NovelToon NovelToon
PRINCESS AZURA

PRINCESS AZURA

Status: tamat
Genre:Aliansi Pernikahan / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:919.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mae_jer

Putri Azura dari kerajaan Utara, menikah dengan pangeran Xavier, putra Mahkota kerajaan Selatan. Xavier membenci Azura saat mengetahui wanita itu hanya memanfaatkannya demi pernikahan politik. Semua orang yang pernah dekat dengan Azura pun berpaling darinya dan menganggapnya wanita jahat yang haus akan kekuasaan.

Namun, apakah sang putri benar-benar jahat? Atau dia hanya menjadi boneka politik yang berusaha bertahan hidup?

Nanti akan terungkap bahwa di balik keanggunan dan kepintarannya, Princess Azura diam-diam melindungi Xavier dan orang-orang yang dia sayangi dari bahaya yang jauh lebih besar. Kebencian perlahan berubah jadi keraguan, hingga akhirnya kebenaran mengejutkan terkuak, kebenaran tentang betapa pahitnya kisah hidup Azura dan cintanya yang tulus terhadap Xavier.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelan-pelan saja

Satu ledakan rasa nikmat yang dahsyat itu menghancurkan kesadaran Azura. Tubuhnya menegang kaku sejenak, lengkung punggungnya terangkat tinggi menjauhi tepian bak mandi, sementara kedua kakinya yang melilit leher Xavier semakin erat. Cairan hangat dan kental memuncrat keluar dari dalam tubuhnya, membasahi sebagian wajah Xavier yang masih menempel rapat di sana.

Suara erangan panjang yang melengking keluar dari mulut Azura. Suara yang tak sanggup lagi ia tahan meski ia sangat menginginkannya. Dunia di sekelilingnya terasa berputar, matanya terpejam rapat, dan untuk sesaat ia kehilangan kendali atas segalanya.

Xavier tidak melepaskan cengkeramannya. Ia membiarkan wanita itu menggeliat-geliat dalam puncak kenikmatannya, membiarkan tubuh kecil itu bergetar hebat di bawah perlakuan ganasnya, sambil terus menyedot dan menjilat sisa cairan yang keluar, seolah sedang meminum setiap tetes rasa dan aroma itu hingga tetes terakhir.

Saat getaran di tubuh Azura mulai mereda dan napasnya menjadi terengah-engah lemah, Xavier perlahan mengangkat wajahnya. Matanya menatap wanita itu dengan campuran antara kepuasan buas dan amarah yang belum padam.

"Lihat ekspresimu ..." gumam Xavier serak, suaranya berat dan penuh ejekan. Ia mengusap bibirnya dengan punggung tangan, menatap sisa kelembapan yang kini melumuri kulitnya.

Azura masih terengah-engah hebat, dadanya naik turun kencang, wajahnya memerah padam bukan hanya karena rasa nikmat yang baru saja ia rasakan, tapi juga karena rasa malu yang luar biasa.

Xavier mendekatkan kembali wajahnya, mencium leher wanita itu dengan kasar, meninggalkan bekas gigitan dan ciuman basah yang panas di kulit putihnya yang masih basah oleh percikan air dan keringat. Tangan besarnya meremas payudara kencang milik Azura, memain-mainkan puting yang keras menegang di antara jari-jarinya dengan cengkeraman yang kuat namun tidak sampai melukai.

Lalu dengan gerakan cepat namun terkendali, Xavier menggeser posisi tubuhnya. Ia mendorong kedua paha Azura semakin lebar ke samping, membuat celah di antara kakinya terbuka sempurna dan mengarah tepat ke arahnya. Azura membuka matanya yang masih berkabut, menatap benda keras, besar, dan berdenyut yang kini berdiri tegak di depannya, siap untuk masuk kembali ke dalam dirinya. Jantungnya berdebar kencang karena ketakutan mengingat perlakuan brutal Xavier kemarin sore, rasa sakit yang membuatnya hampir pingsan dan tubuhnya yang kini masih penuh memar.

"Xavier... jangan... pelan-pelan saja ..." pinta Azura lirih, matanya menatap pria itu.

Xavier diam sejenak. Tatapannya jatuh ke wajah wanita itu, lalu bergerak turun ke tubuhnya yang penuh jejak cengkeraman dan lebam-lebam keunguan hasil perlakuan kemarin. Sesuatu berkedip sekilas di matanya, sesuatu yang samar dan sulit di

mengerti. Ia ingat betapa keras ia memperlakukan wanita itu kemarin, betapa ia memasukinya berulang kali tanpa belas kasih.

Amarahnya masih ada. Rasa benci dan rasa dikhianati itu masih membara di dadanya. Tapi melihat tubuh kecil itu yang kini terbuka pasrah di hadapannya, melihat ketakutan yang tulus di mata indah itu, ada bagian dari dirinya yang enggan mengulangi kekejaman kemarin. Ada bagian dari dirinya yang... tidak mau menyakiti lebih dari ini.

"Kau pikir aku akan merobekmu lagi seperti kemarin?" tanya Xavier pelan, nada suaranya sedikit berubah, tidak lagi setajam pisau namun masih penuh tekanan. Ia menempelkan ujung kepala kemaluannya tepat di bibir kewanitaan Azura yang masih basah dan panas itu, menggesek-gesekkannya pelan di celah yang basah kuyup itu, membuat wanita itu menggigil hebat.

"Jangan salah sangka... aku masih membencimu. Aku masih ingin menghukummu. Tapi... aku ingin menikmatimu lebih lama."

Tanpa kata-kata lain, Xavier mulai menekan masuk.

Berbeda dengan kemarin sore, di mana ia menusukkan seluruh batang kemaluannya sekaligus hingga ke pangkal dengan kasar dan keras, kali ini Xavier melakukannya perlahan. Sangat perlahan. Ia mendesakkan kepalanya masuk sedikit demi sedikit, merasakan dinding-dinding daging yang hangat, basah, dan menyempit itu menyambutnya. Rasa panas, sempit, dan kenikmatan yang menjalar begitu dahsyat membuat Xavier mengertakkan gigi menahan erangan.

"Ah..." desis Azura, wajahnya menatap langit-langit kamar mandi. Ada rasa nyeri samar saat benda besar masuk, rasa nyeri sisa luka kemarin yang belum kering sepenuhnya. Namun rasa sakit itu tidak lagi tajam dan menyiksa seperti dulu, karena gerakan Xavier yang begitu pelan dan hati-hati, seolah sedang menguji batas ketahanan wanita itu.

Perlahan namun pasti, Xavier terus menekan masuk hingga seluruh panjangnya terselubung di dalam lubang kewanitaan Azura yang sempit itu. Ia berhenti sejenak, membiarkan tubuhnya tertanam penuh di sana, merasakan bagaimana daging di dalam sana meremas-remasnya dengan kuat, seolah tidak ingin melepaskannya. Matanya menatap lekat wajah wanita itu, mencari ekspresi apa pun, rasa sakit, rasa benci, atau rasa nikmat.

"Kau terasa begitu dalam..." gumam Xavier parau, napasnya memburu. Ia menunduk mencium bibir Azura, bukan ciuman ganas seperti biasanya, melainkan ciuman yang dalam, basah, dan rakus, menyedot napas wanita itu keluar.

Setelah membiarkan Azura beradaptasi sejenak, Xavier mulai bergerak. Ia menarik keluar perlahan, hingga hanya kepalanya saja yang tertinggal di dalam, lalu mendorong masuk kembali dengan irama yang teratur. Gerakannya jauh lebih lambat, jauh lebih dalam, dan jauh lebih penuh rasa daripada kemarin. Gerakan yang penuh amarah memang masih ada, tekanan yang kuat masih terasa, namun kekerasan yang membabi buta itu hilang berganti dengan sesuatu yang lebih mengerikan bagi hati Azura: keintiman.

Setiap kali ia mendorong masuk, Xavier menekan sedalam mungkin, menyentuh titik paling dalam dan paling sensitif di tubuh Azura, membuat wanita itu menegang dan mengerang panjang. Setiap kali ia menarik keluar, gesekan kulit mereka menimbulkan sensasi panas yang membakar. Tangannya mencengkeram pinggang mungil Azura dengan kuat, menahannya agar tetap diam di tempat sementara ia menggerakkan pinggangnya maju mundur dengan ritme yang semakin lama semakin cepat namun tetap terkontrol.

"Xavier... Xavier..." Azura mengerang lirih, matanya terpejam rapat, tangannya mencengkeram bahu kekar pria itu. Ia tidak tahu apa yang harus ia rasakan. Gerakan pria itu kasar, namun ada kelembutan di setiap kedalaman tusukannya. Tatapannya penuh kebencian, namun sentuhannya begitu menguasai dan membuatnya lepas kendali. Rasa sakit sisa kemarin perlahan tertutup oleh rasa nikmat yang luar biasa yang menjalar dari perut bawahnya ke seluruh tubuh.

"Siapa yang membuatmu merasa enak seperti ini?" tanya Xavier di sela-sela gerakannya yang makin kencang, suaranya berat dan bergetar karena kenikmatan yang memuncak. Ia menempelkan dahinya ke dahi Azura, napas mereka saling bertautan.

"Katakan padaku... siapa yang mengisimu? Siapa yang membuatmu penuh seperti ini? Jawab aku, Azura!"

1
Lis mania
Terima kasih banyak Thor, bagus banget ceritanya 👍🙏
Hatijah Cantik
cocoklah kan katanya Xavier jg TDK bisa punya keturunan itu kata sang Ratu ibunya xavier
Hatijah Cantik
dalam sinopsisnya Xavier ,pangeran kerajaan selatan tapi dalam cerita sebelumnya dia pangeran kerajaan barat , mana yg benar nih.
Elta Sugiarti Solibut
ceritanya luar biasa menarik
Rizky Manik
👍🏻👍🏻👍🏻
Yeni Ismayani
bagus
Dewi Ansyari
Endingnya bagus banget soalnya semuanya bahagia, semoga sukses selalu thorr🥰🥰
Dewi Ansyari
Itulah hukumanmu Elish,makanya jangan fitnah Xavier,apalagi selama ini Dy
udah menderita kehilangan Azura, makanya jangan sombong dan seenaknya saja
Dewi Ansyari
Akhirnya pulang istanah juga Azura dan Violet
Dewi Ansyari
Akhirnya raksasanya mati juga,bagus bantuannya cepat datang dari istanah
Dewi Ansyari
Ternyata benar Azura masih hidup,dan Sudah punya anak cewek dengan xavier
Dewi Ansyari
Jangan2 sebelum jatuh di jurang Azura sedang hamil,dan itu anaknya dengan Xavier
Dewi Ansyari
Kasihan Orion nyesekk banget kehilangan ibunya yg sudah berjuang selama ini agar Dy selamat 😭😭😭😭
Dewi Ansyari
RAsakan kamu Xavier peneysalanmu sudah percuma
Dewi Ansyari
Astaga Azura mati thorr nyesek banget,kasihan Arion😭😭😭, dan Xavier percuma saja kamu menyesal semuanya sudah jadi bubur😡😡😡
Dewi Ansyari
Semoga saja Azura bisa menang
Dewi Ansyari
Kasihan anak Azura😭😭di siksa
Dewi Ansyari
Anak Azura siapa Ayahnya apakah Xavier atau malah orang lain
Dewi Ansyari
Kasihan Azura 😭😭😭 Dy seakan hidup sendiri karena sekarang Dy tidak punya Sandaran😭😭😭
mariama ama
akhirnya happy ending Terima kasih banyak kaka author sayangkuhh lope lope sekebon jeruk 😍😍😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!