Veliora tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah ibunya menikah dengan pria paling berbahaya di dunia elite Jakarta.
Kaelric Vorn.
Pria dingin yang dikenal sebagai penguasa bisnis internasional itu memiliki segalanya, kekuasaan, uang, dan dunia gelap yang tidak tersentuh orang biasa.
Namun di balik mansion mewah, tatapan tajam, dan nama besarnya…
Kaelric menyimpan sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Seekor black panther betina bernama Nyx.
Dan anehnya, binatang liar itu memilih Veliora.
Awalnya Veliora hanya ingin bertahan hidup di dunia baru yang terasa asing baginya.
Namun semakin lama dia berada di sisi Kaelric…
semakin dia menyadari bahwa pria itu bukan sekadar ayah tirinya.
Kaelric terlalu protektif.
Terlalu dominan.
Dan perlahan mulai memperlakukannya seperti sesuatu yang tidak ingin dia lepaskan.
Di tengah dunia elite penuh rahasia, pengkhianatan, dan kekuasaan…
Veliora terjebak di antara rasa cinta terhadap Ayah Tirinya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wandhansari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Kedatangan Sang Casanova
Hello, guys., ini masih di cerita Adiwinata Corporation. Alessandro Vorneti datang.. Dia sosok yang berbahaya bagi dunia hitam. Langsung dari Italia....
______________>>>>>>>>>>>>
Langit pagi di landasan bandara Soekarno Hatta tampak cerah. Matahari belum sepenuhnya tinggi, tapi aktivitas sudah berjalan seperti biasa.
Pesawat itu mendarat dengan mulus. Tidak ada yang tampak berbeda dari luar.
Hanya satu dari sekian banyak penerbangan yang datang ke Indonesia pagi itu.
Namun bagi sebagian orang, kedatangan itu bukan sesuatu yang biasa.
Pintu pesawat terbuka. Langkah pertama yang turun tidak tergesa. Nampak tenang dan terukur.
Alessandro Vorneti muncul dengan ekspresi santai, seolah perjalanan yang panjang tidak meninggalkan bekas apa pun padanya.
Kacamata hitam bertengger rapi. Setelan kasualnya sederhana, tapi jelas bukan sembarang pilihan.
Ia tidak pernah terburu-buru. Ya tidak pernah.
Di area kedatangan, beberapa orang sudah menunggu. Bukan untuk penyambutan resmi.
Tidak ada papan nama juga tidak ada keramaian.
Hanya pria-pria yang berdiri dengan sikap terlalu tenang untuk disebut biasa.
Begitu Alessandro mendekat, salah satu dari mereka sedikit menunduk.
“Selamat datang di Indonesia, Tuan.”
Alessandro melepas kacamata hitamnya perlahan.
Tatapannya menyapu sekitar. Singkat. Tapi cukup untuk membaca semuanya.
“Tidak perlu formal,” ucapnya ringan.
Senyumnya muncul tipis. Terkesan hangat. Mudah untuk diterima.
Namun entah kenapa tidak ada yang benar-benar merasa santai didekatnya. Mereka selalu tegang di dekat Alessandro Vorneti.
Mobil juga sudah menunggu di luar. Pintu belakang dibukakan tanpa suara. Alessandro masuk, diikuti suasana yang kembali sunyi begitu pintu tertutup. Mesin mobil menyala halus. Perjalanan pun dimulai.
Jakarta pagi itu mulai padat. Namun di dalam mobil, semuanya terasa terpisah. Alessandro bersandar santai.
Tangannya mengetuk pelan sandaran. Seolah sedang memikirkan sesuatu atau bahkan seseorang?
“Jadwal hari ini?” tanyanya.
“Sudah disiapkan, Tuan. Tapi....”
Pria di kursi depan berhenti sejenak.
“Apakah Anda ingin langsung ke hotel?”
Alessandro tidak langsung menjawab. Tatapannya beralih ke luar jendela. Kota itu bergerak. Hidup dan ramai. Berbeda tapi tidak asing.
“Tidak,” katanya akhirnya.
Nada suaranya tetap ringan. Namun ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yang tidak bisa diungkapkan kepada siapapun.
“Saya punya urusan yang lebih menarik.”
Katanya lagi.
Beberapa saat hening. Lalu ia menambahkan, hampir seperti gumaman:
“Sudah lama sekali.”
"Hmmm.. Bagaimana kabarnya?. Ayahnya sedang dalam masalah besar."
"Oke, bagaimanapun juga aku masih sangat menyayanginya. Dan tak ada yang bisa merubahnya."
Senyumnya kembali muncul. Bukan senyum biasa. Senyum seseorang yang tahu bahwa apa yang ia cari ada di kota ini.
Di tempat lain, tanpa banyak yang menyadari
kedatangan itu mulai terasa. Bukan karena pengumuman. Bukan juga karena keramaian.
Tapi karena beberapa orang yang seharusnya tenang, kini mulai bergerak.
Dan beberapa yang biasanya berani memilih untuk diam.
Karena mereka tahu satu hal, tidak semua orang datang untuk sekadar berkunjung.
Beberapa orang lainnya datang untuk mengubah sesuatu.
Dan Alessandro Vorneti tidak pernah datang ke suatu tempat tanpa sebuah alasan yang jelas.
Kaelric yang duduk di depan mejanya nampak memikirkan sesuatu. Rumahnya dulu yang dipakai Gerard masih dalam tahap renovasi. Mungkin, dua minggu lagi akan selesai. Untuk sementara, Alessandro dia minta tinggal di hotel. Beban pekerjaannya kian meningkat satu tahun belakangan ini.
Belum lagi pekerjaan di balik layarnya, beberapa permintaan meningkat drastis. Maka dari itu, dia meminta Alessandro Vorneti untuk datang. Karena, ada beberapa kecurangan yang terjadi di beberapa area kepemimpinannya.
Belum urusan Adiwinata. Yang sekarang, ada di bawahnya langsung. Dan, permainannya masih berjalan sempurna.
"Sebenarnya, kasihan kalau Ravian aku tempatkan disana. Hmm.. Bagaimana kalau Alessandro saja yang duduk disana?. He's dangerous man for a while."
"Orang seperti Bismantaka pasti akan tak berdaya jika berhadapan dengannya."
Hmm.. Sekedar informasi ya guys??. Si Alessandro Vorneti ini wajahnya mirip-mirip dengan Michelle Morrone. Wiih.. Kalau dia bertandang ke kantor Kaelric pasti si Katarina bakalan ngeces gak karuan. Hehehe...
"Lagipula, aku masih membutuhkan bantuan Ravian disini."
"Nanti, kalau Adiwinata benar-benar sudah bersih dan tertata kembali pasti Ravian disana jadi CEO-nya"
Kaelric lalu berdiri di dekat dinding kaca ruangannya. Terpampang di depannya pemandangan kota yang sibuk dan damai.
Dia menyesap secangkir kopi hitam tanpa gula.
Matanya membulat ketika mendapati Lamborghini Aventandor memasuki halaman gedung Aegis Tower.
Si empunya yang berada di dalam mobil keluar dari mobil. Melepas kacamata hitam yang melekat di wajahnya.
Karyawan perempuan langsung mencuri perhatian. Terutama Katarina.
"Auuuw.. Ya Tuhan. Ini makhluk darimana?. Kenapa dia turun ke bumi?"
"Iish.. Kamu pikir, dia dewa dari mitologi Yunani?.Sembarangan kalau ngomong!'
" Iya nih!"
"Ntar, kalau Bos tahu, bisa berabe!"
Mereka cekikikan.
"Hey, kalian ini kerja nggak?"
Tegur salah satu kepala bagian di perusahaan tersebut. Akhirnya, rapat kecil mereka terhenti dan kembali ke pekerjaan masing-masing.
Alessandro Vorneti berjalan menuju ke ruangan Kaelric. Langkah kakinya tenang tidak terburu-buru. Setiap jejak kakinya seperti menimbulkan suatu irama yang enak didengar.
Tap.. Tap.. Tap..
Kaelric menyambut sepupunya itu dengan gembira. Mereka saling berpelukan. Meski sering terhubung melalui gadget, tapi hari ini mereka saling bertatap muka.
Di Mansion, lain lagi ceritanya. Veliora hari itu mengikuti Ibu Gerard di taman belakang. Mereka berdua asyik merawat tanaman Anggrek.
Rupanya, kebiasaan Ibu Gerard ini menular pada Veliora. Dia juga ikut arus, menyukai tanaman Anggrek yang indah. Dia akhirnya ikutan menanam bunga Anggrek disitu. Dan, Kaelric pun tak pernah melarangnya.
"Bu, aku lupa. Kemarin belum bilang ke Daddy."
"Ya, tidak apa-apa, Veliora."
"Daddymu itu orang yang sibuk. Kemarin, Ibu dengar Daddy kamu ingin membereskan perusahaan Adiwinata."
"Ibu tahu hal itu?"
Ibu Gerard mengangguk pelan.
"Aku harap, Ibu akan suka serumah denganku."
"Tidak ada yang tidak Ibu ketahui dari Daddy kamu, Veliora. Bahkan, kedatangan kamu kesini pun Ibu lebih dari tahu."
Kata Ibu Gerard, hanya dari hati. Tidak bisa ia ungkapkan dengan kata. Memang, Ibu Gerard seperti itu. Tahu soal apapun, tapi lebih memilih diam kalau itu bukan urusannya.
Mereka berdua sampai sore di taman belakang. Ya, begitu asyiknya. Tak ada yang mengganggu.
Tak terasa jam sudah menunjukkan jam lima sore. Mereka berdua bergegas kembali ke tempat masing-masing. Ibu Gerard menuju arah paviliun. Sedangkan, Veliora ke rumah utama.
Kaelric pun sudah sampai sore itu. Tidak sampai malam dia di kantor. Dia ingin pulang.
Veliora yang melihat Kaelric di sofa pun menghampiri.
"Capek, Dad?"
Kaelric hanya menganggukkan kepala perlahan sambil menguap.
Veliora memijat Daddynya perlahan di bagian pundak. Perlahan dia menggerakkan tangannya. Kaelric memejamkan matanya. Menikmati pijatan yang diberikan Veliora.
"Kamu sudah mandi, Vel?"
"Belum, Dad!"
"Sengaja?. Menunggu aku pulang?"
"Nggak juga." Veliora menggelengkan kepala perlahan.
"Oh iya. Kamu bilang Ibu mau tinggal di sini?"
'Iya, Dad."
"Mana coba?. Aku ingin lihat."
"Hari ini belum, Dad. Mungkin besok."
Kaelric mengangguk pelan. Lalu...
"Mandi bareng....!" Dia membalikkan badan kearah Veliora.
Tanpa menunggu jawaban, Veliora digendong keatas menuju kamar mandi. Tanpa melepaskan pakaian, Veliora diturunkan di bathtub.
Veliora tersentak dengan ulah Kaelric.
Terpotong yah???....
Btw, besok aja ya? Adegan plus plusnya.. Wkwkwk... Byeeeeee