Aurora sudah terlihat cantik dengan riasan wajah natural flowles dan glowing. ia mengenakan gaun pengantin impiannya rancangan sahabatnya sendiri Vera.
Di sudut ruangan rias Maxime yang tak lain sahabat Aurora berdiri mengamati kecantikannya dengan takjub.
Tiba-tiba sebuah kabar buruk datang jika pengantin pria yaitu Andre tidak datang melainkan pergi tanpa kabar sejak semalam. kepanikan seketika melanda terutama Aurora sampa jatuh pingsan dan harus di tenangkan oleh teman dan keluarganya. hingga waktu yang di tentukan Andre tak juga datang. demi menyelamatkan nama keluarga besar akhirnya Maxime bersedia menikahi Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nur danovar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22 Persaingan
Maxime tiba di salah satu club ia segera menuju ruang VIP di lantai tiga. ruangan khusus kedap suara dan bisa juga di pakai untuk meeting. disana ada fasilitas meja besar dan panjang ala ruang meeting kantoran. Maxime sebenarnya tidak mau meeting di tempat itu ia tidak mau Aurora salah paham padanya. disana banyak sekali wanita cantik dengan berbagai pilihan. mau kelas atas, kelas menengah mau yang cantik, super cantik, mau yang masih segel alias perawan semua ada tinggal pesan.
"Selamat datang Maxime Gunanto" Hendri berdiri dari duduknya menjabat tangan Maxime.
"Lain kali bisa meeting di kantor saja" kata Max dingin. tatapan mata Max memandang ke arah seseorang yang sedang duduk.
Orang itu adalah Andre, menyadari Max menatapnya Andre bangkit dari duduknya dan memulai basa basi menyebalkan.
"Oh selamat datang CEO Maxime Gunanto, anda tidak suka tempat ini? kenapa? bukankah dulu anda penggemar tempat ini?" Andre tersenyum sinis.
Andre jelas tahu kebiasaan Maxime dulu, sewaktu Andre masih menjadi kekasih Aurora, ia sering mendapat cerita dari Rora jika Max gemar pergi ke club malam.
"Anda takut istri marah?" sindir Andre lagi.
"Istri saya sangat percaya dengan saya, ia begitu pengertian jadi tidak mungkin istri saya marah karena hal remeh seperti ini" jawab Max tenang.
Andre tersenyum mengejek.
"Oke cukup, lebih baik kita mulai saja meeting nya" kata Hendri yang menyadari situasi tidak kondusif.
Meeting di mulai, Max sudah menandatangani persetujuan kontrak kerja sama perusahaannya dan Hendri untuk dua tahun mendatang. Wisnu mengeluarkan dokumen dan menyerahkan salinan dokumen itu pada Hendri dan Andre.
"Baiklah terimakasih atas kesempatan ini pak Maxime perusahaan saya tidak akan mengecewakan anda" kata Hendri.
Maxime hanya diam ia berdiri dari duduknya setelah meeting selesai.
"Apa anda tidak mau minum dulu bersama kami?" tanya Hendri.
"Istri saya sudah menunggu di rumah jadi saya harus segera pulang jangan sampai ia kecewa"
"Jika tidak ada cinta maka juga tidak mungkin ada kecewa" kata Andre mulai memanasi Max lagi. Andre yakin Aurora tidak mencintai Max ia pasti hanya mau membalas perlakuan Andre saja.
"Hati manusia tidak ada yang tahu jadi jangan di biasakan terlalu percaya diri merasa paling di cintai" balas Max.
Andre mengepalkan tangannya rasanya ia ingin sekali memukul Maxime. Hendri menahan amarah Andre.
setelah Max berjalan pergi Hendri memarahi Andre.
"Jangan campur aduk urusan pribadi dalam kerja sama ini! ingat Maxime penyumbang dana terbesar untuk proyek kita jadi simpan dulu masa lalu mu itu!"
Andre hanya bisa diam, saat ini ia memerlukan kerja sama itu untuk menaikan kembali perusahaannya.
Lihat saja nanti jika perusahaan ku sudah pulih maka aku akan kembali merebut Aurora! jika Aurora tidak mau kembali padaku maka ia juga tidak bisa di miliki oleh pria manapun termasuk Maxime!
Tadinya Andre ingin menjebak Maxime dengan menyuguhkan wanita cantik nan berkelas untuk menemani minum. tapi ia gagal karena Wisnu membuat tempat itu steril sebelum Maxime datang. lantai tiga di booking oleh Wisnu untuk di kosongkan jadi tidak ada wanita, tidak ada minuman mereka hanya meeting lalu pulang.
"Di mana rumah pribadi Maxime?" tanya Andre pada Hendri.
"Sudahlah aku sudah katakan jangan macam-macam pada Maxime! jangan sampai kau jatuh miskin dan di penjara karena hutang mu menumpuk dan tidak bisa membayarnya! aku sudah berbaik hati membantu mu Andre jadi berhenti dan lupakan Aurora"
Hendri mulai kesal dengan sahabatnya. jika bukan karena ia kasihan melihat Andre jadi buronan interpol ia juga malas menolong. tapi mau bagaimana lagi dulu Hendri pernah berhutang budi pada Andre saat dirinya belum sesukses sekarang.