Di tengah dinginnya kota New York, pernikahan megah Adiba Abbey dan Raynazh Leon Osborn hancur berantakan dalam waktu semalam.
Di dalam kamar griya tawang keluarga Osborn yang remang dan mabuk oleh atmosfer perayaan, sebuah kesalahan fatal terjadi.
Adiba menyerahkan segalanya kepada pria yang dia kira adalah sang suami yang baru saja mengikat janji suci bersamanya di altar.
Namun, tepat di detik-detik pelepasan yang intim, sebuah suara asing yang bergetar hebat meloloskan nama Adiba.
Kesadaran menghantamnya bak badai es; pria yang baru saja menidurinya bukanlah Raynazh, melainkan sang adik ipar, Louis Enver Osborn.
Pengkhianatan tak sengaja yang dipicu oleh kegelapan dan alkohol ini meruntuhkan dinding pernikahan mereka, menyeret Louis dan Adiba ke dalam jurang penyesalan, dendam, dan rahasia kelam yang mengancam kehancuran total dinasti Osborn.
_🌷_
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#8
Dua minggu telah berlalu sejak malam perjamuan yang mencekam di St. Regis, namun atmosfer di atas langit New York seolah enggan mencair.
Salju tebal kini sepenuhnya membungkus jalanan berbatus di Manhattan dan kawasan industri Brooklyn, menyisakan pendar putih yang dingin di bawah langit abu-abu yang muram.
Bagi Louis Enver Osborn, waktu dua minggu ini berjalan seperti siksaan perlahan yang menggerogoti ketenangannya.
Di dalam penthouse pribadinya di Brooklyn, Louis berdiri di depan meja kaca yang dipenuhi oleh berkas-berkas laporan keuangan cabang yang sengaja dia telusuri untuk mengalihkan pikiran. Namun, fokusnya hancur berantakan. Matanya terus beralih ke arah ponsel hitamnya yang tergeletak bisu di samping gelas wiski yang sudah kosong.
Drt... drt...
Ponsel itu akhirnya bergetar, menampilkan nama 'Zack' di layarnya. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Louis menyambar ponsel itu dan menempelkannya ke telinga.
"Bagaimana, Zack? Apa yang kau dapatkan tentang Adiba Abbey?" tanya Louis langsung, suaranya rendah, serak, dan sarat akan ketegangan yang teramat sangat.
Hening sejenak di seberang telepon, hanya terdengar suara embusan napas berat dan jentikan korek api gas.
"Louis... ini jauh lebih rumit dari yang kita duga," ucap Zack dengan nada parau yang terdengar frustrasi. "Aku sudah mengerahkan tiga informan terbaikku di Manhattan dan bahkan menghubungi jaringan lama di Paris tempat Adiba menyelesaikan studi magisternya tahun lalu. Tapi hasilnya nihil. Struktur datanya terlalu bersih."
Louis mengernyitkan alisnya, sepasang mata elang abu-abunya menatap tajam ke arah dinding bata merah di depannya.
"Apa maksudmu bersih? Tidak ada manusia yang tidak meninggalkan jejak di dunia ini, Zack. Terutama seorang putri tunggal dari dinasti sekelas Abbey."
"Itu dia masalahnya, Louis," Zack menjeda kalimatnya, menghirup dalam-dalam rokoknya. "Semua rekam jejak Adiba Abbey diatur dengan sangat sempurna. Riwayat sekolah, rekam medis, akun media sosial, bahkan lingkaran pertemanannya di Paris... semuanya tampak seperti halaman buku menu restoran mewah. Sangat tertata, sangat ideal, dan tidak ada satu pun celah, rumor, atau skandal kecil sekalipun. Seseorang dengan kekuasaan yang sangat besar telah menyapu bersih setiap rekam jejak pribadi yang bisa memicu spekulasi."
"Apakah itu ulah keluarga Abbey?" tanya Louis lagi, tangannya mengepal kuat di atas meja.
"Mungkin saja. Tapi naluri detektifku mengatakan ada sesuatu yang sengaja disembunyikan di masa lalunya sebelum dia pindah ke Paris. Sesuatu yang terjadi di New York, tepatnya saat dia masih remaja," kata Zack dengan nada serius.
"Untuk membongkar dinding enkripsi data keluarganya dan mencari saksi hidup yang tahu kejadian sebenarnya di masa lalu, aku tidak bisa bergerak terburu-buru. Jika keluarga Abbey atau ayahmu, Arthur Osborn, menyadari pergerakanku, kita berdua yang akan tamat."
"Berapa lama waktu yang kau butuhkan?" Louis menuntut, nadanya tidak sabar.
"Dua bulan, Louis. Beri aku waktu dua bulan," ucap Zack tegas, memotong ekspektasi Louis. "Aku harus masuk lewat jalur bawah, memeriksa arsip fisik sekolah lamanya di New York Academy secara manual, dan melacak mantan pelayan atau pengawal keluarga Abbey yang sudah dipecat. Itu memakan waktu. Jika kau ingin jawaban yang akurat, kau harus bersabar."
Louis mengembuskan napas kasar, memijat pelipisnya yang berdenyut kencang.
Dua bulan. Waktu yang teramat lama untuk membiarkan teka-teki tentang wanita itu terus berputar di dalam kepalanya. Namun, dia tahu Zack benar. Bergerak gegabah hanya akan membuat ayahnya atau Raynazh mencium adanya ketidakberesan.
"Baik. Dua bulan. Jangan lewat dari itu, Zack. Dan pastikan tidak ada satu pun nama Osborn yang bocor dalam penyelidikan ini," ucap Louis sebelum memutus panggilan sepihak.
Louis melempar ponselnya kembali ke meja. Dia berjalan menuju jendela besar, menatap ke arah seberang East River di mana gedung-gedung pencakar langit Manhattan berdiri dengan megah.
Di sanalah, di dalam griya tawang mewah itu, Adiba berada bersama kakaknya.
"Dua bulan..." gumam Louis, matanya menggelap. "Permainan apa yang sebenarnya sedang kau mainkan bersamaku, Adiba?"
Sementara itu, di griya tawang Manhattan, panggung sandiwara yang dirancang oleh Adiba Abbey berjalan dengan begitu mulus, seolah disutradarai oleh iblis itu sendiri.
Pagi itu, ruang makan griya tawang dipenuhi oleh aroma kopi arabika yang harum dan roti panggang mentega. Sinar matahari pagi yang cerah menembus jendela kaca besar, menerangi sosok Adiba yang duduk anggun di kursi makan utama.
Dia mengenakan gaun rumah berbahan satin sutra berwarna putih gading, wajahnya tampak segar dan cantik jelita dengan senyuman manis yang selalu menghiasi bibirnya setiap kali para pelayan melintas untuk mengantarkan makanan.
Di ujung meja yang lain, Raynazh Leon Osborn duduk dengan tubuh kaku. Di depan para pelayan dan kepala rumah tangga griya tawang, Raynazh terpaksa memasang wajah ceria, sesekali menuangkan jus jeruk ke gelas Adiba dan mengulas senyum palsu yang tampak begitu mesra.
Namun, begitu para pelayan berjalan menjauh menuju dapur kotor, senyuman di wajah Raynazh langsung lumat, digantikan oleh gumpalan rasa muak dan depresi yang mendalam.
Dua minggu ini telah menjadi neraka hidup yang sesungguhnya bagi Raynazh. Sesuai dengan syarat yang diajukan Adiba, mereka tidur di kamar terpisah. Raynazh dipaksa pindah ke kamar tamu di lantai bawah yang lebih kecil, sementara Adiba menguasai kamar utama di lantai atas.
Tidak hanya itu, setiap kali mereka menghadiri acara sosial atau pertemuan bisnis keluarga, Adiba akan bergelayut manja di lengannya, tersenyum begitu bahagia di depan kamera media, membuat seluruh New York memuji keharmonisan pernikahan mereka.
Namun, begitu mereka kembali ke dalam griya tawang dan pintu tertutup, Adiba akan berubah menjadi sosok ratu kegelapan yang dingin, memperlakukannya tidak lebih dari seekor anjing peliharaan yang harus mematuhi setiap perintahnya.
"Makanlah yang banyak, Raynazh. Kau tampak sedikit kurus beberapa hari terakhir ini," ucap Adiba dengan nada suara yang begitu lembut, terdengar sangat perhatian di telinga pelayan yang baru saja meletakkan piring buah.
"Terima kasih, Sayang," jawab Raynazh dengan suara yang tertahan di tenggorokan, memaksakan dirinya untuk menelan sepotong roti yang terasa seperti sekam di dalam mulutnya.
Begitu pelayan itu kembali menghilang di balik pintu dapur, Adiba meletakkan garpu peraknya dengan dentingan halus.
Tatapan matanya yang semula hangat langsung berubah sedingin es, menatap lurus ke arah Raynazh yang kini menundukkan kepala.
"Malam ini akan ada wawancara eksklusif dengan majalah Vogue New York di ruang tamu ini," ucap Adiba, suaranya kini datar dan memerintah. "Mereka ingin mengambil foto profil kita sebagai pasangan muda paling berpengaruh tahun ini. Aku ingin kau mengenakan setelan jas abu-abu yang sudah kusiapkan di kamarmu, dan pastikan topeng bahagiamu tidak retak sedikit pun di depan jurnalis."
Raynazh mengepalkan tangannya di bawah meja, giginya mengertak rapat menahan amarah yang bergejolak. "Sampai kapan kau akan melakukan ini padaku, Adiba? Aku sudah menuruti semua keinginanmu. Aku sudah mengasingkan Louis ke Brooklyn. Aku sudah membiarkanmu mengontrol seluruh kehidupan sosialku. Apa itu belum cukup untuk menebus kesalahan malam itu?!"
Adiba menumpukan dagunya di atas jalinan jemarinya, menatap Raynazh dengan sepasang manik mata hitam yang berkilat kejam. Sebuah senyuman sinis yang teramat tipis terukir di bibirnya.
"Cukup?" Adiba berbisik, nadanya begitu pelan namun sarat akan racun yang menusuk tepat ke jantung Raynazh. "Kesalahan malam itu, katamu? Kau pikir penderitaan seumur hidup yang dirasakan olehku dimasalalu bisa ditebus hanya dengan dua minggu berpura-pura bahagia, Raynazh?"
Raynazh tersentak. Jantungnya berdegup kencang karena panik.
Di masa lalu? pikirnya. Apakah Adiba mengetahui sesuatu? Ataukah wanita itu hanya merujuk pada rasa sakitnya sendiri sebagai korban di malam pertama? Ketakutan akan terbongkarnya kasus Ambar selalu menjadi hantu yang mengintai di balik alam bawah sadar Raynazh, membuat setiap kata yang keluar dari mulut Adiba terasa seperti ancaman bom waktu.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu," ucap Raynazh dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba mempertahankan benteng pertahanannya.
"Kau tidak perlu mengerti sekarang, Suamiku yang tampan," jawab Adiba sembari berdiri dari kursinya.
Dia berjalan memutari meja makan, lalu berhenti tepat di belakang kursi Raynazh. Adiba membungkuk sedikit, meletakkan kedua tangannya di atas bahu Raynazh, membiarkan aroma parfum mawarnya yang memabukkan mengepung indra penciuman pria itu.
"Tugasmu hanya satu, Raynazh," bisik Adiba tepat di telinga Raynazh, membuat bulu kuduk pria itu meremang. "Mainkan peranmu dengan sempurna di dalam neraka yang sudah kusiapkan ini. Jangan buat aku bosan terlalu cepat, karena jika aku bosan... kehancuranmu dan dinasti Osborn akan berjalan jauh lebih menyakitkan dari yang bisa kau bayangkan."
Adiba menegakkan tubuhnya, memberikan tepukan ringan di bahu Raynazh sebelum melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan ketukan langkah kaki yang anggun dan santai, meninggalkan Raynazh yang terduduk lemas dengan keringat dingin yang mulai membasahi pelipisnya.
Waktu terus bergulir membelah dinginnya kota New York, mengalir seperti arus sungai East River yang tenang di permukaan namun bergolak di bagian dasarnya. Alur kehidupan ketiga manusia yang terikat dalam benang merah dosa ini bergerak dengan ritme masing-masing, saling menjauh secara fisik namun kian mendekat menuju titik ledak batin yang sesungguhnya.
Di Brooklyn, Louis menenggelamkan dirinya sepenuhnya dalam pekerjaan. Kantor cabang Osborn Group yang semula berantakan kini perlahan mulai tertata di bawah kendali tangan besinya. Dia menolak semua undangan pertemuan dari kantor pusat di Manhattan, menolak untuk bertemu dengan ayahnya ataupun Raynazh.
Bagi Louis, Brooklyn adalah benteng pertahanan sekaligus tempat dia mengumpulkan kekuatan.
Namun, di sela-sela kesibukannya memeriksa laporan proyek ekspansi pelabuhan, pikiran Louis tidak pernah benar-benar terbebas dari sosok Adiba.
Setiap malam, saat dia duduk di balkon penthouse-nya sembari merokok di bawah guyuran angin dingin, bayangan Adiba yang menatapnya dengan intensitas gila di balkon St. Regis selalu datang menghantuinya.
Ada sejenis magnet kegelapan dari diri Adiba yang terus menarik perhatian Louis, sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan dengan logika.
Louis merasa seolah-olah dia sedang berjalan di dalam labirin yang gelap, di mana Adiba adalah sosok yang memegang obor di ujung jalan, menantinya dengan senyuman yang penuh teka-teki.
"Dua bulan..." Louis berbisik pada kegelapan malam Brooklyn, menatap setitik api merah di ujung rokoknya. "Aku akan bertahan selama dua bulan ini, Adiba. Dan saat Zack membawa jawaban itu padaku, aku akan memastikan apakah kau adalah musuh yang harus kuhancurkan... atau justru sesuatu yang lain."
Sementara itu, di Manhattan, Adiba Abbey terus menikmati setiap detik dari orkestra kehancuran yang dipimpinnya. Wawancara eksklusif dengan majalah Vogue malam itu berjalan dengan kesuksesan besar.
Foto-foto yang diambil menampilkan Adiba yang bersandar mesra di dada Raynazh, dengan senyuman hangat yang begitu memukau, sementara Raynazh tampak seperti pria paling beruntung di dunia di sampingnya.
Keesokan harinya, majalah itu terbit dan langsung menjadi perbincangan hangat di kalangan elit New York. Saham Osborn Group dan Abbey Enterprises kembali melonjak naik, memuaskan ambisi Arthur Osborn yang melihat pernikahan ini sebagai keputusan bisnis terbaik abad ini.
Namun, di dalam kamar utamanya yang terkunci rapat, Adiba duduk di lantai sembari membuka kotak beludru hitamnya. Dia mengambil kliping koran terbaru yang menampilkan foto mesranya dengan Raynazh di majalah tersebut.
Dengan menggunakan sepasang gunting kecil, Adiba dengan perlahan dan penuh perasaan memotong gambar wajah Raynazh dari foto tersebut, merobeknya menjadi potongan-potongan kecil hingga tidak berbentuk lagi.
Setelah itu, dia mengambil foto Louis yang usang dari dalam buku catatannya, lalu menempelkan foto Louis di samping gambarnya sendiri yang tersisa di kliping koran tersebut.
Sebuah tawa kecil yang terdengar sangat manis namun bergidik ngeri lolos dari bibir Adiba.
Dia menatap hasil potongannya dengan mata yang berkilat penuh dengan kepuasan dan obsesi yang kian pekat.
"Lihatlah, Louis... bukankah kita tampak sangat serasi di sini?" Adiba berbisik pada foto itu, jemari lentiknya mengusap garis rahang Louis yang tegas dalam gambar hampir usang tersebut.
"Raynazh mengira dia sedang berada di atas angin karena saham perusahaan naik. Dia tidak tahu bahwa setiap sen keuntungan yang dia dapatkan sekarang adalah bahan bakar yang akan kubakar untuk menghanguskan seluruh hidupnya nanti."
Adiba memejamkan matanya, memeluk buku catatan hitam itu erat-erat di dadanya, membiarkan detak jantungnya yang menggila menyalurkan seluruh rasa cinta terlarang yang selama ini dia simpan.
Dia tahu Louis saat ini sedang menyelidikinya di Brooklyn. Dia bisa merasakan pergerakan mata-mata yang mencoba menggali masa lalunya—pergerakan yang sengaja dia biarkan mengalir tanpa hambatan berarti di beberapa lini, hanya untuk memberi umpan agar Louis terus berjalan mendekat ke arah jaringnya.
"Zack tidak akan menemukan apa pun dalam waktu dekat, kekasihku," Adiba terkekeh pelan dalam kesunyian kamar. "Aku sudah membersihkan jalannya dengan sangat rapi. Tapi aku akan memberimu sedikit demi sedikit petunjuk, membiarkanmu penasaran, membiarkanmu terus memikirkanku setiap malam di Brooklyn."
Adiba berdiri, berjalan menuju cermin besar di kamar mandinya. Dia menurunkan sedikit kerah jubah mandi sutranya, menatap tanda kemerahan di bahunya yang kini sudah memudar. Ada rasa kehilangan yang tiba-tiba merayapi hatinya melihat jejak sentuhan Louis yang menghilang dari tubuhnya.
"Aku merindukanmu, Louis..." Adiba berbisik pada bayangannya sendiri, matanya menggelap oleh kerinduan yang terdistorsi oleh kegilaan.
"Dua Minggu tidak bertemu bukanlah waktu yang lama untuk sebuah penantian. Teruslah mencariku di dalam kegelapan, karena pada akhirnya... kau akan menyadari bahwa tempat terbaikmu untuk bersandar adalah di dalam dekapan neraka yang kubangun bersamamu."
Di bawah pendar lampu New York yang dingin dan terus berputar, jaring-jaring intrik yang dirancang Adiba kian merapat, mengunci ketiga manusia itu dalam pusaran takdir yang kian kelam, menanti selesainya hitungan mundur dua bulan yang akan membawa mereka semua ke gerbang kehancuran yang sesungguhnya.