NovelToon NovelToon
Terjerat Pesona Berondong

Terjerat Pesona Berondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Obsesi / Enemy to Lovers
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘

Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Detak jantung Haura masih berdentum bertalu-talu di dalam rongga dadanya, bukan lagi karena sisa tangis, melainkan karena kedekatan posisi mereka yang teramat intim di bawah bayangan pohon palem. Kesadaran bahwa ia sedang berada di halaman samping rumah ayahnya—tempat di mana penjaga malam bisa saja melintas kapan saja—mendadak menyengat akal sehatnya yang sempat lumpuh.

"Marco, lepasin... nanti ada yang lihat," bisik Haura, suaranya parau dan terengah-engah.

Kedua tangan Haura bergerak ke bawah, mencengkeram pergelangan tangan besar Marco yang masih melingkar kokoh di pinggang rampingnya. Ia berusaha sekuat tenaga menarik tangan pemuda itu agar menjauh, namun kekuatan otot mahasiswa baru berusia dua puluh tahun itu seperti biasa, selalu berhasil membuatnya merasa tidak berdaya.

Marco tidak langsung menurut. Ia justru sengaja mempererat cengkeramannya selama satu detik, menikmati bagaimana tubuh Haura yang berbalut gaun tidur satin dan kardigan rajut abu-abu itu menempel sempurna pada dadanya, sebelum akhirnya perlahan melonggarkan tekanannya.

"Takut banget sih, Tan," gumam Marco rendah, suaranya terdengar serak di antara desiran angin malam kompleks. Namun, ia membiarkan tangannya turun, meski posisinya masih berdiri sangat dekat, seolah tidak rela memberikan jarak lebih dari beberapa senti.

Haura mundur satu langkah, merapikan kardigannya yang sedikit tersingkap dengan jari-jari yang masih gemetar. Wajahnya yang semula sembab kini kembali memerah sempurna, menyembunyikan sisa-sisa air mata yang tadi sempat tumpah di bahu kemeja Marco.

"Kamu... kamu pulang deh, ini udah malem banget," ucap Haura, mencoba mengembalikan nada perintah khas Boss Lady-nya, walau getaran di suaranya tidak bisa berbohong. "Besok kamu masih ada kelas pagi kan? Jangan bikin aku pusing karena kamu telat datang magang ke ruko."

Marco menyilangkan kedua tangan di depan dada bidangnya, menatap Haura dengan seulas senyum miring yang sangat familier—senyum tengil yang selalu sukses membuat pertahanan ego Haura rontok. "Ciye, manggilnya udah pakai 'aku'. Kemarin-kemarin kan ketus banget pakai 'saya'."

"Marco! Aku serius!" ketus Haura, melotot tajam mencoba mengintimidasi, meski matanya yang sembab justru membuatnya terlihat menggemaskan di mata Marco.

"Iya, iya, gue tahu lo serius," sahut Marco, tawa kecilnya terdengar begitu lepas di keheningan taman. Ia melangkah maju satu tapak, kembali memotong jarak yang baru saja Haura buat. Tangan kanannya terulur, dengan lembut menyelipkan beberapa helai rambut panjang Haura yang berantakan ke belakang telinganya. "Gue bakal pulang. Tapi lo harus janji satu hal sama gue."

Haura menahan napasnya saat jari-jari hangat Marco sengaja berlama-lama di kulit lehernya yang sensitif. "Janji apa lagi? Jangan aneh-aneh ya."

"Jangan dipikirin lagi omongan bokap lo yang di dalam tadi," ucap Marco, suaranya mendadak berubah menjadi sangat berat, dalam, dan dipenuhi penekanan yang mutlak. Sepasang mata cokelat gelapnya menatap lurus ke dalam manik mata Haura, menenggelamkan seluruh keraguan wanita itu. "Lo bukan wanita gagal. Lo itu Ratu Jastip gue yang paling hebat. Paham?"

Haura tertegun. Kata-kata dari seorang pemuda yang usianya terpaut delapan belas tahun darinya ini entah mengapa terasa jauh lebih berharga daripada seluruh pengakuan dari relasi bisnis papanya. Haura menelan ludahnya pelan, lalu mengangguk kecil hampir tak terlihat. "Iya... tahu. Udah sana, buruan jalan. Motor kamu diparkir di mana?"

"Di ruko seberang kompleks. Gue sengaja jalan kaki ke sini lewat pintu belakang biar nggak dicurigai satpam depan," jawab Marco santai, seolah menyelinap ke perumahan elit kelas atas adalah hal yang biasa ia lakukan sehari-hari.

"Kamu bener-bener nekat ya, Marco Permana," gumam Haura, menggeleng-gelengkan kepalanya merasa tidak habis pikir dengan jalan pikiran asisten magangnya ini.

"Nekat gue kan demi lo juga, Haura," sahut Marco dengan kedipan mata yang jail. Ia melangkah mundur dua langkah, bersiap untuk berbalik menuju kegelapan pembatas taman. "Gue balik ya. Jangan lupa dikunci pintu sampingnya. Dan... jangan mimpiin ciuman gue di teras lagi malam ini, entar lo gak bisa tidur."

"Marco!! Buruan pergi nggak?!" pekik Haura tertahan, tangannya refleks mengambil segenggam daun kering di dekat pot tanaman dan bersiap melemparkannya ke arah Marco.

Marco terbahak pelan, dengan gerakan taktis khas anak muda ia berbalik dan melompati pembatas pagar taman samping mansion dengan sangat ringan, lalu menghilang di balik keremangan lampu jalanan kompleks dalam hitungan detik.

Haura berdiri terpaku selama beberapa saat, menatap tempat di mana Marco baru saja menghilang. Suasana taman kembali sunyi, hanya menyisakan suara jangkrik dan embusan angin malam. Namun, rasa dingin dan sesak yang menghimpit dadanya sejak berada di ruang tamu tadi kini telah sepenuhnya menguap, digantikan oleh kehangatan aneh yang menjalar di sekujur tubuhnya.

Dengan senyum tipis yang tanpa sadar terukir di bibirnya yang masih sedikit bengkak, Haura berbalik dan melangkah masuk kembali ke dalam mansion melalui pintu samping, menguncinya dengan rapat. Malam ini, di kamarnya yang mewah namun dingin, Haura akhirnya tahu bahwa di tengah dunia yang selalu menuntutnya menjadi sempurna, ada satu berandalan tengil berumur dua puluh tahun yang siap melabrak seluruh dunia hanya untuk menjaganya agar tetap aman.

***

Sinar matahari pagi menembus kaca besar ruko jastip, menerangi tumpukan kardus-kardus besar yang baru saja diturunkan dari mobil boks ekspedisi. Hari ini adalah hari paling sibuk dalam minggu ini: ratusan album K-Pop pesanan pre-order dari Korea Selatan akhirnya tiba. Riuh rendah suara lakban dan aroma kertas baru dari poster-poster idola langsung memenuhi seisi ruko lantai satu.

Haura melangkah masuk ke dalam ruko dengan penampilan yang sedikit berbeda dari biasanya. Meskipun ia tetap memakai blus kerja yang rapi dan heels marun andalannya, aura di wajahnya tidak bisa berbohong. Sisa-sisa wajah sembab akibat menangis semalam sudah hilang, digantikan oleh gurat wajah yang tampak jauh lebih segar, rileks, dan... entah mengapa, sudut bibirnya sesekali melengkung tipis tanpa sebab.

Emilia, yang sedang memegang papan jalan berisi manifes barang, langsung menghentikan kegiatannya begitu melihat Haura berjalan melewati meja admin. Sahabatnya itu menaikkan kedua alisnya, menatap Haura dengan tatapan penuh selidik dan cengiran jail yang luar biasa lebar.

"Ciyeee... yang baru datang mukanya cerah banget. Habis dapet asupan cinta ya semalam, Ra?" goda Emilia, sengaja menyenggol lengan Haura dengan sikunya.

Srettt!

Sebuah kotak tisu plastik di atas meja kerja langsung melayang cepat, mendarat telak di dalam pelukan Emilia yang untungnya sigap menangkap objek terbang tersebut. Haura melotot, wajahnya mendadak memerah karena salah tingkah yang coba ia tutupi dengan ekspresi galak.

"Sembarangan banget kalau ngomong! Kerja yang bener!" omel Haura, suaranya naik satu oktav, berusaha mengalihkan perhatian. "Hari ini album K-Pop pada dateng semua, ya. Jumlahnya ratusan. Awas aja kalau ada yang teledor salah masukin photocard atau poster bonusnya! Fokus, Emilia!"

"Iya, iya, Boss Lady. Galak amat sih, padahal kan gue cuma nebak fakta lapangan," sahut Emilia sambil tertawa cekikikan, menaruh kembali kotak tisu itu ke tempat semula.

Tak berselang lama, pintu kaca ruko berdenting. Arlo dan Kevin melangkah masuk secara bersamaan, masih menyandang tas ransel mereka dengan wajah yang tampak mengantuk khas mahasiswa semester awal. Namun, ada satu pemandangan yang membuat kening Haura langsung mengernyit dalam. Kursi di belakang mereka kosong. Tidak ada sosok tinggi menjulang berjaket bomber hitam yang biasanya selalu berjalan paling depan.

Haura menghentikan jemarinya di atas tumpukan dokumen album. Matanya menyapu ke arah pintu ruko sekali lagi, memastikan, sebelum akhirnya menatap keponakannya.

"Marco mana? Kok cuma kalian berdua doang yang datang?" tanya Haura, berusaha membuat nada suaranya terdengar secasual mungkin, seolah itu hanyalah pertanyaan bos kepada karyawannya yang absen.

Kevin yang baru mau menaruh tasnya langsung saling lirik dengan Arlo. Detik berikutnya, Arlo langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada, memasang senyum paling menyebalkan yang ia miliki seumur hidup.

"Ciyeee... ditanyain nih yeee. Baru juga semenit masuk ruko, yang dicariin langsung si Dedek tampan," ledek Arlo dengan nada suara yang sengaja dilebay-lebaykan.

"Ap--apa sih! Orang cuma nanya!" seru Haura, agak gagap karena serangan mendadak dari keponakannya sendiri. Ia buru-buru membetulkan posisi kacamatanya yang tidak miring. "Dia kan karyawan di sini juga! Kalau dia nggak datang tanpa keterangan, jam magangnya saya potong, tahu nggak!"

"Alasan klasik, Tante," sahut Kevin ikut-ikutan menimpali sambil terkekeh pelan. "Marco tadi nge-chat di grup angkatan, katanya dia telat sejam karena harus ngerjain tugas maket DKV dulu yang deadline-nya jam dua siang nanti. Kasihan, tante, semalam katanya dia nggak tidur."

Mendengar frasa "semalam nggak tidur", jantung Haura mendadak melakukan lompatan kecil yang merepotkan. Ya iyalah nggak tidur, orang jam sepuluh malam dia masih nekat berdiri di bawah jendela kamar aku, batin Haura bergejolak, teringat kembali kehangatan dekapan Marco di taman mansion yang membuat wajahnya kini terasa panas lagi.

"Ya... ya sudah. Suruh dia buruan ke sini kalau udah selesai. Barang hari ini banyak banget," gumam Haura, buru-buru berbalik membelakangi mereka dan pura-pura sibuk memeriksa tumpukan album K-Pop.

Hampir satu jam berlalu, suasana ruko makin sibuk. Kevin dan Arlo sudah mandi keringat menyortir album berdasarkan versi, sementara Emilia sibuk mencetak resi pengiriman. Tepat pukul sebelas siang, bunyi denting pintu kaca kembali terdengar.

Marco melangkah masuk dengan napas yang agak memburu. Penampilannya tampak sedikit berantakan namun justru menambah kesan maskulinnya; kaos hitamnya dilapisi kemeja flanel kotak-kotak yang tidak dikancingkan, rambut acak-acakan khas bangun tidur, dan kantung mata tipis yang menghiasi wajah tampannya. Di tangan kanannya, ia membawa gulungan kertas kalkir besar tugas kuliahnya.

Begitu Marco masuk, Arlo yang sedang menimbang kardus langsung menegakkan punggungnya. Ia melirik ke arah meja kerja Haura, lalu menatap Marco dengan cengiran seisi ruko.

"Woi, Co! Baru dateng lo!" seru Arlo lantang, sengaja memecah keheningan ruko. "Lo ditanyain tuh sama Bos Besar dari pagi! Ada yang kangen katanya sampai mukanya ditekuk mulu!"

DEG. Haura yang sedang memegang spidol hitam langsung menghentikan gerakannya. Ia menoleh secepat kilat, memberikan tatapan melotot paling mematikan yang ia punya langsung ke arah mata Arlo. Kalau tatapan mata bisa membunuh, Arlo dipastikan sudah terkubur di bawah tumpukan album hari itu juga.

"Arlo!! Diam atau komisi kamu Tante potong sekarang?!" ancam Haura dengan suara baritonnya yang tertahan, membuat Arlo langsung pura-pura sibuk memukul-mukul kardus.

Marco yang mendengar seruan Arlo tidak marah sedikit pun. Sebaliknya, seulas senyum miring yang sangat tipis dan penuh kemenangan perlahan terukir di sudut bibirnya. Rasa lelah akibat begadang semalaman mengerjakan tugas DKV mendadak menguap begitu saja saat matanya menangkap sosok Haura yang sedang salah tingkah dengan wajah merona merah di balik meja kerjanya.

Marco menaruh gulungan kertas tugasnya di atas loker, lalu berjalan tegap mendekati meja kerja Haura. Ia berdiri di sana, menatap lekat wajah wanita berumur 38 tahun itu dari atas dengan pandangan mata cokelat gelapnya yang intens dan posesif—tatapan yang sama persis dengan yang ia berikan di taman mansion semalam.

"Siang, Tan. Maaf gue telat," sapa Marco, suaranya terdengar lebih serak dan berat karena kurang tidur, memberikan efek getaran aneh yang langsung menusuk ke dada Haura.

Haura berdehem, mencoba menetralkan kegugupannya, matanya menolak untuk menatap langsung ke dalam mata Marco. "Iya, nggak apa-apa. Kevin tadi udah bilang kamu ngerjain tugas dulu. Sana buruan bantuin mereka, albumnya banyak banget yang harus di-packing."

Marco tidak langsung bergerak ke meja packing. Ia justru mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan meja, menurunkan volume suaranya hingga hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Arlo tadi bener, Tan? Lo beneran nanyain gue dari pagi? Kangen ya gara-gara semalam tidurnya nggak ditemenin pelukan gue?"

"Marco!! Jaga bicara kamu ya, ini di ruko!" bisik Haura panik, matanya melotot tajam, tangannya di bawah meja sudah mengepal kuat menahan diri agar tidak mencubit pinggang pemuda lancang ini lagi.

Marco terkekeh rendah, suara tawa beratnya yang seksi terdengar begitu dekat di telinga Haura. "Iya, iya, galak banget sih cewek gue. Gue kerja dulu ya, Ratu Jastip. Biar kerjanya cepet selesai, terus kita bisa... lanjut ngobrol berdua lagi kayak semalam."

Dengan kedipan mata jail yang bener-bener mematikan, Marco berbalik dan melangkah lebar menuju meja packing, bergabung dengan Kevin dan Arlo yang sejak tadi menonton interaksi mereka dengan senyum-senyum penuh arti. Sementara Haura hanya bisa bersandar di kursinya dengan napas tertahan, memegang dadanya yang berdegup kencang, menyadari bahwa hari ini di ruko jastip akan menjadi hari yang sangat panjang untuk mengendalikan hatinya dari jeratan sang berandalan muda.

1
apiii
yg sabar ya mar🥹
apiii
ditunggu bucinya tante haura🤣
apiii
manis bngt sihh berondongnya mau satu kaya marco bolehhh🤣
apiii
jangan pindah lapak🥲 thor soalnya cuma cerita dari novel author yg paling aku tunggu🥹
Penulis GenZ: nggak pindah lapak kak cuma aku nulis juga cerita disana hehe. yang disini tetep aku tamatin kok tenang aja ya😍
total 1 replies
apiii
kenapa sih itu mbah" ga bisa berkaca dari kejadian si cegill
Penulis GenZ: mbah² bgt nih kak🤣
total 1 replies
apiii
akhirnya up lagi❤️
apiii
semangat cogill🤣
apiii
emng bener berondong lebih menarik buktinya si haura sampai nggak berkutik🤣
apiii
sangat bagus alur ceritanya tidak membosankan dan membuat pembaca jadi penasaran
Indra P.
lannjutttt thorrr...
semangattt
apiii
semangat ya thor aku suka bangt semua novel yg author tulis
Penulis GenZ: jadi terharu mau nangis 🥺
total 1 replies
apiii
ngga kak asik bngt loh alur ceritanya aja bagus dan ya emg sekarang lagi musim kakak" pacaran sama berondong🤣
apiii
emng berondong itu bikin mabok kepayang🤣
apiii
berondong kesayangan🥲
apiii
mulai terpikat pesona berondong🤣
apiii
kayanya lucu klo mereka tbtb nikah🤭
apiii
jodohin haura sama si berondong tengil itu🤣
apiii
semangat up nya thor❤️
apiii
thor kenapa haura ketemu tua bangt🥲
Penulis GenZ: apanya yang tua🤣🤣
total 1 replies
English Lesson
menarik💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!