Ketika Aisyah terjebak di Shanghai sebagai seorang imigran gelap, ia tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah karena dua bersaudara dari keluarga Lin.
Lin Zhao memberinya rasa aman dan cinta yang tak pernah ia duga.
Sementara Lin Chou justru memberinya ancaman, kebencian, dan luka.
Namun siapa sangka, di balik semua kebencian itu tersimpan rahasia masa lalu yang mampu menghancurkan segalanya.
Tentang cinta yang tertinggal.
Tentang janji yang gagal ditepati.
Dan tentang seorang perempuan... yang memilih pergi setelah diam-diam menyelamatkan keluarga yang telah menyakitinya.
Di antara dua negara, dua budaya, dan dua hati yang dipertemukan takdir.
apakah cinta cukup kuat untuk melawan luka masa lalu?
Atau justru penyesalan akan datang... saat semuanya sudah terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21
Tatapan Mr. Wang langsung tertuju pada layar ponselnya. Disana dia melihat sesuatu yang selama ini dia inginkan.
"Alesya kamu begitu ceria dan kamu juga begitu bahagia kala itu. Tapi kini kamu pergi meninggalkan aku sendiri."
Wang Xuan melihat beberapa video lama miliknya. kenangan yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.
***
Di tempat yang berbeda..
Semalaman suntuk Lin Zhao terus memikirkan apa yang dikatakan oleh Kakaknya. Dia sendiri takut jika apa yang dikatakan oleh kakaknya akan menjadi sebuah kenyataan. Hatinya gundah dan gelisah. Namun tiba-tiba dia mulai membuka ponselnya dan mendengarkan beberapa potongan ayat yang membuat hidupnya tenang.
"Suara ini begitu menenangkan hati. Jika aku bisa belajar dan suatu saat aku pasti akan menemukan jalan untuk menuju pada kesamaan antara aku dan Aisyah." Lin Zhao tersenyum dia pun mencari informasi tentang Islam dan mulai mempelajarinya sedikit demi sedikit..
Niat Lin Zhao belajar bukan karena Aisyah melainkan karena ia merasakan kenyamanan dan ketenangan didalam agama yang di yakini oleh Aisyah itu.
"Tenyata aku bisa setenang ini. Aku seperti menemukan rumah baru. Rumah yang bisa membuatku nyaman dan tenang."
"Jika suatu saat nanti aku bisa masuk kedalam agama Islam aku akan sangat bahagia dan aku akan menjalaninya dengan sungguh-sungguh."
Lin Zhao pun tersenyum dia pun mencari sebuah artikel bahwa untuk menjadi seorang mualaf ia harus membaca dua kalimat syahadat.
Lin Zhao pun terus mengingatnya dan suatu saat nanti pasti dia akan bisa memilih jalan hidupnya sendiri.
Pada pagi yang cerah Aisyah melihat Lin Zhao sedang berada didapur untuk membuatkan sarapan.
"Assalamualaikum Aisyah." ucap Lin Zhao dengan fasih.
Mata Aisyah terbelalak mendengar ucapan Lin Zhao.
"Waalaikumsalam Kak Lin." jawab Aisyah sedikit tertegun.
"Kak Lin belajar dari mana? Kenapa sekarang terdengar sangat fasih?" Aisyah pun bertanya.
Lin Zhao hanya tersenyum saja. Dia tidak menjawab.
"Sini kita sarapan." ajak Lin Zhao dengan lembut.
Keduanya pun sarapan bersama. Mereka terlihat saling diam tanpa berkata apa-apa.
"Kak Lin aku ingin bicara sesuatu?" ucap Aisyah membuka pembicaraan.
Lin Zhao menatap kearah Aisyah dan kemudian menganggukkan kepalanya.
"Ada apa katakan saja?"ucapnya pelan.
"Aku ingin meminta izin keluar sebentar. Aku ada hal yang ingin aku lakukan?"
Lin Zhao merasa heran. Kemudian dia meletakan alat makannya dan menatap kearah Aisyah yang kini sedang berbicara kepadanya.
"Kamu mau kemana biar aku antar?" jawab Lin Zhao dengan lembut.
Aisyah pun menolaknya dia ingin pergi sendiri.
Lin Zhao tak pernah tahu niat dan tujuan Aisyah pergi.
"Baiklah kalau begitu hati-hati. Ambil ini di dalam sini ada uang kamu bisa gunakan untuk membeli kebutuhan kamu." Lin Zhao memberikan kartu hitam tanpa batas kepada Aisyah. Namun sekali lagi Aisyah menolak.
"Kak Lin. Jangan ini terlalu berharga. Nanti kalau sampai hilang bagiamana?"jawab Aisyah lirih.
"Kalau kamu gak mau bawa ini kamu gak boleh pergi." Lin Zhao pun berkata tanpa ekspresi membuat Aisyah hanya bisa mengangguk.
"Baiklah terima kasih." jawabnya lirih.
****
Setelah mendapatkan izin dari Lin Zhao. Aisyah pun bersiap dia ingin menemui Wang Xuan. Dia ingin membuat kesepakatan dengan lelaki itu.
Aisyah pun menuliskan sebuah pesan kepada Lin Zhao dan juga dia mengembalikan kartu tanpa batasnya kepada Lin Zhao.
Aisyah pun berjalan menuju sebuah markas besar yang terasa asing baginya. Namun sialnya anak buah Lin Chou melihatnya dan kemudian melaporkan apa yang mereka lihat kepada Lin Chou.
"Maaf Tuan sepertinya Nona Aisyah pergi kesebuah tempat disana terdapat banyak anak buah Mr.Wang."
Salah satu anak buah Lin Chou pun menghubunginya lewat sambungan telepon.
Mata Lin Chou terbelalak.
Tubuhnya langsung lemas.
Tenyata apa yang dia pikirkan tentang Aisyah itu benar. Dia adalah mata-mata Wang Xuan.
"Apa yang kalian katakan? Wanita itu pergi kemana?"Lin Chou pun langsung mendapatkan alamat yang dikasih oleh anak buahnya itu.
"Tetap jaga wanita itu jangan sampai dia kabur. Aku akan kesana sebentar lagi." Lin Chou langsung menutup sambungan teleponnya dan kemudian mengendarai mobil Porsche miliknya dan langsung menyusul Aisyah.
Satu sisi dia membenci wanita itu. Tapi disisi lain ada sesuatu yang mendorong untuk dia membantu Aisyah.
Sedangkan Aisyah dia berjalan menuju sebuah ruangan namun beberapa anak buah Mr Wang sudah menunggunya dengan tidak sabar.
"Aku ingin bertemu dengan Mr.Wang?"ucap Aisyah dengan serius.
Anak buah Mr Wang hanya tersenyum saja dan kemudian mengusirnya.
Beberapa menit sebelumnya.
Wang Xuan telah melihat kedatangan Aisyah dari kamera pengawas. Laki-laki itu tersenyum.
"Gadis kecil yang pemberani. Jika aku adalah orang jahat yang sebenarnya mungkin kamu akan celaka." ucap Wang Xuan sembari tersenyum menatap layar monitor.
Dia berkata dalam hati.
"Alesya lihatlah adikmu. Dia sangat berani datang kesini sendirian. Tapi semua ini masih belum berakhir aku tidak akan pernah mau menemuinya." ucapnya lirih.
"Pengawal kalau wanita itu mencari aku usir saja aku tidak ingin bertemu dengannya."
Ucapan Wang Xuan membuat semua anak buahnya bingung. Selama ini mereka selalu ingin menangkap Aisyah dan membawanya kembali tapi kini disaat Aisyah datang dengan sukarela justru Wang Xuan menolaknya.
"Baik Tuan." jawab mereka dengan tegas.
Didepan sebuah ruangan Aisyah masih menunggu Mr.Wang.
"Pergilah. Mr.Wang sedang tidak mau diganggu." ucapnya membuat Aisyah bingung dengan sikap Wang Xuan.
Aisyah pun diusir dan kemudian beberapa anak buah Mr.Wang mengantarnya hingga kedepan gerbang.
Aisyah yang bingung dia hanya berjongkok didepan gerbang. Dia bingung dengan nasibnya. Selama ini Mr. Wang selalu mengincarnya namun disaat dia datang dengan sukarela justru Mr.Wang tak mau menemuinya.
"Tenyata benar dugaanku. Jika selama ini kamu adalah kaki tangan Wang Xuan."
Suara bariton Lin Chou terdengar persis dibelakang Aisyah.
Aisyah pun panik,dia bingung bagaimana menjelaskan kepada laki-laki dingin itu.
"Tu..Tuan Lin. Ini tidak yang seperti anda pikirkan.." Aisyah pun ingin menjelaskan namun melihat tatapan mata laki-laki itu membuatnya mengurungkan niatnya.
Lin Chou turun dari mobilnya dan kemudian mendekatinya..
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan dari keluargaku? Kamu ingin menghancurkan tali persaudaraan aku dengan adikku."
"Selama aku masih bernafas jangan bermimpi untuk masuk kedalam keluarga Lin. Apalagi kamu itu hanya wanita rendahan yang tidak memiliki nilai apapun untuk keluarga Lin."