NovelToon NovelToon
Kisah Arkan Dan Nara

Kisah Arkan Dan Nara

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:917
Nilai: 5
Nama Author: Rani Febrianti

Sinopsis:

Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.

Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2: Aturan di Bawah Atap Sama

Pagi baru saja menyingsing, namun sinar matahari yang masuk lewat celah tirai jendela besar di kamar tamu itu tak cukup untuk menghangatkan suasana hati Nara. Semalam, ia sulit memejamkan mata. Bayangan tatapan dingin Arkan dan kata-kata tajamnya terus berputar di kepala, seperti rekaman yang tak mau berhenti. Sekarang, saat ia berdiri di depan cermin membenahi pakaiannya, Nara menyadari hidupnya telah berubah total. Ia bukan lagi gadis biasa yang bebas melakukan apa saja; mulai hari ini, ia adalah istri dari Arkan Dirgantara—seorang pria yang bahkan tak sudi memandangnya dengan pandangan ramah sekalipun.

Nara mengenakan kemeja putih polos dan rok selutut berwarna biru dongker, pakaian yang rapi namun tetap sederhana, jauh dari kesan mewah atau berlebihan. Ia takut jika berpakaian terlalu mencolok, Arkan akan mengira ia sedang mencoba pamer atau bertingkah seolah-olah telah menjadi nyonya besar di rumah ini. Ingat pesan Arkan semalam: Ingat posisimu. Kalimat itu tertanam kuat di benaknya.

Jam menunjukkan pukul delapan lewat empat puluh lima menit. Nara turun ke lantai bawah dengan langkah hati-hati. Rumah itu begitu besar dan sepi, hanya terdengar suara langkah kakinya sendiri yang menggema di lantai marmer mengkilap. Di ruang makan, seorang wanita paruh baya yang tampak ramah sedang menata sarapan. Itu Bu Inah, kepala pembantu rumah tangga yang sudah bekerja di keluarga Arkan sejak lama.

"Selamat pagi, Non Nara," sapa Bu Inah dengan senyum tulus. Wajah wanita itu sedikit lebih teduh dibandingkan suasana dingin yang dirasakan Nara kemarin. "Silakan sarapan dulu. Tuan Arkan biasanya sudah berangkat pagi sekali, tapi hari ini beliau menunggu Non di sini."

Jantung Nara berdegup kencang. Menunggu? Ada apa lagi? Bukankah perintahnya hanya datang ke kantor jam sembilan?

Nara mengangguk sopan dan duduk di salah satu ujung meja makan yang panjangnya hampir dua meter. Di ujung lain, sudah duduk Arkan, sedang membaca berita di tablet elektroniknya dengan tenang. Pria itu tampak lebih berwibawa lagi hari ini, mengenakan kemeja berwarna abu-abu gelap dengan lengan digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia terlihat sibuk, seolah keberadaan Nara di ruangan itu tak lebih dari keberadaan vas bunga di sudut ruangan.

"Selamat pagi, Tuan," sapa Nara pelan, berusaha memecah keheningan yang menyesakkan dada.

Arkan tidak langsung menjawab. Ia menurunkan tabletnya perlahan, lalu menatap Nara sekilas—tatapan sekilas yang terasa begitu berat dan menuntut. "Jangan panggil aku 'Tuan' terus-menerus. Nanti orang luar mendengar dan menimbulkan pertanyaan aneh. Kita sudah menikah secara sah, meski hanya di atas kertas. Di depan orang lain, panggil aku Mas atau Arkan. Di belakang, terserah kau, asal jangan sampai terdengar oleh siapa pun."

Suaranya datar, tanpa nada emosi. Ia mengambil cangkir kopi hitam di hadapannya dan menyesapnya sedikit sebelum melanjutkan.

"Dan satu hal lagi. Di rumah ini ada aturan. Jangan pernah masuk ke ruang kerjaku tanpa izin. Jangan sentuh barang-barang di mejaku. Jangan bertanya soal pekerjaanku, teman-temanku, atau ke mana aku pergi dan jam berapa aku pulang. Kau hidup di sini, makan di sini, tidur di sini, tapi kau tidak berhak mengatur atau mengoreksi apa pun yang kulakukan. Paham?"

Nara menelan ludah. Perasaannya sakit mendengar aturan-aturan itu, tapi ia tahu ia tak punya pilihan. Ia mengangguk pelan. "Saya paham."

"Bagus. Habis ini, sopirku akan mengantarmu ke kantor. Pengacaraku, Pak Herman, sudah menunggu. Baca semua isi kontrak itu sampai hafal. Di sana tertulis jelas hak dan kewajibanmu, serta konsekuensi jika kau melanggar. Tanda tangani, lalu kembalikan ke meja sekretarisku. Aku punya rapat penting pagi ini, jadi aku duluan."

Arkan bangkit berdiri, mengelap mulutnya dengan serbet kain seolah tak ada makanan yang tersisa sedikit pun, lalu berjalan pergi begitu saja tanpa menoleh lagi ke arah Nara. Pintu utama tertutup rapat, meninggalkan Nara yang duduk kaku di kursi makanannya, rasa makanannya hilang seketika.

Bu Inah yang melihat dari pinggir ruangan mendekat pelan, menatap Nara dengan rasa iba. "Jangan dimasukkan ke hati ya, Non. Tuan Arkan memang keras dan dingin begitu. Tapi hati beliau sebenarnya tidak sejahat yang terlihat. Beliau hanya belum terbiasa ada orang lain di hidupnya."

Nara tersenyum getir. "Terima kasih, Bu Inah. Saya mengerti. Saya tidak berharap lebih kok. Saya di sini hanya menjalankan tugas."

Setelah selesai sarapan, Nara bergegas berangkat. Mobil sedan mewah hitam sudah terparkir di depan pagar rumah besar itu. Perjalanan ke pusat kota memakan waktu sekitar dua puluh menit, dan sepanjang jalan, Nara hanya diam menatap jendela kaca yang tertutup kerapatan. Gedung-gedung pencakar langit yang berlalu-lalang di luar sana seolah mengingatkannya pada betapa kecilnya dirinya di dunia besar milik Arkan ini.

Sesampainya di lobi gedung tertinggi milik Grup Dirgantara, Nara merasa seolah masuk ke dunia yang berbeda. Semuanya serba kilau, mewah, dan sangat profesional. Para karyawan yang berlalu-lalang menunduk hormat, berjalan cepat dengan tumpukan berkas di tangan, menciptakan suasana tegang yang khas dunia korporat.

"Selamat pagi, Nyonya Dirgantara," sapa resepsionis di meja depan dengan senyum sopan namun kaku. Nara tertegun sejenak mendengar panggilan itu. Nyonya Dirgantara. Gelar itu terdengar begitu indah, namun rasanya begitu palsu di telinganya.

Nara dipandu menuju ruangan khusus di lantai atas. Di sana, seorang pria tua berkacamata tebal sedang menunggu di balik meja panjang yang penuh dengan dokumen. Itu Pak Herman, pengacara kepercayaan keluarga Arkan.

"Silakan duduk, Nona... eh, maksud saya Nyonya Nara," sapa Pak Herman ramah sambil menyodorkan setumpuk kertas tebal bersampul hitam. "Ini adalah perjanjian tertulis yang disusun berdasarkan kesepakatan antara kedua belah pihak, termasuk Pak Arkan. Di sini dijelaskan rincian mengenai harta gono-gini, tunjangan bulanan yang akan Anda terima, batasan interaksi sosial, hingga klausul tentang kapan pernikahan ini bisa berakhir."

Tangan Nara gemetar saat menerima berkas itu. Ia membuka halaman demi halaman, membaca tulisan-tulisan hukum yang kadang sulit ia mengerti, tapi poin-poin utamanya sangat jelas dan menyakitkan.

Pasal 3: Pasangan kedua (Nara) dilarang menuntut pembagian harta kekayaan Pasangan pertama (Arkan Dirgantara) dalam kondisi apa pun, kecuali tunjangan bulanan yang telah disepakati.

Pasal 7: Pasangan kedua dilarang mengganggu privasi, hubungan pribadi, atau aktivitas bisnis Pasangan pertama. Keterlibatan dalam acara sosial hanya diperlukan atas permintaan khusus.

Pasal 12: Pernikahan ini akan berakhir secara otomatis dalam jangka waktu maksimal dua tahun, atau lebih cepat apabila tujuan perjanjian tercapai dan salah satu pihak mengajukan permohonan pemisahan.

Dua tahun. Hanya dua tahun. Nara menarik napas panjang, merasa lega sekaligus sedih. Setidaknya ada batas waktunya. Ia tidak akan terjebak selamanya di sini. Dua tahun, dan setelah itu ia bebas kembali. Ayahnya akan selamat dari kebangkrutan, dan ia bisa kembali melanjutkan mimpinya.

Namun ada satu pasal yang membuat jantungnya berhenti berdetak sejenak.

Pasal 9: Pasangan kedua wajib menjaga citra baik keluarga Dirgantara. Pasangan kedua dilarang memiliki hubungan asmara atau kedekatan emosional dengan pihak lain selama masa pernikahan berlangsung. Pelanggaran akan dikenakan denda besar dan pencabutan seluruh hak tunjangan.

Nara tersenyum kecut. Arkan bebas melakukan apa saja, tapi dia harus dikurung aturan. Meski begitu, Nara sadar diri. Ia sudah berjanji semalam, ia tidak akan menuntut apa pun.

"Apakah ada yang ingin ditanyakan, Nyonya?" tanya Pak Herman memecah lamunannya.

"Tidak ada, Pak. Saya mengerti semuanya," jawab Nara pelan. Ia mengambil pulpen di atas meja, lalu dengan tangan yang masih sedikit gemetar, menuliskan namanya di setiap kolom tanda tangan yang disediakan. Setiap goresan tinta itu terasa seperti mengikatnya makin erat pada takdir yang dipaksakan ini.

Setelah selesai, Pak Herman mengumpulkan kembali berkas-berkas itu. "Bagus. Sekarang, silakan Anda serahkan salinan ini ke ruangan Direktur Utama. Beliau sedang menunggu di lantai puncak."

Nara mengangguk, berjalan keluar ruangan dengan berkas di genggamannya. Ia melangkah menuju lift khusus yang hanya digunakan oleh Arkan dan pejabat tinggi perusahaan. Pintu lift tertutup, dan perlahan naik meninggalkan lantai-lantai kantor yang sibuk itu.

Saat pintu lift terbuka di lantai teratas, suasana begitu sunyi dan tenang. Di ujung lorong panjang, ada pintu besar bertuliskan nama: Arkan Dirgantara - Direktur Utama.

Dengan napas ditarik dalam-dalam, Nara mengetuk pintu itu dua kali.

"Masuk," suara berat Arkan terdengar dari balik pintu.

Nara membuka pintu pelan-pelan. Ruangan itu sangat luas, beraroma wangi mahal dan berkonsep modern minimalis yang mewah. Di balik meja kerjanya yang besar dan berwarna cokelat tua, Arkan duduk dengan punggung tegak, menatap layar komputernya yang besar. Ia tidak menoleh sedikit pun saat Nara masuk.

"Taruh di meja," perintahnya singkat.

Nara berjalan mendekat, meletakkan berkas perjanjian itu tepat di sisi kosong meja kerja Arkan. Ia berniat pergi secepat mungkin, namun suara Arkan menghentikan langkahnya.

"Tunggu."

Arkan menggeser kursi putarnya hingga menghadap ke arah Nara. Ia menatap gadis itu lekat-lekat, dari ujung rambut hingga ujung sepatu. Tatapan itu menggelikan, seolah sedang menilai barang dagangan.

"Kau sudah tanda tangan?"

"Sudah, Mas," jawab Nara pelan, menggunakan panggilan yang disuruhnya tadi pagi.

Arkan menyunggingkan senyum tipis yang sama sekali tidak menyentuh matanya. "Bagus. Kau pintar menurut perintah. Ingat, Nara... mulai detik ini, kau milikku secara hukum. Tapi jangan salah sangka. Kau hanya milikku di atas kertas saja. Hati dan perasaanku, selamanya bukan milikmu."

Ia berdiri, berjalan mendekati Nara hingga jarak mereka hanya beberapa senti saja. Aura dingin dari tubuh Arkan membuat Nara terpaku di tempat, tak berani bergerak sedikit pun.

"Dan ada satu hal lagi yang harus kau tahu, istriku yang manis... Di luar sana, ada wanita yang kucintai. Dia satu-satunya wanita di hatiku. Jangan pernah kau coba masuk atau mencuri tempatnya, karena kau tidak akan pernah bisa. Kau hanya pengganti sementara. Kau hanya... boneka yang dibutuhkan saat ini."

Kata-kata itu menghantam dada Nara lebih keras daripada pukulan fisik apa pun. Ada wanita lain. Tentu saja. Bagaimana mungkin pria sebaik Arkan tidak memiliki kekasih? Nara menunduk dalam, menahan air mata yang hampir jatuh lagi.

"Saya mengerti, Mas. Saya tidak akan mengganggu wanita itu. Dan saya tidak akan pernah berharap jadi pengganti siapa pun," jawab Nara dengan suara bergetar namun tegar.

Arkan tampak puas dengan jawaban itu. Ia kembali duduk di kursi kerjanya, seolah tak ada apa-apa yang baru saja ia ucapkan.

"Bagus. Sekarang kau boleh pulang. Sopir sudah disiapkan. Dan awas... jangan berbuat onar saat di rumah. Rumah itu milikku, dan aku benci kekacauan."

Nara berbalik badan, berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah yang terasa berat sekali. Saat pintu tertutup di belakangnya, air mata itu akhirnya jatuh juga, membasahi pipi yang berusaha ia tegar sedari tadi.

Di balik pintu ruangan mewah itu, Arkan menatap pintu yang tertutup dengan pandangan yang sulit diartikan. Di dalam hatinya, ia merasa sedikit bersalah telah bicara sekejam itu pada gadis yang tak bersalah. Namun, ia harus melakukannya. Ia harus membangun tembok setebal mungkin. Ia tidak ingin Nara masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya, karena ia tahu betapa menyakitkannya saat semuanya berakhir nanti. Dan baginya, hati ini sudah terisi penuh oleh wanita lain yang kini sedang menunggunya di tempat yang jauh.

Hari itu adalah awal nyata kehidupan mereka berdua. Dua orang yang terikat perjanjian, hidup di bawah satu atap, namun hati mereka terpisah sejauh langit dan bumi. Dan Nara mulai menyadari, bahwa menjalani dua tahun ke depan akan menjadi perjuangan terberat dalam hidupnya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!