Rumi sudah tiga tahun menikah dengan Fathur. Sebenarnya rumah tangga mereka baik-baik saja. Hanya saja menjadi tidak baik-baik karena selalu di recoki oleh ibu dan keluarga Fathur lainnya.
Hingga akhirnya saat Rumi kembali hamil, namun untuk kedua kalinya juga dia harus kegu guran karena ulah sang ibu mertua. Bu Sri tak pernah ingin jika Fathur memiliki anak dari Rumi.
Rumi jelas marah dan pun cak amarahnya saat Bu Sri membawa mantan dari Fathur ke dalam kehidupan ruang tangga mereka. Fathur bahkan tak mampu untuk membela istrinya.
Apakah dengan kenyataan seperti ini Rumi siap menjadi janda? Ataukah dia malah lebih memilih bertahan dengan kenyataan seperti itu?
"Jangan banyak membantah jika kamu tak ingin di Jan da kan oleh Fathur!" ancam Bu Sri.
"Jadi Jan da? Siapa takut Bu!" jawab Rumi membuat suami dan ibu mertuanya melongo tak percaya.
Ikuti terus kisah Arumi selengkapnya. Jangan lupa baca sampai akhir, karena ada banyak keseruan dari Rumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi Janda? Siapa Takut?
"Eh dasar menantu kurang ajar kau Arumi! Fathur, cepat ceraikan dia! Karena sudah berani sekali bicara kasar kepada ibu!" teriak Bu Sri.
Fathur hanya terdiam sedangkan Rumi berdiri tegak di antara mereka. Tak ada rasa takut lagi dalam dirinya seperti sebelumnya. Dia sepertinya sudah mati rasa dengan sikap dan ucapan mertuanya.
"Astagfirullah Bu, jangan bicara seperti itu! Sekarang ibu pulang dulu ya! Biar Fathur antarkan!" Fathur mencoba untuk memisahkan ibunya dari Rumi.
"Sudah kubilang ceraikan dia Fathur! Lebih baik kamu menikah dengan Dona! Ibu dengar dia Djuga baru saja menjadi Jan da! Ibu yakin sekarang keluarganya akan merestui kamu, apalagi kamu juga punya pekerjaan yang bagus! Bukannya kamu dulu sangat cinta sama Dona?" ucapan Bu Sri benar-benar menyulut api pertengkaran diantara anak dan menantunya.
Entahlah, sepertinya Bu Tari menang sengaja menyebut nama mantan pacar Fathur di depan Rumi. Rumi melihat ke arah suaminya, wajahnya tiba-tiba memerah dan berusaha menghindari tatapan Rumi.
"astagfirullah! Bu, nggak boleh bilang seperti itu! Aku sudah menikah dengan Rumi dan aku mencintai Rumi, bukan Dona!" Fathur berusaha membuat ibunya diam.
"Benarkah? Tapi matamu berkata lain Fathur! ibu akan mendukung kalau kamu mau menikah dengan Dona. Apalagi ibu dengar dia juga sekarang bekerja di perusahaan besar. Dan sudah pasti gajinya juga besar. Tidak seperti istri kamu itu! Tak ada yang bisa aku banggakan dari dia! Sekali Aku nggak suka sama dia selamanya aku nggak suka sama wanita ren dah itu!"
"Bu ....!" nada bicara Fathur untuk pertama kalinya meninggi. Ucapan ibunya sudah sangat kelewatan kali ini.
Praaaaang
Pyaaaaarrrrr
Arumi melemparkan piring yang ada di dekatnya. Dia benar-benar tak mengira dengan ucapan ibu mertuanya. Dia tahu kalau dirinya berasal dari keluarga tak mampu. Bahkan dia juga tak tahu keberadaan orang tuanya di mana. Sekarang dia yatim piatu dan hanya memiliki Fathur setelah neneknya meninggal.
Namun ucapan Bu Sri barusan sudah sangat kelewatan. Rumi tak bisa lagi menahan kekesalannya. Melihat Arumi yang sudah marah Bu Sri juga jadi takut sendiri. Tatapan Rumi terlihat berbeda, bukan lagi amarah yang dia perlihatkan. Melainkan rasa lelah, pipinya semakin merah bekas tam paran sang mertua masih terlihat dengan jelas. Fathur juga terlihat tergugup.
"Ibu pulang dulu! Sepetinya kamu memang harus segera menceritakan dia dan menikah dengan Dona! Semakin lama dia semakin gi-la! piring saja sampai di lempar seperti itu! Dia pikir punya uang untuk membelinya!" Bu Sri pamit tapi bibirnya tetap mengoceh.
"Dek ..." panggil Fathur mendekat setelah menyingkirkan semua pecahan be long di sekitar kaki istrinya. Bahkan terlihat kaki Rumi juga terlu-ka, namun dia tak terlihat kesakitan. Rasa sakit itu tak sebanding dengan rasa sakit di dalam hatinya. Rumi sedari tadi berdiri mematung di tempatnya. Tak ada air mata, sorot matanya kosong. Fathur semakin khawatir dengan keadaan istrinya.
"Dek, mas obati dulu lu-ka di kakimu ya ..." Fathur mencoba untuk meraih tangan istrinya.
"apa benar kamu masih mencintai Dona, Mas? Jika memang kamu masih mencintai dia, lalau kenapa kamu menikah denganku? Apa karena kasihan? Atau sebagai pelarian, karena Dona memilih menikah dengan orang lain?" tanya Rumi menatap penuh kecewa ke arah suaminya.
Rumi tadi melihat dengan jelas saat suaminya mencoba menghindari tatapannya ketika sang ibu mengungkit nama Dona. Nama yang dulu pernah dia dengar saat awal pernikahan. Nama yang selalu di bandingkan dengannya bagai langit dan bumi.
"tidak dek, tidak ada yang seperti itu! Mana mungkin Mas menjadikan kamu sperti itu. Mas mencintai kamu, Dek! Bukan karena masalah Dona! Jangan dengarkan ucapan ibu, mungkin ibu bicara begitu karena kesal," Fathur mencoba menenangkan istrinya walau dia juga sedikit gugup.
Rumi tampak berbeda, membuatnya takut.
"aku tanya padamu, apa kamu masih mencintai Dona? Aku hanya butuh kepastian, jika memang kamu mau kembali kepada Dona, beri aku waktu untuk mempersiapkan diri," Tanya Rumi, Fathur menggeleng cepat kemudian memeluk Rumi.
"Dek, sudah mas katakan! Jangan bicarakan dia lagi. karena dengan begitu malah akan membuat kamu sakit hati. Mas katakan padamu sekali lagi, mas mencintai kamu. Dan Dona masa lalu! sudah ya, jangan bicara seperti itu! kamu dan aku tak akan kemana-mana! Maafkan aku, Dek ... Maafkan aku ...!" Ucap Fatur menangis memeluk Rumi.
Dia tak mengira ibunya malah mengatakan hal yang sangat melukai hati Rumi. dulu dia memang mencintai Dona, tapi setelah Dona lebih memilih pria lain. Dia tak lagi berharap dan pada akhirnya bertemu dengan Rumi. dia jatuh cinta dengan kelembutan dan juga ketulusan Rumi. Rumi sebenarnya sangat cantik dengan postur tubuhnya yang bagus. Hanya saja entah kenapa setelah menikah penampilannya jauh berubah.
Akan tetapi hal itu tak membuat cinta Fathur untuk Rumi hilang. Justru dia semakin takut kehilangan Rumi, apalagi sekarang dia sudah bekerja. Ibunya? Dia kadang bingung cara apa lagi yang harus dia gunakan untuk membaut ibunya menyukai Rumi. Bahkan selama tiga tahun, Rumi juga berusaha keras untuk membuat Bu Sri menerima dirinya. namun, Bu Sri sekarang malah membuat ulah dengan mencoba menghadirkan masa lalu Fathur di antara mereka. Mertua macam apa Bu Sri ini.
"Percayalah, Mas hanya mencintai kamu! Jangan pikirkan lagi ucapan ibu, sekarang kita obati luka di kakimu! Jangan sampai malah menjadi infeksi!" ucap Fathur menarik tangan Rumi untuk duduk di sofa.
Rumi hanya diam dan membiarkan Fathur mengobati lu-ka di kakinya. Rumi hanya menatap suaminya dengan tatapan kosong. tak tahukah Fathur jika saat ini perlahan-lahan hati istrinya han-cur? Tak takutkah Fathur kalau Rumi sudah benar-benar merasa lelah? Kesabaran manusia ada batasnya. Begitupun dengan Rumi, wanita yang selalu di pandang sebelah mata oleh keluarga suaminya.
rencana pura2 sakit akhir ny sakit beneran ,, fathur yg kecewa krn di bohongi dg alasan sakit ,, jd gx percaya ( semoga ) dsaat ibu ny sakit beneran ,, gmna tuuuh rasa ny bu sriii Dan kawan2 ,, 😒😒😒😒
punya rencana koq dangkal ,,
semoga rencana mereka gagal total ,, biarin tu si Dona Dan menantu bu Sri yg lain jd babu dadakan ,,
Dan Elisa yg tau rencana ini bisa kasih tau fathur ,,
biar fathur gx ke jebak ,,
nnti penyesalan akn tiba tempat pda waktu ny ,, disaat semua terjadii mungkin Rumi udh pergiii atau udh menjadi sosok yg gx mereka kiraa sebelum ny ,, 😒😒😒😒
bukan sama manusia ,, bner kata Rumi ,, rencana manusia tu baik ,, tp rencana Tuhan tu luar biasa ,,, semangat trus rumii ,, Tuhan tu tdak tidur ,, /Smile//Smile//Smile/