

Bzzzt!

Video berakhir, digantikan oleh tampilan dokumen-dokumen resmi berupa bukti transfer pelunasan biaya rumah sakit senilai ratusan juta rupiah atas nama Ibu Ratna. Terpampang pula tanda tangan kontrak medis dari Al-Fatih Group yang bertanggal malam hari sebelum konferensi pers ini digelar.

Ahmad kembali mengambil alih mikrofon. "Seperti yang rekan-rekan saksikan, tidak ada penelantaran. Yang ada hanyalah aksi kemanusiaan dari Ibu Andini Larasati, yang justru dibalas dengan konspirasi kotor oleh pihak-pihak yang kalah bersaing dalam bisnis. Kami juga telah menyerahkan seluruh bukti digital mengenai aliran dana dari Apex Horizon Ltd yang mendanai konferensi pers hari ini kepada pihak kepolisian."

Suasana ballroom langsung pecah dalam kericuhan massal. Para jurnalis berebut merangsek maju, bukan lagi untuk mewawancarai pembicara di panggung, melainkan untuk mencecar sang pengacara bayaran yang kini wajahnya sudah pucat pasi seperti mayat.

"Pak! Apakah benar Anda dibayar oleh Karina?!"

"Bagaimana tanggapan Anda mengenai bukti pencucian uang dari Apex Horizon Ltd?!"

Di atas panggung, ketiga orang perwakilan humas dan pengacara itu hanya bisa menyembunyikan wajah mereka di balik berkas, mencoba melarikan diri melalui pintu belakang panggung dengan tergesa-gesa di bawah kawalan sekuriti hotel yang kewalahan.

Sore harinya, jagat maya Indonesia meledak. Narasi yang semula disiapkan untuk menghancurkan Andini justru berbalik menjadi bumerang yang menghantam Karina dan Tante Sofia dengan kekuatan yang meluluhlantakkan. Tagar mengenai ketulusan hati Andini dan kelicikan Karina menjadi topik terhangat di seluruh platform media sosial. Sentimen publik terhadap Nadir Label melonjak drastis hingga ke titik tertinggi, dan harga saham Al-Fatih Group justru meroket tajam karena manajemen risiko mereka dinilai sangat brilian dan taktis.

Di dalam ruang kerjanya di Singapura, Karina menatap layar laptop dengan tubuh yang bergetar hebat. Semua artikel gosip yang ia bayar telah ditarik kembali oleh agensi, digantikan oleh berita utama mengenai pembongkaran kedok kejahatannya sendiri.

Mendengar suara sirine mobil polisi yang lamat-lamat terdengar dari arah bawah gedung apartemennya, kepanikan luar biasa mencengkeram dada Karina. Dengan tangan gemetar, ia langsung menutup laptop, menyambar paspor, dan bergegas memasukkan beberapa helai pakaian ke dalam tas koper kecil. Ia harus melarikan diri ke London malam ini juga, ke satu-satunya tempat perlindungan yang tersisa di bawah ketiak Tante Sofia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!