Saga Mahendra percaya satu hal, pengkhianatan tidak pernah memiliki alasan. Itulah yang ia yakini sejak hari ia melihat Sahira, wanita yang ia cintai, berpelukan dengan sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Saga memilih pergi. Meninggalkan cinta, mimpi, dan masa lalu yang terlalu menyakitkan.
Lima tahun kemudian, ia kembali. Bukan lagi remaja yang rapuh, tapi seorang dokter dengan hati yang telah membeku. Namun, takdir mempermainkannya. Sahira muncul kembali bersama seorang anak berusia empat tahun.
Waktu tidak pernah berbohong. Lalu, siapa ayah dari anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Setelah Aldo pergi, suasana toko perlahan kembali tenang. Sahira dan kedua pegawainya mulai membereskan bunga-bunga yang berserakan di lantai. Beberapa pot yang pecah dikumpulkan ke dalam kardus, sementara bunga yang masih bisa diselamatkan dipindahkan ke ember air agar tidak layu terlalu cepat.
Tak banyak percakapan di antara mereka. Hanya suara sapu dan langkah kaki kecil yang sesekali terdengar di dalam toko sederhana itu. Setelah semuanya selesai dibereskan, Sahira akhirnya duduk di belakang meja kasir.
Tubuhnya terasa lelah, bukan hanya fisik, tetapi juga pikirannya. Perlahan ia membuka buku catatan keuangan toko. Matanya menelusuri angka demi angka yang tertulis di sana. Pendapatan bulan ini turun jauh dari biasanya. Sementara pengeluaran terus bertambah. Harga bunga naik, biaya rumah sakit Sahir, tagihan listrik serta sewa toko dan belum lagi gaji karyawannya.
Sahira memijat pelipisnya pelan, dadanya mulai terasa sesak. Ia menghitung ulang untuk memastikan dirinya tidak salah. Namun hasilnya tetap sama, tidak cukup. Bahkan benar-benar tidak tersisa. Sahira menunduk diam beberapa saat sebelum akhirnya menarik napas panjang.
Perlahan ia mengangkat wajah menatap dua pegawainya yang sedang merapikan bunga di dekat pintu.
“Lina … Rani…” panggilnya pelan. Kedua gadis itu langsung menoleh.
“Iya, Mbak?”
Sahira menggenggam buku catatan di tangannya erat-erat.
“Aku mau ngomong sesuatu…”
Mereka berdua saling pandang sebentar sebelum mendekat. Wajah Sahira tampak sulit untuk membuka suara.
“Aku…” ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara pelan. “Kayaknya aku nggak bisa pakai jasa kalian lagi mulai bulan depan.”
Suasana langsung hening, Lina dan Rani tampak terkejut.
“Maksud Mbak?” tanya Rani perlahan.
Sahira menunduk.
“Keuangan toko lagi nggak baik,” ucapnya jujur. “Aku bahkan nggak yakin cukup buat bayar gaji kalian bulan ini.”
“Kami bisa ngerti, Mbak…” sahut Lina cepat.
“Tapi tetap aja aku nggak enak,” lanjut Sahira pelan. “Kalian kerja dari pagi sampai malam di sini, sedangkan aku nggak bisa kasih hak kalian dengan layak.”
Rani langsung menggeleng kuat.
“Kami nggak mau pergi, Mbak.”
Sahira terdiam.
“Kalian jangan bercanda…”
“Kami serius,” ujar Lina pelan namun tegas. “Dari dulu Mbak Sahira udah baik banget sama kami.”
Rani mengangguk setuju.
“Kami ini yatim piatu, Mbak,” katanya lirih. “Nggak punya siapa-siapa lagi.”
“Kami kerja di sini bukan cuma cari uang,” sambung Lina sambil tersenyum kecil. “Tapi karena tempat ini rasanya kayak rumah.”
Mata Sahira perlahan memanas mendengar itu.
“Kalian…”
“Lagipula,” potong Rani pelan, “kami nggak masalah kalau beberapa bulan belum digaji.”
“Iya,” sahut Lina cepat. “Kalau keadaan toko udah membaik, baru dibayar juga nggak apa-apa.”
Sahira langsung menggeleng.
“Nggak bisa begitu…”
“Bisa,” jawab Lina lembut. “Sekarang yang paling penting Mbak fokus dulu sama Sahir.”
Nama anaknya disebut, membuat Sahira langsung terdiam.
Rani tersenyum kecil.
“Sahir lagi sakit, kan?” katanya pelan. “Kami tahu Mbak pasti lagi kepikiran banyak hal.”
“Jadi jangan tambah beban sendiri lagi,” lanjut Lina. “Kami masih bisa bantu di toko.”
Untuk beberapa detik, Sahira benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Dadanya terasa hangat sekaligus sesak. Di tengah hidupnya yang berantakan, ternyata masih ada orang-orang yang tulus bertahan di sisinya. Tanpa sadar, air mata Sahira jatuh perlahan. Ia cepat mengusapnya malu-malu.
“Maaf…” bisiknya lirih.
“Kok malah nangis sih, Mbak?” Rani terkekeh pelan.
Sahira tertawa kecil di sela tangisnya.
“Terima kasih…” ucapnya tulus. “Serius … terima kasih banyak.”
Lina dan Rani tersenyum hangat.
Sementara itu, suasana Rumah Sakit Kasih Ibu mulai ramai menjelang siang.
Aktivitas para perawat dan dokter silih berganti memenuhi koridor, sementara beberapa pasien mulai diperbolehkan pulang setelah pemeriksaan pagi selesai dilakukan.
Di salah satu kamar rawat inap anak, Sahir duduk di atas ranjang sambil memainkan ujung selimutnya. Wajahnya sudah jauh lebih segar dibanding kemarin. Demamnya turun, dan sejak pagi tubuh kecilnya tidak lagi lemas seperti sebelumnya.
Seorang perawat baru saja selesai memeriksa suhu tubuhnya.
“Nah, pintar,” ujar perawat itu sambil tersenyum hangat. “Suhunya sudah normal.”
Mata Sahir langsung berbinar.
“Boyeh pulang?” tanyanya cepat dengan suara cadelnya.
Perawat itu tertawa kecil melihat ekspresi antusias bocah itu.
“Iya, kata Dokter Saga, siang ini Sahir sudah boleh pulang.”
“Yeay!” Sahir langsung tersenyum lebar sampai matanya menyipit lucu.
Anak kecil itu turun perlahan dari ranjang, lalu berdiri sambil merapikan baju kecilnya dengan wajah puas.
Perawat itu sampai gemas sendiri melihat tingkahnya.
“Senang banget, ya?”
“Iya…” jawab Sahir semangat. “Sahel bosen di kamal terus.”
Perawat itu tertawa pelan.
“Sekarang ibunya lagi keluar sebentar, kan? Nanti tunggu ibu datang dulu baru pulang.”
Sahir mengangguk kecil. Namun, beberapa detik kemudian matanya melirik ke arah jendela kamar.
“Taman lumah sakit ada bunga ndak?” tanyanya tiba-tiba.
“Ada,” jawab perawat itu bingung. “Memangnya kenapa?”
“Sahel mau jalan-jalan di sana.”
Perawat itu langsung menggeleng pelan.
“Nggak boleh sendiri. Nanti Kakak temenin aja, ya?”
Namun, Sahir malah berdiri makin tegak sambil menepuk dadanya kecil-kecil.
“Sahel udah sehat,” katanya penuh keyakinan. “Bisa jalan sendili.” Ucapan polos itu membuat perawat tersebut tersenyum kagum.
Anak kecil itu memang terlihat sangat mandiri untuk usianya. Meski baru empat tahun, cara bicaranya terkadang seperti sedang berusaha menjadi lebih dewasa.
“Wah…” gumam perawat itu pelan. “Orang tua kamu pasti bangga punya anak sekuat Sahir.”
Kalimat itu membuat Sahir terdiam beberapa detik. Wajah kecilnya berubah bingung sebelum akhirnya menjawab polos,
“Sahel ndak punya olang tua.”
Perawat itu langsung terkejut kecil. Sahir melanjutkan dengan santai, tanpa sadar bahwa kalimatnya terdengar menyakitkan.
“Sahel cuma punya ibu.”
Senyum perawat itu perlahan menghilang. Ia langsung merasa tidak enak.
“Eh … maaf,” ucapnya cepat. “Kakak nggak maksud…”
Namun, Sahir justru tersenyum kecil seolah tidak masalah.
“Ibu bilang Sahel halus jadi anak kuat.”
Perawat itu menatap bocah kecil di depannya dengan perasaan campur aduk. Entah kenapa dadanya terasa sesak mendengar ucapan sederhana itu. Anak sekecil ini, sudah bicara tentang menjadi kuat.
Perawat itu akhirnya tersenyum lembut sambil mengusap pelan rambut Sahir.
“Kalau begitu, Kakak temenin jalan-jalan sebentar, ya?”
Sahir berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk semangat.
“Iya!”
Perawat itu lalu menggandeng tangan kecil Sahir keluar dari kamar.
Saga berdiri beberapa langkah dari mereka, masih mengenakan jas dokter putih yang membuat sosoknya terlihat semakin berwibawa. Tatapannya jatuh pada Sahir yang sedang berjalan kecil sambil menggenggam tangan perawat. Entah kenapa, sejak semalam anak itu terus menarik perhatiannya.
Mungkin karena wajah polosnya. Atau mungkin karena sorot matanya yang terasa begitu familiar.
“Dokter Saga,” sapa perawat itu cepat saat menyadari keberadaan Saga.
Saga mengangguk kecil sebelum pandangannya kembali tertuju pada Sahir.
“Mau ke mana?” tanyanya datar.
Sahir mendongak. Mata bulatnya langsung berbinar mengenali pria itu.
“Doktel!” serunya kecil.
Perawat itu tersenyum.
“Sahir bosan di kamar, Dok. Jadi saya mau temani dia jalan-jalan sebentar di taman.”
Saga mengangguk pelan. Namun, beberapa detik kemudian, matanya bergerak mencari sosok lain yang sejak tadi tidak terlihat.
“Ibunya mana?” tanyanya.
Perawat itu langsung menjawab sopan, “Bu Sahira pergi sebentar, Dok. Katanya ada urusan mendadak. Sebelum pergi tadi beliau sudah titip Sahir ke kami.”
Saga terdiam sejenak.
Entah kenapa ada rasa tidak suka mendengar Sahira meninggalkan anaknya sendirian di rumah sakit. Meski ia tahu wanita itu pasti punya alasan. Lalu tanpa sadar, pertanyaan lain keluar begitu saja dari bibirnya.
“Ayahnya?”
Perawat itu tampak bingung sesaat.
“Sejak kemarin saya belum lihat ayahnya datang, Dok,” jawabnya jujur.
Belum sempat Saga mengatakan apa pun Sahir tiba-tiba menyela dengan polos.
“Sahel ndak punya ayah.”
Saga menoleh pelan.
Anak kecil itu berdiri dengan wajah tenang, seolah sedang mengatakan sesuatu yang biasa saja.
“Sahel cuma punya ibu,” lanjutnya cadel.
Perawat itu langsung terlihat canggung.
“Sahir…” tegurnya pelan, takut anak itu salah bicara.
Namun, Sahir justru melanjutkan tanpa beban.
“Kata ibu … ayah lagi kelja jauh.”
Tatapan Saga perlahan berubah.
“Kelja jauh?” ulangnya pelan.
Sahir mengangguk semangat.
“Iya. Jauh banget.” Ia merentangkan kedua tangannya kecil-kecil, mencoba menunjukkan seberapa jauh yang ia maksud. “Kata ibu … nanti kalau Sahel udah gede, ayah balu pulang.”
Kalimat itu membuat Saga membeku beberapa detik. Entah kenapa dadanya terasa sesak mendengarnya. Anak sekecil ini sudah belajar menerima ketidakhadiran seorang ayah dengan cara sesederhana itu.
Perawat di samping Sahir bahkan tampak iba.
Sementara Saga hanya diam. Tatapannya tertuju pada bocah kecil di depannya. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan dalam hatinya. Sahir tidak tampak sedih saat mengatakannya. Seolah ia benar-benar percaya pada perkataan ibunya. Bahwa suatu hari nanti, ayahnya akan pulang. Saga perlahan berjongkok hingga sejajar dengan tinggi Sahir.
“Terus…” suaranya lebih lembut dari biasanya. “Sahir nggak sedih?”
Sahir terlihat berpikir beberapa detik, lalu menggeleng kecil.
“Ndak,”
“Kenapa?”
"Karena ibu bilang…” Sahir tersenyum kecil, “ayah pasti sayang Sahel.”
Hati Saga benar-benar terasa terusik. Anak itu tumbuh hanya bersama ibunya. Dan meski hidup tanpa ayah, ia masih percaya bahwa dirinya dicintai. Saga menatap Sahir cukup lama sampai tanpa sadar ekspresinya sedikit melunak.
Anak sekecil itu sudah memahami penderitaan ibunya dengan cara yang tidak seharusnya. Dan anehnya semakin lama menatap Sahir, semakin kuat perasaan asing yang tumbuh di dalam dirinya.
Perawat itu berdiri canggung di samping Sahir, sementara Saga masih berjongkok di depan anak kecil itu. Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara. Namun, suasana di antara mereka terasa jauh lebih hangat dibanding sebelumnya.
Sahir menatap Saga dengan rasa penasaran khas anak kecil, sementara Saga sendiri diam-diam memperhatikan setiap ekspresi bocah itu.
Entah kenapa, semakin lama berada di dekat Sahir, semakin sulit baginya untuk menjaga jarak.
“Dok, kalau begitu saya antar Sahir ke taman dulu,” ujar perawat itu akhirnya, memecah keheningan.
Namun, sebelum wanita itu sempat melangkah,
“Biar saya saja.”
Perawat itu langsung terdiam.
“Dok?” tanyanya memastikan.
Saga berdiri perlahan sambil merapikan jas dokternya.
“Saya yang temani.”
Perawat itu tampak sedikit terkejut.
Bagaimanapun juga, Saga dikenal sebagai dokter yang profesional dan cukup menjaga jarak dengan pasien. Ia ramah, tapi tidak pernah terlalu ikut terlibat. Karena itu, melihat pria itu menawarkan diri menemani seorang anak berjalan-jalan jelas terasa tidak biasa.
Namun, tentu saja perawat itu tidak berani banyak bertanya.
“Baik, Dok,” jawabnya cepat.
Sementara itu, mata Sahir justru berbinar senang.
“Doktel mau ikut Sahel?” tanyanya antusias.
Tanpa sadar, sudut bibir Saga terangkat tipis.
“Iya,” jawabnya singkat.
Sahir langsung tersenyum lebar sampai memperlihatkan gigi kecilnya.
“Sahel mau lihat bunga!”
Saga mengangguk kecil.
“Oke.”
Perawat itu akhirnya pamit setelah memastikan Sahir baik-baik saja bersama Saga. Kini hanya tinggal mereka berdua di koridor rumah sakit.
Sahir berjalan kecil di samping Saga dengan langkah pelan. Meski baru sembuh, anak itu terlihat begitu bersemangat.
Sementara Saga menyesuaikan langkahnya agar tidak terlalu cepat. Beberapa perawat yang lewat sampai diam-diam melirik mereka dengan ekspresi heran.
Dokter Saga Mahendra, berjalan santai sambil menemani seorang anak kecil. Pemandangan itu benar-benar langka. Namun, Saga tidak memedulikan tatapan siapa pun. Tatapannya sesekali jatuh pada Sahir yang terus berbicara dengan cadelnya.
“Doktel tinggal di sini?” tanya Sahir polos.
“Iya.”
“Doktel ndak pulang?”
Saga terdiam sesaat sebelum menjawab, “Masih kerja.”
“Ooo…” Sahir mengangguk paham meski belum benar-benar mengerti.
Mereka akhirnya sampai di taman kecil rumah sakit. Beberapa bunga warna-warni tumbuh rapi di sepanjang jalan setapak, membuat mata Sahir langsung berbinar kagum.
“Bagus…” gumamnya kecil. Ia berjalan mendekat ke arah bunga-bunga itu, lalu menoleh pada Saga.
“Ibu juga suka bunga,” katanya tiba-tiba.
Langkah Saga sedikit terhenti.
“Iya?”
Sahir mengangguk semangat.
“Ibu punya toko bunga.”
Saga terdiam, pikirannya langsung kembali pada Sahira. Dulu, gadis itu memang sangat menyukai bunga. Bahkan saat SMA, Sahira sering berkata ingin punya toko bunga kecil yang dipenuhi mawar putih dan lily. Dan ternyata wanita itu benar-benar mewujudkannya.
“Sahel juga suka bantu ibu,” lanjut Sahir bangga. “Kalau malam, Sahel suka temenin ibu di toko.”
Saga mendengarkan dalam diam.
Semakin banyak Sahir bercerita, semakin jelas tergambar bagaimana kehidupan Sahira selama ini. Wanita itu membesarkan anaknya sendiri. Entah kenapa, ada rasa berat yang perlahan memenuhi dada Saga.
Lima tahun lalu, ia selalu berpikir bahwa Sahira meninggalkannya demi hidup yang lebih baik. Namun, sekarang yang ia lihat justru sebaliknya. Dan itu membuat pikirannya mulai dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang selama ini berusaha ia abaikan.
"Sahir ingat, siapa nama ayah Sahir?" tanya Saga, pada bocah kecil berumur empat tahun itu, Sahir menoleh padanya dan menatapnya tanpa berkedip.
orang yang terobsesi bisa melakukan hal yang sangat berbahaya.
Takut kalau keluarga tiri dan Clara menemukan mereka di bali