NovelToon NovelToon
NEVER TRULY GONE

NEVER TRULY GONE

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Mengubah Takdir
Popularitas:133
Nilai: 5
Nama Author: Selene Mora

Bagaimana jika cinta terbesar adalah cinta yang diam-diam merantai, mengikat hati tanpa suara, dan terus hidup meski tanpa harapan?

​Brant dan Luca hanya tahu satu hal: cinta itu masih ada dan mungkin akan tetap ada selamanya. Mereka hanya pasrah, tidak lagi bertarung untuk bersama.


!!!⚠️!!!

#BL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

Siang itu, kantin kampus lagi panas-panasnya. Luca, Vin, Rose, dan Elena lagi meratapi nasib di depan abang kantin.

​"Yah, habis banget nih Bang nasgornya?" tanya Luca lemas.

​"iya Habis . Tinggal kerupuknya doang," jawab Abangnya.

​Luca nggak menyerah. Dia langsung ambil HP dan telepon Brant. " Dan panggilan langsung tersambung. "Kak Brant! Di kantin gedung situ masih ada nasgor nggak? Sini habis semua, aku laper banget..."

​"Habis juga di sini," jawab Brant di seberang sana. Suaranya datar banget, kayak operator robot.

​Luca mengerucutkan bibirnya. "Masa ya hari ini orang sedunia kompak makan nasgor sampai ludes? Terus gimana dong? Apa kita beli di luar aja yuk, Kak? Aku lagi pengen banget."

​"Nggak ada duit gue. Saldo tipis. Udah ah, makan apa yang ada aja," balas Brant cepat, terus langsung to the point mematikan sambungan teleponnya. Tut... tut... tut...

​Luca bengong.

"Kenapa, Ca? Nggak dibolehin?" tanya Elena.

​"kak Brant aneh. Kemarin kayaknya kesal, hari ini malah jadi pelit banget," keluh Luca.

​Rose menyahut sambil ngunyah gorengan, "Ya iyalah! Orang lagi kesal sama lo, malah lo mintain traktir. Mana mau dia."

​"Kesal? Emang dia kesal kenapa?" Luca lebih bingung lagi. Dia berdiri dari kursinya, nggak pakai pikir panjang langsung lari keluar kantin. "Aku samperin aja deh!"

​Vin cuma bisa geleng-geleng. "Duh, semoga Luca nggak teriak-teriak di ruangan Brant. Malu-maluin bener si bocah."

​Benar saja, begitu sampai di depan pintu ruangan Brant, Luca langsung teriak tanpa rem.

"KAK BRANTTT!"

​Seisi kelas yang lagi tenang—termasuk Brant yang lagi fokus mabar di HP—langsung loncat kaget. Teman-teman Brant bukannya risih, malah senyum-senyum liat si "Angel Kampus" itu datang. Brant yang sudah maklum cuma bisa menghela napas, dia log out seketika dari gamenya berdiri dan nyamperin Luca yang lagi nyengir tanpa dosa.

​"Ayo," ajak Brant, berjalan keluar menuju kantin sambil melingkarkan tangannya di bahu Luca, posesif banget.

​​Di dalam kantin gedung Fakultas Bisnis, atmosfer mendadak berubah saat Brant dan Luca melangkah masuk. Mereka otomatis menjadi pusat perhatian, dengan tatapan yang mayoritas tertuju pada Luca karena ia jarang sekali terlihat makan di area ini. Kehadiran pasangan visual paling fenomenal di kampus ini sukses mengalihkan fokus semua orang.

​Brant yang peka dengan situasi langsung meminta Luca untuk duduk dan menunggunya. Ia bergerak sendiri membelah antrean, lalu kembali tak lama kemudian dengan dua porsi nasi goreng hangat di tangannya.

​"Nih, makan," ucap Brant datar.

​Mata Luca berbinar. "Loh, tadi katanya habis? Kok ada?" tanyanya sambil mulai menyuap.

​"Tadi pas lo nyampe, nasinya baru matang," jawab Brant asal, yang jelas-jelas bohong karena dia cuma malas diajak keluar kampus tadi.

​"Ohh gitu... untung ya," balas Luca percaya gitu aja. Sambil ngunyah, dia nanya lagi dengan wajah watados nya. "Ehh Kak, kata Rose... eh nggak deng, aku juga ngerasa sih. Kak Brant lagi kesal ya? Kenapa?"

​Brant cuma meliriknya sekilas. "Makan dulu. Entar ceritanya."

​Tiba-tiba suasana kantin makin ramai. Vania datang bareng dua temannya. Begitu matanya ketemu mata Luca, Vania langsung pasang aksi. Dia mendekat ke meja mereka.

​"Brant? Oh, lagi sama Luca ya?" tanya Vania pura-pura kaget, padahal tadi dia sudah liat dari jauh.

​"Hmm, iya," jawab Brant singkat, padat, dan jelas.

​"Iya, sekalian mau bilang nih. Kemarin warna kostum kita samaan sama pemandu sorak kampus sebelah. Aku pikir perlu diganti deh biar beda. Gimana kalau pulang nanti kita langsung cari?" ucap Vania sambil natap Brant penuh harap.

​Baru saja Brant mau buka mulut, Jack tiba-tiba muncul bareng Rey dan Clay.

​"Nggak usah. Pertandingan tinggal sekali lagi sama mereka, pemborosan anggaran doang,"

potong Jack tegas. Dia berdiri di samping Brant dengan muka sangar andalannya.

​Brant cuma mengangguk setuju sama Jack.

​Jack lanjut lagi, "Lain kali kalau ada urusan tim pemandu sorak, bilang ke gue aja. Jangan ganggu Brant, dia cuma fokus ke bagian inventaris."

​Vania langsung mati kutu. Wajahnya merah padam karena kesal sekaligus malu. "Ya udah kalau gitu. Gue balik dulu," ketusnya sambil ngeloyor pergi bareng teman-temannya.

​"Nggak makan dulu van? Gue traktir, nih!" teriak Clay ngeledek ke arah Vania.

​Rey malah fokus ke yang lain. "Eh, ada si cantik! Halo Luca!"

​"Halo Kak Rey!" balas Luca sambil melambaikan tangan dengan senyum malaikatnya.

​"Sering-sering main ke sini, Ca. Biar dapat makan gratis, sekalian pantau nih cowok lo. Lagi viral banget di kalangan cewek-cewek gedung seni," canda Rey sambil melirik Brant.

​"Bacot lo," sahut Brant dingin.

​"Masa sih?" Luca menatap wajah Brant penasaran. "Iya sih emang ganteng... hehe."

​Habis makan siang itu, mereka pun bubar. Luca benar-benar lupa tujuan awalnya datang buat nanya kenapa Brant kesal, karena perutnya sudah kenyang nasgor. Brant pun mengantar Luca sampai depan gedung dan dia, kembali lagi ke ruangannya.

Malamnya, Brant mampir ke rumah Luca. Begitu masuk, dia langsung disambut oleh ibu lana dan Lea yang lagi asyik nonton TV di ruang tengah.

​"Bawa apa, Kak?" tanya Lea singkat. Matanya melirik ke tangan Brant yang kosong. Nada suaranya kedengeran bercanda, tapi tetep aja pedas.

​Brant refleks melihat tangannya sendiri yang nggak bawa apa-apa. "Kosong," jawabnya singkat.

​"Ohh, lupa lagi ya? Niat ngapel apa niat numpang duduk?" sindir Lea lagi sambil senyum miring.

​"Lea, kok gitu ngomongnya," Mama memukul pelan lengan Lea, lalu menoleh ke Brant dengan ramah. "Sudah, naik aja ke atas, Brant. Lucanya ada di kamar."

​Brant permisi naik ke lantai dua setelah mengangguk sopan. Tanpa babibu, ia langsung membuka pintu kamar Luca begitu saja—kebiasaan lama yang sering ia lakukan. Namun, langkah Brant mendadak terkunci rapat. Cowok Willey itu mematung dengan pandangan lurus ke depan.

Di dalam kamar, Luca hanya memakai celana pendek di atas lutut—potongannya yang minim bahkan hampir menyerupai hotpants. Dengan santai, Luca sedang membalurkan handbody ke perutnya yang terekspos bebas tanpa selembar benang pun yang menutupi tubuh bagian atasnya. Visual seksi nan menggemaskan itu seketika membuat atmosfer di dalam kamar terasa mendadak panas bagi Brant.

​"Kak Brant! Kok datang nggak bilang-bilang sih?" seru Luca kaget, tapi tetap lanjut ngeratain lotion-nya.

​"Bosan gue di apartemen," sahut Brant, masih mematung di ambang pintu.

​Luca baru sadar kalau Brant masih diam di tempat dan terus menatapnya, dia langsung menyambar kaos di atas kasur dan memakainya cepat-cepat. "Ayo sini masuk! Santai aja kali, aku nggak telanjang kok," goda Luca dengan wajah polosnya.

​"Jorok mulut lo. Disentuh dikit aja nangis," sindir Brant sambil melangkah masuk.

Dia memilih duduk di kursi belajar Luca, jemarinya menyentuh bingkai foto mereka berdua yang terpajang di sana.

​"Besok sore gue tanding," ucap Brant tiba-tiba.

​"Ohh, besok? Pas banget! Dosen kelas terakhir aku nggak ada. Tunggu, mau telepon Rose dulu sama—"

​"Lo nggak perlu ikut," potong Brant cepat.

​Luca menatap Brant heran, lalu sedetik kemudian wajahnya berubah cemberut. "Hey! Kak Brant, suporter nggak bakal 'hidup' kalau bukan aku pemandu soraknya! Terus..." Luca terdiam sebentar, otaknya baru muter. "Kenapa aku nggak boleh ikut?"

​"Nggak. Pokoknya nggak boleh," jawab Brant datar sambil membuang muka.

Luca mendekat, sengaja memangkas jarak sampai wajah mereka hampir bersentuhan, sambil memasang wajah paling imutnya.

"Bilang dong alasannya, biar Luca tau..."

​Brant menghela napas panjang dan menjauhkan wajah Luca pelan dengan telapak tangannya. Dia mencoba menekan rasa gemasnya sebelum akhirnya jujur juga.

​"Lo itu genit kayak gini kalau di depan pria lain, Ca. Main tatap-tatapan, sok kasih senyuman manis segala. Gue nggak suka," aku Brant dengan nada rendah yang terdengar sangat posesif.

​Mata Luca langsung berbinar nakal. "Kak Brant cemburu, ya? Ciee... cemburu buta nih yeee!" goda Luca.

​Pemuda manis itu bahkan mulai menggoyangkan badannya ke kanan dan ke kiri sambil bernyanyi kecil tepat di depan wajah Brant, "Ada yang kepanasan tapi bukan matahari~ Ada yang cemburu tapi gengsi mau mati~ Kasihan deh Kak Brant~"

​Brant menatap Luca lekat-lekat, menyudutkannya tanpa celah. "Ca, lo bisa serius nggak sih?"

​Tiba-tiba pintu terbuka. Lea masuk membawa nampan berisi minum dan camilan.

"Nih, sudah kami siapkan pelayanan spesial untuk Anda, Tuan," ucap Lea dengan nada yang ditekankan, sengaja menyindir Brant lagi. Habis meletakkan nampan, dia langsung keluar tanpa pamit.

​Brant cuma bisa membuang napas kasar. "Lo berdua sama aja, sama-sama bikin orang stres."

​Luca kembali ke mode serius. "Jadi beneran, aku nggak bisa ikut Kak Brant tanding?"

​"Lo cuma bikin gue cemburu, Ca. Gagal fokus gue gara-gara lo" aku Brant jujur.

​Luca terdiam, dia sudah mengerti. "Ohh, soal itu... maaf Kak, itu spontan. Masa orang senyum ke kita, kita balas pake tatapan tajam? Kan nggak sopan."

​"Pokoknya gue bilang nggak, ya nggak boleh."

​"Yah... terus masa besok aku nggak bisa liat kemenangan Kak Brant dong?" Luca mencoba negosiasi. "Gini aja, Kak..."

​"Gue transfer uang buat lo beli boba tiga cup gede sekalian," potong Brant santai.

​Mata Luca langsung melotot. "Deal! Aku kan bisa denger kabar kemenangan langsung dari Kak Brant " jawab Luca secepat kilat.

​Brant cuma bisa geleng-geleng kepala. Gampang banget nyogok bocah ini, cuma butuh boba doang, batinnya pasrah.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam saat Brant terpaksa menyudahi kunjungannya. Meskipun Luca sempat membuat drama kecil dengan menahan ujung jaket Brant agar sang kekasih menetap lebih lama, Brant tetap harus pamit. Pasalnya, Rey baru saja menelepon dan mengomporinya kalau anak-anak sudah lengkap menunggu di kedai kopi tempat biasa mereka nongkrong.

Mengembuskan napas berat karena momen manisnya diganggu, Brant memberikan satu kecupan penenang di kening Luca sebelum akhirnya benar-benar melesat pergi menuju tongkrongan.

Malam itu berakhir dengan tenang bagi Luca, tapi tidak dengan dunia maya universitas mereka. Di saat Luca sedang tertidur pulas dengan perasaan lega, sebuah unggahan mendadak meledak di portal gosip mahasiswa.

​Vania rupanya belum menyerah. Dia nekat mengunggah sebuah foto yang diambil secara diam-diam saat mereka masih berada di penginapan luar kota kemarin. Foto itu memperlihatkan suasana kamar yang temaram, di mana Brant sedang duduk sangat dekat di samping Vania, tampak telaten membantu mengganti perban di luka tangan cewek itu.

​Vania menuliskan caption singkat namun penuh makna tersirat:

​"Ternyata di balik wajah dinginnya, ada sisi lembut yang cuma bisa dilihat orang-orang tertentu. Makasih ya, perbannya terpasang rapi banget. ❤️🏀 #Latepost #HiddenSide"

​Keesokan paginya, suasana di grup WhatsApp sahabat Luca langsung "kebakaran". Elena adalah orang pertama yang bangun dan melihat unggahan yang sudah viral itu. Dia sangat geram sampai tangannya gemetar saat men-screenshot layar ponselnya.

​"Gila! Ini cewek bener-bener nggak punya urat malu! Berani banget dia giring opini kayak gini?" maki Elena di kamarnya.

​Unggahan itu sudah mendapatkan ratusan likes dan komentar mahasiswa yang mulai berspekulasi kalau Brant dan Vania punya "hubungan rahasia" saat tim sedang berada di luar kota. Elena langsung menelepon Vin dan Rose dengan napas memburu.

​"Eh, kalian udah liat portal kampus? Si Vania cari gara-gara lagi! Dia upload foto berduaan sama Brant di kamar penginapan! Kita harus gerak cepat sebelum Luca liat dan dunianya hancur lagi pagi ini!"

​Tanpa mereka sadari, "bom" itu sudah meledak tepat di depan pintu kedamaian Luca. Unggahan itu sudah terlanjur memicu kegaduhan, dan pagi yang tenang bagi Luca akan segera terusik oleh gosip yang mulai liar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!